SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 41



Emira mencegah Pak Arsel yang hendak bersiap untuk istirahat. Ia ingin mengajukan protes atas keputusan sepihak dari Pak Arsel.


“Ada apa?. Aku sangat lelah, mataku sudah sulit untuk terbuka dengan benar”


“Saya tidak bisa ikut mereka berlibur. Saya tidak sanggup mengurus mereka sendirian” Keluh Emira.


“Kau bisa mengendalikan mereka, aku percaya padamu. Bahkan, mereka lebih mendengarkan perkataanmu dari pada aku”


“Tapi...” Belum selesai Emira bicara, Pak Arsel telah lebih dulu bergeming, “Kau jangan khawatir, percayalah padaku. Sekarang, aku mau istirahat. Kau juga istirahatlah” Pak Arsel lantas berlalu begitu saja, meninggalkan Emira yang masih terdiam di tempatnya.


‘Meskipun tinggal serumah dan setiap hari bertemu, tapi aku tetap tidak bisa pergi bersama mereka. Akh...aku akan meminta bonus yang besar atas ini’ Gumam Emira dengan frustrasi.


***Liburan***


Karena Pak Arsel terus memaksa dan berjanji akan memberikan bonus yang besar, akhirnya Emira setuju untuk ikut berlibur bersama para member. Bukan berlibur sungguhan, tapi lebih tepatnya menjaga para member berlibur.


“Kalian yakin tidak ada barang yang tertinggal?”


Emira meyakinkan para member sebelum berangkat.


“Eum” Jawab para member bersamaan.


“Jika ingin liburan ini berjalan dengan lancar, maka kalian harus mendengarkan perkataanku. Apa kalian paham?!”


“Iya”


Para member kompak menganggukkan kepala, persis seperti anak TK yang sedang takut pada gurunya.


Setelah selesai mempersiapkan segala keperluan, mereka memulai perjalanan. Zal dan Emira duduk di bangku depan, Khai dan Ez ada di bangku tengah, sedangkan Dza, Chan, dan Zhi duduk di bangku belakang.


Tempat yang akan mereka tuju adalah pedesaan, para member ingin menginap di desa yang ada di lereng gunung. Desa itu terletak cukup jauh dari kota, mereka membutuhkan waktu sekitar delapan jam untuk sampai di tempat yang menjadi rekomendasi Pak Arsel.


Meskipun jalannya tidak begitu mulus dan letaknya juga jauh, tapi mereka senang karena disuguhkan oleh pemandangan yang sangat indah dan udaranya masih segar.


“Wahhh...apa sekarang kita berada di surga” Ujar Chan, matanya menatap takjub pada rumah-rumah warga yang terbuat dari anyaman bambu, dengan latar belakang pegunungan. Persis seperti pemandangan yang dibuat oleh anak-anak Sekolah Dasar.


“Sangat berlebihan sekali”


Zhi berdecak melihat tingkah Chan.


“Ini bukan berlebihan, tapi aku sedang menikmati hidup” Jawab Chan tak mau kalah.


Belum sempat Zhi membalas, Emira telah lebih dulu menghentikan, “Berhentilah mengobrol, dan bantu aku membereskan ini” Emira menunjuk pada koper para member yang telah dikeluarkan dari bagasi mobil, dan dengan sigap mereka berdua menuruti perkataan Emira.


“Jika bukan karena syarat dari Pak Arsel, aku tidak akan mau menuruti perintahnya!” Celoteh Zhi.


“Benar. Dia persis seperti induk beruang jika marah” Balas Chan.


“Padahal dia sangat cengeng” Zhi mengolok Emira.


“Berhenti mengumpatku, dan cepat bawa koper-koper ini ke dalam!” Ujar Emira dengan lantang.


“Ayo cepat, induk beruang sudah mengeluarkan taringnya” Ucap Zhi sambil menarik koper dan berlari bersama Chan.


