SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 50



Setibanya di lokasi syuting, para member langsung memasuki studio karena acara akan dimulai. Sedangkan, Emira memantau mereka dari balik layar. Lima belas menit kemudian, ia beranjak dari duduknya.


“Mau ke mana, Em?” Tanya seorang staf.


Emira menoleh ke arah si penanya, “Aku mau ke toilet sebentar” Jawabnya, lalu bergegas keluar dari studio dan mencari letak toilet.


Beberapa staf dan asisten para artis lain, berbisik saat melihat Emira keluar dari studio.


Sambil menatap tajam pada Emira, seorang staf berkata “Padahal, wajah dan penampilannya polos. Tapi, ternyata... tingkahnya seperti rubah. Mengerikan”


“Benar. Bahkan, kita yang sudah lama menjadi asisten SKY saja tidak berani berintraksi berlebihan pada para member” Salah seorang staf lain menimpali.


Dengan senyum mengejek, rekan kedua orang itu berkata “Jangan mudah tertipu pada penampilan. Sekarang ini, justru yang terlihat poloslah yang paling berbahaya”


Emira hanya diam mendengar staf serta asisten SKY menggosipkannya. Bukan karena takut, tapi karena tak ingin menambah masalah dengan meladeni orang-orang yang tak tahu permasalahan sebenarnya.


Setelah mengatur emosi, Emira berlalu tanpa menoleh ataupun berkomentar dengan apa yang dikatakan ketiga wanita itu.


“Dia berlalu tanpa berkata apa-apa. Benar-benar perempuan yang sombong!” Ujar salah seolah staf SKY lagi.


“Benar. Pasti dia merasa menjadi tuan putri karena bisa menggoda para idol”


Dengan sengit, asisten SKY menatap Emira yang telah menjauh dan berkata, “Aku rasa, dia hanya menjadi mainan saja. Idol seperti SUN tidak akan mungkin tertarik sungguhan pada perempuan rendahan sepertinya”


Untuk menenangkan pikiran, Emira membasuh wajah hingga berkali-kali. Padahal, ia tetap diam dan tidak ingin membalas orang-orang yang telah melukai dengan kata-kata ataupun serangan fisik, namun tetap saja dirinya dibenci. Seolah tidak ada kata maaf untuknya.


Emira menghela napas dengan berat, ‘Aku tidak tahu lagi harus bagaimana?. Sepertinya, apa pun yang ku lakukan akan selalu dianggap salah’ Gumam Emira lirih.


Setelah merasa tenang, Emira berniat kembali menemui para member yang tengah melangsungkan syuting. Namun, langkahnya terhenti karena tak sengaja mendengar dua orang tengah berdebat mengenai dirinya.


Emira semakin penasaran karena suara dari balik dinding terdengar tidak asing. Dengan pelan, ia mendekat.


“Aku memang senang jika SUN terkena masalah, tapi bukan berarti kau bisa melibatkan asistennya!” Juna berteriak pada Sheril.


“Aku juga senang jika perempuan itu terkena masalah, tapi bukan berarti kau juga bisa melibatkan SUN!” Sheril menatap Juna dengan tajam.


Wajah Juna memerah karena kesal, tangannya terus mengepal sejak tadi. “Kau benar-benar tak punya hati!” Umpatnya.


“Apa bedanya denganmu?!. Jangan berlagak suci di depanku!” Sheril membalas umpatan Juna.


Juna berdecak, seolah tengah mengejek Sheril. Lalu, berkata “Jika kau berani melibatkan Emira lagi, maka... kau akan berurusan denganku!”


Juna lantas meninggalkan Sheril yang masih diam di tempatnya. Namun, langkahnya tertahan karena perkataan Sheril.


“Apa kau menyukainya?!. Hah... lucu sekali, perempuan rendahan sepertinya bisa membuat kalian tertarik!. Atau... kalianlah yang sebenarnya rendahan?!”


Juna memutar langkah, mendekat ke arah Sheril. Tangannya bersiap ingin memukul wanita itu. Tapi, niat itu ia urungkan.


Dengan emosi yang memuncak, Juna berkata “Perempuan yang kau sebut rendahan itu, lebih pantas disebut manusia dibandingkan kau!”


Juna terkejut saat melihat Emira, sementara Sheril malah tertawa sumringah.


“Sejak kapan kau di situ?” Tanya Juna dengan gugup.


Emira menghembuskan napas dengan kasar. Merasa kecewa karena idolanya ternyata terlibat dalam masalah yang menimpanya.


Dengan suara bergetara ia berkata, “Jadi... itu semua rencana kalian?!”


Melihat mata Emira mulai berkaca-kaca membuat Juna merasa bersalah. Dengan lirih ia mengucapkan maaf.


Juna mendekat ke arah Emira, berharap perempuan itu akan memaafkannya. Namun, seseorang tiba-tiba datang dan langsung menarik pergelangan tangan Emira. Dengan penuh emosi, ia bersiap memukul Juna, jika saja tidak dihalangi oleh Emira.


Emira menggelengkan kepala, menatap Khai dengan tatapan memohon.


