
Para member sigap berlari menghampiri Zhi, begitu juga dengan Khai yang mengabaikan rasa sakitnya. Mendengar teriakan ‘My Spring’ membuat Zhi segera bangun dan berdiri dengan tegap, seolah baik-baik saja. Ez mencoba menenangkan keadaan dengan berkata, bahwa Zhi terjatuh adalah bagian dari pertunjukan dan segera memberikan ucapan penutup. Zhi kembali terjatuh saat berada di belakang panggung. Para kru segera berlari membantu dan membawanya ke ruang istirahat. Semua menjadi panik, karena Zhi tidak sadarkan diri dan Khai terluka.
Pak Sugara segera memerintahkan tenaga medis untuk memeriksa keadaan Zhi dan Khai. Emira menangis melihat kondisi keduanya, ia merasa sangat bersalah. Karena dirinya, Khai jadi terluka, dan Zhi terjatuh.
Setelah di periksa oleh tenaga medis, Zhi mengalami patah pada pergelangan kakinya dan memar di beberapa bagian tubuh. Sementara, bahu kanan Khai memar dan robek akibat terkena permukaan tangga yang tajam sehingga harus dijahit.
“Berhentilah menangis” Chan menepuk pelan bahu Emira, mencoba menenangkannya.
“Tapi, ini semua salahku!”
“Tidak ada yang bersalah, ini semua kecelakaan” Timbal Zal.
Meski tidak ada yang menyalahkannya, namun Emira tetap merasa bersalah dan tidak berhenti menangis. Ia sangat khawatir, jika pergelangan kaki Zhi yang patah akan berpengaruh pada pekerjaannya.
“Mereka sudah baik-baik saja sekarang. Kau jangan khawatir, percaya padaku” Ez memberi Emira air mineral dan duduk di sampingnya.
“Kak, bagaimana dengan pergelangan kaki Zhi?. Apa akan berpengaruh nantinya?” Emira menghapus air matanya yang mengalir sejak tadi.
“Dia hanya harus istirahat berlatih selama dua minggu, kau tidak perlu khawatir” Meski sejak tadi terlihat tenang dan tidak banyak bicara, tapi sebenarnya Ez juga khawatir akan keadaan kedua rekannya.
“Apa kau butuh sesuatu?” Tanya Chan saat melihat Zhi bergerak seperti hendak mengambil sesuatu.
“Aku haus, tolong amabilkan minum” Ujar Zhi.
Chan menghampiri Zhi, di ikuti oleh Emira dan ketiga member lainnya.
“Kau kenapa?” Tanya Zhi saat melihat mata sembab Emira.
Emira menundukkan kepala dan hanya diam, tidak mengindahkan pertanyaan Zhi.
“Aku bertanya, kenapa kau menangis?” Zhi menarik lengan Emira agar mendekat ke arahnya.
“Bagaimana aku tidak menangis, saat melihat kalian menyedihkan seperti ini?!” Tangisan Emira semakin menjadi.
“Apa di matamu, kami sangat menyedihkan?” Tanya Khai yang telah terbangun dari tidurnya.
“Bu...bukan begitu. Tapi, aku sungguh khawatir melihat kalian seperti ini” Ucap Emira dengan lirih.
“Sepertinya, aku akan bermimpi indah malam ini karena bisa membuatmu khawatir”
Mendengar ucapan Zhi, membuat Ez melayangkan pukulan pada bahunya. Sementara, Khai melemparnya dengan bantal.
“Apa yang kalian lakukan pada orang yang tengah sakit?!” Omel Zhi, namun tidak di hiraukan oleh kedua kakaknya.
Melihat tingkah member dengan usia tertua dan termuda itu, membuat Emira serta ketiga member lainnya tersenyum lega. Para member segera kembali ke SUN house untuk beristirahat, meninggalkan Zhi di Rumah Sakit karena masih perlu mendapat perawatan dari dokter. Sedang, Khai sudah diizinkan untuk pulang. Namun, ia tetap mendapat pengawasan dokter selama luka jahitnya belum sembuh total.
Saat ini, para member tengah menunggu mobil yang akan menjemput mereka. Tidak lama menunggu, mobil mewah berwarna hitam itu telah tiba. Mobil operasional yang mereka kenakan memiliki harga dan spesifikasi yang mahal, sekelas Chevrolet Explorer. Mobil Van itu juga di lengkapi dengan fasilitas berupa, lemari penyimpanan, TV, serta di rancang khusus untuk kenyamanan privasi para member. Mobil mulai melaju setelah para member berada pada posisinya masing-masing. Terlihat jelas dari raut wajah setiap member, bahwa mereka sangat kelelahan.
***SUN House***
Chan, Dza, dan Zal, segera menuju kamar mereka masing-masing untuk membersihkan diri dan beristirahat. Sedang, Ez tengah menikmati kopi hangat sambil bermain ponsel.
“Kenapa malah bermain ponsel?. Kakak seharusnya beristirahat” Tegur Emira saat hendak membereskan barang para member ke loker.
“Biar aku saja, kakak pasti sangat lelah” Emira mencegah Ez yang akan membantunya.
