
Khai menatap Emira dengan tatapan memelas. “Bantu aku” Mohonya.
"Tidak mau. Bukankah, kakak sudah pernah bertemu orang tuaku saat memberi paman uang?"
"Sebenarnya, aku menyuruh orang lain waktu itu" Jawab Khai sambil tersenyum lebar.
Emira terkejut mendengar pengakuan lelaki yang ada di depannya. "Jadi... yang ibu maksud waktu itu siapa?" Gumamnya.
“Terserahlah. Pokoknya, aku tidak mau membantu. Kakak harus izin sendiri pada orang tuaku jika ingin menginap!” Ujar Emira lagi, lalu melenggang masuk ke dalam rumah.
Khai mengacak rambut dengan frustrasi, ‘Akh!. Seharusnya, aku juga menyiapkan kata sambutan untuk ayah dan ibu mertua’ Ujarnya, lalu berjalan menyusul Emira.
.
.
.
Khai sangat gugup karena diperhatikan dengan lekat oleh kedua orang tua Emira.
Sambil menatap Khai, lelaki paruh baya itu bertanya, “Kau siapa dan apa tujuanmu ke sini?”
"Wajahnya berbeda dari waktu itu. Apa kau punya banyak pacar?!"
"Ibu..." Belum sempat Emira menjawab, Khai telah lebih dulu menjelaskan.
Khai menarik napas dalam sebelum berkata, “Perkenalkan, nama saya Khair. Maaf, karena saya datang secara tiba-tiba. Orang yang bertemu Anda waktu itu adalah karyawan saya"
"Karyawannya sangat tampan. Ibu sampai mengiranya artis. Tapi, bosnya lebih tampan"Ujar ibunya Emira.
Emira serta ayahnya melotot mendengar perkataan wanita paruh baya itu, sementara Khai tersipu malu.
"Tujuan saya datang, untuk mengajak Emira...” Belum selesai Khai menjelaskan, lelaki paruh baya itu lebih dulu bergeming, “Putriku tidak akan bekerja dengan artis lagi. Dia akan tinggal bersama kami”
Khai terdiam mendengar perkataan lelaki paruh baya itu. Lalu mengumpulkan keberanian, sebelum akhirnya berkata, “Saya...saya ingin menikahi putri Anda”
Kedua orang tua Emira terkejut mendengar perkataan Khai.
Lelaki paruh baya itu membenarkan letak kaca matanya, menatap Khai dengan tajam, “Kau tidak sedang bergurau, kan?. Walaupun di mataku, putriku sangat cantik, tapi sebenarnya dia sangat sederhana. Kenapa kau menyukainya?. Teman-teman artismu pasti banyak yang lebih cantik.”
Tak hanya Khai, Emira serta ibunya juga terkejut mendengar pertanyaan lelaki paruh baya itu.
Wanita paruh baya itu melotot pada suaminya, sambil berkata “Kenapa bertanya seperti itu?. Putri kita yang paling cantik” Bisiknya.
Ayah Emira juga berbisik, “Aku mengatakan fakta agar kita tidak kecewa nantinya”
“Meskipun benar, tapi jangan langsung mengatakannya seperti itu” Wanita paruh baya itu kembali berbisik.
“Hmmm...” Suara Emira mengalihkan perhatian kedua orang tuanya.
“Jadi kenapa?” Ayah Emira kembali bertanya.
“Saat kecil, orang-orang menghormati saya karena jabatan ayah saya. Lalu, ketika saya memutuskan pergi dari rumah dan memulai karir dari nol, mereka menganggap remeh. Di saat saya sudah menjadi idol dengan banyak penggemar, mereka kembali menerima dan memperlakukan saya dengan baik, bahkan mengistimewakan saya. Mereka hanya melihat sisi sempurna saya. Tapi tidak pernah tahu, bagaimana saya bekerja keras” Khai memutus kalimatnya sejenak, lalu kembali menjelaskan, “Emira... dia bisa menerima saya apa adanya. Selama menjadi asisten SUN, dia sudah tahu kekurangan saya dan kelima member lain. Tapi, dia tetap memperlakukan kami dengan baik. Dia menganggap kami manusia, bukan idol”
Ibunya Emira menatap Khai dengan sendu, “Ternyata, menjadi artis tidaklah mudah. Kau pasti kesulitan selama ini” Ujarnya sembari mengusap pundak Khai.
