SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 33



Emira memeriksa kalender pada layar ponselnya. Sudah hampir dua minggu, paman dan sepupunya tidak meminta uang. Keluarganya juga tidak memberitahu apa-apa mengenai pamannya.


‘Apa terjadi sesuatu pada paman?’ Monolog Emira.


“Dari tadi kau terus melihat ponsel, apa ada yang menarik?”


Zhi duduk di kursi samping Emira.


Emira menggelengkan kepala, lalu berkata “Paman tidak menghubungiku selama dua minggu”


“Bukankah itu hal yang bagus”


“Iya. Tapi, aku khawatir jika terjadi sesuatu pada beliau. Apa aku telepon saja?” Tanya Emira.


“Kenapa ada orang sebaik dirimu?!”


Zhi menggelengkan kepala, tak habis pikir akan kekhawatiran perempuan yang ada di sampingnya.


“Mungkin pamanmu sudah sadar jika beliau telah banyak menyulitkanmu. Kenapa kau malah terlihat tidak senang begitu?!” Ucap Zhi lagi.


“Jangan bicara seperti itu. Terlepas dari sikapnya yang terkadang menyebalkan, tapi beliau tetap pamanku”


“Aku benar-benar tidak tahu dengan isi kepalamu. Sudah, jangan pikirkan lagi hal itu. Aku jadi lupa tujuanku kemari” Zhi menggaruk kepalanya.


“Ada apa mencariku?”


“Bantu aku memilih baju yang akan ku pakai untuk syuting sore nanti” Titah Zhi, lalu beranjak dari duduknya.


‘Dia selalu saja memusingkan soal baju saat hendak syuting. Huh, aku lebih senang jika mereka syuting mengenakan outfit yang sama’ Gumam Emira sambil berjalan mengekori Zhi menuju fitting room.


Zhi membuka lemari kaca yang memiliki tiga pintu. Pada pintu pertama berisikan kumpulan tuxedo dengan berbagai warna, pintu kedua terdapat sederet kemeja, dan pintu terakhir berisikan t-shirt serta hoodie.


“Menurutmu, mana yang harus aku kenakan?” Tanya Zhi sambil menunjuk kemeja dan t-shirt.


Emira menimbang sesuatu sebelum akhirnya memutuskan, “Lebih baik kau mengenakan kemeja”


“Sejak awal aku sudah menduga. Tapi, sebenarnya aku cocok mengenakan apa pun” Zhi mengedipkan sebelah matanya, membuat Emira geram.


“Sedang apa kalian?” Tanya Dza yang datang bersama Chan.


“Emira sedang membantuku memilih baju untuk syuting” Jawab Zhi.


“Kalau begitu, kau juga harus membantuku memilih sepatu” Chan berjalan menuju rak sepatu.


“Dia belum selesai memilih baju untukku!” Protes Zhi.


“Emira adalah asisten SUN, yang artinya dia juga asistenku. Kenapa kau bertindak seolah dia asisten pribadimu?!” Chan tak mau kalah.


Emira mengurut pelipisnya karena perdebatan dua orang yang ada di depannya, sedang Dza terlihat santai.


“Lebih baik kau membantuku memilih jam tangan yang cocok dengan outfitku hari ini” Bisik Dza, dan Emira menyetujui.


Saat Emira hendak melangkah mengikuti Dza, Zhi menarik tangan kanannya sedangkan Chan menarik tangan kirinya.


“Kau mau kemana?” Tanya keduanya dengan kompak.


“Huft...baiklah, aku akan membantu kalian semua. Tapi, tolong lepaskan tanganku dulu”


Zhi dan Chan melepaskan tangan Emira secara bersamaan, lalu mengekorinya menuju lemari pakaian milik Zhi.


“Sepertinya warna navy cocok”


Emira memberikan kemeja pilihannya pada Zhi.


“Eum, tapi aku sudah pernah memakai kemeja ini untuk syuting. Bagaimana jika warna cokelat bermotif?” Tanya Zhi.


“Ya, itu juga cocok”


Emira menganggukkan kepala.


“Jika sudah mempunyai pilihan, kenapa masih bertanya?!” Sindir Chan.


“Hanya ingin memastikannya saja!” Zhi berkata dengan santai, membuat Chan kesal.


“Apa kau tahu, baju apa yang menyenangkan?” Tanya Zhi pada Emira.


Emira menggelengkan kepala karena ia sudah menduga jika Zhi akan mengatakan hal yang tidak penting.


“Payah sekali, kau harusnya menebak terlebih dulu”


“Baju baru” Jawab Emira kemudian.


“Salah, yang benar adalah bajuang bersamamu”


Zhi membentuk ibu jari dan jari telunjuknya seperti tanda centang lalu menempelkannya di dagu.


“Sudah ku duga, kau akan mengatakan hal yang tidak penting. Ayo, Em!”


Chan menarik tangan Emira menuju rak sepatu, sementara Dza menggelengkan kepala sambil menepuk bahu Zhi.


