
*** Tiga Hari Kemudian***
“Baiklah, kami akan pergi berdua kalau begitu” Emira menutup panggilan telpon dari Pak Arsel.
“Apa beliau tidak bisa ikut?”
“Iya, beliau sedang ada acara di luar kota”
“Kalau begitu, kita berangkat sekarang” Lelaki itu mulai menghidupkan mesin mobil, namun ia mengurungkannya karena seseorang yang menghalangi.
“Apa yang kau lakukan di situ?. Kau mau tertabrak?!” Teriak Khai pada Zhi yang berdiri tepat di depan mobilnya.
“Kami akan ikut” Ucap Zhi dengan santai.
“Hah...berhenti kekanak-kanakan. Cepat minggir!!!” Titah Khai. Ia semakin kesal karena bukan hanya Zhi yang menghalangi, tapi keempat member juga ikut serta.
“Kak, buka pintunya” Chan mencoba membuka pintu mobil.
“Sudahlah, biarkan saja mereka ikut. Akan lebih menyenangkan jika semakin ramai” Ujar Emira.
“Apa maksudmu, pergi denganku tidak menyenangkan?” Khai menatap tajam Emira.
“Bukan begitu, kalian hanya akan membuang waktu sia-sia jika terus seperti ini”Jawab Emira. Dalam hatinya, ia bersyukur karena tidak jadi pergi berdua dengan Khai. Akan sangat canggung jika hanya pergi dengan Khai yang sangat sensitif.
Khai akhirnya mengizinkan kelima member untuk ikut. “Aku akan protes pada Pak Sugara karena tidak sportif” Keluh Khai.
“Kenapa kalian bisa mempunyai tiket yang sama seperti kami?” Tanya Emira penasaran.
“Karena bocah ini yang merengek pada Pak Sugara. Bahkan, dia mengancam tidak akan ikut latihan selama seminggu jika tidak diberi tiket yang sama seperti kalian” Terang Chan.
Emira mengernyitkan kening, tidak habis pikir dengan kelakuan Zhi.
“Kenapa menatapku seperti itu?. Kau harusnya bersyukur. Berkatku, kau jadi tidak pergi berdua dengan kulkas lima pintu” Ucap Zhi pada Emira.
“Coba ulangi ucapanmu, siapa yang kau sebut kulkas lima pintu?!” Tanya Khai sambil melirik Zhi.
“Maaf kak, aku hanya bercanda” Zhi tersenyum lebar.
Tak ingin memperpanjang perdebatan, Emira akhirnya berkata, “Baiklah, terima kasih”. Sedangkan, Zhi tersenyum puas mendengar ucapan Emira.
Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah, pijat refleksi. Mereka sampai ke tempat pijat refleksi setelah 30 menit perjalanan.
“Kenapa sepi sekali, apa tempat ini belum buka?” Emira menoleh ke kanan kiri.
“Pak Sugara menyewa tempat ini”
“Benarkah?” Emira terkejut mendengar pernyataan Ez.
“Itu hal yang biasa. Jika tidak disewa, wajah kami akan gentayangan di sosial media dan artikel malam ini” Dza menjelaskan.
“Itu semua karena kami adalah...” Perkataan Khai tergantung.
“SUN” Zhi, Chan, Zal, dan Dza secara bersamaan melanjutkan perkataan Khai.
Emira menggelengkan kepala melihat tingkah sombong keempat member itu. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa mereka memang sangat terkenal.
Para member dan Emira tengah berada di ruangan yang berbeda, mereka sangat menikmati pijat refleksi tersebut, terlihat para member dan juga Emira sangat puas atas pelayanannya.
‘Menyenangkan sekali, otot dan sarafku rasanya bisa berfungsi dengan baik’ Monolog Emira yang tengah santai, menikmati pijatan dari pelayan wanita yang nampak usianya tidak beda jauh darinya. Ini adalah pertama kalinya Emira memanjakan diri dengan pijat refleksi, biasanya ia hanya dipijat oleh tukang urut yang ada di dekat rumah. Itupun jika keadaan tubuhnya sudah sangat lelah.
1 jam berlalu, pijak refleksi yang mereka lakukan telah selesai. Kini mereka tengah bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
“Bagaimana jika kita makan terlebih dulu?” Zhi memberi usulan.
“Ayo, aku sangat lapar” Chan menyetujui.
“Mengajak bocah memang merepotkan” Ucap Khai, lalu melenggang mendahului member lainnya.
“Bicaranya seperti orang tua sungguhan, padahal terkadang seperti bocah juga” Emira menatap tajam Khai. Menyadari sesuatu, ia segera menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan karena telah mengumpat.
Member lain yang melihat hal itu hanya tersenyum, namun Emira terlanjur malu karena telah mengumpat Khai tanpa sengaja.
“Aku senang karena kau adalah orang yang berterus terang” Ujar Zal dengan tersenyum.
“Kak Khai memang seperti itu, tapi sebenarnya dia baik dan memperhatikan kami” Dza menjelaskan, karena khawatir jika Emira akan salah menilai Khai.
