
Sambil meletakkan dua box berisi makanan pada meja bundar berwarna hitam pekat, lelaki paruh baya itu berkata, “Istirahatlah dulu, aku membawa martabak untuk kalian. Makanlah selagi masih hangat”
Keenam member menoleh bersamaan ke arah sumber suara, lalu mendekat pada lelaki paruh baya itu.
“Akhir-akhir ini, Anda sering mengawasi kami latihan. Ada apa?” Tanya Chan sambil mengambil sepotong martabak, lalu memakannya dengan lahap.
Bukannya menjawab, Pak Arsel malah balik bertanya “Apa aku harus punya alasan untuk melihat kalian berlatih?”
Chan tersenyum lebar bak iklan pasta gigi, “Bukan begitu maksudku” Ujarnya kemudian.
Pak Arsel berdecak, lalu bertanya “Apa ada kabar dari Emira?”
Belum mendapat respon dari keenam member, lelaki paruh baya itu kembali bergeming “Ponselnya tidak bisa dihubungi, aku juga tidak tahu nomor telepon atau alamat orang tuanya. Akh! Anak itu benar-benar membuat frustrasi”
“Aku sudah menghubungi orang tuanya, tapi mereka juga tidak tahu keberadaan Emira. Ibunya bilang, Emira menghubungi hanya untuk memberitahu keadaannya saja” Terang Khai.
“Kenapa kakak bisa tahu nomor telepon orang tuanya?” Tanya Chan dengan polos.
Pak Arsel memelototi Chan sebelum Khai menjawab.
“Baiklah, tidak perlu dijawab. Aku sudah tahu” Ujar Chan kemudian.
Pak Arsel terdiam sejenak, seolah tengah berpikir. Lalu kembali bertanya, “Apa mungkin, dia ke rumah neneknya?”
“Tidak. Dia sama sekali tidak berkunjung ke sana” Jawab Ez.
“Kenapa kalian bisa tahu?. Apa kalian mencarinya tanpa melibatkan kami?!” Protes Zhi.
Tak ingin membuat Zhi semakin kesal, Khai segera berkata “Tidak ada yang mencarinya. Kami hanya menghubungi orang tuanya saja”
“Bukankah, neneknya sudah meninggal?” Tanya Zal.
“Mungkin nenek yang kau maksud adalah orang tua dari ibunya Emira” Timpal Dza.
Zal kembali bergeming, “Kenapa neneknya banyak sekali”
Dza berdecak, menatap heran pada Zal yang duduk di depannya, “Banyak apanya?. Umumnya, setiap orang memang mempunyai dua nenek” Ucap Dza.
Dengan polos, Zal kembali berkata “Mana aku tahu. Sejak dilahirkan, aku tidak punya nenek”
Dza menghela napas berat, “Terserah kau sajalah” Ujarnya.
“Berhentilah meributkan hal yang tidak penting. Waktu istirahat telah selesai. Ayo, latihan lagi” Titah Khai.
Tatapan tajam Khai, membuat para member segera beranjak dari duduk dan melanjutkan latihan. Bukan karena takut, tapi mereka menghormati posisi Khai sebagai leader juga kakak tertua.
.
.
.
.
.
Khai menikmati udara malam sembari menyesap cokelat hangat. Pikirannya melayang diantara ribuan bintang-bintang yang tengah dilihatnya. Beberapa menit kemudian, tatapannya beralih pada seseorang yang kini duduk di sampingnya.
“Jangan menyentuhnya” Ujar Khai saat melihat Ez memegang cangkir pemberian dari Emira.
Ez berdecak, “Dasar pelit” Umpatnya. Lalu meletakkan kembali cangkir tersebut.
Dengan sombong, Khai berkata “Cangkir itu hanya ada satu di dunia ini, dan itu hanya milikku”
“Aku juga punya gantungan kaus kaki yang hanya ada satu di dunia ini” Jawab Ez dengan sinis.
Belum sempat Khai membalas kesombongan Ez, keempat member telah lebih dulu muncul dan bergabung.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Tanya Dza.
Ez menggelengkan kepala, “Kami hanya diam sejak tadi” Jawabnya kemudian.
Khai diam sesaat, menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lalu berkata, “Melalui Emira, ayahku meminta agar aku kembali ke rumah dan berbaikan dengannya”
Kelima member terkejut mendengar penuturan Khai.
“Emira bertemu beliau?” Tanya Zhi.
“Kapan?!” Chan ikut bertanya.
Dengan wajah serius, Ez berkata, “Ada baiknya, kau memberi kesempatan untuk ayahmu. Kalian juga sudah terlalu lama saling diam"
“Benar. Aku yakin, ibu kakak akan senang jika kalian berbaikan” Zal ikut berkomentar.
“Mau bagaimanapun juga, ikatan darah tetap tidak akan bisa putus” Ujar Dza sambil tersenyum tulus.
Chan mencoba mengingatkan kembali saat ayahnya Khai ikut andil membantu perusahaan, dengan berkata, “Dulu, ayah kakak pernah membantu SUN saat sedang kesulitan dana. Bukankah, itu berarti bahwa sebenarnya beliau perduli pada kakak?!”
“Iya, benar. Aku juga ingat itu” Zhi menimpali.
Khai memejamkan mata sambil mengurut pelipis, “Baiklah, aku akan mencobanya” Putusnya kemudian.
“Aku hampir lupa... aku punya berita baik” Ujar Dza.