“Hmmm...Meskipun begitu, bagaimana nanti dengan teman-teman atau penggemarmu?. Aku tidak mau jika putriku mendapat hujatan, bahkan serangan lagi. Bagaimana cara kau melindunginya?” Lelaki paruh baya itu kembali bertanya.
Khai menghembuskan napas, menatap lekat lelaki yang ada di depannya, “Sebelumnya, saya minta maaf atas kejadian kemarin. Sekarang, perusahaan dan para penggemar SUN sudah memberi izin untuk para member memiliki pasangan. Jadi, saya rasa tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika Anda khawatir dan merasa tidak nyaman dengan media...kita bisa merahasiakannya”
Melihat wajah Emira yang nampak kecewa, wanita paruh baya itu segera mengusap punggung putrinya dengan lembut.
“Kau seorang idol terkenal dan ayahmu juga bukan sembarang orang, berbanding terbalik dengan kami. Apa keluargamu bisa menerima putriku?” Tanya ibunya Emira yang sejak tadi diam.
“Ayah saya tidak pernah mempermasalahkan soal itu. Ibu saya juga pasti tidak keberatan, karena beliau sudah meninggal” Ujar Khai lirih.
Wanita paruh baya itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, “Maafkan aku” Ujarnya sambil tersenyum kikuk.
Khai menggelengkan kepala sambil tersenyum, “Tidak apa-apa” Jawabnya.
Setelah pembicaraan selesai, kedua orang tua Emira akhirnya mengizinkan Khai untuk menginap.
***Pagi Hari***
Emira membantu ibunya menyiapkan sarapan sebelum kembali ke SUN house.
“Kakak sudah bangun?. Ayo, kita sarapan” Emira menarik kursi, mempersilakan Khai untuk duduk.
Ayah Emira berdecak, “Anak muda zaman sekarang banyak yang malas bangun pagi” Gumam lelaki paruh baya itu.
Berbeda dengan Emira yang tersenyum mendengar sindiran ayahnya, Khai justru menjadi kikuk.
Setelah mengambilkan nasi beserta lauk untuk suaminya, wanita paruh baya itu berganti mengisi piring Khai yang masih kosong.
“Telurnya tidak usah, bu” Emira mencegah ibunya yang hendak meletakkan telur goreng di piring Khai.
“Kau tidak suka telur?” Tanya wanita paruh baya itu.
“Oh... begitu rupanya” Wanita paruh baya itu lantas meletakkan kembali telur goreng yang hampir berpindah tempat, lalu hendak menukarnya dengan seiris daging.
“Tidak apa-apa. Saya juga suka telur goreng” Ujar Khai sambil mengambil kembali telur gorengnya.
Sambil tertawa, Khai berkata “Kau lupa ya?. Sekarang, aku juga suka makan telur”
Emira hanya menggelengkan kepala, tak mengindahkan pertanyaan serta tingkah aneh Khai.
“Kami sengaja memasak daging untukmu. Jadi, kau harus menjaga putriku dengan baik!” Ujar lelaki paruh baya yang tengah menikmati sarapannya.
Khai menganggukkan kepala, “Baiklah. Saya akan berusaha sebaik mungkin” Jawabnya.
Dengan senyum bangga, Khai berkata, “Karena putri Anda suka udang, saya akan membelikannya setiap hari. Bahkan, saya bisa membelikan tambak udang untuknya”
“Kau mau membuat anakku terkena penyakit karena udang?!. Tanya ayah Emira dengan tegas.
Khai langsung menggelengkan kepala, “Tidak... maafkan saya” Ujar Khai lirih.
Sementara, Emira dan ibunya tertawa melihat ekspresi Khai yang ketakukan.
Selesai sarapan, Emira dan Khai berpamitan untuk kembali ke SUN house.
