SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 36



Ez, Zal, dan Chan tiba di SUN house pada malam hari. Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak bicara. Raut kesedihan terlihat jelas di wajah ketiganya.


“Apa yang terjadi?. Kenapa kalian terlihat bersedih?. Apa berita itu benar?” Tanya Zhi saat melihat ketiga member telah pulang.


“Jawab kak!”


Zhi sedikit berteriak karena tidak mendapat respon. Namun saat mendapati Chan meneteskan air mata, ia menjadi paham.


Sama seperti Zhi, Dza juga terkejut melihat ekspresi wajah ketiga member yang menggambarkan kekecewaan. Kelima member berpelukan penuh haru. Mereka telah lama bersama, jika salah satu bersedih maka yang lainnya juga merasakan.


“Sekarang, apa yang akan kita lakukan?. Apa kita akan memberitahu kak Khai?” Dza memulai pembicaraan.


“Entahlah. Aku tidak tega mengatakannya” Ujar Zal.


“Kak...”


Dza menatap pada Ez.


“Aku tidak tahu. Saat ini, aku belum bisa berpikir jernih” Ez menarik napas, lalu menghembuskannya, “Di mana Khai?” Tanyanya kemudian.


“Kak Khai sedang mengantar Emira ke supermarket membeli cemilan” Jawab Zhi.


Kedatangan Emira dan Khai membuat kelima member mengalihkan perhatian. Mereka segera memasang senyuman, seolah tidak sedang terjadi sesuatu.


“Kenapa kalian berkumpul di sini?” Tanya Khai.


“Kak...”


Chan langsung berlari dan memeluk Khai. Hal yang sama juga dilakukan oleh Zhi.


“Apa yang kalian lakukan?. Minggir!. Kalian membuatku geli” Khai mencoba melepaskan pelukan Chan dan Zhi. “Kalian kenapa?” Tanyanya kemudian.


“Tidak. Aku hanya ingin memelukmu saja” Jawab Chan, dan Zhi menganggukkan kepala menyetujui.


“Menggelikan saja!” Tutur Khai.


“Kenapa kami tidak boleh memeluk kakak yang sudah menjaga kami dengan baik?”


Dza juga ikut memeluk Khai.


“Apa itu?. Apa yang sedang kalian inginkan dariku?” Sergah Khai.


“Kami tidak mengingkan apa-apa” Jawab Zhi.


“Kalau begitu, pasti kalian telah melakukan kesalahan” Tebak Khai, ketiganya langsung menggelengkan kepala tanda tidak setuju.


“Kami hanya ingin memelukmu. Kenapa kau tidak percaya?” Keluh Chan.


“Terserah kalian saja. Tapi, cepat menyingkir dariku!!!” Ucap Khai sambil melepaskan diri dari ketiga adiknya.


“Kami membeli banyak makanan. Ayo, kita makan”


Emira mencoba mengalihkan perhatian dengan mengajak keenam member berkumpul di ruang keluarga.


“Apa ini?” Tanya Zhi sambil mengangkat paper bag berwarna pink dengan ukuran kecil.


“Itu milikku” Khai mengambil paper bag itu dari tangan Zhi, lalu menunjukkan isinya pada kelima member, “Aku membeli ini saat melewati toko aksesoris. Aku ingin memberikannya pada ibuku jika nanti kami bertemu. Bagaimana menurut kalian?”


Kelima member saling pandang mendengar pertanyaan Khai, mereka menjadi tidak tega untuk menyampaikan kebenaran mengenai ibunya.


“Aku yang memilihnya, cantik kan?”


Emira tersenyum dengan bangga.


“Cantik sekali, mutiaranya berkilau sangat indah. Siapa pun yang memakai gelang itu, pasti akan ikut bersinar” Jawab Zal.


“Benar, aku setuju” Dza ikut menimpali.


“Benar sekali. Ternyata, seleramu bagus juga” Pujian Zhi semakin membuat Emira tersenyum sumringah.


Ez hanya diam tak berkomentar. Melihat senyuman di wajah Khai, membuatnya semakin tak tega untuk berterus terang.


‘Setidaknya, aku akan membiarkan dia tersenyum untuk hari ini’ Batin Ez.


“Ayo, kita makan apa yang kalian beli. Hari ini, aku ingin makan banyak makanan” Ucap Ez sambil memakan sepotong pizza dengan lahap.


“Kita harus makan yang banyak agar tetap sehat sampai saat konser” Ujar Zhi.