“Selera humor mereka memang payah!” Gerutu Zhi, lalu menyusul ketiganya.


“Bagaimana dengan ini?”


Chan menunjuk salah satu sneaker berwarna putih.


“Bagus, tapi aku lebih suka jika kakak memakai warna abu-abu” Usul Emira.


“Tapi warna putih lebih terlihat casual” Chan menjeda kalimatnya sejenak, lalu kembali berkata, “Sepertinya, aku akan memakai warna putih saja” Putusnya.


Emira menghela napas pelan, “Kenapa masih bertanya jika kalian sudah mempunyai pilihan sendiri?!”


“Mereka pasti sengaja melakukannya. Ayo!” Dza mengajak Emira memilih jam tangan.


“Kakak juga pasti sudah punya pilihan sendiri, aku tidak mau melakukannya lagi!”


Emira melenggang dari hadapan ketiganya, sedang Zhi dan Chan tertawa melihat ekspresi bingung Dza.


“Ini gara-gara kalian!. Padahal, aku memang ingin meminta pendapatnya!”


Dza memukul bahu Zhi dan Chan, membuat keduanya meringis kesakitan.


***


Para member tiba di lokasi syuting tepat waktu. Mereka hanya akan melakukan wawancara singkat sebelum melakukan kolaborasi dengan salah satu brand sepatu ternama. Para member SUN segera memasuki studio untuk memulai sesi wawancara. Emira beserta Pak Arsel menunggu dari balik layar.


“Apa semua berjalan lancar?”


Pak Arsel dan Emira menoleh bersamaan ke arah sumber suara.


“Iya, semuanya lancar” Jawab Emira.


“Apa ada yang ingin kau katakan?. Kau terlihat ingin mengatakan sesuatu!” Ujar Pak Sugara pada Emira.


“Sa...saya ingin berterima kasih” Ucap Emira hati-hati.


“Untuk apa?” Pak Sugara nampak bingung.


“Karena bonus yang Anda berikan”


“Bonus apa?. Apa yang kau maksud?!”


“Bonus pegawai teladan. Kau memang sudah tua, tapi bukan berarti melupakannya begitu saja!” Seru Pak Arsel sambil berkedip, seolah tengah memberikan kode pada lelaki paruh baya yang ada di depannya.


“Ah, itu...kau berhak mendapatkannya” Pak Sugara menjeda kalimatnya, lalu kembali berkata, “Tolong awasi mereka, sepertinya Ez membutuhkan sesuatu”


“Baiklah. Terima kasih atas bonusnya, saya permisi menemui mereka terlebih dulu” Ucap Emira sebelum meninggalkan dua lelaki paruh baya itu.


“Cepat jelaskan!” Tuntut Pak Sugara pada Pak Arsel.


“Kau sudah tahu soal paman Emira, bukan?”


Pak Sugara menganggukkan kepala, “Lalu?” Tanyanya kemudian.


“Khai ingin membantunya, tapi Emira sangat keras kepala dan menolak bantuan itu dengan tegas. Bahkan, dia juga menolak bantuan dariku. Lalu, Khai meminta tolong padaku untuk memberikan bantuan dengan memberitahu Emira bahwa itu adalah uang bonus karena dia terpilih menjadi pegawai teladan” Terang Pak Arsel.


“Kau gila?. Jika staf lain tahu, mereka akan mendemoku!” Pak Sugara sedikit berteriak.


“Kecilkan suaramu!. Kau tenang saja, hanya Khai, aku, dan kau yang tahu”


“Bagaimana jika Emira berbicara pada staf lain?”


“Tidak mungkin, dia bukan orang yang dengan mudahnya bicara hal pribadi pada orang lain”


“Awas saja jika itu terjadi!. Lain kali, kau harus membicarakan pada ku lebih dulu. Kau selalu saja bertindak sendiri seperti ini” Omel pak Sugara.


“Iya, maafkan aku”


Pak Arsel merangkul Pak Sugara, mencoba membujuk rekannya itu.


“Berapa jumlah bonusnya?” Tanya Pak Sugara.


“Sebanyak itu?!” Pak Sugara berteriak setelah Pak Arsel membisikkan sesuatu.


“Kalian benar-benar sudah gila!. Perusahaan mana yang akan memberikan bonus sebesar itu pada karyawannya?!” Pak Sugara mengurut pelipisnya.


“Khai yang melakukannya, aku juga tidak tahu jika dia akan memberikan sebanyak itu. Kau paham sifatnya, kan?”


“Ya. Dia memang orang yang totalitas saat menolong orang lain, tapi bukan berarti kalian bisa mendorongku ke jurang seperti ini”


Pak Sugara melepaskan tangan Pak Arsel yang merangkulnya, lalu melenggang pergi.


“Ayolah, jangan seperti anak kecil. Kau tidak akan terjatuh dalam jurang sungguhan!” Seru Pak Arsel sembari menyusul Pak Sugara.


...***...


Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻


Terima kasih 😘🤗🙏🏻