SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 38



Khai kembali ke atas panggung bersama para member lainnya. Mereka duduk di kursi yang telah disusun berjajar. Sorot lampu dan kamera mengelilingi keenam member yang berada di tengah panggung. Mata mereka terpana melihat ‘My Spring’ yang seolah tak lelah meskipun bersorak sejak awal konser. Bahkan, ‘My Spring’ masih sangat bersemangat ingin mendengar jawaban para member atas pertanyaan yang telah dikumpulkan.


“Tiba-tiba aku merasa gugup” Bisik Dza pada Chan yang duduk di sampingnya.


“Aku juga, padahal ini bukan yang pertama” Jawab Chan.


“Terima kasih, aku sangat tersanjung atas antusias kalian. ‘My Spring’... kalian keren”


Perhatian para member teralihkan saat Ez mengucapkan kalimat pembuka, 'My Spring’ yang mendengarnya juga semakin heboh.


Para member akan diberi sepuluh pertanyaan, masing-masing akan menjawab satu pertanyaan dan sisanya akan mereka jawab bersama. Pertanyaan pertama, akan dijawab oleh Zal dan yang akan membacakan pertanyaannya adalah Ez.


“Apa kau siap?” Tanya Ez dengan raut serius. Walaupun sebenarnya, ia sangat ingin tertawa melihat ekspresi tegang Zal.


“Iya” Jawab Zal singkat.


“Kak, kau terlihat sangat tertekan” Ucapan spontan dari Zhi membuat member lain yang sejak tadi menahan tawa akhirnya tak bisa lagi menahannya.


“Akh!!!. Kau malah membuatku semakin tertekan” Zal juga tak bisa menahan tawanya.


Pasalnya, mereka agak sulit serius dalam situasi seperti ini. Bukan tanpa alasan, hal itu mereka lakukan agar mengurangi ketegangan dan untuk menjalin keakraban dengan ‘My Spring’.


“Baiklah. Aku akan memulainya. Hal apa yang kau takutkan?” Ez membacakan pertanyaan dari salah satu ‘My Spring’ yang terpilih.


“Kehilangan kalian”


‘My Spring’ bersorak saat mendengar jawaban Zal yang singkat namun jelas, begitu juga dengan member lain.


Selanjutnya, pertanyaan akan dibacakan oleh Zal dan dijawab oleh Dza.


“Hal apa yang kau inginkan?” Tanya Zal.


“Bersama kalian dalam waktu yang lama” Jawab Dza dengan malu-malu.


“Kenapa kalian hari ini bersikap manis?. Ini tentu bukan karena ada ‘My Spring’ di depan kita, kan?” Celoteh Zhi.


“Kenapa kau membuka kartu, kakak-kakak kita jadi semakin malu” Chan ikut berkomentar.


Candaan kedua member termuda SUN semakin membuat ‘My Spring’ antusias, mereka bersorak semakin kencang. Keduanya memang sangat pandai menghidupkan suasana. Lalu, pertanyaan selanjutnya untuk Chan, Zhi, Khai, dan terakhir untuk Ez.


“Antara cinta dan persahabatan, mana yang kau pilih?” Pertanyaan terakhir yang dibacakan oleh Khai.


“Pertanyaan terakhir ternyata cukup sensitif” Seru Zal.


“Benar, kakak harus hati-hati menjawabnya” Dza juga ikut berkomentar, sementara Chan dan Zhi malah tertawa.


“Apa pertanyaannya benar seperti itu?” Tanya Ez memastikan.


“Iya”


Khai menunjukkan kertas pertanyaan tersebut pada Ez dan member lain.


“Entahlah, aku belum pernah telibat dalam dua hal tersebut secara bersamaan. Tapi, jika nanti hal itu terjadi, aku akan mengutamakan...” Ez memutus kalimatnya, memperhatikan kelima rekannya lalu melihat ke arah ‘My Spring’.


