SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 55



Para member menghentikan latihan saat melihat Pak Sugara dan Pak Arsel berada di ambang pintu. Kedua lelaki paruh baya itu tersenyum, memberi kode agar keenam member mendekat.


Pak Arsel memberikan air mineral pada keenam member yang nampak kelelahan.


Dengan kompak para member berkata, “Terima kasih”


“Siaran langsung yang kalian lakukan kemarin menjadi trending topic” Ujar Pak Arsel memecah keheningan.


“Benarkah?” Tanya Zhi sebelum menenggak minumnya.


Pak Arsel menganggukkan kepala, lalu menunjukkan ponselnya pada para member.


“Bahkan, banyak para idol yang juga sependapat dengan kalian” Terang Pak Sugara.


“Padahal, kami melakukannya dengan natural tapi malah menjadi trending seperti ini” Gumam Dza.


Pak Sugara menatap para member dengan raut wajah bersalah, “Aku tidak pernah memikirkan soal ini sebelumnya. Saat melihat siaran langsung kalian, aku baru menyadari, bahwa kalian sudah tumbuh dewasa... wajar, jika kalian ingin mempunyai seseorang untuk dilindungi. Sejak awal berkarir, kalian hanya bekerja dan tidak pernah memikirkan soal percintaan. Maafkan aku” Ujarnya.


“Apa sekarang Anda sadar, sudah menjadikan kami sapi perah selama bertahun-tahun?!” Tanya Khai.


Tak hanya Pak Sugara dan Pak Arsel, tapi kelima member juga terkejut dengan perkataan Khai.


Khai tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “Kenapa kalian sangat serius?. Aku hanya bercanda”


Pak Sugara bernapas lega, lalu menoyor bahu Khai dan berkata “Kau ini, membuat terkejut saja”


“Kau tahu, kau bisa membuatnya meninggal mendadak karena serangan jantung” Ujar Pak Arsel sambil menunjuk Pak Sugara.


Pak Sugara langsung memelototi Pak Arsel yang menertawakannya.


“Aku juga minta maaf. Sekarang, kami akan mendukung apa pun keputusan kalian. ‘My Spring’ juga sepertinya sudah merestui jika kalian memiliki kekasih. Hah... kenapa kalian cepat sekali dewasa?!” Ujar Pak Arsel sambil mengusap pucuk kepala para member.


Dengan senyum sumringah, Chan berkata “Luar biasa... padahal, kami hanya menyampaikan isi hati, tapi malah mendapat dukungan seperti ini. Jika sejak lama kami mengatakannya, pasti aku sudah menjadi playboy sekarang”


Mendengar pengakuan Chan membuat keempat member, Pak Arsel, dan Pak Sugara langsung melotot ke arahnya. Sedang, Zhi malah tertawa melihat kakaknya mendapat intimidasi.


“Sebenarnya, kami tidak bermaksud mengeluh. Poin pentingnya juga bukan hanya cinta. Kami cuma ingin menjalani hidup dengan normal meskipun menjadi idol” Ungkap Ez.


Pak Arsel berkata dengan tegas, “Ya, kalian berhak mencintai dan mendapat cinta dari seseorang. Bukan karena kalian idol, tapi karena kalian manusia. Bersyukur, kalian mempunyai penggemar yang mendukung dan menerima kalian apa adanya”


Zal tersenyum, lalu berkata “Aku sangat bangga pada ‘My Spring’. Tanpa mereka, kami tidak mungkin bertahan sampai sejauh ini”


Chan berdiri dari duduknya, “Penggemarku adalah kekasihku” Ujarnya sambil berlagak layaknya deklamator. Sontak saja, hal itu membuat kelima member kompak melayangkan pukulan karena gemas melihat tingkah Chan.


Pak Sugara dan Pak Arsel saling pandang, lalu tertawa melihat keenam member yang tetap bisa kompak meskipun sudah bertahun-tahun bersama.


Seorang wanita paruh baya menghampiri putrinya yang sedang membersihkan taman kecil di pekarangan belakang rumah. Semenjak putrinya tidak tinggal bersamanya, taman itu menjadi tidak terurus.


“Kau masih sama seperti dulu. Tidak bisa tenang jika melihat taman ini tanpa bunga”


Emira menoleh ke arah sumber suara, tersenyum pada wanita paruh baya yang kini sudah berada di sampingnya.


