
Khai meraih ponsel yang ada di atas nakas. “Berisik sekali” Ujarnya masih dengan mata setengah terpejam. Matanya terbelalak saat melihat berita melalui benda pipih yang kini di genggamnya. Dengan sigap, ia menyingkap selimut yang membungkusnya dan melempar ke sembarang tempat, lalu menemui para member yang telah berkumpul di ruang TV.
“Di mana Emira?” Tanya Khai pada kelima member.
“Dia sedang menemani Bu Tari membeli sayuran di pasar. Kenapa?” Tanya Dza.
“Mereka hanya pergi berdua?” Tanya Khai lagi.
Sambil menjeda permainan di ponselnya, Chan bertanya, “Ya, kenapa kakak panik begitu?”
Tanpa banyak bicara, Khai menyalakan televisi dan menunjukkan berita yang tadi dilihatnya.
“Kenapa ini bisa ada berita seperti ini?”
Tak hanya Dza, tapi keempat member juga sama terkejut.
“Kita bahkan tahu kejadiannya seperti apa, mereka malah membuat gosip begini”
Chan nampak geram dengan berita yang menyeret Khai dan Emira.
“Sepertinya, kali ini kita perlu menindak lanjuti berita yang mencemarkan nama baik SUN” Usul Zal.
Khai mengepalkan tangan, wajahnya memerah sejak tadi, “Aku akan menyusul mereka” Ujarnya, lalu meninggalkan para member.
“Aku ikut”
Ez mengekori Khai menuju tempat parkir.
“Mereka sama-sama sedang emosi, kita tidak bisa membiarkan mereka pergi berdua saja. Aku juga akan ikut” Ujar Zal, namun ketiga member lainnya juga tak mau tinggal diam di rumah.
.
.
.
Letak pasar yang tidak begitu jauh dari SUN house dan jalanan yang lancar membuat mereka tiba dengan cepat.
“Ini terlalu ramai, kita berpencar saja” Ujar Khai dan para member menyetujui.
“Aku dan Khai, Zhi dan Chan, Zal dan Dza. Jangan lupa pakai masker, kaca mata, dan topi kalian” Titah Ez.
“Segera beri kabar jika sudah bertemu mereka” Khai kembali bergeming.
Setelah siap, para member segera keluar dari mobil dan berpencar untuk mencari Emira dan Bu Tari. Tapi, karena pasar yang terlalu ramai dan luas membuat para member kesulitan menemukan mereka.
“Akh...kepalaku pusing, baunya kuat sekali!” Khai tak tahan dengan bau sayuran dan ikan yang bercampur.
“Apa kau sedang menunjukkan bahwa kau putra mahkota?” Sindir Ez.
“Apa maksudmu?!. Ini memang bau. Tapi...kau peka juga”
Jika tidak tertutup masker, senyum lebar Khai pasti sudah terlihat oleh Ez.
Ez berdecak sambil menoyor bahu Khai, “Ayo, cepat cari!” Ujarnya.
Sementara itu, Chan dan Zhi justru melupakan tujuannya. Mereka malah sibuk membeli jajanan pasar.
“Kenapa kak Khai sangat bersemangat menyusul ke sini?” Tanya Chan sambil memberikan selembar uang pada penjual susu kedelai.
“Entahlah, sepertinya ada yang tengah dia takutkan” Jawab Zhi singkat.
“Tapi...kenapa kita juga ikut?” Chan kembali bertanya.
Sambil tertawa, Zhi menjawab, “Sebenarnya, aku juga tidak tahu. Aku hanya mengikuti kalian saja”
Chan menggelengkan kepala sambil berdecak. Lalu beberapa detik kemudian, ia memberikan susu kedelai pada Zhi dan berkata, “Enak sekali, mau mencobanya?”
“Kakak membeli berapa banyak?” Tanya Zhi.
“Hanya satu”
“Cepat beli lagi” Pinta Zhi.
