
Zhi mengacak rambutnya dengan frustrasi. Sejak semalam, ia mencoba menghubungi Khai namun sama sekali tak ada hasil. Tidak ada yang tahu di mana Khai saat ini berada, dia seolah menghilang tanpa jejak. Tak hanya Zhi, para member lain juga terus berusaha menghubungi Khai. Bahkan mereka menyewa orang untuk mencari Khai.
“Apa mereka sudah memberi kabar?”
Zhi menghampiri para member yang tengah berkumpul sembari menonton music video SUN.
“Khai ke makam ibunya kemarin, tapi setelah itu dia pergi entah kemana” Jawab Ez.
“Kenapa mereka bisa kehilangan jejak kak Khai?!. Aku jadi tidak sabar jika harus menunggu seperti ini, apa kita saja yang mencarinya?” Gerutu Zhi.
“Kita tunggu saja dulu, mungkin dia masih ingin menyendiri. Beri dia waktu untuk menenangkan diri” Ez mencoba memberi pengertian pada Zhi.
“Kak Ez benar. Lagi pula, kak Khai mengatakan ingin cuti bukan menghilang sungguhan. Kami juga khawatir, tapi kita tetap harus tenang” Tutur Zal.
“Khai akan semakin kecewa jika media tahu hal ini. Jadi, kalian harus hati-hati. Bersikaplah seolah Khai tengah cuti untuk berlibur atau urusan lain”
Keempat member menganggukkan kepala saat mendengar perintah dari Ez.
Ez tahu jika Khai tidak hanya bersedih atas kepergian ibunya, tapi juga merasa kecewa pada ayahnya yang tidak memberitahu kondisi dan keberadaan ibunya. Ia sangat ingin menemani sahabatnya saat ini, namun ia juga ingin memberi kesempatan untuk Khai menenangkan pikiran.
“Kenapa kalian menonton ini?!”
Zhi mengambil remote televisi, lalu menekan tombol power. Menonton music video SUN di saat seperti ini, semakin membuatnya mengkhawatirkan Khai.
Member lain hanya diam melihat tingkah member termuda SUN, mereka paham akan kekhawatiran Zhi. Pasalnya, Khai yang paling sering mengantar dan menjemput Zhi saat masih sekolah, Khai juga yang membantu Zhi dari para perundung. Bahkan, Khai tidak pernah marah saat Zhi menggunakan uangnya untuk membeli sesuatu. Khai memperlakukan Zhi seperti adiknya sungguhan.
Para member menoleh bersamaan ketika Emira datang sambil membawa kudapan. Ia meletakkan roti bakar dengan berbagai rasa di atas meja. Hingga sepuluh menit, roti bakar itu masih tak tersentuh.
Emira menghembuskan napas berat, lalu mengambil kembali roti kabar yang tadi dibawanya.
“Mau dibawa ke mana?” Tanya Chan.
“Memberikannya pada orang lain, kalian juga terlihat tidak akan memakannya!” Jawab Emira sedikit kesal.
Ez lantas mengambil sepotong roti bakar rasa cokelat, lalu memakannya dengan lahap. “Letakkan saja, kami akan memakannya” Ucapnya kemudian.
“Kalian tidak makan dengan benar sejak kemarin. Aku juga khawatir pada kak Khai, tapi kalian tetap harus memperhatikan kesehatan. Kenapa kalian terus membuatku kesal?!” Emira menahan agar air matanya tidak menetes, ia tidak ingin membuat member lain jadi merasa bersalah.
“Maafkan kami” Zal mengusap pucuk kepala Emira. “Ayo, kita makan bersama” Ucapnya lagi.
Emira beristirahat lebih dulu setelah menikmati roti bakar, meninggalkan para member yang masih bercengkerama. Mereka tengah berdiskusi mengenai lagu baru yang akan rilis dalam dua atau tiga bulan lagi.
Para member memutuskan untuk mengambil cuti agar menyamai Khai, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dari para staf. Selain itu, mereka juga tidak ingin latihan tanpa Khai, 'My Spring' juga akan khawatir jika mereka syuting dengan personil yang tidak lengkap.
“Kita harus ingat, bahwa sekarang ada Emira yang selalu mengkhawatirkan keadaan kita. Jangan terus membuatnya bersedih” Ez memulai percakapan.