“Ayah dan ibu tidak sempat membersihkan taman ini karena sibuk berjualan, bunga-bunga yang kau tanam jadi tidak terurus. Maafkan kami” Ujar wanita paruh baya itu sambil membantu putrinya membersihkan rumput liar.


“Kenapa minta maaf?. Ayah dan ibu pasti sudah lelah karena bekerja, wajar jika tidak sempat mengurusnya. Ibu istirahat saja, biar Emira yang membersihkannya”


Wanita paruh baya itu menghela napas pelan, sambil menunjukkan ekspresi pura-pura bersedih, ia berkata “Sudah seminggu ini, kau tidak mengizinkan ibu melakukan apa-apa”


Emira tertawa melihat raut wajah ibunya, “Ibu dan ayah sudah bekerja keras selama ini. Selama Emira di rumah, biarkan Emira yang melakukan semua pekerjaan”


Wanita paruh baya itu mengusap lembut pucuk kepala putrinya. Meskipun dilarang, putrinya yang keras kepala itu tidak akan menurutinya.


“Ayah dan ibu sudah membicarakannya semalam. Sebaiknya, kau tinggal bersama kami lagi saja. Jangan bekerja dengan artis lagi!” Ujar wanita paruh baya itu sambil merilik Emira yang tengah memunguti daun-daun kering.


Melihat putrinya tidak berkomentar apa pun, wanita paruh baya itu kembali bergeming “Ayah dan ibu minta maaf. Kami baru tahu berita mengenaimu, kenapa kau tidak mengatakan pada kami jika mengalami kesulitan?!”


Emira masih diam tak bergeming dan tetap fokus pada pekerjaannya.


Dengan suara serak, wanita paruh baya itu kembali berkata, “Kau membuat kami merasa jadi orang tua yang jahat, kau tahu itu?!”


Emira yang menyadari perubahan suara ibunya, segera menghentikan kegiatannya. Ia lantas memeluk dan menghapus air mata yang berjatuhan di wajah keriput wanita paruh baya itu.


Emira menggelengkan kepala, dengan lirih berkata “Jangan bicara seperti itu, ayah dan ibu adalah orang tua terbaik. Emira minta maaf karena tidak menceritakannya. Emira sangat takut membuat ayah dan ibu khawatir”


“Ayah dan ibu tidak perlu khawatir, Emira akan mencari pekerjaan lagi. Kali ini, ayah dan ibu harus benar-benar berhenti bekerja. Biar Emira yang bekerja, ayah dan ibu nikmati saja masa-masa ini” Ujar Emira sambil menghapus air mata.


“Kau telah bekerja keras selama ini. Kau membantu membiayai sekolah adikmu, juga membantu ayah dan ibu melunasi hutang-hutang, tapi... kau tidak pernah menceritakan kesulitanmu pada kami. Bahkan, saat semua orang menghujat dan melemparimu dengan tomat dan telur busuk, kau tetap diam seolah tidak memiliki keluarga. Kau selalu berlagak baik-baik saja dan terus tersenyum. Kami juga merasakan sakit jika kau kesulitan. Mulai sekarang, ibu tidak akan mempercayai senyumanmu lagi” Ujar wanita paruh baya itu sambil memeluk erat Emira.


“Maaf...Emira ingin menceritakannya pada ibu, tapi saat teringat masa kecil ibu yang sulit, juga ayah yang menjadi tulang punggung keluarga sejak remaja, Emira jadi tidak bisa mengatakannya” Emira menjeda ucapannya, menarik napas panjang dan menghembuskannya, lalu kembali berkata, “Melihat senyuman ayah dan ibu sudah membuat Emira bahagia dan tidak takut pada apa pun. Jadi, jangan khawatir”


Kedua wanita itu lantas berpelukan penuh haru. Di antara kedua saudaranya, Emira yang paling jarang mengungkapkan isi hati. Setiap mengingat kesuliatan yang dilalui kedua orang tuanya, ia menjadi lemah dan tidak tega jika ingin mengeluh. Itu sebabnya, ia tumbuh menjadi anak yang tertutup dan selalu mengalah. Namun, sikapnya itu justru membuat kedua orang tuanya salah paham dengan mengira bahwa Emira mengalah karena tak suka berdebat. Sehingga, jika terjadi perselisihan dengan kedua saudaranya, ibu atau ayahnya selalu meminta Emira untuk mengalah.


...***...


Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya🖤❤🧡💙💜💛


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah biar author makin semangat update😁🙏🏻


Terima kasih😘🤗🙏🏻