SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 31



Para member sedang bersiap untuk melakukan pemotretan. Tak hanya SUN yang menjadi modelnya, tetapi juga ada Sheril, SKY, dan beberapa artis lainnya. Pemotretan yang akan mereka lakukan berkonsep underwater. Setelah Sheril selesai melakukan pemotretan, kini giliran SUN.


Sembari menunggu para member selesai, Emira sigap menyiapkan handuk mereka masing-masing. Meskipun sudah disediakan oleh pihak penyelenggara acara, namun mereka lebih nyaman jika membawanya dari rumah.


“Apa kabar?. Kita bertemu lagi”


Sheril melambaikan tangannya.


“Baik” Jawab Emira singkat.


“Sepertinya, kau sedang terburu-buru” Ucap Sheril saat Emira melenggang dari hadapannya.


“Maaf, saya harus mengantarkan ini”


Emira menunjukkan handuk yang ada di tangannya.


Sheril melirik jam tangannya, “Pemotretannya selesai lima belas menit lagi, kita masih punya waktu untuk mengobrol” Ujarnya.


“Saya harus tetap mendampingi mereka, maaf” Tolak Emira.


“Kau tak perlu bicara formal begitu. Aku sudah menganggapmu seperti temanku. Meskipun, kita ada di level yang berbeda” Sheril terdiam sejenak, menunggu reaksi Emira. Setelah tak mendapat respon, ia kembali bergeming, “Maksudku...aku adalah orang yang rendah hati dan bisa berteman dengan siapa pun”


Emira hanya menganggukkan kepala, tak berminat meladeni Sheril yang nampak senang mengganggunya.


“Apa kau senang mengabaikan orang lain seperti ini?”


Sheril mengepalkan tanganya karena kesal.


“Bukan begitu, saya hanya tidak tahu harus bicara seperti apa. Bukankah, kita ada di level yang berbeda?. Anda sendiri yang mengatakannya”


Emira meninggalkan Sheril yang masih terdiam di tempatnya.


‘Berani sekali dia bicara seperti itu!!!’


Sheril nampak semakin geram. Ia mengejar Emira yang ada di depannya. Namun sial, ia tersandung dan terjatuh. Sebelum terjatuh, ia sempat menarik tangan Emira. Sontak saja hal itu membuat keduanya terjatuh di kolam renang, karena posisi mereka berada di tepian kolam.


Para staf berlari menuju kolam saat melihat ada yang terjatuh. Mereka sigap membantu Sheril naik ke permukaan dan melupakan bahwa masih ada seseorang lagi yang juga butuh bantuan.


“Ayo”


Seseorang mengulurkan tangannya, membantu Emira naik ke permukaan.


Emira tertegun saat menyadari lelaki yang kini ada di hadapannya adalah leader SKY.


“Apa kau baik-baik saja?”


Lelaki itu mengibaskan tangannya di depan wajah Emira, mencoba mengembalikan kesadaran gadis itu.


“Terima kasih” Ucap Emira pelan.


“Sepertinya, aku pernah melihatmu. Apa kita pernah bertemu?”


Belum sempat Emira menjawab, para member SUN telah lebih dulu menghampiri.


“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Zhi.


“Kenapa bisa terjatuh?” Dza juga ikut menginterogasi Emira.


“Kau membuatku khawatir, kami langsung berlari saat ada staf yang mengatakan bahwa kau terjatuh di kolam” Chan ikut bersuara.


“Aku baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir”


Emira tersenyum lebar, membuktikan bahwa ia baik-baik saja.


Para member terlihat lega saat melihat ekspresi Emira.


“Kenapa kau di sini?” Tanya Zhi pada leader SKY.


“Dia yang membantuku naik kepermukaan” Jawab Emira, sedang leader SKY menganggukkan kepala menyetujui.


“Kau bisa sakit jika memakai baju yang basah, cepat ganti!” Titah Zhi.


“Ak...aku tidak membawa baju ganti”


Emira menundukkan kepala.