“Yahhh...dasar kalian bayi tikus!!!” Emira berlari mengejar keduanya yang telah lebih dulu masuk ke rumah.


“Kalian kenapa?”


Dza bingung melihat kedua adiknya berlarian sambil membawa koper.


“Induk beruang sedang mengejar kami” Jawab Chan.


“Siapa?”


Zal menoleh sekitar, ia jadi paham saat melihat Emira juga berlari.


“Kak...mereka menyebutku induk beruang” Emira mengadu pada Dza dan Zal.


“Kau juga menyebut kami bayi tikus!” Chan dan Zhi tak mau kalah.


“Tapi kalian yang lebih dulu mulai!” Elak Emira.


Dza dan Zal semakin pusing karena Chan, Zhi, dan Emira saling mengumpat sambil berkejar-kejaran. Mereka seperti bocah yang tengah merebutkan mainan.


“Sudah hentikan. Apa kalian mau cemilan?. Aku membawa banyak cemilan” Ucapan Ez berhasil mengalihkan perhatian ketiganya.


“Apa-apaan ini?!. Kita seperti tengah berlibur sambil mengasuh tiga bocah!” Ucap Khai saat melihat kedua member serta Emira makan snack bersama. Padahal, beberapa menit yang lalu mereka seperti kucing dan tikus yang tengah berebut mangsa.


“Lebih baik seperti itu, dari pada mereka ribut. Kepalaku pusing melihatnya” Gumam Ez.


Meskipun mengeluh, namun jauh di dalam lubuk hati mereka sangat senang melihat kebersamaan serta pertengkaran kecil antara Chan, Zhi, dan Emira. Berkat ketiganya, suasana menjadi tidak tegang dan lebih seru.


***


Emira dan kelima member tengah menikmati ubi dan jagung rebus pemberian dari salah satu warga yang rumahnya mereka sewa selama di desa. Tak hanya menikmati sarapan, mereka juga tengah berdiskusi mengenai kegiatan selama di desa.


“Kalian makan apa?. Kenapa tidak ada yang membangunkanku?”


Zhi berjalan seperti zombie, karena kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul.


“Kau ini jorok sekali, cepat sana!”


Chan mendorong Zhi agar menjauh darinya.


Dengan sedikit kesal, Zhi menuruti perintah dari kakak-kakaknya.


Setelah selesai sarapan, mereka segera menuju sawah. Pemilik rumah yang mereka sewa berprofesi sebagai petani. Saat ini desa tersebut tengah memasuki musim panen, sehingga pemilik rumah mengajak para member serta Emira memanen padi di sawah.


Setibanya di sawah, mereka sangat antusias. Hal itu dikarenakan mereka belum pernah memanen padi sebelumnya. Para member serta Emira takjub melihat para petani memanen padi menggunakan peralatan tradisional, ada juga petani yang tengah memandikan kerbau di sungai.


“Ini pertama kalinya aku melihat kerbau dimandikan” Seru Khai.


“Apa tuan mau mencobanya?” Tanya Pak Tomo selaku pemilik rumah sekaligus penanggung jawab mereka selama berlibur di desa.


Khai ingin menolak, namun para member serta Emira terus memojokkan sehingga membuatnya menerima tawaran Pak Tomo.


‘Jika bukan karena harga diriku yang berharga, aku tidak mau melakukan ini’ Gumam Khai.


“Ayo tuan, kerbau ini sudah jinak. Anda tidak perlu khawatir” Seru Pak Tomo lagi.


Khai mengikuti Pak Tomo yang lebih dulu turun ke sungai. Ia menarik tangan Emira sebelum benar-benar turun ke sungai. Emira yang berdiri di samping Zhi, tidak tinggal diam, ia juga menarik tangan Zhi agar ikut bersamanya. Alhasil, mereka bertiga turun ke sungai bersama.


“Apa-apaan kau?!”


“Kenapa?. Kau takut pada kerbau, ya?” Tanya Emira pada Zhi.


