SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 48



Ez menarik lengan Khai, lalu menutup pintu mobil yang sudah terbuka. “Kau mau ke mana?” Tanyanya.


“Lepaskan!” Titah Khai.


“Kau hanya akan menambah masalah dengan bertindak gegabah. Jangan terus bertingkah seperti bocah!”


Khai memandang Ez dengan ekspresi kesal, tapi tidak berkomentar apa pun.


“Tenanglah dulu, kita bisa menyelesaikannya sama-sama” Zal ikut bersuara.


Dza menganggukkan kepala, “Benar, kakak bukanlah satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas ini” Ujarnya.


Khai menghela napas, lalu berkata “Aku tidak ingin Emira terus terlibat!”


“Kami juga perduli pada Emira, tapi kita harus menyelesaikan dengan kepala dingin. Jangan sampai kecerobohan kita semakin menyudutkan Emira” Zhi berkata dengan serius.


Khai berdecak, mengacak rambut Zhi, lalu berkata “Kau sudah bisa berpikir dewasa sekarang?!”


Dengan kompak, keempat member lain juga ikut mengacak rambut member termuda SUN.


“Akh!!!. Aku bukan anak kecil lagi!” Protes Zhi sambil membenarkan rambutnya yang berantakan.


“Aku minta maaf” Ucap Khai dengan lirih.


Para member yang masih tertawa karena berhasil membuat Zhi kesal, menoleh bersamaan ke arah Khai.


“Tidak ada yang salah di antara kita”


Zal merangkul Khai yang berada di sampingnya.


Sambil tersenyum lebar, Chan berkata “Rasanya jadi canggung jika kakak minta maaf begitu”


“Ayo, hadapi bersama”


Meski sering bersikap dingin, namun Ez sangat perduli pada member lain.


Dengan hati yang tulus, Khai mengucapkan terima kasih dan para member menyambutnya dengan pelukan hangat.


***


Emira terperangah melihat bangunan empat lantai yang ada di depannya, sangat besar dan mewah. Halaman yang luas serta rumput-rumput dengan tinggi teratur, membuat hunian itu seperti memiliki lapangan bola pribadi.


Di garasinya juga berjejer banyak mobil, mulai dari mobil antik sampai mobil keluaran terbaru, persis seperti showroom. CCTV juga bertebaran di setiap sudut. Beberapa pekerja yang tengah merapikan tanaman di taman, tersenyum ramah menyambut Emira.


Tak lama kemudian, seorang lelaki dengan setelan formal menghampiri dan berkata, “Selamat datang. Pak ketua sudah menunggu Anda. Silakan ikuti saya”


Emira menganggukkan kepala dan tersenyum, lalu mengekori lelaki berpostur tegap itu.


‘Wahhh...benar-benar seperti mansion yang sering kulihat di film’ Gumam Emira pelan.


Selang beberapa menit, mereka tiba di depan ruangan yang terlihat seperti ruang kerja pribadi. Lelaki itu mengetuk pintu, meminta agar diizinkan masuk oleh si empunya.


Setelah mendapat respon, ia mengajak Emira untuk masuk. Namun, lelaki itu kembali keluar dan meninggalkan Emira bersama pria paruh baya yang dipanggil ‘Pak Ketua’.


Pria paruh baya itu terus diam dan fokus pada lembaran kertas di depannya. Hal itu justru membuat Emira gugup.


‘Dasar bodoh!. Seharusnya, aku mencari tahu lebih dulu di internet. Bagaimana jika beliau ini bukanlah ayah kak Khai?!. Bagaimana caranya untuk kabur jika aku diculik?. Aku sudah lupa letak pintu keluar karena rumah ini terlalu luas!’ Emira bergumam pelan.


Sadar akan kegelisahan Emira, pria paruh baya itu akhirnya memulai percakapan, “Maaf telah membuatmu menunggu”


Emira tersenyum, “Tidak apa-apa” Jawabnya singkat.


“Kau pasti bingung kenapa aku memintamu bertemu”


Emira merespon dengan senyuman karena tak tahu harus berkata apa.


“Seharusnya, aku memperkenalkan diri lebih dulu sebelum memulai pembicaraan” Pria paruh baya itu menjeda kalimatnya, lalu kembali berkata “Namaku, Jazeel Madava. Ayah dari Khair Daniel Madava”


Emira menghela napas lega karena pria paruh baya yang ada di hadapannya benar ayah dari Khai. Itu artinya, ia tidak akan diculik.


“Berita yang tengah beredar saat ini, apa kau benar orangnya?”


“Iy...iya” Suara Emira bergetar karena gugup.