Berulang kali Khai menghembuskan napas dengan kasar, lalu mengajak Emira pergi dari hadapan Juna serta Sheril yang nampak terkejut dengan kehadirannya.


“Apa yang terjadi?” Tanya Zhi dengan panik.


Karena Emira hanya diam, Khai lantas menjelaskan pada kelima member. Sontak saja, kelima member geram atas perbuatan Sheril dan Juna.


“Kenapa kau melarang kak Khai menghajarnya?. Apa karena dia idolamu?!” Chan seolah tengah mengintimidasi Emira.


Emira menggelengkan kepala, “Bukan begitu, aku tidak ingin kalian terkena masalah lagi” Ujarnya.


“Tapi mereka sudah keterlaluan!” Ucap Zhi dengan kesal.


“Aku yakin, ada orang lain yang membantu mereka. Tidak mungkin mereka hanya berdua saja” Ez berkata dengan penuh keyakinan.


“Aku juga berpikir begitu” Timpal Zal.


“Apa syutingnya sudah selesai?” Tanya Emira, dan Zal menganggukkan kepala membenarkan.


“Maaf, aku meninggalkan kalian terlalu lama” Sesal Emira. Sedang, para member tersenyum dan memakluminya.


Panggilan seorang staf mengalihkan perhatian mereka. “Ayo, kita harus kembali ke SUN house karena Pak Sugara sedang menunggu kalian” Ujarnya kemudian.


Para member serta Emira lantas berjalan mengekori staf tersebut.


***SUN House***


Sebelum menemui Pak Sugara, keenam member beristirahat sejenak sembari menikmati kudapan yang telah disiapkan oleh Bu Tari.


Bu Tari hendak mengantarkan kudapan ke ruang rapat, namun beliau tidak bisa meninggalkan masakannya yang hampir matang. Melihat hal itu, Emira segera menawarkan bantuan.


Emira hendak mengetuk pintu ruang rapat, namun niat itu ia urungkan. Sesuatu yang didengarnya membuat butiran bening jatuh dari kedua sudut matanya.


Sementara itu, dua lelaki paruh baya yang berada di dalam ruang rapat tengah berdebat. Dengan emosi yang sama, mereka mempertahankan pendapat masing-masing.


“Sudah ku katakan, ini semua salahku. Karena aku yang membuat Emira tinggal di sini!”


“Kau terus saja membelanya seperti itu!. Sejak kedatangannya, pemberitaan tentang SUN berkencan selalu muncul. Apa kau sadar, kau tengah mempertaruhkan karir SUN saat ini!” Pak Sugara menatap lekat Pak Arsel.


“Aku yakin, yang menyerang dan berkomentar buruk bukanlah ‘My Spring’ sungguhan. Pasti ada yang tengah memanfaatkan keadaan” Ujar Pak Arsel dengan yakin.


Pak Sugara menghela napas berat, lalu berkata “Mau ‘My spring’ atau bukan, tetap saja citra SUN dipertaruhkan. Dulu mereka juga sering mendapat komentar serta serangan dari haters, tapi tidak pernah mendapat serangan sampai dilempari tomat dan telur busuk seperti ini!”


“Kau selalu membelanya. Meskipun dia mirip putrimu, bukan berarti kau membenarkan kesalahannya” Ujar Pak Sugara lagi.


Dengan geram, Pak Arsel berkata, “Aku tidak membenarkan kesalahannya, tapi dia memang tidak bersalah. Semua ini hanya salah paham, kenapa susah sekali membuatmu mengerti?!”


“Saat ini SUN terus menjadi sorotan, mereka sudah susah payah sampai sejauh ini dan kau malah mau menghancurkannya begitu saja!” Pak Sugara kembali bergeming setelah beberapa saat diam.


“Apa yang kau katakan?!. Aku orang pertama yang akan merasakan sakit, jika mereka terluka. Aku tulus menyayangi mereka seperti anakku sendiri. Hanya saja...” Pak Arsel menjeda ucapannya, lalu kembali berkata “Kita masih bisa membicarakannya dengan kepala dingin. Aku tidak bermaksud membela Emira, tapi dia juga korban”


“Aku tahu itu. Tapi, seharusnya dia paham resiko dari pekerjaannya. Sejak awal, aku bahkan sudah memperingatkan untuk berhati-hati, tapi dia malah tidak mendengarku” Gumam Pak Sugara.


Pak Arsel mendekati sahabat sekaligus rekan kerjanya, lalu berkata dengan lirih, “Maafkan aku. Kita pasti bisa menyelesaikan ini. Jangan tunjukkan lagi kemarahan di depan mereka. Aku yakin, mereka juga tertekan sekarang”


Pak Sugara menghela napas dalam sambil mencerna ucapan sahabatnya, “Aku juga minta maaf karena sudah berteriak padamu” Ujarnya tulus.


Mereka lantas berpelukan penuh haru. Sama seperti SUN, persahabatan mereka juga sudah terjalin puluhan tahun. Mereka juga sama-sama meniti karir dari nol dan saling mendukung satu sama lain.


Happy Reading... Semoga reader suka sama ceritanya 🖤🧡💙💜💛


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😬


Terima kasih atas dukungannya 😘🤗🙏🏻