
Tempat pertama yang mereka datangi adalah makam ibunya Khai. Meskipun sejak sehari yang lalu Khai sudah meninggalkan makam ibunya, namun mereka tetap ingin berkunjung dan berharap Khai kembali lagi ke sana.
“Kenapa tempat ini sangat jauh?. Pinggangku jadi sakit karena terlalu lama duduk” Keluh Pak Arsel setelah sampai tempat tujuan.
“Padahal Anda yang memaksa untuk ikut, tapi sekarang malah mengeluh” Protes Chan.
“Ya Tuhan, anak ini keterlaluan sekali” Pak Arsel lantas memukul bahu Chan.
Pak Arsel telah bersama para member SUN dalam waktu yang lama, beliau tidak pernah marah jika mendapat kritikan dari para member. Bahkan, beliau senang karena para member tidak sungkan seperti saat awal mereka bertemu. Meskipun begitu, mereka tetap bersikap sopan dan menghormati Pak Arsel layaknya orang tua sendiri.
Seolah tenggelam dalam pikiran masing-masing, mereka hanya diam saat menatap makam ibunya Khai. Walaupun sudah banyak bunga di sana, namun Emira tetap meletakkan bunga yang tadi dibawanya, juga tak lupa merapalkan doa.
“Tempat ini sangat indah, Anda pasti senang bisa beristirahat dengan tenang di tempat seperti ini. Meskipun terlambat, tapi saya ingin mengucapkannya. Terima kasih karena telah melahirkan putra yang begitu baik dan hebat. Saya sangat tidak sopan, seharusnya saya menyapa Anda lebih awal. Maafkan saya, dan sebagai gantinya...saya akan menjaga putra Anda dengan baik” Meskipun pelan, namun ucapan Pak Arsel terdengar sangat jelas.
Zhi menepuk-nepuk punggung Pak Arsel dengan pelan, mencoba memberi kekuatan pada lelaki paruh baya yang sangat berjasa dalam hidupnya.
“Ayo, kita pulang. Hari sudah sore, Khai juga sepertinya tidak akan ke sini” Ucap Ez setelah tiga puluh menit mereka di sana.
Ez mengeluarkan ponselnya yang terus berdering dari saku celana, membaca pesan yang baru saja diterimanya. Lalu, menyimpan kembali benda pipih tersebut.
“Kita harus bergegas sebelum Khai menghilang lagi” Ucapnya.
“Apa kakak tahu keberadaan kak Khai saat ini?” Tanya Emira antusias.
“Iya” Ez menganggukkan kepala.
“Benarkah?. Di mana?” Tanya Zhi dengan senyum yang mengembang.
“Ikuti saja aku” Jawab Ez, lalu berjalan mendahului para member.
***
Satu jam perjalanan, namun tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan sampai di tempat tujuan. Hal itu membuat Pak Arsel gelisah, terlebih karena Ez tidak mau memberitahu ke mana mereka akan pergi.
Untuk menjawab rasa penasarannya, Pak Arsel akhirnya bertanya, “Sebenarnya, kau akan membawa kami ke mana?. Kenapa kita menuju bukit?”
“Tenang saja, aku tidak tertarik untuk menculik Anda” Goda Ez.
“Tentu saja, kau akan rugi jika melakukannya” Jawab Pak Arsel dengan senyuman lebar.
Emira memperhatikan jalanan yang terlihat tidak asing baginya, mencoba mengingat kembali tempat yang sepertinya pernah ia datangi. Matanya membola saat menyadari sesuatu. Tempat yang akan mereka tuju adalah tempat wisata pribadi milik Khai yang berada di bukit belakang hotel KH.
“Aku tahu tempat ini”
“Kau pernah ke sini?” Tanya Dza.
“Eum, kak Khai pernah mengajakku ke sini” Jawab Emira.
“Khai?. Kalian berdua ke sini?” Ez meyakinkan.
“Iya” Menyadari sesuatu, Emira segera menjelaskan, “Saat bajuku basah karena terjatuh di kolam, aku dan kak Khai pulang lebih dulu. Lalu, kami singgah sebentar karena ada barang kak Khai yang tertinggal di sini”
“Begitu rupanya. Ku kira, kak Khai sengaja mengajakmu ke sini” Ujar Chan.
“Sepertinya, hanya aku yang belum tahu tempat ini. Aku jadi iri padamu, Em” Pak Arsel memasang wajah sedih, sehingga membuat para member tak bisa menahan tawa.
‘Kenapa kau berbohong, Em?. Sekalipun barangnya ada yang tertinggal, Khai tidak mungkin mengajak sembarang orang ke tempat pribadinya. Jika dia sudah menunjukkan tempat ini, itu berarti kau bukan sembarang orang baginya. Hah, kenapa aku jadi kesal?!’ Monolog batin Ez. Ia mengatur napasnya, lalu kembali fokus memperhatikan jalan.
Zhi segera berlari setelah turun dari mobil, tingkahnya persis seorang anak yang sudah tidak sabar menemui ayahnya ketika pulang kerja. Sidik jari para member sudah terkoneksi pada pintu masuk, sehingga membuat mereka leluasa untuk keluar-masuk meski tanpa Khai.
“Wahhh...apa kalian sengaja menyembunyikan tempat ini?. Kalian bahkan punya aksesnya” Sindir Pak Arsel.
“Maafkan kami. Tempat ini milik Khai, ini adalah satu-satunya permintaan Khai pada ayahnya. Dulu kami sering melarikan diri di sini, saat seisi dunia tengah meremehkan kami” Terang Ez.
“Meskipun ini adalah tempat rahasia, tapi setidaknya beritahu aku. Apa masih ada hal yang kalian rahasiakan lagi?” Pak Arsel mencoba menyelidiki.