“Jangan gugup seperti itu, aku tidak akan berbuat jahat”


“Bu...bukan seperti itu. Maafkan saya” Emira menundukkan kepala, ia jadi merasa tak enak hati karena kebiasaannya bicara terbata saat sedang gugup.


“Banyak perempuan di luar sana yang mengagumi dan menyukai putraku, bahkan mereka berani melakukan cara licik demi mendapat perhatiannya. Tapi, aku tidak tahu kenapa putraku malah terlibat masalah dengan asistennya. Apa kau punya tujuan di balik ini semua atau tidak, aku juga tidak tahu. Hanya saja...masalah ini tentu berpengaruh pada karirnya. Bahkan, rekan bisnisku juga mengikuti pemberitaan kalian. Bukan tanpa tujuan, mereka sengaja menggali berita ini agar bisa menyeret namaku juga”


Belum sempat pria paruh baya itu melanjutkan, Emira telah lebih dulu membuka suara.


“Maaf jika saya menyela, tapi...apa sebenarnya yang ingin Anda katakan?”


Dengan senyum yang mengembang, pria itu menjawab “Aku suka sikap terus terangmu. Baiklah, aku tidak akan berbasa-basi lagi. Hubungan kami tidak baik sejak lama, jika kau bisa membuat Khai memaafkan dan kembali ke rumah ini lagi, maka aku akan membersihkan nama baikmu serta membuat Khai tetap menjadi idol dengan banyak penggemar”


“Tak hanya itu, aku juga akan memberimu imbalan. Jika melihat keadaan sekarang, kau harusnya menerima tawaranku” Ujar pria paruh baya itu lagi.


Emira menghembuskan napas berat, lalu dengan tegas berkata “Tidak perduli imbalan apa yang akan Anda berikan, saya tetap menolaknya. Saya bekerja menjadi asisten SUN dengan sepenuh hati, dan juga...kak Khai adalah idol yang disayangi oleh penggemar karena bakat serta kebaikannya. Penggemar yang sesungguhnya tidak akan terpengaruh pada gosip dan akan selalu mendukungnya”


“Kau membuatku terkejut, sekarang...aku jadi paham kenapa kau bisa terlibat dengan putraku. Baiklah, jika itu keputusanmu. Tapi, aku akan tetap meminta bantuanmu agar Khai mau memaafkanku. Aku hanya ingin putraku kembali. Harta, kekuasaan, kehormatan, dan semua yang kumiliki tidak ada artinya. Aku merasa sia-sia mengumpulkan semua itu jika hanya untukku sendiri” Pria paruh baya itu terdiam sejenak, mengatur emosi agar tetap stabil. Lalu kembali bergeming, “Sejujurnya, aku merasa kesepian selama bertahun-tahun. Saat melihat Khai tumbuh dengan baik dan bisa menemukan jalannya sendiri, aku bahagia tapi juga merasa menjadi ayah paling buruk di dunia, karena putraku berdiri dengan gagah tanpa bimbinganku. Aku merasa tidak berguna karena tidak menemaninya berjuang, dia pasti kesulitan dan ketakutan saat itu. Sekarang aku menyesal, tapi putraku sudah membangun tembok yang sangat tinggi di anatara kami”


Emira bingung harus berbuat apa, ia tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam masalah keluarga orang lain. Tapi dilain sisi, ia merasa tak tega pada ayahnya Khai yang sudah menyesali perbuatannya.


“Sangat sulit membujuk kak Khai, saya tidak yakin bisa. Tapi, saya akan berusaha”


BRAKKK...


Pintu terbuka... dengan kompak, Emira serta pria paruh baya itu menoleh ke arah sumber suara.


Wajah Khai memerah karena menahan marah, lalu menarik lengan Emira sambil berkata “Ayo, pergi dari sini!”


Emira terkejut, tapi tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti perkataan Khai.


Tanpa basa-basi, Khai berkata “Saya harap, Anda tidak mengatakan sesuatu yang membuatnya terpengaruh. Saya akan pergi, silakan lanjutkan pekerjaan Anda” Khai lalu meninggalkan ruang kerja ayahnya.


Sementara, pria paruh baya itu hanya diam menatap kepergian putranya begitu saja.


.


.


.


.


.


Di dalam mobil, Khai tidak bicara apa pun. Emira juga tak berani mengajaknya bicara. Bukannya ke SUN house, Khai justru mengajak Emira singgah di tempat rahasianya.


“Kenapa kita ke sini?”


Emira akhirnya memberanikan diri bertanya.


“Suasananya sedang tidak baik, aku tidak bisa pulang sekarang” Jawab Khai. Ia terdiam sejenak, lalu bertanya, “Apa yang beliau katakan?”


