SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 27



Lapangan di SUN house menjadi lokasi syuting pada episode ke 100 ‘Cerita SUN’, syuting kali ini bertema olahraga. Setelah menyelesaikan syuting, para member beserta staf mengadakan perlombaan, dan pada malam hari akan diadakan pesta kembang api sebagai perayaan 100 episode program ‘Cerita SUN’. Perlombaan pertama dimulai dengan lomba balap karung, yang merupakan salah satu permainan tradisional.


“Apa kalian sudah siap?” Tanya Pak Sugara pada Chan, Dza, dan Emira sebagai peserta pada babak pertama.


Ketiganya menganggukkan kepala, bertanda bahwa mereka sudah siap. Perlombaan dimulai setelah Pak Sugara yang bertindak sebagai juri memberi aba-aba.


Mulanya semua berjalan lancar, namun saat mendekati garis akhir, Dza terjatuh karena terburu-buru saat melihat Chan yang hampir menyetarainya. Alhasil, perlombaan dimenangkan oleh Emira, Chan menjadi juara kedua, dan Dza berada diurutan terakhir.


Zal menjadi pemenang pada babak kedua, mengalahkan Ez dan Pak Alan. Lalu pada babak terakhir, Khai bertanding melawan staf. Sedang, Zhi tidak diizinkan untuk ikut bermain karena kondisi kakinya yang baru saja sembuh. Meskipun, ia sangat ingin ikut. Setelah semua peserta menyelesaikan lomba balap karung, kini mereka memasuki babak final dengan Khai, Emira, dan Zal, sebagai pesertanya.


“Emira...Emira!!!” Teriakan Zhi dan Chan membuat Emira semakin bersemangat. Meskipun berlari menggunakan karung, namun ia mampu memimpin. Tubuhnya yang kecil, membuatnya lebih cepat berlari dibandingkan kedua lawannya.


“Kau menang, Em” Ucap Zhi sambil bertepuk tangan.


“Kau bisa mengalahkan kak Khai dan kak Zal” Chan tertawa puas.


“Ini” Pak Arsel memberi air mineral pada Emira yang terlihat kehausan.


Para peserta tengah beristirahat, sebelum kembali melanjutkan perlombaan.


“Kak” Zhi menghampiri Khai yang tengah bersantai sembari meminum sekaleng soft drink.


“Kenapa?”


“Minta maaflah pada Emira”


“Aku tidak melakukan kesalahan, kenapa minta maaf?!”


“Kakak telah membuatnya takut!”


“Wajahku tampan, kenapa dia takut?”


Zhi menghembuskan napas berat karena Khai yang terlalu percaya diri, meskipun ucapannya benar. “Jika tidak ingin ketampananmu berkurang, minta maaflah”


“Sebenarnya, apa yang membuatmu sangat membelanya?”


“Aku tidak ingin melihatnya bersedih. Jika kau menganggapku adik, maka turuti kemauanku!”


“Kau mengancam dan membanting pintu. Sekarang, kau merengek seperti bayi di depanku!. Dasar!” Khai berkacak pinggang, lalu menoyor kepala Zhi dengan gemas.


“Baiklah, aku minta maaf. Tapi, kakak harus berjanji agar bersikap baik padanya!”


“Kakak setuju, kan?” Tanya Zhi.


“Iya”


Khai mengalah, karena sudah paham akan sifat Zhi yang gigih. Jika tidak dituruti, bisa-bisa seharian ia akan mendengar rengekan Zhi. Pada dasarnya, ia juga tidak marah atau pun membenci Emira. Ia hanya kesal sesaat karena Emira sangat akrab dan selalu tertawa ketika bersama member lain, berbeda saat bersama dengannya. Emira terlihat canggung, dan sering terbata-bata ketika bicara.


Waktu istirahat selesai, saatnya perlombaan selanjutnya dimulai. Perlombaan kedua yang akan mereka ikuti adalah balap bakiak. Balap bakiak merupakan salah satu jenis permainan tradisional. Dalam satu tim terdiri dari tiga orang, mereka akan berjalan di atas papan kayu yang diberikan pengait pada bagian kaki. Agar bisa menang, permainan ini membutuhkan kerja sama tim. Pak Sugara yang bertindak sebagai juri, membagi peserta menjadi tiga tim.


Tim 1 : Ez, Zal, dan Khai.


Tim 2 : Emira, Chan, dan Pak Alan.


Tim 3 : Dza dan staf.


Kini ketiga tim sudah bersiap di tempatnya masing-masing. Begitu Pak Sugara meniup peluit, mereka sigap memulai permainan.


Tim Emira berjalan dengan aman karena Pak Alan yang memimpin. Dza dan staf juga berjalan dengan damai, berbeda dengan tim Khai yang rusuh karena Zal yang berada di barisan paling depan berjalan dengan cepat, sehingga membuat kedua orang di belakangnya sulit menyeimbangkan.


“Berjalanlah dengan pelan” Protes Khai.


“Aku sudah memperlambatnya” Jawab Zal.


