
Setelah beristirahat dan menghabiskan kudapan, para member menemui Pak Sugara serta Pak Arsel. Kedua lelaki paruh baya itu, menatap lekat wajah para member yang kini duduk berjajar di hadapan mereka.
Pak Sugara mengetukkan jari telunjuk di meja, salah satu kebiasaan yang sering di lakukan saat tengah memikirkan sesuatu. Lalu dengan tegas, berkata “Aku tidak tahu apa yang kalian pikirkan saat itu, tapi... apa kalian sadar dampak yang kalian timbulkan?”
Dengan kompak, para member mengucapkan maaf. Mereka menyadari kesalahan yang telah mereka perbuat. Tapi pada saat itu, mereka tengah panik karena serangan haters secara tiba-tiba dan juga melihat kondisi Emira yang ketakutan membuat mereka tidak bisa berpikir dengan jernih.
“Sebenarnya, aku bangga pada kekompakan dan rasa kemanusiaan yang kalian miliki. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih karena kalian telah menolong Emira. Tapi, apa yang dikatakan Pak Sugara benar. Kalian adalah idol, yang artinya... setiap hal mengenai kalian, akan menarik perhatian publik” Pak Arsel berkata layaknya seorang ayah yang sedang menasehati putra-putranya.
Seperti sebelumnya, para member kompak mengucapkan maaf pada Pak Arsel. Mereka sadar, kemarahan kedua lelaki paruh baya itu, demi kebaikan mereka juga.
“Tidak ada gunanya lagi kami memarahi kalian, semua sudah terjadi. Yang terpenting sekarang adalah memperbaiki kekacauan ini” Ujar Pak Sugara dan Pak Arsel menganggukkan kepala menyetujui pendapat rekannya.
“Sebenarnya, aku mencurigai Aerin. Tapi... semoga itu tidak benar” Ucap Pak Arsel sembari menatap wajah para member.
“Aku juga merasa begitu. Bagaimana mereka bisa tahu Emira ada di pasar, jika bukan orang dalam yang memberitahu. Tapi tanpa bukti, kita tidak bisa menuduhnya” Ez ikut bersuara.
Dengan wajah kecewa, Zhi berkata “Sangat disayangkan jika dia berkhianat”
“Aerin tidak tinggal bersama kita, jika benar dia yang melakukan, pasti ada seseorang yang membantunya” Khai ikut bersuara.
Pak Sugara menghela napas berat, berulang kali mengurut pelipisnya. Dengan lirih, berkata “Ya, aku sangat kecewa jika dia benar-benar melakukan itu”
Menyadari sesuatu, Pak Arsel menoleh sekitar. “Di mana Emira?” Tanyanya pada para member.
Para member saling pandang, mereka baru menyadari jika sejak tadi Emira tidak ada di ruangan itu.
“Mungkin dia sudah istirahat. Belakangan ini, dia terlihat kurang tidur dan sering melamun” Jawab Dza.
“Meskipun tidak mengatakannya, tapi aku yakin jika dia merasa tertekan” Chan ikut menimpali.
Pak Arsel menghela napas dalam, dan berkata “Anak itu... selalu saja terlihat baik-baik saja, padahal dia sangat kesulitan. Bahkan dalam situasi seperti ini, dia tidak melupakan tanggung jawabnya pada keluarga”
Mendengar penuturan para member serta Pak Arsel, membuat pak Sugara merasa bersalah karena terus menyalahkan Emira. Tapi karena pikirannya tengah kalut, emosinya jadi sulit dikendalikan.
.
.
.
Para member menikmati waktu luang setelah berolahraga, mereka bermain kucing dan tikus. Meskipun sudah dewasa dan menjadi idol terkenal, namun mereka tetap antusias saat bermain permainan anak-anak. Hal ini mereka lakukan karena rasa simpati pada Zhi.
Sejak kecil, dia hanya bermain bersama kakaknya dan ketika remaja sibuk berlatih, sehingga tidak punya teman selain para member.
Melihat Emira sedang menyiram bunga, Zhi segera berteriak “Em... sini” Ajaknya sambil melambaikan tangan.
Emira menoleh ke arah Zhi, dengan cepat ia menyelesaikan pekerjaannya. Lalu, menyusul para member yang tengah bermain di lapangan.
“Ayo, ikut bermain” Seru Chan.
Emira menganggukkan kepala, menyetujui tawaran Chan.
Mereka bermain dengan riang, persis bocah yang kegirangan karena mendapat mainan baru.
Saat Zhi yang menjadi kucing, kelima member mengajak Emira untuk bersembunyi. Tentu saja hal itu membuat Zhi kesal, karena mereka mengubah permainan secara sepihak. Namun, kelima member malah semakin senang menjahilinya.
Dengan wajah memerah, Zhi berjalan keluar lapangan. Ia hendak kembali ke rumah utama.
Melihat hal itu, Chan tidak tinggal diam. Ia bersama Dza menarik selang air yang biasa Emira gunakan untuk menyiram bunga, mengarahkan selang itu tepat pada Zhi, lalu menyiramnya. Sontak saja, Zhi makin kesal dan mengejar kelima kakaknya yang telah berlari menjauh.
Emira merogoh saku celana, mengambil benda pipih di sana lalu merekam tingkah keenam member yang sangat lucu baginya.
‘Padahal tubuh mereka seperti raksasa, tapi malah berlarian seperti bocah’ Gumamnya sambil tersenyum.