“Benar. Dia sangat peka dan mudah menangis, persis seperti adik kecil yang selalu khawatir dan perhatian pada kakaknya” Ujar Zal.
“Dia sangat cengeng” Olok Zhi.
Ez dan Zal kompak melempar bantal pada Zhi yang telah mengumpat Emira. Sedang Zhi malah tersenyum lebar bak iklan pasta gigi.
“Bagaimana jika besok kita mencari kak Khai?” Usul Chan.
“Aku setuju. Belakangan ini, kita sibuk syuting dan latihan untuk konser. Kita sudah lama tidak pergi bersama” Dza menimpali, dan member lain menyetujui.
***Keesokan Harinya***
Emira menghampiri lelaki paruh baya yang kini tengah menyesap kopi hitam sembari berjemur. Sesekali pandanganya tertuju pada sekelompok pemuda yang tengah berolahraga. Meskipun sudah berumur, namun lelaki paruh baya itu masih terlihat sangat sehat.
“Anda juga harus mencoba ini” Emira meletakkan sepiring donat di samping kopi Pak Arsel.
Emira menganggukkan kepala sembari tersenyum, “Tidak biasanya Anda datang sepagi ini, ada apa?”
“Aku ingin melihat mereka seharian. Belakangan ini, aku sangat sibuk hingga jarang memperhatikan mereka. Aku sangat merasa bersalah atas apa yang tengah menimpa Khai” Sesal Pak Arsel.
“Jangan merasa bersalah, semua ini adalah takdir. Kita tidak boleh menyesalinya” Emira menjeda kalimatnya, lalu kembali berkata, “Maafkan saya”
“Untuk apa?” Tanya Pak Arsel sambil memakan donat yang tadi dibawakan Emira.
“Saya sempat berperasangka buruk pada Anda, karena terlalu baik"
Emira menundukkan kepala, tak berani menatap lelaki paruh baya yang kini ada di sampingnya.
“Kau ini...selalu saja berbicara terus terang. Aku juga bersalah karena tidak memberitahu sejak awal” Pak Arsel mengusap pucuk kepala Emira dengan lembut.
“Terima kasih, sudah menganggap dan memperlakukan saya seperti putri Anda sungguhan” Ucap Emira tulus.
“Aku yang harusnya berterima kasih. Ahh...aku sudah lama tidak makan donat seperti ini. Rasanya sangat original, persis seperti rasa zaman dulu”
Emira tertawa mendengar pernyataan Pak Arsel, “Rasa zaman dulu itu seperti apa?” Goda Emira.
“Anak zaman sekarang mana paham" Pak Arsel tersenyum, lalu kembali memakan donatnya.
Para member menghampiri Pak Arsel dan Emira setelah selesai berolahraga. Tanpa aba-aba, mereka langsung memakan donat yang sudah tersaji di atas meja kayu berwarna putih.
"Bagaimana rasanya?. Aku sendiri yang membuatnya" Emira meminta pendapat para member.
"Pantas saja" Jawab Zhi singkat.
"Kenapa?" Tanya Emira dengan antusias.
"Pantas saja rasanya tidak enak" Zhi sengaja menggoda Emira, namun Emira malah kesal sungguhan dan mengambil donat yang sudah setengah dimakannya.
"Aku hanya bercanda, kenapa mudah sekali marah. Kau bisa cepat tua tahu" Olok Zhi.
"Rasanya sangat enak. Aku ada di pihakmu, Em" Chan mengangkat telapak tangannya, mengajak Emira untuk tos.
Zhi berdecak, "Dasar pengkhianat" Umpatnya, namun Chan dan Emira tidak perduli dan malah semakin memojokkannya.
Pak Arsel tersenyum melihat tingkah ketiganya. Pemandangan seperti inilah yang nantinya akan ia rindukan.
"Hari ini...kami berencana mencari Khai" Perkataan Ez mengalihkan perhatian mereka semua.
"Kalau begitu, aku akan ikut" Ujar Pak Arsel.
Setelah menyesap kopinya, Pak Arsel kembali berkata, "Aku juga sangat mengkhawatirkannya"
"Aku juga mau ikut" Ucap Emira dengan lantang.
Ez menghembuskan napas berat, ingin melarang namun rasanya percuma. Semua orang akan bersikap egois saat berkaitan dengan orang yang disayanginya.
"Baiklah" Putus Ez kemudian.
...***...
Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛
Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻
Terima kasih 😘🤗🙏🏻