“Entahlah, kita lihat saja nanti” Jawab Ez dengan tenang.
“Dia memang sedikit bicara, tapi sekali mulutnya terbuka, bisa mematikan lawan bicaranya” Ucap Pak Arsel, sementara Ez dan member lain malah tertawa mendengarnya.
“Kak...”
Zhi berlari menghampiri Khai yang tengah duduk dengan tatapan kosong.
“Aku sangat khawatir pada kakak” Ucap Zhi.
Chan dan Zhi lalu memeluk Khai bersamaan, namun Khai hanya diam tak bergeming.
“Ayo, kita pulang” Ajak Chan.
“SUN house sangat sepi tanpa kakak” Ucap Zhi lagi.
“Kami tahu kesedihanmu, tapi kau tidak bisa kabur terus seperti ini” Pak Arsel menghampiri Khai, dan ikut duduk di sampingnya.
“Kenapa kalian ke sini?!. Cepat pergi!!!. Aku tidak ingin melihat siapa pun sekarang!!!” Ujar Khai dengan lantang.
“Kami mengkhawatirkanmu, kenapa kau malah mengusir kami?” Tanya Ez.
“Aku tidak meminta kalian mengkhawatirkan atau mencariku, jadi cepat pergi!!!”
Khai bermaksud menepis tangan Ez dari bahunya, namun tanpa sengaja malah terkena wajah Ez.
“Kau memukulku?!. Dasar pengecut!!!” Geram Ez.
“Pengecut kau bilang?!”
“Iya, kau pengecut yang hanya bisa bersembunyi. Kau bodoh!!!”
Ez lantas memukul wajah Khai.
“Beraninya kau memukul wajah tampanku” Khai tak tinggal diam, ia membalas pukulan Ez.
Melihat kedua kakaknya saling pukul, Zal bermaksud melerai. Namun, ia malah tekena pukulan kedua kakaknya sehingga membuatnya kesal dan membalas pukulan keduanya.
“Bocah ini, beraninya kau memukulku!!!” Ujar Khai dan Ez beriringan.
“Kalian yang lebih dulu memukulku” Timbal Zal.
Bukannya berhenti, mereka malah kembali berkelahi. Dza, Chan, dan Zhi yang mulai geram, menghampiri ketiganya. Bukan untuk melerai, mereka bertiga malah ikut berkelahi.
Pak Arsel dan Emira menjadi panik karena keenam member berkelahi sungguhan, persis seperti film laga.
“Bagaimana cara menghentikan mereka?!” Tanya Pak Arsel frustrasi, bahkan suaranya terdengar parau.
Emira menoleh sekitar, mencari benda yang bisa digunakan untuk menghentikan keenam member yang bertindak semakin bar-bar.
Namun, ia tidak menemukan apa-apa selain meja kaca yang ada di dekatnya. Mulanya ia ragu, tapi melihat para member terluka karena ulah mereka sendiri, akhirnya ia menjadi yakin. Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya sebelum benar-benar menggulingkan meja kaca tersebut. Para member menoleh bersamaan karena suara pecahan meja kaca yang sangat keras.
“Berhenti!!!!!!. Aku mohon berhenti!!!” Teriak Emira dengan keras, hingga urat lehernya terlihat jelas. Ia lalu terduduk di rumput dengan lemas, air matanya mulai menetes.
Zhi membaringkan tubuh di rumput, mengatur napas yang tesengal karena lelah. Chan dan Dza melakukan hal yang sama seperti Zhi. Beberapa detik kemudian, Zal menyusul, lalu Ez dan Khai juga melakukannya.
Pak Arsel dan Emira merasa lega karena para member sudah tidak berkelahi lagi, mereka malah berbaring bersama di bawah sinar rembulan.
“Bulannya bersinar sangat cerah malam ini, tapi kita malah berkelahi seperti orang bodoh” Ucap Zal.
“Sesekali kita perlu menjadi bodoh untuk menyadari sesuatu” Jawab Dza, matanya menatap lurus ke langit.
“Akh...rahangku sakit sekali, kakak memukulku terlalu keras” Protes Zhi pada Zal.
“Benarkah?. Aku tidak tahu jika yang ku pukul itu kau”
“Memangnya, siapa yang ingin kakak pukul?” Tanya Chan.
“Kau”
Jawaban Zal membuat member lain tertawa, sedang Chan berdecak kesal.
“Ayo, berlibur sungguhan. Tanpa kamera, tanpa media, tanpa skrip, dan tanpa aturan. Hanya kita, enam orang yang akan saling menguatkan dalam keadaan sulit” Usul Ez.
“Ayo, lakukan semau kita” Ujar Chan.
“Kita butuh mengisi energi agar ‘My Spring’ tidak khawatir” Ucap Dza yang kini matanya sudah terpejam.
“Ya, ayo lakukan” Jawab Khai. Butiran bening mengalir dari kedua sudut matanya. Ia sadar bahwa teman-temannya tidak akan pernah meninggalkannya sendirian. Ia merasa malu karena sempat berpikir bahwa kepergian ibunya adalah akhir dari segalanya. Meskipun sangat terpukul, namun ia tidak bisa berhenti begitu saja.
“Setelah melihat kejadian tadi, aku tidak akan membiarkan kalian pergi tanpa orang lain!”
Pak Arsel menjeda kalimatnya, lalu kembali bergeming, “Jika kalian ingin berlibur, Emira akan ikut bersama kalian”
“Apa???” Mata Emira membola mendengar pernyataan Pak Arsel, begitu juga para member.
‘Bagaimana cara menghadapi enam orang aneh ini sendirian?’ Gumam Emira, raut wajahnya terlihat tertekan akan keputusan Pak Arsel.
...***...
Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛
Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻
Terima kasih 😘🤗🙏🏻