SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 56



Emira tengah duduk di teras depan rumahnya sambil menatap bulan yang bersinar terang dan dikelilingi jutaan bintang.


Berulang kali, ia menghela napas dengan kasar. Pikirannya tengah kacau saat ini. Di saat yang bersamaan, ia merasa bahagia karena mendapat dukungan dari keluarganya, namun juga merasa kehilangan sesuatu yang sulit untuk dijelaskan.


“Hmmm”


Suara seseorang menyadarkan Emira dari lamunannya. Dengan sigap, ia menoleh. Matanya membola melihat seseorang yang kini berada di depannya.


“Ka... kakak...” Ucap Emira dengan gagap.


Lelaki itu hanya diam, dan langsung duduk di samping Emira.


Emira menepuk kedua pipinya, “Aku bahkan belum tidur, kenapa sudah bermimpi?!” Tanyanya pada diri sendiri.


Lelaki itu tak bisa menahan tawa mendengar celotehan serta ekspresi Emira yang lucu.


“Kau tidak sedang bermimpi” Ujar lelaki itu.


Masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Emira memukul pundak lelaki itu, “Ini benar-benar kakak?” Tanyanya kemudian.


“Kau pikir, ada berapa banyak orang berwajah tampan seperti ini?”


Emira berdecak mendengar pertanyaan lelaki itu, “Aku sudah yakin sekarang” Ujarnya.


“Ayo, pulang. Adik-adik kita sudah merindukanmu”


Alis Emira bertaut hampir menyatu karena mendengar pernyataan lelaki yang duduk di sampingnya. “Adik?. Siapa yang kakak maksud?!”


“Wahhh... padahal baru sebentar, tapi kau sudah melupakan kelima adikmu. Kakak ipar macam apa kau?!. Hah?!”


Emira semakin bingung mendengar perkataan lelaki itu, “Kenapa mereka menjadi adikku?!” Tanyanya.


Dengan gemas, lelaki itu menjitak kening Emira pelan. “Dasar bodoh!” Katanya.


Emira memegang keningnya, “Kakak tidak menjelaskan apa-apa, tapi mengejekku bodoh!” Protesnya pada lelaki itu.


Khai kembali tertawa melihat ekspresi Emira yang kesal. Lalu menarik napas dalam, dan menghembuskannya perlahan.


“Mereka akan menjadi adik iparmu, jika kita menikah” Ujar Khai dengan santai.


Emira terbatuk mendengar ucapan Khai. Bahkan, mulutnya susah tertutup karena terkejut.


“Apa yang kakak katakan?!. Apa kakak mengalami kecelakaan, sampai berkata hal yang tidak masuk akal?!”


“Kenapa itu tidak masuk akal?!. Kau tahu, ini pertama kalinya, aku mengajak seseorang menikah. Kau seharusnya bangga, menjadi orang pertama dan terakhir yang mendengarnya!” Khai berkata layaknya seorang ibu yang tengah mengomeli anaknya.


Emira menghela napas, “Aku semakin tidak percaya karena kakak bicara dengan nada seperti itu” Jawabnya pelan.


Khai terdiam sejenak, menyadari kesalahannya. “Aku serius” Ujarnya sambil menatap Emira dengan lekat.


Emira bergidik mendengar ucapan Khai, “Apa yang kakak katakan sangat menakutkan” Ujarnya kemudian.


“Itu bukan alasan untuk menolakku, kan?!” Tanya Khai.


“Tolong berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Sebaiknya, kakak pulang saja. Rumahku sempit dan juga tidak ada kamar tamu” Emira beranjak dari duduknya, hendak meninggalkan Khai.


Khai mengusap wajah dengan kasar, lalu menyusul Emira yang sudah berada di ambang pintu.


“Kenapa kau keras kepala sekali?!. Kau orang pertama yang bisa membuatku frustrasi sampai seperti ini, kau tahu?!”