“Karena pemotretan telah selesai, aku akan pulang lebih dulu bersama Emira” Ujar Khai, lalu mengajak Emira pergi.


Kelima member setuju dengan tindakan Khai, karena mereka juga khawatir jika Emira sakit.


‘Apa mereka tidak terlalu baik pada asistennya?!. Menarik juga!’ Ucap leader SKY sambil menatap kelima member SUN yang semakin menjauh dari pandangannya.


***


“Apa Sheril yang melakukannya?” Tanya Khai saat mereka telah berada di dalam mobil.


“Tidak” Emira menggelengkan kepala.


“Kenapa kalian bisa terjatuh bersama?”


“Dia tersandung ketika aku berada di dekatnya”


“Lebih tepatnya, dia tersandung dan menarikmu agar ikut terjatuh bersamanya!” Terang Khai, sementara Emira hanya diam tak bergeming.


“Bukankah sudah ku katakan, beritahu aku jika dia mengganggumu” Ujar Khai dengan tajam.


“Semua terjadi secara tiba-tiba. Aku juga tidak tahu akan terjatuh” Emira menatap ke arah jendela, menghindari tatapan Khai yang mengerikan.


“Kita akan ke mana?. Ini bukan jalan menuju SUN house” Tanya Emira saat menyadari jalan yang mereka lalui berlawanan arah dengan jalan pulang.


“Aku ingin singgah terlebih dulu”


Khai menghentikan mobilnya di depan butik, membelikan pakaian ganti untuk Emira.


“Pilihlah sesukamu” Ucap Khai.


Tiga puluh menit kemudian, Emira sudah siap. Ia memilih gaun tanpa corak berwarna cokelat muda yang panjangnya hampir semata kaki, dengan lengan di atas siku. Dan memakai sepatu yang senada dengan warna gaunnya. Pada bagian depan sepatu terdapat tujuh butir mutiara yang berkilau. Penampilannya semakin elegan karena rambut panjangnya dibiarkan terurai.


Khai memperhatikan penampilan Emira, namun tidak memberikan komentar apa pun.


“Kau lama sekali” Ucap Khai, lalu menuju kasir untuk membayar.


“Maaf” Ucap Emira lirih. Ia lantas mengekori Khai.


Setelah selesai, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tidak butuh waktu lama untuk mereka tiba di tempat tujuan.


Tanah di belakang hotel KH milik ayahnya Khai, mulanya tanah kosong itu akan difungsikan sebagai pabrik karena terletak di perbukitan. Namun, Khai tidak setuju karena khawatir limbah dari pabrik tersebut akan berdampak pada warga sekitar. Dan akhirnya, Khai menyulap bukit itu menjadi tempat wisata pribadinya.


“Wah...ternyata ada tempat seperti ini di sekitar sini” Ucap Emira dengan girang.


“Aku sering ke sini untuk menenangkan pikiran”


“Apa ada orang lain yang pernah ke sini?” Tanya Emira penasaran.


“Saat SUN belum terkenal, kami sering ke sini untuk beristirahat. Tapi, sekarang kami terlalu sibuk” Jawab Khai. Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya pelan, “Bukit ini seolah menggambarkan dua sisi kehidupan yang berbeda. Lihat itu” Khai menunjuk pada jalanan kota yang padat oleh kendaraan dan lampu-lampu jalan yang terang. “Dan sekarang, lihat ini” Khai menunjuk pada sisi lain, yang memperlihatkan rumah-rumah warga.


“Meskipun ada di tempat yang sama, tapi kita bisa melihat cahaya yang berbeda. Jika melihat dari depan, kita akan melihat kesibukkan dunia yang seolah tidak ada habisnya. Dan jika melihat ke belakang, kita akan menemukan kehidupan yang damai. Rumah-rumah dengan lampu sederhana, yang justru bisa memberikan ketenangan” Emira melirik Khai, memastikan apa yang diucapkannya benar.


“Aku tidak tahu kenapa kakak mengajakku ke sini, tapi... aku ingin berterima kasih karena kakak sudah menunjukkan tempat ini”


Ucap Emira sambil tersenyum, sedang Khai malah memalingkan wajah.


