
***
Seorang wanita keluar dari ruangan Pak Sugara dengan wajah merah padam karena kesal. Kedua tangannya mengepal dan berulang kali menghembuskan napas dengan kasar.
Wanita itu bernama Aerin, staf yang menjadi ketua komunitas VVIP. Ia kesal karena Pak Sugara telah mengetahui perbuatannya yang menjual informasi pada ‘My Spring’. Kekesalannya semakin bertambah karena ia menjadi bahan gosip para staf, bahkan beberapa staf jadi menjauhinya.
Dengan geram, Aerin bergumam, ‘Aku pasti akan menemukan dan membalasnya. Berani-beraninya kau mengusikku’
Aerin mengambil benda pipih dari saku celana, lalu mengetik pesan yang ia tujukan pada seseorang. Selang beberapa menit, senyumnya mengembang saat pesannya mendapat balasan.
‘Orang sepertimu, beraninya mengusikku!. Lucu sekali. Lihat saja, akan ku balas kau’ Ucap Aerin, lalu berjalan menjauh dari ruangan Pak Sugara.
***SUN House***
Pak Sugara datang tepat setelah syuting ‘Cerita SUN’ selesai. Lelaki paruh baya itu lantas menemui para member yang tengah beristirahat. Melihat para member yang kelelahan, membuatnya merasa bersalah. Namun, tuntutan mereka sebagai boy group tidak bisa diabaikan. Meskipun jarang menunjukkan perhatian, tapi beliau sangat perduli pada para member.
“Tidak biasanya Anda datang secepat ini, apa ada sesuatu?” Tanya Zal pada Pak Sugara.
“Aku sudah tahu dalang dari komunitas VVIP”
“Benarkah?. Siapa?” Ujar Dza dengan antusias.
“Aerin”
Para member terkejut mendengar jawaban Pak Sugara. Aerin adalah salah satu staf terlama di perusahaan. Bahkan, dia menjadi salah satu staf yang paling dipercaya oleh perusahaan. Dia juga pernah menjadi asisten sementara SUN saat perusahaan belum mampu mempekerjakan asisten sungguhan.
“Aku tidak menyangka dia yang melakukannya” Ucap Chan dengan kecewa.
“Aku juga. Kita bahkan telah melalui banyak hal bersama sejak awal” Zhi ikut bersuara.
Khai menatap Pak Sugara dan bertanya, “Lalu, apa yang Anda lakukan padanya?”
“Aku hanya memberinya peringatan. Mau bagaimanapun juga, dia sudah banyak berkontribusi untuk kita” Terang Pak Sugara.
“Sebaiknya, kalian pura-pura tidak tahu soal ini. Meskipun bersalah, tapi dia masih menjadi bagian dari perusahaan. Aku harap, ini adalah peringatan pertama dan terakhirnya” Pak Sugara kembali bergeming, sedang para member kompak menganggukkan kepala.
“Di mana Emira?. Aku tidak melihatnya sejak tadi” Tanya Zhi sambil menoleh ke sekeliling.
“Itu dia”
Chan menunjuk seseorang yang berjalan mendekati mereka.
“Dia panjang umur sekali. Baru saja dibicarakan, sudah ada di depan mata” Ucap Dza.
Emira segera membuka kotak makan yang dibawanya, lalu menyusunnya dengan rapi di atas meja kaca, juga menyiapkan jus buah sesuai kesukaan para member.
“Silakan dimakan” Ujar Emira.
Melihat Pak Sugara yang bersiap akan pergi, Emira segera bergeming, “Saya juga sudah menyiapkan untuk Anda, makanlah sebelum pergi”
“Terima kasih, kau jadi repot karena aku” Pak Sugara tersenyum malu.
“Jangan sungkan begitu” Emira tersenyum dengan ramah.
“Apa ada yang tengah mengganggu pikiranmu?. Kau nampak berbeda dari biasanya?” Bisik Ez.
Emira terkejut karena Ez berbicara tepat di belakangnya, “Ti...tidak” Jawab Emira dengan gugup.
“Kenapa aku merasa kau sedang berbohong?!” Ucap Ez lagi.
Belum sempat Emira menjawab, Zhi telah lebih dulu berkomentar, “Apa yang kalian bicarakan, kenapa berbisik?”