“Kakak juga selalu bertindak seenaknya, tidak pernah perduli dengan apa yang ku rasakan!” Jawab Emira dengan kesal.


Khai menarik napas, mengatur emosi agar tetap stabil. “Tujuanku ke sini bukan untuk berdebat. Ayo, bicara baik-baik” Ujarnya kemudian.


Emira menuruti perkataan Khai. Ia mengurungkan niat untuk masuk ke dalam rumah dan kembali duduk di teras.


“Bicaralah dengan cepat. Ini sudah malam, kakak tidak boleh menginap di sini”


Khai berdecak sambil menoleh pada Emira, “Kau jadi berani karena ini rumahmu, ya?!” Tanya Khai.


“Iya. Karena itu, jangan macam-macam. Dan cepat katakan apa tujuan kakak datang ke sini?”


Khai menelan saliva, lalu menghembuskan napas perlahan. “Aku ingin mengajakmu pulang” Ujarnya.


“Aku sudah di rumah” Jawab Emira singkat.


“Bukan rumah ini maksudku. Kami ingin kau kembali ke SUN house. Kau mau, kan?” Tanya Khai dengan hati-hati.


Sambil tersenyum lebar, Khai berkata “Jika tidak mau kembali menjadi asisten SUN... kau menjadi istriku saja”


Emira menatap heran laki-laki yang kini ada di sampingnya, “Kenapa dari tadi bicara hal yang tidak masuk akal?!. Sudahlah, lebih baik kakak pulang saja!” Sergah Emira.


“Tidak mau, aku mau menginap di sini!”


Emira berdecak, dengan geram berkata “Di rumah kami tidak ada kamar untuk tamu, jadi cepat pulang!”


“Aku bisa tidur di mana saja. Ayo, kita menikah!”


Tanpa menjawab, Emira menendang kaki Khai karena kesal dengan tingkahnya yang seperti bocah.


“Akh!!!” Khai meringis kesakitan. “Yang benar saja?!. Kau berani menendang calon suamimu?!” Ujar Khai.


“Kak... berhentilah bercanda!. Jangan membuatku kesal”


“Siapa yang bercanda?. Kau juga jangan membuatku kesal. Kau pikir, aku tidak memperhitungkan ucapanku sebelum ke sini?”


Melihat raut wajah Khai yang serius, Emira menjadi kikuk.


“Bisa-bisanya kakak mengajak orang menikah seperti mengajak minum teh!. Kenapa kakak hanya memikikan diri sendiri?. Apa kakak tidak memikirkan ‘My Spring’, para member, orang tua kakak, Pak Arsel, Pak Sugara, dan perasaanku?!”


Khai mengusap wajah dengan kasar dan berulang kali menghembuskan napas, lalu berkata “Meskipun, aku belum memberitahu soal ini, tapi aku yakin jika mereka akan merestui kita. Yang akan menikah itu kita, jadi jangan pikirkan perasaan orang lain. Setelah siaran langsung yang kami lakukan beberapa hari lalu, ‘My Spring’, Pak Arsel, dan Pak Sugara sudah memberi izin kami untuk berkencan”


Belum selesai Khai menjelaskan, Emira telah lebih dulu bergeming, “Mereka memberi izin berkencan, bukan menikah”


“Iya, tapi aku tidak ingin hanya berkencan. Jadi, kita menikah saja sekalian”


‘Orang ini benar-benar, ya. Dari tadi mengatakannya dengan santai, seolah pernikahan bukan hal yang serius’ Gumam Emira pelan sampai tak terdengar oleh Khai.


“Jadi, bagaimana?” Tanya Khai.


“Apanya yang bagaimana?. Kita ada di dunia yang berbeda, mana bisa bersama semudah itu!”


“Apa maksudmu?. Apa kau hantu?!. Jika ingin menolakku, katakan saja. Jangan berkelit terus!”