“Ternyata, kakak pandai menyelam” Ujar Emira saat mengingat pemotretan di dalam air, Khai merupakan member paling lama yang bisa bertahan.


“Jangan berlebihan, aku memang mahir dalam segala hal. Jika kesempurnaan bernilai 100%, maka aku ada di tingkat 99%.” Khai terlihat sangat percaya diri dengan ucapannya.


Emira berdecak, tak mau menyangkal Khai yang tentu tidak akan mau mengalah darinya. Fokus Emira teralihkan pada ponselnya karena berbunyi. Matanya berbinar saat melihat pesan yang baru saja diterimanya.


“Kenapa?” Tanya Khai.


“Aku mendapatkan bonus. Sebenarnya ini cukup aneh, karena saat menandatangani kontrak tidak ada informasi mengenai ini. Pak Arsel juga baru memberitahu, jika bonus seperti ini memang kerap diberikan pada pegawai teladan. Tapi, kapan mereka menilainya?” Emira terlihat bingung.


“Jangan pikirkan itu. Kau sudah melakukan kewajibanmu, wajar jika sekarang kau mendapatkan hakmu” Terang Khai.


“Benar juga” Emira sangat girang, karena ia memang membutuhkan dana tambahan untuk pamannya.


“Ayo, pulang. Mereka pasti sudah menunggu sejak tadi” Titah Khai. Lalu berjalan mendahului Emira yang mulai mengekorinya.


***


Khai menghembuskan napas kasar setelah mengetahui ada yang tengah mengikuti mobilnya.


“Kenapa?” Tanya Emira yang juga menyadarinya.


“Rupanya mereka tidak menyerah juga!. Pakai ini” Khai memberikan paper bag yang berisi kaca mata hitam, topi, dan juga masker pada Emira.


“Kapan kakak menyiapkan ini?”


“Mereka mengikuti kita sejak di butik tadi. Aku sengaja menyiapkannya untuk berjaga-jaga”


“Siapa mereka?”


“Entahlah. Sepertinya, paparazzi atau mungkin musuh ayahku” Ucap Khai.


Emira tercengang mendengar jawaban Khai yang sangat santai.


Sambil melihat pantulan dirinya yang mirip mata-mata pada jendela mobil, Emira berkata "Wah... kita seperti tengah bermain film mafia"


Khai berdecak mendengar penuturan Emira, “Baiklah. Akan ku tunjukkan cara mafia melarikan diri” Khai tersenyum menyeringai.


Khai sengaja memilih jalan pintas yang tidak banyak dilewati pengendara lain, sehingga mobilnya bisa melaju dengan kecepatan tinggi. Bahkan, ia mengendari mobil seperti orang yang sedang mabuk. Hal itu membuat Emira menutup mata dan terus merapalkan doa karena sangat takut.


Setelah berhasil lolos dari kejaran paparazzi, Khai tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga memasuki kawasan SUN house.


“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Khai setelah tiba di depan rumah utama.


“Aku bertanya!!!” Khai berteriak karena Emira masih terdiam, tidak memberikan respon sama sekali.


“Bisa-bisanya kakak bertanya seperti itu, di saat jantungku hampir berpindah posisi!!!” Teriak Emira dengan kesal.


Khai tersenyum, tak menanggapi kekesalan Emira. Ia malah keluar mobil dengan santai, meninggalkan Emira yang masih di tempatnya.


Emira menoleh saat seseorang mengetuk kaca jendela mobil.


“Apa kau tidak ingin masuk?. Atau masih ingin berperan sebagai mafia?!”


Khai tersenyum menyeringai, seolah tengah mengejek Emira.


‘Akh!!!. Ingin sekali aku membasmi Khaiuman yang menyebalkan itu!’ Gerutu Emira sambil menatap Khai yang melenggang dengan santai.


...***...


Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻


Terima kasih 😘🤗🙏🏻


Follow ig author yuk temen-temen, ada banyak video SUN dan Emira di sana😁


Ig : Tayana_uri