“Aku tidak punya uang lagi. Tadi itu uang terakhirku!” Terang Chan sambil tersenyum lebar.
“Kalau begitu, ayo temukan kak Dza dan kak Zal. Mereka pasti membawa uang” Ujar Zhi.
“Kita harus menemukan Emira!” Seru Chan.
“Apa kau juga berpikir kalau kak Khai aneh?!. Emira hanya membeli sayuran, bukannya hilang. Kenapa harus dicari?” Chan kembali bertanya.
Sambil menganggukkan kepala, Zhi berkata, “Benar juga. Akhir-akhir ini, dia sering membingungkan”
"Iya, benar. Itu kak Dza...” Ucap Chan sambil menunjuk dua member lain. Dengan sigap, mereka segera menghampiri keduanya.
Tanpa basa-basi, Zhi langsung meminta uang pada Zal dan Dza.
“Kalian memang tidak bisa dipercaya jika pergi bersama!”
Zal memelototi Chan dan Zhi. Meski begitu, ia tetap menuruti kemauan member termuda itu.
“Iya, tadi ada dua orang yang memborongnya” Terang si penjual.
“Baiklah. Terima kasih” Jawab Zhi dengan lesu, sementara ketiga member yang ada di sampingnya malah tertawa.
“Kita bisa membelinya besok” Masih dengan tawanya, Dza menepuk bahu Zhi.
“Ada apa itu?. Kenapa orang-orang berlari ke sana?” Pertanyaan Chan mengalihkan perhatian. Mereka menoleh bersamaan ke arah jalan.
“Itu mereka!” Seru Zal saat melihat Khai dan Ez berlari menuju kerumunan. Dengan sigap, ia berlari menyusul kedua member tersebut dan diikuti Zhi, Chan, dan Dza di belakangnya.
Mereka tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi, karena orang-orang yang berkumpul sangat banyak. Hanya saja, tangisan Bu Tari terdengar jelas di telinga mereka.
“Apa yang terjadi?” Tanya Zal.
“Em...Emira...” Jawab Bu Tari disela isak tangisnya.
Dengan panik, Zhi bertanya, “Kenapa dengan Emira?”
Bu Tari sulit menjelaskan, namun mereka paham saat melihat Khai berdiri di depan Emira dan Ez yang berada di belakang Emira.
Mereka tengah melindungi Emira dari amukan para penggemar yang terpengaruh gosip. Bahkan, Khai dan Ez merelakan tubuhnya terkena lemparan telur dan tomat yang sudah busuk. Melihat hal itu, Zal segera memasang badan. Ia berdiri di samping kanan Emira, lalu Dza di samping kirinya. Dua member lainnya juga tak tinggal diam, Chan berdiri di antara Zal dan Ez, sedangkan Zhi berada di antara Khai dan Dza. Seperti lingkaran sempurna, mereka melindungi Emira yang ketakutan.
“Berhenti melempar!. Mereka SUN” Ujar salah seorang yang menyadari keenam orang dengan postur tegap tersebut adalah idola mereka.
Dengan sigap, mereka berhenti melempar. Bahkan, sekarang mereka merasa bersalah karena sudah melempari SUN dengan telur dan tomat busuk yang baunya sangat menyengat. Tujuan mereka menyerang Emira karena ingin melindungi SUN, tapi justru merekalah yang telah menyakiti SUN.
“Seharusnya, kalian tidak mudah terpengaruh oleh gosip” Ujar Khai dengan raut wajah kecewa.
Orang-orang yang tadi menyerang jadi berbisik dan ketakutan melihat tatapan tajam yang bercampur kecewa para member SUN. Meskipun begitu, keenam member tidak bisa marah atau menyalahkan penggemar mereka begitu saja.