Emira menarik napas dan menghembuskannya dengan sembarang. “Jika tidak ingin istirahat, setidaknya duduklah dengan nyaman. Biar aku saja yang mengerjakannya” Terang Emira pada Ez yang mengabaikan perkataannya.
“Aku jadi tidak bisa mandiri, jika terus dibantu” Penolakan Emira malah membuat Ez tersenyum, ia lantas kembali duduk.
“Terima kasih” Ucap Ez kemudian.
“Untuk?” Jawab Emira, tangannya masih sibuk menyusun barang ke loker para member.
“Kau telah mengkhawatirkan kami”
“Tentu saja aku khawatir. Bahkan, aku sangat takut. Lain kali, jangan terluka lagi” Ucap Emira lirih.
“Kami telah beberapa kali memiliki asisten. Tapi tidak ada yang sepertimu” Ez menjeda kaliamatnya, lalu kembali berkata, “Mereka bekerja hanya demi uang. Setelah kejadian tadi, aku jadi sadar bahwa kau tulus menjaga kami. Terima kasih” Ujar Ez tulus. Ia menatap Emira yang terdiam di tempatnya.
“Aku senang melakukannya. Kakak tidak perlu berterima kasih. Dan...aku juga melakukannya demi uang” Meskipun berkata demikian, tapi ia benar-benar tulus pada SUN.
“Pekerjaanku sudah selesai. Sekarang, kakak istirahatlah. Aku juga akan tidur” Ujar Emira setelah menutup loker dan menguncinya.
“Selamat istirahat” Ez mengacak pucuk kepala Emira. Lalu, melenggang mendahuluinya.
Ez membalikkan badannya, menghadap pada Emira.
“Terima kasih” Emira tersenyum.
“Jika ingin berterima kasih, lakukanlah dengan benar” Ucapan Ez membuat Emira bingung.
“Aku akan menerima ucapan terima kasihmu, jika kau mau melakukan sesuatu untukku” Ujar Ez lagi.
Emira mengerutkan keningnya, “Apa?” Tanyanya.
“Lain kali aku akan mengatakannya. Sekarang, istirahatlah” Jawabnya, lalu berlalu meninggalkan Emira yang masih di tempatnya.
Emira yang hendak istirahat, mengurungkan niatnya saat melihat lampu kamar Khai masih menyala. Ia ingin mengetuk pintu kamar Khai, namun ragu. Akhirnya, ia hanya berdiri diam di sana.
“Ya Tuhan!...” Emira terkejut karena pintu itu tiba-tiba terbuka.
“Seharusnya, aku yang terkejut!. Kenapa, kau di sini?” Tanya Khai.
“Ak...aku...” Emira menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung harus berkata apa.
Khai menyipitkan matanya, “Kau tidak sedang menguntitku, kan?”
“Ti...tidak!. Aku pikir kakak butuh sesuatu, karena lampu kamar kakak masih menyala” Ujar Emira.
“Ya, aku memang membutuhkan cokelat hangat sekarang”
“Baiklah, aku akan membuatkannya” Emira bergegas menuju dapur.
Sepuluh menit kemudian, Emira kembali menemui Khai dengan membawa secangkir cokelat hangat.
“Silakan” Emira meletakkan cokelat hangat di meja kerja milik Khai.
“Terima kasih” Khai meletakkan ponselnya, lalu menyesap minuman kesukaannya.
“Kenapa masih di sini?” Tanya Khai.
“Hah?. Ak...aku” Belum selesai Emira menjawab, Khai telah lebih dulu bergeming,”Kenapa kau sering terbata-bata saat bicara padaku?”
“Ti...tidak, iya”
‘Sebenarnya, apa yang ingin ku katakan?. Dasar payah!’ Batin Emira memberontak.
“Tidak - iya, itu bahasa dari mana?” Khai tersenyum melihat tingkah Emira yang aneh, namun terlihat lucu.
“Aku ingin meminta maaf” Emira menundukkan kepala, tak berani menatap seseorang yang kini ada di hadapannya.
“Bukankah pernah ku katakan, aku tidak suka jika lawan bicaraku menatap ke arah lain”
Tatapan tajam Khai semakin membuat nyali Emira menciut.
“Kakak jadi terluka karena menolongku. Maaf” Kali ini Emira memberanikan diri menatap Khai. Dari sorot matanya, ia terlihat benar-benar tulus meminta maaf.
“Juga, terima kasih” Emira kembali bergeming. Seolah tak ingin mendengar jawaban Khai, ia kembali berkata, “Aku belum bisa bekerja dengan benar, dan malah sering membuat repot. Tapi, aku akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk kalian”. Tanpa terasa, butiran bening mengalir dari sudut mata Emira.
“Jika ingin meminta maaf, lakukan dengan benar” Jawab Khai.
“Apa maksudnya?” Emira menatap Khai dengan raut wajah bingung.
“Lain kali, akan ku beritahu. Sekarang, istirahatlah!”
Emira semakin bingung juga penasaran, karena Khai dan Ez mengucapkan kalimat yang sama. Namun, ia enggan memikirkannya lebih jauh.
‘Kenapa aku tidak rela melihat air matanya terjatuh seperti tadi?!’ Monolog Khai, saat Emira telah keluar dari kamarnya.
...***...
Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛
Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻
Terima kasih 😘🤗🙏🏻