
***SUN House***
Para member menerima banyak pesan saat kembali mengaktifkan ponsel yang beberapa hari lalu sengaja mereka nonaktifkan. Bukan hanya ingin berlibur dengan tenang, tetapi juga karena jaringan di desa cukup buruk.
“Apa kalian sudah puas kabur?!” Tanya Pak Sugara pada para member.
“Meskipun tak ingin diketahui oleh media, tapi setidaknya kabari aku!. Kalian benar-benar membuat cemas saja” Ujar Pak Sugara lagi.
“Jadi seperti ini rasanya di khawatirkan oleh CEO?” Tanya Zhi dengan polosnya.
“Bocah ini!!!. Kau mau ku hukum?!” Meskipun terdengar kesal, namun ekspresi Pak Sugara malah justru sebaliknya.
“Maaf. Seharusnya, kami memberi kabar saat berada di sana” Ucap Khai.
“Tidak apa-apa, aku paham jika kalian butuh waktu untuk istirahat” Ujar Pak Sugara sembari menepuk pundak Khai.
“Kalian seperti artis sungguhan jika jauh dari kami, sangat sulit dihubungi dan tidak memberi kabar sama sekali” Pak Arsel ikut berkomentar.
“Padahal, kami khawatir pada kalian” Ujar Pak Arsel lagi.
“Kedepannya,...” Ez menjeda kalimatnya, lalu kembali berkata, “Kalian harus lebih berusaha lagi menanyakan kabar kami”
“Dasar anak ini!!!” Pak Arsel dan Pak Sugara melotot bersamaan karena melihat wajah tenang Ez, lalu tertawa. Mereka sudah sangat paham dengan sikap Ez yang suka mengatakan hal tak terduga.
“Aku terlalu berharap karena mengira kau akan sedikit merasa menyesal” Ucap Pak Arsel lagi. Sementara, para member sudah tak bisa lagi menahan tawanya melihat ekspresi lucu Pak Arsel dan Pak Sugara.
“Apa kalian tahu, ‘My Spring’ juga khawatir karena kalian tidak ada kabar selama beberapa hari”
Ucapan Pak Arsel membuat Dza segera memeriksa ponselnya, “Benar. Aku jadi merasa bersalah pada ‘My Spring’ ”. Ujar Dza setelah melihat sosial media.
“Apa mereka tidak mendapat kabar dari komunitas VVIP?” Tanya Emira yang baru saja bergabung.
“Apa maksudnya?” Tanya Dza.
Tak hanya Dza, tapi para member, Pak Arsel, serta Pak Sugara juga merasa penasaran.
“Bukankah, biasanya komunitas VVIP akan membagikan cerita keseharian kalian” Emira kembali bergeming.
“Komunitas VVIP apa?” Tanya Pak Sugara dengan serius.
“Saya juga tidak begitu paham dengan istilah komunitas VVIP. Salah satu teman saya merupakan ‘My Spring’ komunitas VVIP, dan dia selalu bisa mendapatkan berita terbaru SUN yang belum tersebar di media. Tapi, dia harus membayar mahal untuk itu” Terang Emira.
“Kalian benar-benar tidak tahu?” Tanya Emira dengan heran.
“Kami bahkan baru mendengarnya sekarang” Ucap Ez.
“Apa kau yakin?” Tanya Pak Arsel memastikan.
“Iya. Teman kerja saya sewaktu masih menjadi pemandu wisata yang memberitahu” Jawab Emira dengan yakin.
“Aneh, kenapa kami tidak tahu tentang hal itu?!” Khai melirik ke arah Pak Arsel dan Pak Sugara.
“Kenapa menatapku seperti itu?!. Aku juga baru tahu sekarang” Sergah Pak Arsel karena mendapat tatapan intimidasi dari para member.
“ ‘My Spring’ telah banyak mengeluarkan uang untuk membeli tiket, album, merchandise, dan semua yang berkaitan dengan SUN, jadi mana mungkin kami menjual informasi juga” Ucap Khai.
“Perusahaan memang memiliki tim yang akan memberikan informasi tentang SUN pada ‘My Spring’, tapi itu semua gratis. Apa mungkin ada orang yang sengaja melakukannya?” Tebak Pak Arsel.