Ia menarik napas dalam dan menghembuskan secara perlahan. Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Apa yang tengah dilihatnya saat ini, mungkin tidak akan pernah ia lihat lagi. Kebersamaan ini, mungkin akan segera berakhir.
‘Terima kasih. Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalananku’ Monolog Emira dengan lirih. Pengelihatannya mulai kabur saat melihat para member berlari semakin jauh.
Beberapa menit kemudian, para member mendekat ke arahnya. Emira segera menyeka air mata, memasang senyuman dengan ramah. “Lihat baju kalian” Ujar Emira sambil menunjuk pakaian para member.
“Cepat mandi, kalian ada jadwal pemotretan hari ini!” Ucap Emira lagi.
Zhi berjalan sambil menggerutu, “Kau jadi semakin bawel saja sekarang!”
Emira hanya tertawa mendengar umpatan Zhi, tak berniat mendebatnya.
Melihat tatapan penuh tanya para member, Emira segera menjelaskan “Ada urusan mendesak yang harus ku selesaikan. Aku juga sudah meminta izin pada Pak Arsel. Jadi... apa kalian mengizinkan?”
“Ya. Selesaikan urusanmu dengan baik” Jawab Khai.
Dengan senyum mengembang, Emira mengucapkan “Terima kasih”
“Apa ada yang bisa kami bantu?” Tanya Ez.
“Urusan apa yang kau maksud?” Chan juga ikut bertanya.
“Kami akan membantu, jika kau mengizinkan” Dengan tulus, Zal menawarkan bantuan.
“Ti...tidak, hanya masalah kecil. Dan juga... ini masalah pribadi. Aku tidak bisa melibatkan orang lain, tapi... terima kasih atas tawarannya” Jawab Emira lirih dan dengan senyuman yang tetap mengembang.
Dza tersenyum menatap Emira, mengusap pucuk kepalanya dan berkata “Baiklah. Kami percaya jika kau bisa menyelesaikannya dengan baik”
Meskipun tidak mempunyai adik, tapi Dza selalu bersikap layaknya kakak sungguhan untuk Emira.
Mereka lalu kembali ke rumah utama sambil mengobrol dan sesekali bercanda.
.
.
.
.
.
Seperti yang sudah direncanakan, saat para member menuju lokasi pemotretan, Emira pergi ke kantor untuk menemui seseorang.
Setibanya di sana, Emira kembali meyakinkan diri serta hati, sebelum mengetuk pintu ruangan tersebut. Ia segera masuk setelah mendapat izin dari seseorang yang ada di ruangan itu.
“Kau yakin dengan keputusanmu?” Tanya seorang wanita paruh baya, setelah mempersilakan Emira duduk di hadapannya.
Emira menganggukkan kepala, dengan yakin bekata “Iya”
“Meskipun, aku sangat menyayangkan keputusanmu, namun aku juga tidak bisa berbuat apa-apa” Wanita itu menjeda ucapannya, lalu kembali bergeming “Tapi kau tidak bisa resign tanpa persetujuan Pak Sugara atau Pak Arsel”
“Beliau tidak akan mengizinkan jika tahu. Saya mohon” Ujar Emira lirih.
Wanita itu menghela napas, nampak menimbang sesuatu, lalu kemudian menjawab “Aku bisa menyalahi aturan perusahaan jika tidak mendiskusikan hal ini pada mereka”
Melihat ekspresi Emira yang kecewa, membuat wanita paruh baya yang masih terlihat lebih muda dari pada usianya, kembali bergeming “Baiklah, aku akan membantumu”
Mata Emira berbinar mendengar perkataan wanita itu, namun kekecewaan kembali muncul diwajahnya “Jika memang tidak bisa, Anda tidak harus melakukannya. Saya tidak mau Anda terkena masalah” Ujarnya kemudian.
“Tidak apa-apa, aku bisa menanganinya. Lagi pula, aku dan Arsel berteman baik, kau tahu kan?”
Emira menganggukkan kepala sambil tersenyum, “Terima kasih” Ucapnya dengan tulus.
“Kalau begitu... saya permisi, maaf telah mengganggu waktu Anda” Ujar Emira lagi.
“Tunggu...” Wanita itu menghentikan Emira yang hendak beranjak dari duduknya.
“Aku tidak tahu kenapa kau sampai bisa menjadi bahan gosip, bahkan mendapat serangan dari haters. Tapi... aku tahu, kau adalah anak yang baik. Aku harap, kau bisa melalui semua ini”
Emira menundukkan kepala, tak mampu menatap wanita yang kini ada di hadapannya. Dengan suara bergetar, ia berkata “Sebenarnya, saya tidak ingin pergi dalam situasi seperti ini. Dan juga... saya tidak ingin membuat SUN menanggung semuanya. Tapi... semakin lama saya di sini, semakin besar masalah yang akan muncul”
Wanita paruh baya itu beranjak dari duduknya, melangkah mendekati Emira. Dengan tulus memeluk serta mengusap punggung Emira berkali-kali.
Tangis Emira semakin pecah mengingat Pak Arsel dan Pak Sugara bertengkar karenanya. Mengingat SUN mendapat lemparan tomat serta telur busuk karena melindunginya dan komentar jahat para haters yang terus memintanya untuk berhenti jadi asisten SUN.
Sambil menghapus air mata, wanita paruh baya yang berstatus sebagai HRD itu berkata “Kau telah bekerja dengan baik sampai sejauh ini, terima kasih” Ujarnya dengan tulus.
...***...
Happy Reading semuanya... semoga readers suka sama ceritanya 🖤🧡💙❤💛
Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻
Terima kasih atas dukungannya😘🤗🙏🏻