SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 29



Emira masuk terlebih dulu, meninggalkan para member yang masih berkumpul di taman sembari menikmati kopi hangat. Mereka sangat tenang, seolah tengah tenggelam dalam pikiran masing-masing. Bahkan ponsel yang mereka bawa, tergeletak begitu saja di atas meja kayu berwarna cokelat pekat. Api unggun yang tadi menyala dengan terang juga mulai meredup.


“Sebenarnya, masalah apa yang dialami Emira?” Zal memulai pembicaraan setelah mereka terdiam cukup lama.


“Aku tidak mendengarnya langsung dari Emira, tapi Pak Arsel yang memberitahu” Jawab Zhi.


“Apa yang beliau katakan?” Tanya Ez.


“Sewaktu Emira duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, dia pernah mengalami kecelakaan yang parah. Ayahnya yang biasa menjemputnya ketika pulang Sekolah, di hari itu berhalangan. Lalu, pamannya yang menggantikan untuk menjemput Emira. Ketika di jalan, mereka kecelakaan sehingga pamannya mengalami kelumpuhan. Sejak saat itu, Emira jadi sering disalahkan. Padahal dia juga korban, bahkan dia mengalami trauma. Pamannya yang lumpuh dan tidak bisa bekerja, meminta pertanggung jawaban pada kedua orang tua Emira. Karena orang tuanya tidak mampu untuk membiayai operasi, jadi pamannya meminta agar keluarga Emira yang menanggung biaya hidupnya seumur hidup”


“Seumur hidup?!” Khai mengulang perkataan Zhi dengan geram.


Zhi menganggukkan kepala, lalu melanjutkan ceritanya, “Paman Emira memiliki seorang putri yang usianya tidak berbeda jauh dari Emira. Sejak Emira bekerja, dia mengambil alih tanggung jawab orang tuanya untuk membiayai hidup pamannya. Emira kuliah sambil bekerja karena tak ingin menambah beban kedua orang tuanya. Dia sangat bekerja keras karena ingin membantu melunasi hutang keluarganya. Dia merasa semua itu adalah kesalahannya, sehingga dia harus bertanggung jawab. Putri dari pamannya sering meminta uang pada Emira, dan akan marah atau bahkan memaki jika Emira tidak memberinya uang. Sepupunya selalu berkata, hidupnya tidak akan susah jika ayahnya tidak menjemput Emira. Hal itulah yang membuat Emira selalu dihantui rasa bersalah dan tidak bisa menolak permintaan sepupunya. Emira tumbuh dengan kata-kata seperti itu setiap harinya”.


“Bukankah, sepupunya bisa dituntut atas pemerasan?” Tanya Zal.


“Benar. Kenapa Emira membiarkan orang seperti itu terus mengganggunya?!” Dza juga ikut berkomentar.


“Emira sangat baik dan mudah tersentuh, tidak akan mungkin tega melakukannya” Chan memberi tanggapan.


“Menjadi kejam terkadang perlu” Khai beranjak dari duduknya.


“Kakak mau ke mana?” Tanya Zhi.


“Tidur, ini sudah hampir tengah malam” Khai melenggang meninggalkan kelima member lainnya.


***Pagi Hari***


Para member SUN tengah menjadi bintang tamu pada acara ‘Variety Show’. Syuting berlangsung di kolam renang karena mengusung tema ‘Air’. Para member diminta untuk menyelesaikan misi dengan tiga tahap permainan, yang setiap tahapnya memiliki tantangan yang berbeda-beda. Pada tahap pertama, mereka akan melewati jembatan di atas kolam. Namun, jembatan itu bukanlah jembatan biasa. Mereka akan diberi tebak-tebakan dan jika tidak bisa menjawab, jembatan itu akan bergerak sehingga bisa membuat peserta terjatuh ke kolam. Bukannya takut, para member justru sangat girang karena mereka memang senang berenang. Bahkan mereka melakukannya sangat alami, seolah tidak sedang syuting.


Permainan kedua yaitu, ban berjalan. Para member dibagi menjadi tiga tim, setiap tim beranggotakan dua orang. Satu orang akan naik di atas ban, dan yang satunya lagi akan mendorong sampai ke ujung kolam. Tim yang lebih dulu sampai, akan menjadi pemenangnya.


Ez dan Chan


Zal dan Khai


Zhi dan Dza


“Ban ini terasa lebih berat karena kau terus bergerak” Protes Dza pada Zhi yang tengah asyik menjahili Khai dengan memercikkan air.


Khai tertawa melihat Zhi mendapat omelan, sehingga membuat Zhi semakin gencar memercikkan air ke arah Khai. Percikkan air itu tak hanya mengenai Khai tapi juga Zal.


Mata Zal menjadi perih karena terkena air. Tanpa sengaja Zal mengucek matanya, Khai yang juga terus bergerak membalas perbuatan Zhi hingga tak sadar jika Zal membiarkan bannya bergerak sendiri. Karena tidak seimbang, Khai terjatuh dari ban. Sontak hal itu membuat keempat member tertawa, sedang Zal terkejut karena ulahnya sendiri.


“Kenapa kau melepaskan bannya?” Tanya Khai.


“Mataku terasa perih karena terkena air. Kakak terlalu banyak gerak jadi tidak seimbang” Zal membela diri sebelum mendapat omelan.