“Mengutamakan apa?” Tanya Zhi yang sudah tidak sabar dengan kelanjutan dari jawaban Ez.


“Mengutamakan...agar hal itu tidak terjadi” Lanjut Ez kemudian.


Dza dan Zal menggelengkan kepala sambil tersenyum, Chan dan Zhi terlihat tidak puas dengan jawaban member yang terkenal cuek itu, sedang Khai hanya tersenyum simpul.


Setelah pertanyaan selesai dibacakan, para member berpamitan sebelum konser berakhir.


“Terima kasih telah datang ke sini, semoga kalian pulang dengan selamat. Kami berharap, kita semua bisa bertemu lagi di konser akan yang akan datang” Seru Zal.


“Tanpa dukungan dari kalian, konser ini tidak akan ada. Terima kasih” Ucap Dza.


“Kita akan bertemu lagi secepatnya, jadi jangan bosan untuk menunggu kami” Ujar Chan sembari membuat simbol berbentuk hati dengan ibu jari dan jari telunjuk yang silangkan.


Sontak hal itu membuat ‘My Spring’ yang tadi tenang menjadi heboh kembali.


“Ayo, datang ke konser kami lagi!” Celotehan Zhi membuat para member tertawa.


“Kau berkata seperti sedang mengkampanyekan sesuatu” Bisik Chan sambil menepuk pundak Zhi.


“Itu karena kalian telah mengambil kata-kata yang ku pikirkan sejak tadi” Jawab Zhi dengan bergantian memukul pundak Chan.


“Terima kasih telah datang. Sampai bertemu lagi di konser selanjutnya. Tolong, jaga kesehatan kalian” Ucap Ez.


“Terima kasih telah meluangkan waktu kalian untuk bertemu kami. Kami sangat bersyukur karena kalian selalu mendukung SUN. Jika suatu saat nanti SUN konser dengan anggota yang tidak lengkap, tolong tetaplah hadir dan jangan kecewa. Karena kalian adalah musim semi yang menjadi kekuatan SUN untuk terus bersinar”


Tak hanya para member, tapi ‘My Spring’ juga terlihat bingung dengan ucapan Khai. Suasananya bahkan menjadi riuh karena ucapan dari leader SUN tersebut.


“Tolong tenang, aku tidak bermaksud membuat kalian menjadi tidak nyaman. Aku hanya terbawa suasana hingga berkata seperti itu, maaf” Lanjut Khai kemudian.


“Dia anak yang kuat, aku yakin itu” Pak Arsel berkata dengan lirih.


“Iya, aku juga mempercayainya” Jawab Pak Sugara, matanya terlihat sendu saat menatap para member di atas panggung.


‘Aku juga percaya padamu, kak. Bahkan, sejak tadi kau bisa berdiri tegak dan terlihat keren. Jika aku yang ada di posisimu, pasti kakiku sudah tidak mampu lagi berdiri. Kakak benar-benar hebat sejak awal. Situasi seperti ini, pasti akan berlalu dan kau pasti bisa bangkit lagi’ Gumam Emira pelan. Seketika, butiran bening mengalir dari kedua sudut matanya.


***


“Kak...”


Zhi berlari menghampiri keempat member yang hendak bersiap untuk sarapan.


“Kenapa berisik pagi-pagi?” Tanya Chan.


“Apa kalian melihat kak Khai?. Dia tidak ada di kamarnya” Seru Zhi.


“Mungkin dia sedang olahraga” Ucap Zal sambil meletakkan sepotong ayam goreng ke piringnya.


“Tidak mungkin. Kamarnya sangat rapi, seperti tidak dihuni”


“Apa mungkin kak Khai menghilang?” Celoteh Chan.


“Apa yang kau katakan?!. Semalam, dia pulang bersama kita!” Seru Dza.


Tak ingin terus menebak, Ez segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


“Begitu rupanya, baik. Saya akan tutup teleponnya” Ez terlihat tak bersemangat saat panggilan suara terputus.