“Ti...tidak. Aku hanya tidak ingin bermain di sungai” Elak Zhi.


“Bohong. Zhi takut kerbau...bayi tikus takut kerbau”


Emira tertawa puas karena bisa mengejek Zhi.


“Dasar induk beruang. Ayo, kita buktikan. Jangan-jangan, kau yang takut!”


“Tentu saja tidak” Ujar Emira dengan percaya diri.


“Supaya adil, bagaimana jika kalian juga ikut membantu. Saya punya dua kerbau”


Ez, Chan, Dza, dan Zal, menghentikan tawanya saat mendengar pernyataan Pak Tomo.


“Iya...kalian juga harus ikut” Ujar Zhi. Khai dan Emira menyetujui.


“Sepertinya, akan lebih baik jika kami membantu memanen padi saja” Usul Ez.


Chan, Zal, dan Dza menganggukkan kepala, sependapat dengan usulan Ez.


“Kau takut?!” Tanya Khai.


“Apa kau gila?!. Kenapa aku takut pada kerbau?” Jawab Ez.


“Kalau begitu, ayo lakukan” Tantang Khai.


“Baiklah, ayo!” Ez mengajak ketiga member turun ke sungai menyusul Khai, Zhi, serta Emira.


“Karena kalian sudah menyetujui, maka saya akan ajarkan cara memandikan kerbau dengan benar” Ujar Pak Tomo. Lalu, beliau mulai mengajarkan caranya dan para member serta Emira segera mempraktekkannya.


“Karena sudah paham, saya akan mempercayakan sisanya pada kalian. Saya permisi untuk melanjutkan memanen padi” Pak Tomo lantas meninggalkan mereka bersama para kerbau miliknya.


Mulanya, semua berjalan lancar. Bahkan, mereka terlihat senang bisa melakukan hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Namun karena terlalu asyik bermain, mereka jadi lupa akan tugas utama memandikan kerbau. Sehingga, salah satu kerbau tersebut kabur karena tali pengikatnya lepas. Hal itu membuat mereka panik, dan bergegas mengejar kerbau yang kabur sebelum Pak Tomo mengetahuinya.


“Jaga sebelah sana”


Khai meminta Zal agar menjaga di bagian kanan.


“Aku akan menggiringnya, kau jaga bagian kiri” Ez memberi perintah pada Dza dan Chan. Sedang, Emira dan Zhi sibuk berteriak memberi semangat pada kelima kakaknya.


Usaha mereka menangkap kerbau gagal, kerbau itu malah berlari ke arah sawah dan membuat kekacauan di sana. Kerbau itu menginjak semua padi yang hendak di panen, sontak saja para petani terkejut dan berlarian menyelamatkan diri dari amukan berbau. Pak Tomo yang melihatnya, tidak tinggal diam, beliau yang memang ahli dalam menjinakkan kerbau, dengan mudahnya menenangkan dan menangkap kerbau tersebut.


“Wahhh...” Ujar para member bersamaan, mereka takjub dengan kemahiran Pak Tomo dalam menjinakkan hewan. Bahkan mereka bertepuk tangan dengan keras, seolah tengah menyambut kedatangan pahlawan yang telah menyelamatkan bumi.


“Maafkan kami. Karena kelalaian kami, sawah Anda menjadi rusak dan mengalami kerugian” Sesal Khai.


“Anda tidak perlu khawatir, kak Khai akan mengganti kerugiannya lima kali lipat” Ujar Zhi dengan santai, sedang Khai terkejut mendengar pernyataan sepihak dari Zhi.


“Tidak perlu repot-repot. Sebenarnya, sawah saya paling luas di desa ini. Itu hanya hal kecil bagi saya” Pak Tomo berkata dengan malu-malu.


Kelima member serta Emira tak bisa menahan tawa melihat ekspresi Zhi yang kikuk. Maksud hati ingin menyombongkan kakaknya, tapi ternyata malah salah orang.


...***...


Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻


Terima kasih 😘🤗🙏🏻