Mendengar sindiran Emira, membuat Zhi beraksi. Ia mengambil bantal berbentuk bunga matahari, lalu memukul Emira. Sontak saja, hal itu membuat keduanya saling pukul. Meski begitu, mereka tidak benar-benar melakukannya dengan keras.


***


Seminggu sudah berlalu sejak kelima member mengetahui kebenaran tentang ibunya Khai, tapi tak satu pun dari mereka yang tega memberitahu Khai.


Terlebih, mereka sedang sibuk mempersiapkan konser yang akan berlasung esok hari. Rasanya juga tidak tepat jika memberitahu Khai mengenai ibunya di saat seperti ini, sehingga mereka memutuskan akan memberitahu setelah konser selesai.


Di dalam ruang latihan, keenam member tengah beristirahat setelah berlatih vokal. Mereka menikmati buah-buahan segar sembari bercengkerama.


“Padahal bukan untuk yang pertama kalinya, tapi aku masih saja merasa gugup saat menjelang konser” Ungkap Dza.


“Penampilan kakak selalu bagus, dan juga kakak yang paling giat berlatih. Jadi jangan khawatir” Zhi berkata sambil memakan sepotong apel.


“Aku berharap, besok bukanlah konser terakhir kita. Apa pun yang akan terjadi nanti, semoga kita tetap bisa menyapa ‘My Spring’ ”


Chan langsung protes saat mendengar ucapan Ez, “Kenapa bicara seperti itu?. Tentu saja kita akan terus menyapa ‘My Spring’ sampai kita tua” Chan menjeda kalimatnya, lalu kembali bergeming, “Bahkan kita masih bisa mengadakan konser sambil duduk, jika sudah tidak mampu berdiri”


Zal menoyor bahu Chan sembari berkata, “Orang aneh mana yang mau membuang uang untuk membeli tiket demi menonton sekelompok orang duduk?”


"Aku tidak keberatan jika di anggap aneh karena menonton konser sekelompok orang duduk"


Keenam member menoleh bersamaan ke arah sumber suara.


"Sepertinya, kau sudah menjadi 'My Spring' sejati" Zhi mengepalkan tangan, lalu mengajak Emira untuk tos. Kelima member ikut tersenyum melihat ke akraban keduanya.


~Hari Konser~


SUN menaiki panggung setelah berdoa bersama para staf. Gemuruh suara 'My Spring' menggema di seluruh penjuru stadion yang kini seperti lautan manusia.


"Mereka selalu mengagumkan saat di panggung" Pak Arsel menepuk bahu Emira pelan.


"Benar" Jawab Emira singkat.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Pak Arsel karena Emira terus memperhatikan ponsel.


"Ini... sejak tadi ponsel kak Khai terus berbunyi. Apa mungkin ada hal penting?"


Raut wajah Emira terlihat khawatir.


"Siapa yang menelepon?"


Emira memperlihatkan ponsel Khai, namun hanya nomor tanpa nama yang tertera di layar ponselnya.


"Biarkan saja" Titah Pak Arsel.


Setelah menyelesaikan beberapa lagu, para member turun dari panggung untuk beristirahat. Beberapa kru sigap membantu keenam member, ada yang menyiapkan minuman, handuk penyeka keringat, juga ada yang memijat bahu mereka.


Emira yang juga kewalahan mengurus para member jadi melupakan niatnya untuk memberitahu Khai soal nomor tak di kenal yang terus meneleponnya, hingga para member kembali ke atas panggung.


'Nomor ini terus menelepon, apa aku jawab saja?' Monolog Emira saat ponsel Khai kembali berdering. 'Tapi, aku takut kak Khai marah jika sembarangan menjawabnya. Akh, entahlah' Akhirnya, Emira memutuskan untuk mengabaikan panggilan telepon tersebut dan akan memberitahu Khai saat sudah berada di belakang panggung.


Para member kembali beristirahat setelah menyanyikan lagu terakhir. Sebelum mengakhiri konser, mereka akan melakukan sesi tanya jawab yang telah dikumpulkan dari 'My Spring' beberapa waktu lalu.


"Kak..."


Emira menghampiri Khai tepat saat ia turun dari panggung.


"Ada apa?"


"Ponsel kakak terus berbunyi sejak tadi" Emira menyerahkan ponsel milik Khai.


Khai lantas menjauh untuk menjawab panggilan telepon tersebut.


"Ada apa?" Tanya Khai pada suara di seberang sana.


Seketika, tangan Khai lemas saat melihat beberapa foto dari layar ponselnya. Matanya mengembun, beberapa detik kemudian, butiran bening mengalir dari kedua sudut matanya.


...***...


Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻


Terima kasih 😘🤗🙏🏻