“Ada apa kak?” Zhi bertanya dengan antusias.


“Khai mengambil cuti, dia butuh waktu untuk menenangkan diri” Jawab Ez.


“Kemana kak Khai pergi?” Tanya Zhi lagi. Ia terlihat sangat khawatir dengan keadaan Khai.


“Entahlah, tak ada yang tahu dia pergi kemana. Dia hanya meminta cuti pada Pak Sugara tanpa berkata apa-apa” Terang Ez.


“Kak Khai pasti membutuhkan seseorang untuk menemaninya saat ini” Zhi kembali bergeming.


“Tapi, dia juga butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikiran” Jawab Dza.


“Aku merasa bersalah karena tidak memberitahunya lebih awal. Pasti sangat sulit, saat harus terlihat baik-baik saja di tengah banyak orang, sementara hatinya hancur” Lirih Zal.


“Aku yang tidak tegas. Sejak awal, harusnya aku sudah tahu hal ini akan terjadi tapi malah mengabaikannya” Ez mengusap wajah dengan kasar.


“Jangan saling menyalahkan, kalian sudah melakukan yang terbaik” Ujar Emira lirih.


Kelima member menoleh bersamaan ke arah sumber suara.


“Jangan menangis lagi, kau sudah banyak menangis sejak tadi malam” Zhi menghampiri Emira dan memberinya tissue.


“Maaf, kami kembali membuatmu menangis” Ucap Ez sambil menundukkan kepala, tak mampu menatap wajah Emira yang sembab.


*** Makam Ibu Khai***


Sejak pagi, Khai hanya terduduk di samping makam ibunya. Tatapannya kosong, tubuhnya juga lemas karena terus terjaga sepanjang malam. Bahkan, ia belum memakan apa pun sejak pulang dari konser.


‘Ibu...bu,...aku ada di sini sekarang. Apa ibu tidak ingin melihatku?. Aku sangat ingin melihat ibu. Jika tahu sore itu adalah pertemuan terakhir kita, aku tentu akan ikut ibu pergi. Aku...sangat ingin melihat ibu’ Khai membiarkan air matanya mengalir, napasnya tersengal karena merasakan sesak.


‘Meskipun aku mempunyai teman-teman yang sudah seperti keluarga, namun aku tetap ingin ibu ada di sampingku. Meskipun mereka akan memelukku, tapi aku tetap ingin pelukan ibu, meskipun mereka akan mendengarkan semua ceritaku, tapi aku ingin ibu menjadi orang pertama yang mendengarnya. Aku harus bagaimana sekarang?!’


Khai memutus perkataannya, ia kembali menarik napas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.


‘Aku anak yang buruk bukan?!. Aku bahkan tidak bisa menemukan ibu, aku juga tidak ada di saat ibu sakit. Ak...aku benar-benar anak yang payah. Maafkan aku, bu’


Khai terdiam sejenak, lalu kembali berkata, ‘Mereka bilang, lirik yang ku tulis penuh makna dan bisa membuat orang lain termotivasi saat mendengar liriknya dinyanyikan. Mereka berterima kasih akan hal itu. Seharusnya, mereka berterima kasih pada ibu. Karena setiap aku menulis lirik, wajah ibu selalu muncul. Jika ibu tidak hadir di pikiranku, mana mungkin aku bisa menulis lirik seindah itu, bukan?!’


‘Bu...aku benar-benar lelah sekarang, aku ingin menyerah. Apa aku boleh menyusul ibu?!’


Tangis Khai semakin menjadi, ia mengeluarkan semua sesak yang dipendamnya selama bertahun-tahun. Orang yang paling ingin ditemuinya, sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sekarang, hanya gundukan tanah di depannya yang bisa ia lihat.


...***...


Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻


Terima kasih 😘🤗🙏🏻


Ketemu sama member SUN dan Emira di Ig Author yuk : Tayana_uri