“Kami sulit menyeimbangkan langkah dengamu” Ucap Ez yang berada di barisan tengah.


“Kiri, kanan, kiri, kanan” Tim Emira berjalan dengan kompak, mereka mendahului tim Khai yang sejak tadi berdebat dan tertawa-tawa.


“Sepertinya, kita harus mengikuti teknik mereka” Komando Zal pada kedua kakaknya. Ez dan Khai menganggukan kepala bersamaan, menyetujui ide Zal. Namun, ia yang sering bertindak ceroboh malah membuat timnya terjatuh. Ia memberi komando agar kaki kiri berjalan duluan, tapi justru kaki kanannya yang lebih dulu maju. Sontak saja, hal itu membuat ketiganya terguling bersama. Zhi tertawa puas melihat hal itu, bahkan Khai dan Ez juga ikut menertawakan tim mereka sendiri.


“Kau memang tidak bisa diandalkan saat bermain!” Omel Khai. Sementara, Zal malah tertawa terbahak-bahak.


“Kita sudah pasti kalah, mereka sudah sampai di garis akhir” Ez menunjuk pada tim Emira dan Dza yang telah lebih dulu sampai di garis finish.


“Ternyata, kau berbakat dalam permainan tradisional” Ucap Zhi yang kini duduk di samping Emira.


“Tentu saja. Sebenarnya, aku mempunyai banyak bakat terpendam” Emira berlagak seolah benar-benar mempunyai kemampuan yang mumpuni.


“Bakatmu terpendam terlalu dalam, sampai sulit di keluarkan. Benar, kan?”


Emira membolakan mata mendengar pertanyaan Khai, member lain yang mendengarnya malah tertawa, sementara Zhi memelototi Khai.


“Aku hanya bercanda. Jangan serius begitu” Khai meralat ucapannya.


“Apa yang kakak katakan memang benar” Ucap Emira lirih.


“Jangan berekspresi seperti itu. Kau jadi membuatku merasa bersalah” Khai memberikan sekaleng soft drink pada Emira. Meskipun bingung, tapi Emira tetap menerima pemberian dari Khai.


“Pesta kembang api akan segera dimulai. Ayo, berkumpul di lapangan!” Seorang staf memberi instruksi yang diikuti para member juga staf lainnya.


***Lapangan***


“Apa sudah akan dimulai?” Tanya Emira yang baru kembali dari toilet.


“Sebentar lagi. Meskipun hanya tulisan, tapi aku sungguh-sungguh” Ucap Khai setengah berbisik.


“Apa maksudnya?” Tanya Emira dengan raut wajah polos.


“Kau belum melihatnya?”


“Melihat apa?”


“Soft drink yang ku berikan tadi”


“Ahhh...itu. Terima kasih”


Khai tersenyum mendengar perkataan Emira.


“Rasanya sedikit asam, tapi tidak begitu buruk. Aku lumayan menyukainya”


“Kau sudah meminumnya?” Tanya Khai, sebenarnya bukan soal rasa yang ingin ia tanyakan.


“Iya” Jawab Emira singkat. Perhatiannya, beralih pada kembang api yang mulai dinyalakan.


“Kau tidak membaca sesuatu pada kemasannya?” Khai mulai gusar, karena sepertinya Emira telah melewatkan sesuatu.


“Tidak. Oh...aku membaca komposisinya. Tapi sayang sekali, karena aku tidak membaca mereknya”. Melihat raut wajah Khai, Emira kembali bertanya, ”Apa ada sesuatu?”


“Tidak. Lupakan saja” Khai mengibaskan tangannya.


‘Percuma saja aku menulisnya. Dia benar-benar tidak peka’ Gumam Khai pelan, namun Emira masih bisa mendengarnya dengan jelas.


Sebenarnya Emira paham apa yang Khai maksud, tapi ia sengaja mengerjai Khai dengan pura-pura tidak tahu. Diam-diam, ia kembali mengeluarkan kertas yang ada di saku celananya.


‘Maaf, aku tidak bermaksud bersikap kasar. Tolong, jangan takut lagi padaku’ Emira tersenyum setelah membacanya, lalu menyimpan kembali kertas yang tadi ia temukan tertempel pada bagian bawah kemasan soft drink.


“Wahhh” Mata Emira berbinar melihat kembang api yang menyala indah dengan berbagai warna.


“Apa kau menyukainya?” Tanya Ez yang sekarang berdiri di sisi kiri Emira.


Emira menganggukkan kepala, “Iya, aku menyukai cahaya di malam hari”


‘Matanya selalu berbinar saat melihat hal yang disukai' Gumam Khai yang berdiri di sisi kanan Emira.


“Cantik sekali” Emira seolah terhipnotis dengan apa yang tengah dilihatnya.


“Ya, sangat cantik. Bahkan, membuatku ingin terus melihatnya” Ucap Ez pelan hingga tak terdengar oleh siapa pun. Namun, apa yang ia lihat berbeda dengan apa yang Emira lihat.


...***...


Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻


Terima kasih 😘🤗🙏🏻