SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 21



Chan dan Zhi tengah menghidupkan api unggun, Dza sibuk membuat jus dan menyiapkan cemilan, Zal menghibur dengan bermain gitar, sementara Emira, Khai, dan Ez telah selesai memanggang daging.


“Seperti sedang berkemah saja” Emira mendekat pada api unggun yang kini menyala sempurna.


“Apa sebaiknya kita berkemah malam ini?” Tanya Zhi.


“Ide yang bagus, kita juga punya tenda” Usul Chan.


“Apa kau mau, Em?” Kali ini Zal ikut bertanya.


“Ak...aku...” Belum sempat Emira menjawab, Khai sudah lebih dulu berkata, “Kami punya tiga tenda, kau bisa memakainya satu."


“Baiklah” Jawab Emira.


Karena Emira dan member lain sudah menyetujui, Zhi dan Chan dengan sigap mengambil tenda lalu memasangnya di depan api unggun.


“Aku merasa kembali ke masa sekolah” Ucap Chan yang duduk di samping Khai.


“Apa kalian dulu juga pernah berkemah?” Tanya Emira.


“Tentu saja. Bahkan, aku selalu ikut” Jawab Zhi.


“Benarkah?. Kau bahkan mengeluh saat syuting di penginapan yang banyak nyamuknya” Sindir Chan.


“Kak Khai yang mengeluh, bukan aku!” Elak Zhi.


“Kak Khai juga mengeluh, saat ada kecoak di kamar mandi penginapan” Dza ikut bersuara.


“Ketika ada tikus di dapur umum, dia juga mengeluh” Ucap Zal.


“Apa kalian ingin dihajar?. Hah?!” Khai kesal karena merasa dipojokkan. Bukannya takut, para member malah tertawa.


“Tidak terasa, kita sudah melewatinya sampai sejauh ini” Ez tersenyum getir, seperti tengah memikirkan sesuatu.


“Waktu cepat berlalu. Kita yang dulu sering mendapat cacian, tidak disangka bisa bertahan sampai saat ini” Dza menatap api unggun, namun tatapannya kosong.


“Meskipun masa sulit akan selalu ada, tapi aku berharap kita akan terus kuat melaluinya” Zal menatap tajam kelima member.


“Aku benci mengakuinya!. Tapi, aku tidak tahu harus melakukan apa tanpa kalian” Ucap Chan lirih.


“Kalian pernah bertanya, kenapa aku sangat rajin belajar dan berlatih bela diri meskipun saat libur. Itu semua karena kalian” Zal menarik napas panjang dan menghembuskannya.


“Apa kalian ingat, kejadian saat pertama kali kita ada di acara penghargaan musik?” Tanya Zal.


“Itu sudah sangat lama, aku tidak terlalu mengingatnya” Jawab Zhi.


“Saat itu, banyak yang menganggap rendah kita. Bahkan, banyak yang mengatakan kita tidak berpendidikan karena hanya kak Khai dan kak Ez yang belajar di Universitas. Setelah itu, aku mendaftar kuliah dengan memaksa Dza dan Chan agar ikut. Aku ingin membuktikan, bahwa kita juga bisa melanjutkan pendidikan meskipun sedang di masa yang sulit. Lalu setelah Zhi lulus sekolah, aku juga mendaftarkannya kuliah. Dan dia kesal, karena aku mendaftarkannya secara diam-diam. Maaf, jika waktu itu aku terlalu memaksa kalian. Dadaku terasa sesak, saat banyak orang yang meremehkan kita” Zal menarik napas panjang, lalu kembali berkata, “Aku belajar bela diri karena ingin melindungi kalian. Saat pertama kali kita mengadakan jumpa fans atau saat di bandara, banyak orang asing yang tiba-tiba menyerang kita. Waktu itu, kita hanya boy group baru yang belum dikenal, hingga penjagaan hanya dilakukan seadaanya. Zhi yang masih kecil, sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dan paling sering diserang hater. Aku merasa tidak berguna, saat tidak bisa membantunya. Tapi, lihatlah sekarang...tubuhnya sudah menyamaiku” Zal merangkul Zhi yang matanya mulai berkaca-kaca.


“Terima kasih, kalian sangat menjagaku” Ucap Zhi lirih.


“Kedepannya, kau yang harus menjaga kami” Jawab Zal.


“Sekarang, kalian bisa mengandalkanku” Meski Zhi tersenyum, tapi sorot matanya menunjukkan kesedihan.


“Aku yang awalnya hanya ingin mendapatkan tempat tinggal dan makan gratis, malah terjebak di sini sampai sekarang” Ez tersenyum simpul.


“Apa maksudnya?” Tanya Emira tiba-tiba.


“Maaf. Aku tidak bermaksud bertanya” Emira merasa tidak enak saat para member menoleh ke arahnya.


“Aku tidak perduli ketika dibanding-bandingkan dengan orang lain. Tapi, ketika aku dibandingkan dengan kakakku sendiri, hatiku merasa terluka. Aku tidak tahu, kenapa orang tuaku tidak mendukung dan malah membanding-bandingkan kami. Meski itu untuk kebaikan, tapi hatiku tetap merasa sakit saat orang yang paling ku sayangi tidak mempercayai usahaku. Lalu, aku memutuskan untuk pergi dari rumah. Saat itu, aku tidak tahu harus pergi ke mana, teman-temanku tidak mau membantu atau pun memberi tumpangan. Aku menerima tawaran untuk bergabung dengan SUN, karena ingin mendapat tempat tinggal dan makan gratis. Tapi, malah menemukan saudara di sini. Terima kasih” Ez menundukkan kepala, mencoba mengatur emosinya.