“Kau jaga diri baik-baik. Jika lelaki ini menyakitimu, segera beritahu ayah”
Emira menganggukkan kepala mendengar perkataan ayahnya, dengan takzim mencium punggung tangan lelaki paruh baya itu, lalu melakukan hal yang sama pada ibunya.
“Jaga dirimu. Jika merasa sulit, pulanglah ke rumah” Ujar wanita paruh baya itu sembari memeluk putrinya dengan erat.
“Tolong, jaga Emira dengan baik” Ujar ibunya Emira pada Khai.
Khai tersenyum sambil menganggukkan kepala, “Anda jangan khawatir, saya akan menjaganya” Jawabnya.
“Aku akan menenggelamkanmu jika tidak bisa melindungi putriku. Meskipun, aku mengizinkan kau membawa putriku kembali, bukan berarti kau sudah sepenuhnya mendapat restuku”
Khai menelan saliva mendengar perkataan ayah Emira. “Baik, saya paham” Ujarnya kemudian.
‘Ku kira sudah mendapat restu setelah diinterogasi semalaman’ Gumam Khai pelan, namun terdengar jelas oleh Emira yang berdiri di sampingnya.
.
.
.
Khai melirik Emira yang duduk di sampingnya, lalu kembali fokus memperhatikan jalan, “Susah juga mengambil hati ayahmu” Ujarnya kemudian.
“Apa kakak jadi putus asa?”
Khai menyunggingkan senyuman, “Mana mungkin seorang Khai menyerah dengan mudah” Jawabnya dengan penuh percaya diri.
“Karena kau bukan lagi asisten SUN, jadi jangan mau menuruti perkataan para member. Kau juga jangan terlalu akrab dengan mereka” Ujar Khai lagi.
Emira menoleh, menatap Khai dengan mata menyipit. “Lalu, kenapa kakak mengajakku ke SUN house?!”
“Aku hanya ingin pamer pada mereka. Dan juga... awas saja jika kau berani dekat-dekat dengan Ez!”
Dengan senyum mengembang, Emira berkata, “Memangnya kenapa?. Kakak Ez sangat baik padaku”
“Jangan memanggilnya kakak lagi!. Dia akan menjadi adik iparmu” Gumam Khai.
“Bukankah, kalian seumuran?”
“Kami memang lahir di tahun yang sama, tapi aku lima bulan lebih dulu menghirup udara dibanding dia”
Emira terkekeh melihat ekspresi Khai yang kesal. Ia semakin semangat untuk mengerjai lelaki yang kini tengah fokus menyetir.
“Sebenarnya, semua member sangat baik padaku. Tapi, kak Ez berbeda. Dia selalu perhatian dan tidak pernah berteriak padaku” Ujar Emira sambil melirik Khai.
“Kau belum benar-benar mengenalnya. Dia sangat mengerikan saat marah. Ucapannya juga sering membuat orang sakit hati. Kenapa kau sangat susah untuk bersyukur?!. Kau tahu, di dunia ini banyak wanita yang menyukaiku, tapi aku malah merendahkan diri di depanmu. Di mana lagi, kau bisa mendapatkan cinta dari pria tampan, kaya, berbakat, dan nyaris sempurna sepertiku?!”
Belum selesai dengan kalimatnya, Khai kembali bergeming, “Pokoknya, aku tidak mau kau akrab dengan Ez. Dengan Zhi dan Chan juga... akh tidak... Zal dan Dza juga. Lalu... dengan Juna juga”
Emira tertawa mendengar ocehan Khai, “Kenapa kakak jadi posesif seperti ini?. Bisa-bisanya cemburu pada adik sendiri”
“Apa kau tidak bisa membedakan antara cemburu dan peringatan?!. Aku sedang memperingatimu, bukan cemburu” Jawab Khai.
Emira kembali tertawa melihat wajah Khai yang memerah seperti udang rebus. ‘Selain tingkat percaya diri yang berlebihan, ternyata dia juga sangat gengsi’ Monolog Emira pelan.
...***...
Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛
Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah🙏🏻😁
Terima kasih😘🤗🙏🏻