“Apa kau tahu siapa penanggung jawab komunitas itu?” Pak Sugara menyelidiki.
“Teman saya bilang, staf SUN yang menjadi ketua di komunitas VVIP. Itu sebabnya, mereka bisa mendapatkan berita mengenai SUN sekalipun belum tersebar ke media” Emira berkata dengan hati-hati.
“Sepertinya ada yang tengah memanfaatkan situasi ini. Aku akan menyelidikinya, untuk itu kalian harus tetap berlagak seperti biasa dan jangan pernah membahas ini di depan staf lain” titah Pak Sugara, dan para member menganggukkan kepala menyetujui.
***
Emira tengah mengawasi para member yang sedang berlatih sembari mengobrol bersama staf lainnya. Emira lebih sibuk dibandingkan staf dan asisten lain. Itu sebabnya, ia sangat jarang mempunyai waktu untuk bercengkerama atau bermain bersama para staf.
Ia harus bisa membagi waktu sebaik mungkin karena jadwal para member yang padat. Namun, hal itu justru membuat beberapa staf menjadi iri padanya. Mereka menganggap bahwa Emira sangat beruntung bisa menjadi asisten pribadi SUN yang selalu bersama para member dan banyak tersorot media karena sering ikut muncul di depan layar. Padahal, Emira sangat bekerja keras dan sering mengabaikan kesehatan demi menjaga para member.
“Apa hari ini kau sibuk?” Tanya salah satu staf wanita pada Emira.
“Kami akan makan di cafe yang baru buka hari ini, apa kau mau ikut?” Tanyanya lagi.
“Maaf, sepertinya aku tidak bisa ikut” Tolak Emira.
“Kau pasti sangat sibuk, baiklah. Tapi, lain kali kau harus ikut”
“Iya, akan aku usahakan” Jawab Emira.
“Gaji sudah di transfer, kita bisa makan sambil belanja” Ujar salah satu staf lainnya.
“Ahh...benar, akhirnya hari ini tiba juga”
“Kira-kira, kapan kita mendapatkan bonus?”
“Kau mengharapkan bonus tanpa pencapaian, kau pikir ini perusahaan ayahmu?!”
Mendengar percakapan para staf membuat Emira teringat akan bonus yang pernah diterimanya. Karena penasaran, ia lantas bertanya, “Apa perusahaan kita sering memberi bonus?”
“Iya, tapi tentu tidak mudah untuk mendapatkannya”
“Kau harus punya prestasi atau memberikan keuntungan pada perusahaan. Tetapi ada juga bonus album. Biasanya, jika album laku keras, kita akan mendapatkan bonus. Tapi jumlahnya tentu tidak sebesar dibanding kedua hal yang ku sebutkan tadi” Terang salah satu staf.
“Apa akhir-akhir ini ada bonus yang dibagikan?” Tanya Emira penasaran.
“Sepertinya tidak. Apa kau mendapat bonus?”
“Ti...tidak” Jawab Emira dengan gugup.
“Kau berkata seolah tengah mendapatkannya”
“Aku hanya penasaran” Emira tersenyum lebar bak iklan pasta gigi.
‘Kenapa Pak Arsel berbohong?. Apa aku terlihat sangat menyedihkan, sampai harus dibantu seperti itu?’ Batin Emira bermonolog.
Emira mengakhiri percakapan dengan teman-temannya karena harus menemani para member yang akan melakukan pemotretan. Sepanjang perjalanan hingga sampai di lokasi pemotretan, ia terus diam. Bahkan, tak menanggapi Zhi dan Chan yang mengajaknya bercanda.
“Ada yang ingin saya tanyakan”
Sembari menunggu para member selesai, Emira menghampiri Pak Arsel yang tengah menikmati kopi hangat sambil bermain ponsel.
“Bonus yang saya terima beberapa waktu lalu, apa itu hanya alasan Anda untuk membantu saya?”
“Tolong jawab dengan jujur” Ucap Emira lagi.
“Tentu saja itu bonus atas kerja kerasmu. Kenapa kau bertanya lagi?”