“Terima kasih, karena kalian memperlakukanku dengan baik. Dunia seperti berhenti berputar saat aku tahu, bahwa aku hanyalah anak angkat. Aku merasa dipermainkan oleh takdir. Sedari kecil, aku terus bertanya, kenapa hanya orang tuaku yang menyayangi dan memperlakukanku dengan baik. Aku tidak tahu, kenapa kakak-kakakku sangat membenci dan bersikap kasar padaku. Setelah tahu kebenarannya, aku menjadi paham alasan mereka membenciku. Mereka merasa, aku telah merebut kasih sayang kedua orang tuanya. Lalu, aku memutuskan bergabung dengan SUN agar mempunyai alasan untuk pergi dari rumah. Dan di sini, aku bukan hanya menemukan kakak tapi juga adik yang tulus menyayangi dan bisa menerimaku. Aku tidak tahu, bagaimana hidupku jika tidak bertemu kalian” Butiran bening jatuh begitu saja dari kedua sisi mata Dza. Di balik keceriannya, dia menyimpan luka yang begitu dalam sendirian dan dalam waktu yang lama.


“Aku juga bersyukur karena bertemu kalian” Ucap Zhi. Ia terdiam sejenak, lalu kembali bergeming, “Kalian tahu bukan, jika ibuku telah lama meninggal. Aku hidup dengan ayah dan kakak perempuanku. Saat ayah bekerja, aku hanya tinggal berdua dengan kakak. Dia yang sangat menjaga dan memperhatikanku. Dia juga yang menjadi alasanku bergabung dengan SUN. Saat itu, kakakku sangat ingin melanjutkan pendidikan di Universitas, tapi ayahku yang hanya pegawai biasa tidak sanggup membiayainya. Aku sedih saat melihatnya sangat putus asa. Akhirnya, aku memutuskan untuk bergabung bersama SUN, meskipun usiaku masih remaja. Sejujurnya, niatku bergabung hanya demi uang. Tapi setelah kita melalui banyak hal, aku jadi ingin terus bersama kalian. Aku bahkan mengorbankan masa remaja, tapi kakakku malah sering mengajak teman-temannya yang fanatik ke rumah” Meskipun menggerutu, tapi terlihat jelas jika Zhi sangat menyayangi kakaknya. Di saat anak-anak seusianya sedang bersenang-senang, ia sibuk sekolah dan menghabiskan waktu libur untuk berlatih vokal. Mengabaikan rasa lelah dan terus bekerja keras demi mimpinya.


“Kau sangat bekerja keras” Dza merangkul Zhi, layaknya seorang kakak yang tengah memberi semangat pada adiknya.


“Karena kalian berbicara begini, aku juga jadi ingin mengatakannya. Terima kasih, telah menjadi saudara yang saling berbagi banyak hal. Setelah orang tuaku berpisah, aku jadi sulit mempercayai siapa pun. Terlebih, saat ibuku harus menanggung hutang yang disebabkan oleh ayah dan berjuang sendirian untuk membesarkanku serta adikku. Saat itu, aku merasa mengakhiri hidup adalah pilihan terbaik. Tapi, saat melihat adikku yang masih kecil dan mempunyai banyak mimpi, juga ibu yang selalu bersemangat, aku jadi merasa malu jika menyerah pada takdir. Aku lalu memutuskan untuk menjadi bagian dari SUN. Sama seperti Zhi, tujuanku bergabung juga demi uang. Ketika mengalami banyak kesulitan dan menerima cacian dari berbagai pihak, kita tetap memutuskan untuk melangkah bersama. Sejak saat itu, aku mulai bertekad tidak akan berhenti begitu saja. Bukan hanya untuk ibu dan adikku, tapi juga untuk SUN” Meskipun mengatakannya dengan lantang, tapi Chan terlihat tengah menahan air mata.


“Lucu sekali...apa kita ini orang-orang yang dikumpulkan karena memiliki kemalangan hidup?” Khai tersenyum getir. Seolah tak ingin memberi kesempatan member lain untuk menjawab, ia kembali bergeming, “Satu-satunya alasanku bergabung dengan SUN adalah untuk menemukan ibuku. Bertahun-tahun aku mencari beliau, hingga merasa frustrasi karena tidak juga menemukannya. Lalu aku berpikir, jika tidak bisa menemukan ibu, maka akan ku buat ibu yang menemukanku. Hingga akhirnya, aku setuju untuk bergabung dengan SUN. Awalnya aku berjuang hanya untuk itu, tapi setelah melihat kerja keras serta perjuangan kalian, aku merasa buruk jika hanya memikirkan masalah pribadi. Setelah kita menjadi terkenal dan mendapat banyak kasih sayang dari 'My Spring', aku merasa semakin ingin melakukan yang terbaik untuk SUN. Terima kasih, sudah melangkah bersama tanpa saling menjatuhkan” Dari raut wajahnya, Khai nampak lega karena sudah mengungkapkan isi hatinya.


“Wah...malam ini kita banyak bicara serius, tapi aku jadi merasa lega” Ungkap Zhi.


“Kalian benar-benar hebat, hingga membuatku sulit berkata-kata” Ucap Emira.


“Apa sekarang, kau sudah menjadi ‘My Spring’?” Tanya Chan.


“Eum...sepertinya begitu” Senyum para member mengembang, mendengar pengakuan Emira.


Emira menatap wajah para member dengan perasaan yang sulit diungkapkan. Di balik nama besar SUN, ada perjuangan yang tidak mudah. Bahkan, ada banyak luka yang dirasakan para member. Mereka mempunyai masalah yang sama besarnya, tapi tetap bisa saling menguatkan. Akar yang mereka tumbuhkan sangat kuat dan dalam, hingga tak mudah tumbang meskipun tertiup angin kencang.


...***...


Deep Talk 😔😔😔


Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻


Terima kasih 😘🤗🙏🏻