Zhi tertawa puas, “Kakak berdosa padaku!” Umpatnya. Sementara Khai malah ikut tertawa.


Khai sudah sangat paham, jika satu tim dengan Zal pasti akan ada badai. Sementara itu, tim Chan sangat tenang sampai ke ujung kolam, mereka hanya menonton kedua tim yang rusuh.


‘Aku sangat tidak suka satu tim dengan kak Ez saat bermain’ Gerutu Chan.


“Apa kau baru saja mengumpatku?” Tanya Ez.


“Tidak!” Chan menggelengkan kepala.


‘Padahal aku mengumpat dengan pelan, kenapa dia bisa dengar?!’ Gumam Chan pelan.


Ez dan Chan memiliki karakter yang bertolak belakang. Chan sangat aktif, sedangkan Ez tidak suka terlalu banyak gerak. Namun setiap pembagian tim, mereka justru sering ada di tim yang sama.


Setelah syuting selesai, Zhi, Chan, dan Dza meminta izin ke supermarket sebelum kembali ke SUN house. Di tengah perjalan, mereka bertemu dengan seorang nenek yang membawa kue cukup banyak.


“Kasihan sekali nenek itu. Ayo, kita beli kuenya” Ajak Chan pada kedua rekannya.


“Kau yakin nenek itu penjual kue?” Dza nampak ragu.


Mereka lantas menghampiri nenek yang mereka kira penjual kue.


“Boleh saya membelinya?. Saya akan membeli semuanya” Ucap Chan dengan percaya diri.


“Apa maksudmu?” Tanya sang nenek.


“Saya ingin membeli kue nenek” Chan kembali bergeming.


“Kue yang mana?”


Chan menghembuskan napas pelan, ia menoleh ke arah kedua member yang menatapnya dengan ragu.


“Saya...ingin...membeli...kue...ini...” Ucap Chan sambil menunjuk pada kue yang ada di tangan sang nenek.


“Kenapa kau bicara seperti itu?!. Biarpun sudah tua, tapi aku masih bisa mendengar dengan normal” Sang nenek lalu meninggalkan Chan yang terlihat bingung.


“Lagi pula, aku bukan penjual kue. Aku membeli ini untuk cucu-cucuku” Sebelum pergi, nenek itu memukul bahu Chan. Sontak saja, Zhi dan Dza tertawa terbahak-bahak melihatnya.


“Sejak awal, aku tidak yakin kalau beliau penjual kue” Ejek Dza.


“Kakak memang payah” Zhi berkacak pinggang.


“Mana aku tahu jika beliau bukan penjual kue. Dan juga, kenapa seorang nenek berkeliaran sendirian?. Membuat salah paham saja!” Chan mengusap bahunya.


Mereka kembali menemui ketiga member yang telah menunggu di mobil. Dza dan Zhi tidak bisa berhenti tertawa sampai membuat ketiga member lain penasaran dengan apa yang tengah mereka tertawakan.


“Apa yang terjadi?” Tanya Ez.


Zhi lantas bercerita dengan antusias, sehingga membuat member lain juga ikut tertawa. Bahkan, Khai terlihat sangat senang melihat adiknya mengalami hal yang tidak mengenakkan.


Chan ingin protes karena terus ditertawakan, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat Emira juga ikut tertawa.


***SUN House***


Khai menoleh saat seseorang meletakkan cokelat hangat di atas mejanya.


“Terima kasih” Ucapnya.


Emira menganggukkan kepala, lalu berniat meninggalkan Khai yang sibuk dengan pekerjaannya.


“Tunggu...”


“Ada apa?” Tanya Emira.


“Aku sangat kesal melihatmu menangis seperti kemarin” Khai segera meralat ucapannya saat melihat ekspresi bingung Emira.


“Kau jangan salah paham, aku mengatakan ini karena tidak ingin ada yang mengusik pegawaiku” Khai menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba mencari kata-kata yang tepat.


“Maksudku...kau adalah asisten SUN, boy group terkenal sedunia. Masalahmu bisa saja berpengaruh untuk kami” Belum selesai Khai menjelaskan, Emira telah lebih dulu berkata, “Kakak tidak perlu khawatir. Aku tidak akan melibatkan siapa pun dalam masalahku”


Melihat raut wajah Emira yang berubah, membuat Khai menjadi tidak enak hati.


“Bukan begitu maksudku, berapa yang kau butuhkan?. Aku akan membantu” Ucap Khai.


“Terima kasih sudah menawarkan bantuan, tapi aku tidak ingin melibatkan kakak” Jawab Emira lirih, lalu meninggalkan Khai di ruanganya.


‘Akh!!!. Bukan ini yang ku maksud. Aku berniat memberikan pinjaman tanpa bunga dan batas waktu. Bahkan, aku tidak keberatan jika harus memberinya secara cuma-cuma. Kenapa dia tidak mau memanfaatkan ketampanan dan kekayaanku?!. Padahal, ada banyak hal yang bisa dia manfaatkan dariku. Tapi, dia malah tidak melakukannya sama sekali. Hah! Membuat bingung saja’ Khai menggelengkan kepala, menatap Emira dari dinding kaca dengan heran.


...***...


Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻


Terima kasih 😘🤗🙏🏻