SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 52



Emira memperhatikan bangunan yang ada di hadapannya. Setiap sudut bangunan itu, mempunyai kenangan yang tidak akan pernah di lupakan. Kekagumannya masih sama seperti saat pertama kali datang ke SUN house.


Langkah Emira terhenti di depan taman bunga yang kini sedang bermekaran. Matanya mengedar melihat berbagai jenis bunga yang ditanamnya sendiri.


‘Aku akan sangat merindukan kalian’ Ujarnya sambil menghirup udara yang bercampur dengan harumnya bunga-bunga tersebut.


‘Aku harus segera berkemas sebelum mereka pulang’ Gumam Emira setelah melirik arloji di tangannya.


.


.


.


Emira menyeka air mata yang terus mengalir, hatinya terasa sakit karena harus pergi tanpa berpamitan pada siapa pun. Namun, jika bertemu para member sekarang, niatnya bisa saja berubah.


‘Selamat tinggal’ Ujar Emira lagi. Berulang kali, ia menoleh menatap SUN house sebelum akhirnya benar-benar pergi.


Lima belas menit kemudian, ia tiba di halte bus. Tak lama menunggu, bus berwarna biru itu melaju menuju bandara.


Emira terus menatap ke arah luar jendela. Hatinya masih enggan untuk benar-benar pergi, tapi logikanya sudah tak bisa lagi bertahan.


‘Huft... kenapa aku berharap yang tidak-tidak?!. Aku pergi tanpa memberitahu siapa pun, jadi mana mungkin mereka menyusul. Dasar bodoh!!!’ Emira merutuki dirinya sendiri. Ingatannya kembali pada beberapa waktu lalu, saat ia dan para member naik bus bersama sepulang dari dunia fantasi.


Mata Emira membola saat bus tersebut memutar salah satu lagu dari SUN, ‘Menyebalkan! Kenapa kalian ada di mana-mana?!’ Gumamnya pelan.


***SUN House***


Keenam member tengah bersantai sembari memakan buah-buahan segar. Tak lama kemudian, wanita paruh baya datang menghampiri mereka dengan wajah panik.


“Apa kalian tahu, Emira di mana?!” Tanya Bu Tari.


“Tidak” Jawab para member dengan kompak.


“Kami baru pulang beberapa menit yang lalu. Apa dia tidak ada di kamarnya?” Tanya Zhi.


“Tidak. Tadi, ibu pergi membeli daging. Ketika pulang, dia sudah tidak ada” Terang Bu Tari.


“Ibu jadi khawatir karena dia meninggalkan ini di pintu kulkas” Ujar wanita paruh baya itu sembari menunjukkan catatan kecil.


Ez lantas mengambil catatan itu dan membacanya dengan keras :


‘Tolong jangan biarkan mereka terlalu sering makan daging, mereka juga harus makan sayur. Mereka sangat senang pangsit goreng buatan ibu, jadi tolong sering buatkan untuk mereka. Masakan ibu selalu enak, aku sangat suka. Terima kasih’


“Apa maksudnya?. Apa dia sedang bercanda?!” Tanya Chan dengan kesal.


“Ini sama sekali tidak lucu!” Ujar Zhi, lalu berlari menuju kamar Emira diikuti kelima member serta Bu Tari.


Dengan sigap, Zhi membuka pintu kamar Emira yang tidak terkunci. Mereka semakin panik karena kamar itu sangat rapi, seolah tidak berpenghuni.


Chan segera memeriksa lemari yang ternyata sudah kosong tak ada isinya sama sekali. Ia memukul pintu lemari tersebut, “Akh!!!” Teriaknya dengan kesal.


Dza mengambil secarik kertas yang ada di atas meja rias sambil berkata, “Ada catatan di sini”


Mereka kompak mendekat ke arah Dza yang tengah membaca pesan di kertas tersebut :


‘Kalian pasti kesal padaku saat ini, baiklah... aku minta maaf karena pergi tanpa berpamitan. Aku tidak bermaksud kabur dari masalah, tolong jangan salah paham. Saat kalian membaca ini, aku sudah berada di tempat yang aman. Jangan membuang waktu dengan mencariku, aku hanya butuh istirahat dan menenangkan diri. Aku sudah merapikan kamar, jadi jangan membuatnya berantakan dan tolong matikan lampu serta tutup kembali pintunya. Aku menyayangi kalian. Terima kasih’


“Bocah itu benar-benar keterlaluan!!!” Umpat Chan.


Ponsel Khai berbunyi, ia enggan meladeni. Namun, saat melihat nama Pak Arsel tertera di layar, dengan buru-buru ia menjawabnya.