Pertanyaan Zhi mengundang perhatian keempat member serta Pak Sugara, seketika mereka menoleh bersamaan ke arah Emira dan Ez.
“Bagaimana kami bisa punya rahasia, jika kau selalu ingin tahu urusan orang lain” Protes Ez, sedangkan Zhi malah tertawa mendengarnya.
Setelah selesai makan siang, Pak Sugara berpamitan pergi karena ada pekerjaan lain. Sedang para member melanjutkan kegiatan untuk pemotretan majalah.
Emira membantu Zhi mengikat gelang sebagai aksesoris untuk pemotretan, “Apa ini terlalu kencang?” Tanyanya.
Zhi menggelengkan kepala, lalu bertanya, “Kau seperti tidak bersemangat, ada apa?”
“Benarkah?. Sepertinya, aku kelelahan” Jawab Emira.
“Istirahatlah jika tidak sehat, jangan memaksakan diri”
“Aku baik-baik saja, kau menakutkan jika khawatir seperti itu”
Emira mengibaskan tangannya, seolah tidak setuju dengan perhatian Zhi.
Zhi berdecak melihat ekspresi Emira, “Setelah kegiatan hari ini selesai, aku akan mentraktirmu ice cream” Ucapnya.
“Baiklah, awas saja jika kau berani berbohong”
“Ekspresinya langsung berubah saat mendengar kata ‘traktir’, dasar kau ini” Ucap Zhi saat melihat Emira tersenyum sumringah.
“Em, tolong aku”
Emira mengakhiri obrolannya dengan Zhi, dan segera menghampiri Dza.
“Menurutmu, mana yang lebih cocok untukku?”
“Apa mereka tidak memilihkannya untuk kakak?”
“Tidak. Mereka bilang, aku boleh memilih sesuai yang ku mau”
Emira nampak menimbang sesuatu, lalu senyumnya mengembang, “Sepertinya, kakak akan lebih keren jika mengenakan ini”
Ucapnya sambil menunjuk topi berwarna putih yang ada di tangan kanan Dza.
“Baiklah, terima kasih atas saranmu”
Dza mengusap pucuk kepala Emira sebelum menuju kaca yang ada di meja rias.
Ez dan Khai memanggil Emira bersamaan. Awalnya, Khai mengira jika Emira akan membantunya lebih dulu, namun ia salah. Emira justru berjalan melaluinya dan membantu Ez, bahkan sampai persiapan selesai, Emira sama sekali tidak membantunya.
Tak hanya itu, saat semua kegiatan selesai, Emira tetap tidak mengatakan apa-apa. Hal itu membuat Khai kesal. Saat para kru tengah sibuk membereskan properti, dan para member tengah mengobrol, Khai menemui Emira yang sedang menyusun barang-barang milik para member ke dalam tas.
Emira terkejut saat Khai memegang pergelangan tangannya dengan kuat, lalu menariknya menjauh dari ruangan.
“Kak...lepaskan!”
Meski berusaha sekuat tenaga, namun tenaga Khai bukanlah tandingannya.
Langkah kaki Khai yang cepat, membuat Emira sedikit berlari agar menyeimbanginya.
Khai melepaskan tangan Emira saat mereka telah berada di taman belakang rumah utama.
“Kakak kenapa?!” Tanya Emira sambil memegang pergelangan tangannya.
“Kau yang kenapa?!”
Emira terkejut karena Khai bicara dengan nada tinggi, matanya juga mulai memerah. Seolah tengah menahan amarah yang besar.
“Seharian ini, kau terus mengabaikanku. Memangnya, apa salahku?!. Kau tahu kan, aku sangat tidak suka diabaikan?!” Tatapan tajam Khai, membuat Emira tak berani mengangkat wajahnya.
“Bahkan, sekarang kau tengah mengabaikanku. Sebenarnya, apa yang telah ku lakukan?!”
“Jawab aku!!!” Khai merasa frustrasi karena Emira hanya diam.
“Apa kau selalu bertindak sesukamu seperti ini?. Terkadang baik, terkadang mengabaikan orang lain, terkadang perduli, apa kau selalu seperti itu?!” Khai mengacak rambut dengan kasar.