“Saya tahu Anda berbohong, jadi tolong beritahu alasannya”
“Untuk apa aku berbohong, kau memang pantas mendapatkannya”
“Saya memang kesulitan, tapi saya tidak bisa terus menerima bantuan dengan cuma-cuma. Saya tidak mau dikasihani!” Ucap Emira dengan serius.
Melihat raut wajah Emira yang berubah, membuat Pak Arsel merasa bersalah. Ia tidak ingin berbohong, tapi jika berkata jujur, Khai akan marah padanya.
“Akh...aku jadi seperti buah simalakama, kenapa kau jadi penasaran soal itu?!. Berhentilah penasaran, kau juga harus menolongku”
“Apa seorang ayah tega membohongi putrinya?!. Atau...sebenarnya, Anda tidak pernah menganggap saya putri Anda?”
“Kau pandai sekali menyudutkanku. Baiklah, itu memang bukan bonus. Tapi kau berhak mendapatkannya”
“Terima kasih sudah berkata jujur. Meskipun, Anda tidak mengatakan semuanya” Ucap Emira, lantas berlalu dari hadapan Pak Arsel. Walaupun kecewa, namun ia tetap tersenyum.
Para member yang baru selesai melakukan pemotretan, segera menghampiri Pak Arsel.
“Mau ke mana dia?” Tanya Zhi saat melihat Emira keluar ruangan.
“Dia meminta izin untuk pulang lebih dulu ke SUN house karena merasa kurang sehat” Jawab Pak Arsel asal. Pikirannya jadi tidak fokus karena merasa bersalah pada Emira. Terlebih saat Emira tersenyum, bukan marah atau memakinya.
Pak Arsel serta para member kembali ke SUN house, setelah pemotretan dan kegiatan lainnya selesai.
*** Tiga Hari Kemudian***
‘Sudah tiga hari dia tidak banyak bicara, bahkan menghindariku. Sebenarnya, apa salahku?!’ Monolog Pak Arsel.
‘Lebih baik dia marah atau memakiku sekalian, dari pada diam seperti ini. Anak itu benar-benar membuatku frustrasi’ Ujar Pak Arsel, lalu menyesap kopi hitam yang ada di depannya.
Setelah memikirkan dengan matang, Pak Arsel akhirnya memutuskan untuk jujur pada Emira karena tak ingin terus-terusan didiamkan.
Pak Arsel lantas menemui Emira yang tengah merapikan loker para member.
“Jangan terus bersikap seperti ini, aku akan mengatakannya” Ucapan Pak Arsel membuat Emira menghentikan aktifitasnya.
“Tapi jangan bicara di sini, ayo ikuti aku” Ujar Pak Arsel, lalu mengajak Emira menuju taman belakang agar tak ada member atau orang lain yang mendengar.
“Apa yang ingin Anda katakan?” Tanya Emira saat mereka telah menjauh dari rumah utama.
“Aku minta maaf karena tidak jujur sejak awal. Tapi, aku tidak bisa menolak permintaan Khai. Aku juga tidak tahu jika dia memberi bonus sebanyak itu”
Emira terkejut mendengar penjelasan Pak Arsel, “Jadi kak Khai yang melakukannya?” Tanyanya.
Pak Arsel menganggukkan kepala, “Tapi jangan tanyakan hal ini padanya, dia hanya ingin membantumu. Berhentilah mempermasalahkannya”
Emira menarik napas dalam, lalu menghembuskannya , “Saya tahu niat Anda dan kak Khai baik, tapi saya tidak ingin dikasihani seperti ini”
“Kenapa kau berpikir seperti itu?. Kami sungguh-sungguh ingin membantumu”
“Sudah beberapa bulan ini, paman tidak pernah meminta uang lagi. Apa itu juga karena kak Khai?” Tanya Emira.
“Aku tidak tahu soal itu. Apa pun yang Khai lakukan, pasti karena dia tulus ingin membantumu. Percayalah”
‘Kenapa dia selalu bertindak semaunya?!. Apa dia, orang yang hanya memikirkan perasaannya sendiri?!’ Gumam Emira pelan, hingga tak terdengar oleh Pak Arsel.
...***...
Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛
Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻
Terima kasih 😘🤗🙏🏻