Raut wajah Khai kecewa mendengar ucapan Pak Arsel. Ia lalu menyimpan kembali benda pipih tersebut setelah panggilan telepon berakhir.


“Emira sudah mengundurkan diri sebagai asisten SUN” Jawab Khai lirih.


Bu Tari menangis mendengar perkataan Khai, sedangkan kelima member hanya diam tak berkomentar apa pun.


.


.


.


Sejak Emira memutuskan untuk mengundurkan diri, SUN tidak memiliki asisten pengganti. Hal itu dikarenakan para member tidak ingin memiliki asisten pribadi lagi, mereka hanya mau mempunyai asisten umum saja.


Keenam member juga sudah mulai terbiasa melakukan hal kecil atau menyiapkan keperluan pribadi tanpa bantuan asisten. Mereka semakin mandiri dan tak ingin banyak merepotkan orang lain.


Zal memeriksa loker yang telah seminggu tidak dibuka. Biasanya, Emira sangat rajin membereskan loker tersebut. Alisnya bertaut hampir menyatu saat melihat potongan kertas di dalam loker itu. ‘Apa ini?’ Gumamnya.


‘Sebenarnya, aku sedih karena pergi di saat kakak masih sangat membutuhkan bantuanku. Tapi, aku merasa sedikit lega karena kakak sudah tidak seceroboh dan sepelupa saat pertama kali kita bertemu. Sebagai permintaan maaf, aku telah menyiapkan buku kecil yang bisa kakak gantungkan di tas. Aku juga sudah menulis semua keperluan yang pasti kakak butuhkan saat syuting pada buku itu’ Zal tersenyum membaca pesan dari Emira.


‘Anak ini... masih saja perhatian. Karena kau terus mengomel, sekarang... aku jadi lebih berhati-hati dan tidak pelupa lagi’ Monolog Zal.


Ia lantas memanggil dan memberitahu member lain. Dengan antusias, kelima member memeriksa loker mereka masing-masing. Dan benar saja, setiap loker terdapat pesan dari Emira.


Pesan untuk Zhi :


‘Kau pasti senang karena bisa makan dengan puas tanpa harus membaginya denganku. Tapi, kau juga pasti kesal karena tidak bisa lagi menjahiliku, kan?. Maaf!. Kau bilang, kulit lumpia goreng buatanku enak, jadi aku buatkan untukmu. Aku juga sudah mencatat bahan dan cara membuatnya, lain kali... kau harus membuatnya sendiri. Makanlah dengan baik’


Pesan untuk Chan :


‘Aku sudah menyiapkan box untuk kakak. Jadi, mulai sekarang letakkan barang-barang penting dalam box itu, agar ketika akan digunakan, kakak tidak kesulitan lagi mencarinya. Belajarlah sedikit lebih rapi’


Pesan untuk Dza :


‘Jika kesulitan menentukan pilihan, maka pilihlah sesuai kata hati kakak. Ketulusan hati dan sikap ceria yang membuat kakak cocok mengenakan apa pun, jadi jangan ragu dengan pilihan kakak sendiri’


Pesan untuk Ez :


‘Karena sering kehilangan kaus kaki, jadi aku memberikan tanda dibagian bawah agar member lain tidak bisa sembarangan memakainya lagi. Aku juga membuatkan gantungan untuk menaruh kaus kaki. Maaf, bentuknya sedikit aneh karena aku baru mempelajarinya dari internet’


Pesan untuk Khai :


‘Cangkir itu sebagai ganti cangkir yang pernah aku pecahkan. Aku tahu, itu tidak semahal dan sebagus yang lama. Tapi... aku memesannya khusus untuk kakak. Jadi, cangkir itu hanya ada satu di dunia ini’


Senyum para member mengembang setelah membaca pesan dari Emira. Rasa haru juga senang bercampur jadi satu.


“Dia tidak boleh benar-benar berhenti sebagai asisten kita” Ujar Zal.


Dengan semangat, Zhi berkata “Iya, kita harus membawanya kembali”


“Anggap saja, sekarang dia sedang cuti!” Chan ikut menimpali.


Sambil tersenyum sumringah, mereka menyatukan tangan dan berkata ‘SUN’ dengan keras. Hal yang telah biasa mereka lakukan sebelum memulai atau mengakhiri konser serta latihan.


...***...


Happy Reading semua...semoga suka sama ceritanya 💜🖤🧡💙❤💛


Jangan lupa suka, komentar, vote, favorit, dan beri hadiah biar author semangat nulis 😁🙏🏻


Terima kasih atas dukungannya😘🤗🙏🏻


Mampir ke ig author juga yuk : Tayana_uri