Kelima member kompak menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh tanya.
Dza lantas mengeluarkan benda pipih dari sakunya, “Tadi aku melakukan siaran langsung di sosial media, lalu ada ‘My Spring’ yang mengatakan bahwa penyerangan waktu itu bukanlah mereka. Bahkan, para ketua komunitas sudah memastikannya. Sepertinya, memang ada yang sengaja ingin membuat kesalah pahaman antara kita dan ‘My Spring’. Para ketua komunitas juga meminta maaf atas kejadian itu” Terang Dza.
Sambil tersenyum sumringah, Chan berkata “Hah... sudah ku duga. ‘My Spring’ tidak mungkin melakukan hal jahat itu. Mereka sangat percaya dan akan selalu mendukung kita”
Zal menyilangkan tangan di dada, menghirup udara malam dengan tenang sambil berkata “Semuanya semakin jelas. Juna dan Sheril bekerja sama. Juna ingin menjatuhkan kita, dan Sheril tidak menyukai Emira. Lalu, mereka menggunakan Aerin sebagai sumber informasi. Aerin yang kesal karena ketahuan menjadi ketua komunitas VVIP, akhirnya setuju menjadi sumber informasi bagi mereka”
"Wahhh... kakak memang pintar menganalisa” Seru Zhi sambil bertepuk tangan. Keempat member juga melakukan hal yang sama.
Mendapat perlakuan seperti itu, Zal langsung berdiri sambil melambaikan tangan persis seorang model yang tengah catwalk di atas panggung. Sontak saja, mereka semakin heboh menggoda Zal.
***Keesokan Harinya***
Sebuah mobil mewah memasuki kawasan perumahan elite yang terletak di pusat kota. Setibanya di depan gerbang, dua orang penjaga sigap membukakan pintu. Para pekerja menghentikan aktifitasnya, tersenyum ramah menyambut kedatangan seseorang yang biasa mereka panggil ‘Tuan Muda’.
Khai membalas senyuman para pekerja tersebut, lalu melangkah menuju rumah dengan pintu yang sudah terbuka lebar untuknya.
Belum sempat Khai mengetuk pintu ruang kerja ayahnya, seseroang telah lebih dulu membukakan pintu tersebut dan mempersilakannya untuk masuk.
“Silakan, tuan muda” Ujar lelaki yang mengenakan setelan formal. Setelah memastikan Khai duduk dengan nyaman, lelaki itu meminta izin untuk keluar.
“Aku senang kau datang” Ujar seorang lelaki paruh baya, lalu beranjak dari kursi kerjanya dan berpindah duduk di sofa bersama Khai.
Khai berkata dengan kikuk, “Saya tidak akan lama. Sepertinya, Anda sangat sehat sekarang”
“Aku tidak sesehat yang kau lihat. Terima kasih sudah datang” Ucap Pak Madava dengan lirih.
“Saya hanya akan mengatakannya sekali, jadi tolong dengarkan baik. Saya tidak akan kembali ke rumah ini, tapi... jika Anda meminta berkunjung, maka saya akan datang”
Lelaki paruh baya itu tersenyum mendengar perkataan Khai. Ia sangat ingin memeluk putranya. Namun, niat itu diurungkan karena tak ingin membuat Khai menjadi tidak nyaman.
“Pintu rumah ini akan selalu terbuka lebar untukmu, jangan ragu untuk datang kapan saja. Kau adalah putraku, semua yang ku punya adalah milikmu”
Khai menahan senyum mendengar perkataan ayahnya, “Saya juga sudah kaya sekarang, meskipun belum sekaya Anda. Tapi, dalam waktu dekat... saya akan mengalahkan kekayaan Anda” Ujar Khai dengan penuh percaya diri.
‘Sifat percaya dirinya membuktikan bahwa dia benar-benar putraku’ Batin lelaki paruh baya itu sambil tersenyum bangga.
“Aku tahu itu. Kau sangat hebat, bahkan lebih hebat dariku” Lelaki paruh baya itu menjeda ucapannya, lalu berkata “Sampaikan rasa terima kasihku pada asistenmu”
“Dia sudah mengundurkan diri” Ucap Khai lirih.
Pak Madava terkejut mendengar ucapan Khai, “Apa karena berita serta serangan itu, dia mengundurkan diri?” Tanyanya kemudian.
Khai hanya menganggukkan kepala dan tak berkomentar apa pun.
“Kalau begitu, apa aku saja yang merekrutnya sebagai asisten?”
Mata Khai melotot mendengar pertanyaan ayahnya, dengan tegas berkata “Apa sekarang, Anda mau bersaing dengan putra Anda sendiri?!”
Lelaki paruh baya itu tersenyum penuh makna, memberanikan diri mengusap punggung Khai dan berkata, “Ayah hanya bercanda, jangan memelototkan mata seperti itu pada ayahmu”
Dengan lirih dan kaku, Khai berkata “Maaf, a...ayah”
Mendengar Khai memanggilnya ayah, lelaki paruh baya itu sudah tak bisa lagi menahan air mata. Dengan tangan gemetar, ia memberanikan diri memeluk putra semata wayangnya. Ayah dan anak itu lantas berpelukan penuh haru, melepaskan rindu yang terpendam bertahun-tahun lamanya.
...***...
Happy Reading... Semoga readers suka sama ceritanya 💜🖤🧡💙❤💛
Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah biar author makin semangat nulis 😁🙏🏻
Terima kasih 😘🤗🙏🏻