“Tidak ada. Beliau hanya ingin kakak kembali ke rumah. Beliau sudah menyesali perbuatan di masa lalu, jadi cobalah untuk memaafkan. Kita tidak akan bisa bahagia jika terus menyimpan rasa sakit, jadi... cobalah untuk berdamai dengan diri kakak sendiri”


Mendapat tatapan tajam dari Khai, membuat Emira kembali bergeming “Aku tidak bermaksud ikut campur, tapi...pikirkanlah dengan benar ucapanku tadi”


Emira menarik napas dalam, lalu kembali melanjutkan ucapannya, “Aku juga pernah merasa kecewa pada kedua orang tuaku. Bahkan, salah satu alasanku menjadi asisten SUN adalah rasa kecewa itu. Tapi... sekarang aku sadar, seburuk apa pun perlakuan yang kita terima dari orang tua, kita tetap harus menghormatinya. Orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya, walaupun terkadang caranya membuat si anak menjadi marah atau bahkan trauma. Tapi... akan lebih baik merasakan itu semua dari pada tidak pernah merasakan atau tidak bertemu orang tua sama sekali”


“Pasti ada hal baik yang pernah kalian lewati bersama. Cobalah untuk mengingat hal itu” Ujar Emira lagi. Sedangkan Khai hanya diam, mencerna setiap perkataan Emira.


Khai berdecak, “Kau banyak bicara sekali, ya!” Ucapnya kemudian.


"Aku penasaran, bagaimana kakak tahu jika aku bertemu beliau?"


"Kau pikir aku bodoh sepertimu, sampai hal kecil seperti itu saja tidak tahu" Khai tersenyum mengejek. Sementara Emira hanya diam tak menanggapi.


Beberapa menit mereka saling diam, menikmati hembusan angin malam yang menyegarkan.


Khai menoleh pada Emira yang ada di sampingnya, “Maaf” Ujarnya dengan pelan.


Emira menoleh sebentar, lalu mengalihkan pandangan “Untuk apa?” Tanyanya.


“Kau banyak terkena masalah karena aku” Sesal Khai.


Emira menghela napas, beranjak dari duduknya lalu berdiri di tepian balkon, menyandarkan tubuh pada pagar pembatas berwarna putih.


“Apa yang terjadi saat ini adalah konsekuensi dari pekerjaan. Sejak awal harusnya aku tahu, hal seperti ini mungkin saja terjadi, tapi... aku malah tidak mundur dan bertahan sampai sekarang. Jadi... kakak jangan merasa terbebani” Terang Emira.


Khai menghela napas lega karena Emira memahami situasinya. Ia beranjak dari duduknya, lalu berdiri di samping Emira.


“Sepertinya, mereka memang ingin menggangguku. Padahal, kau pernah berkencan dengan Ez tapi tidak ada berita sama sekali soal itu. Kejadian yang terjadi secara tidak sengaja malah menjadi gosip besar seperti ini”


Emira menoleh, matanya membola menatap Khai. “Kencan?!” Tanyanya.


Khai menganggukkan kepala sambil berkata, “Kalian pernah makan malam bersama, bukankah itu kencan?”


Emira berdecak, tak percaya dengan ucapan konyol Khai. “Kak Ez mentraktirku sebagai ucapan terima kasih. Apa itu bisa disebut kencan?”


“Wahhh... kau ini bodoh atau polos?. Kau pikir itu tempat makan yang umum untuk mentraktir teman?!”


Emira terdiam, apa yang dikatakan Khai ada benarnya. Tempat itu sangat mewah dan semua menunya juga mahal.


“Kenapa?. Kau sudah sadar sekarang?” Tanya Khai lagi, namun Emira hanya diam.


“Sejak cinta pertamanya menikah, Ez tidak pernah dekat dengan perempuan manapun. Dia bahkan bersikap dingin”


“Kami hanya pergi makan dan tidak ada pembicaraan serius” Ujar Emira dengan polos.


Sambil tertawa, Khai berkata “Jadi kau berharap dia akan mengatakan sesuatu yang serius?”


Wajah Emira memerah karena malu, lalu dengan kesal berkata “Bukan itu maksudku!. Kami juga tidak mungkin berkencan!”


“Aku akan memegang ucapanmu!. Kalau begitu...kau hanya boleh berkencan denganku!” Seru Khai, lalu melenggang meninggalkan Emira.


“Ba...Apa?!!!” Emira terkejut dengan ucapan Khai. Ia mengejar sambil memanggil Khai, namun sang empunya nama tidak mengindahkannya.


...***...


Happy Reading... Semoga reader suka cerita author💜💛💙


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah🙏🏻🤗


Terima kasih atas dukungannya🤗😘🙏🏻