Zhi yang terkena lemparan susu kedelai, bergumam dengan pelan, “Ternyata, kalian yang tadi memborong semua susu kedelai?!. Sayang sekali, kalian malah membuangnya seperti ini”
Khai lantas membantu Emira yang sudah terduduk lemas karena ketakutan. Mengajaknya menuju mobil, mengabaikan orang-orang yang kini memotret dan merekam aksinya berserta kelima member lain.
***SUN House***
“Bersihkan dirimu, lalu istirahatlah”
Khai menatap Emira dengan raut wajah yang sulit dijelaskan. Ia ingin marah, namun tak tega melihat Emira yang masih ketakutan.
“Ba...baik” Emira menjawab dengan suara yang bergetar.
Para member memperhatikan Emira yang berjalan dengan kaki gemetar. Mereka merasa bersalah karena selalu membuat Emira terlibat dalam pemberitaan, hingga mendapat serangan seperti ini.
“Apa yang sebenarnya terjadi?. Kenapa mereka menyerang Emira?!” Tanya Zal pada Khai dan Ez.
“Mereka percaya pada berita sampah itu. Sepertinya memang ada orang dalam yang sengaja ingin menyerang kita, dan menggunakan Emira sebagai umpan” Terang Ez.
“Benar. Jika bukan orang dalam, mana mungkin mereka tahu ke mana Emira pergi” Dza juga ikut berpendapat.
“Jika benar begitu, kita harus waspada dan jangan sampai terpancing emosi” Ucap Chan.
Dengan lantang, Khai berkata, “Tapi dia tidak bisa terus terlibat seperti ini!. Orang itu akan semakin menggunakannya jika kita tidak bertindak!”
Saat mereka tengah berdebat, Pak Sugara dan Pak Arsel datang bersama.
“Apa diskusi penting kalian sudah selesai?!. Cepat berkumpul!” Ujar Pak Sugara penuh penekanan.
Para member segera menuju ruang rapat, mengekori kedua lelaki paruh baya tersebut.
Pak Sugara memberikan artikel pada Khai, “Apa kau ingin membubarkan group ini?!. Hah?!” Tanyanya.
“Semua berita yang muncul akhir-akhir ini berkaitan denganmu. Jika kau ingin berhenti, jangan libatkan mereka” Ujar Pak Sugara sambil menunjuk pada kelima member lain.
“Sebenarnya, apa yang kau inginkan?!. Kenapa kau jadi seperti ini?!” Pak Sugara kembali bertanya.
Pak Arsel mencoba menjelaskan dengan berkata, “Bukankah, sudah ku jelaskan. Baju Emira basah karena membenarkan keran air yang rusak, Khai hanya membantunya. Mereka tidak melakukan apa-apa. Beritanya saja yang berlebihan”
“Tapi dia adalah idol. Tidak seharusnya bertindak ceroboh seperti itu. Hal yang tidak penting sekalipun, akan menjadi penting di mata penggemar kalian. Itu sebabnya, aku selalu meminta kalian untuk berhati-hati” Pak Sugara menghela napas berat, lalu kembali berkata, “Aku bukan mau menjadikan kalian robot yang selalu menuruti perkataanku. Tapi jika bertindak ceroboh, orang-orang yang ada di sekeliling kalian juga akan terlibat”
“Aku yakin mereka sudah paham sekarang, jadi berhentilah mengomel!” Ujar Pak Arsel, sementara Pak Sugara malah memelototinya.
“Anda benar, saya sangat ceroboh. Maafkan saya. Saya benar-benar menyesal” Khai menatap Pak Sugara.
“Saya akan menyelesaikan masalah ini” Ujar Khai lagi, lalu pergi meninggalkan ruang rapat.
“Mau ke mana kau?!. Aku belum selesai!” Teriak Pak Sugara, namun Khai tidak mengindahkannya.
“Cepat ikuti dia, jangan biarkan dia pergi sendirian dan melakukan hal aneh lagi” Titah Pak Arsel. Dengan sigap, kelima member berlari mengejar Khai.
...***...
Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛
Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻
Terima kasih 😘🤗🙏🏻