“Bukankah, kakak yang suka bertindak semaunya. Kenapa kakak memberikan bonus itu?. Apa di mata kakak, aku terlihat sangat menyedihkan?!. Kakak juga yang menemui pamanku dan memberinya uang, bukan?!. Kenapa kakak ikut campur terlalu jauh?!”
Emira memberanikan diri menatap Khai. Ia berusaha keras menahan agar air matanya tidak jatuh.
“Itu karena kau selalu menolak bantuanku”
Mata Emira membola mendengar jawaban Khai yang sangat santai, seolah tidak merasa bersalah.
“Aku tidak suka dikasihani dan aku bisa mengurus masalahku sendiri!” Ucap Emira dengan lantang.
“Kau terlalu lugu untuk mengurusnya. Bahkan, pamanmu telah berbohong selama bertahun-tahun. Dia lumpuh karena salahnya sendiri, bukan karena kecelakaan itu. Pamanmu sengaja memanipulasinya agar bisa terus memanfaatkanmu. Jika tidak percaya, kau tanyakan saja pada pamanmu” Khai menjeda kalimatnya, lalu berkata, “Aku telah membantumu, tapi kau malah berteriak seperti ini!”
Emira menarik panas dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia sangat ingin marah, namun tak tahu harus meluapkannya pada siapa.
“Aku hanya membantumu. Kau tahu kan, aku sangat tidak suka ada orang yang mengusik pegawaiku”
“Jika kau terus memikirkan pamanmu, hal itu bisa saja berpengaruh pada pekerjaan dan aku juga akan terkena dampaknya. Sebenarnya, aku melakukan itu untuk diriku sendiri, jadi jangan salah paham” Ucap Khai lagi.
"Tanpa diingatkan, aku sudah ingat jika posisiku hanya asisten. Kedepannya, jangan pernah ikut campur urusan asistenmu lagi. Aku sangat profesional dalam pekerjaan, jadi jangan khawatir” Ucap Emira lirih, lalu meninggalkan Khai.
‘Akh!!!. Kenapa dia sensitif sekali?. Aku tidak bermaksud mengingatkan posisinya. Dia bahkan tidak berterima kasih. Kenapa susah sekali membuatnya mengerti?!’ Khai bergumam sambil mengusap wajah dengan kasar.
Tanpa Khai dan Emira sadari, ada Ez yang tengah menyaksikan perdebatan mereka. Saat Khai menarik tangan Emira dengan kasar, Ez melihat dan mengikuti mereka.
‘Aku ingin menganggapnya salah, tapi aku sangat paham dengan sikapmu. Kau sangat dingin dan tak ingin tersentuh oleh siapa pun. Meskipun bersikap ramah dan perduli pada penggemar, tapi kau sangat memberi batasan karena tak ingin mereka berhalusinasi tentangmu, jika kau sudah bertindak sejauh ini, itu berarti...' Ez menghembuskan napas pelan sambil menatap Khai yang berjalan menjauh.
Karena terlalu fokus pada Khai dan Emira, Ez sampai tak menyadari jika sejak tadi ada seseorang yang tengah memperhatikannya.
'Menarik sekali, kedua member tertua SUN bisa bersikap lembut pada orang yang sama. Padahal, aku hanya ingin berkeliling untuk mencari udara segar sebelum pulang, tapi malah mendapatkan kesegaran yang sesungguhnya. Kau memang sangat beruntung' Monolog Aerin sambil tersenyum simpul.
.
.
.
Di kamarnya, Emira tidak bisa beristirahat dengan tenang. Perkataan Khai terus saja mengganggu pikirannya.
'Tanpa diingatkan, aku juga sudah tahu posisiku hanya pegawai. Dia pikir, aku tidak tahu diri, sampai bisa salah paham?!. Ibarat matahari dan bulan, ada di dunia yang sama tapi tidak bisa bertemu. Sekalipun sangat ingin bertemu atau bahkan bertukar posisi, yang bisa mereka lakukan hanya bekerjasama memberi manfaat untuk bumi. Aku sangat paham perbedaan itu, kenapa terus diingatkan?!' Ujar Emira sambil berulang kali menghembuskan napas dengan kasar.
Emira terdiam sejenak, lalu kembali bergumam, 'Kenapa aku mengibaratkannya seperti itu?. Akh, entahlah. Aku semakin kesal mengingat ekspresinya tadi'
...***...
Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛
Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻
Terima kasih 😘🤗🙏🏻