“Bukan begitu. Tapi... keluargaku sangat sederhana. Ayah dan ibuku hanya berprofesi sebagai pedagang dan punya banyak hutang. Aku juga pengangguran sekarang. Sedangkan, kakak berasal dari keluarga kaya raya, juga seorang idol terkenal” Emira menjeda ucapannya, mengatur emosi yang mulai memuncak, lalu kembali berkata, “Aku tidak pernah berharap menjadi tuan putri. Aku sangat sadar posisiku. Mungkin... kakak bisa menerima aku dan keluargaku, tapi bagaimana dengan lingkungan kakak?. Apa kakak tidak malu nantinya?!”


“Saat kecil, aku sering melihat kedua orang tuaku bertengkar. Dan mulai saat itu, aku berjanji padaku diriku sendiri, jika kelak sudah dewasa, aku akan menjadi ayah dan suami yang baik. Tidak perduli siapa dan dari kalangan mana pendampingku, yang terpenting... dia adalah orang yang bisa menerima dan tidak pernah meninggalkanku dalam keadaan apa pun” Khai melirik Emira sesaat, lalu melanjutkan kalimatnya, “Selama kau menjadi asisten SUN, kau sangat sabar menghadapiku. Meskipun, aku berteriak padamu tapi kau tetap memperlakukanku dengan baik. Saat aku terluka karena tertimpa tangga, saat tanganku penuh darah karena memukul kaca, saat ibuku meninggal, saat emosiku tidak bisa dikendalikan karena ayahku, kau selalu bisa membuatku kembali tenang. Kau marah ketika aku dan member lain melakukan kesalahan, kau juga menjaga kami dengan tulus, kau memperlakukan kami sebagai manusia, bukan karena kami idol. Semua yang kau lakukan selama kita tinggal bersama, membuatku semakin yakin jika aku ingin bersamamu sampai akhir hidupku”


Mata Emira mengembun mendengar pengakuan Khai. Namun, rasa takutnya masih sulit menerima lelaki itu.


“Apa aku harus bahagia atau malah bersedih?. Entahlah, aku tidak bisa merasakan apa-apa sekarang” Ujar Emira pelan.


Khai menghembuskan napas dengan pelan, “Percayalah padaku. Semua akan baik-baik saja. Yang terpenting adalah perasaan kita, bukan penilaian orang lain” Ujarnya meyakinkan Emira.


“Tapi... aku takut. Bagaimana dengan karir kakak nantinya?”


“Kita bisa merahasiakannya jika kau takut. Tapi... aku akan lebih senang jika semua orang tahu. Aku juga ingin hidup sebagai Khair, bukan terus menjadi Khai”


Emira memejamkan mata dan berulang kali menghela napas. Ia benar-benar belum bisa memutuskan apa-apa saat ini.


“Jangan terus menghela panas seperti itu. Apa kau sangat tertekan karena pengakuanku?” Tanya Khai.


“Kenapa ini jadi seperti dongeng?. Bahkan, penampilan dan wajahku biasa saja. Tapi... kenapa aku mendapat keberuntungan seperti ini?” Gumam Emira.


Khai mengusap pucuk kepala Emira sambil tertawa, “Bukankah, sudah ku katakan. Sejak kecil, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, tidak perduli siapa dan dari kalangan mana pendampingku, yang terpenting... dia orang yang melihatku sebagai Khair. Jadi jangan merasa heran lagi” Ujarnya.


“Dan satu lagi... kau memang bukan tuan putri, tapi kau adalah ratu” Ujar Khai sambil menatap Emira dengan lekat.


“Hmmm...”


Emira menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menjadi salah tingkah karena terus diperhatikan. Berbeda dengan Khai yang berusaha menahan tawa agar tidak membuat Emira malu.


...***...


Note : Ini hanya FIKSI ya guys, di real life mungkin ADA, mungkin juga TIDAK ADA 😂😂😂


Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻


Terima kasih🤗😘🙏🏻