“Kami cukup aneh bukan?” Tanya Ez sebelum menyusul member lain yang telah lebih dulu menuju tempat parkir. Melihat Emira yang kebingungan karena pertanyaannya, Ez hanya tersenyum dan mengacak pelan rambut Emira.
‘Kak Ez sangat baik. Bahkan sejak awal bertemu, dia yang sangat ramah. Tatapannya juga selalu menenangkan. Huh...sadarlah Emira, apa yang kau pikirkan. Dasar tukang mengkhayal’ Emira memukuli keningnya sendiri sambil menatap Ez yang mulai menjauh.
Tettt...tettt.....tettt....
Suara klakson mobil yang sangat keras membuat Emira tersadar. ‘Khaiuman selalu saja mengganggu khayalanku’ Gerutu Emira, lalu berjalan menuju mobil untuk bergabung bersama para member.
.
.
.
Mereka tiba di hotel berbintang lima yang berada di pusat kota. Hotel KH adalah hotel terbaik dan sangat mewah, para artis atau pejabat negara kerap menggunakan hotel tersebut untuk mengadakan acara pernikahan, ataupun acara penting lainnya.
‘Tempat yang mereka datangi selalu bisa membuatku takjub. Jika tidak menjadi asisten SUN, mungkin aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di sini. Benar-benar luar biasa, kira-kira berapa biaya menginap untuk satu malam di hotel ini?’ Emira tengah sibuk bermonolog dengan dirinya sendiri sembari terus memperhatikan setiap sudut hotel tersebut.
“Ayo, cepat!” Zhi menarik tangan Emira dengan gemas karena sangat lama berjalan.
Semua menu terenak telah tersusun rapi di atas meja kaca yang berbentuk lingkaran. Bahkan, semua hidangan itu mampu membuat Emira takjub. Emira juga sangat senang, karena ini pertama kalinya ia makan di hotel berbintang dan sangat mewah. Mulai dari seafood, daging, dessert, buah-buahan, hingga minuman, semuanya dihidangkan dengan sangat menarik dan tentu rasanya enak. Interiornya yang mewah sangat serasi dengan musik klasik yang kini tengah diputar.
‘Benar-benar seperti di film. Si pria kaya mengajak gadis sederhana ke tempat mewah untuk makan bersama, lalu diam-diam pria tersebut menyiapkan cincin dan melamar si gadis. Wah...luar biasa, suasana ini sangat cocok dengan adegan itu. Tapi, pria kaya mana yang sungguh-sungguh menyukai gadis biasa saja?’ Batin Emira bermonolog.
“Ayo, makan” Teguran Ez membuat Emira tersadar dari lamunannya.
“Hah?. Ah...iya” Jawab Emira dengan kikuk.
“Apa kita perlu menambah udangnya?” Tanya Ez pada Emira yang sangat suka dengan udang.
“Eum, tidak perlu. Maaf, jika kakak terganggu” Ujar Emira pelan.
“Tidak, aku senang jika kau menikmati makanannya”
“Tambah saja jika kau mau” Ucap Dza.
“Benar. Jika malu, kau akan kelaparan. Makanlah sepuasnya” Timpal Zhi.
“Tapi, jangan sampai seperti Zhi yang tidak tahu malu” Ejekan Chan membuat Zhi melayangkan pukulan di bahunya, dan membuat member lain tersenyum dengan tingkah kedua member yang kerap ribut itu.
Setelah menyelesaikan makan siang, mereka akan melanjutkan bermain di dunia fantasi.
Kelima member dan Emira telah berada di dalam mobil, menunggu Khai yang belum keluar dari hotel KH.
“Aku akan ke toilet sebentar” Ucapan Emira memecah keheningan.
“Ya. Jika bertemu kak Khai, tolong katakan agar cepat” Pesan Zal bersamaan Emira yang membuka pintu mobil.
“Baik” Jawabnya kemudian.
Emira yang sedang mencari letak toilet, tidak sengaja melihat Khai tengah berbincang dengan seseorang yang mengenakan jas dan terlihat sangat formal. Ia bermaksud mengabaikan, namun obrolan mereka terlanjur terdengar olehnya. Bahkan, obrolan mereka semakin terdengar jelas.
“Baik, akan saya sampaikan. Anda sudah beberapa bulan ini tidak berkunjung ke rumah utama, apa Anda tidak ingin pulang?” Lelaki berbadan tegap itu bertanya pada Khai.
“Aku sedang banyak pekerjaan” Jawab Khai sekenanya.
“Baiklah. Tapi...” Lelaki itu menjeda ucapannya sejenak, seperti takut akan reaksi Khai, “Saya tidak bermaksud lancang. Namun, jika Anda punya waktu luang, pulanglah sebentar. Belakangan ini, beliau sering menonton music video Anda. Sepertinya, beliau sangat merindukan Anda”
Khai hanya diam tak menanggapi lelaki yang kini ada di hadapannya.
“Saya terlalu banyak bicara, maaf” Lelaki itu menundukkan kepalanya.
“Aku akan pergi sekarang” Khai berlalu tanpa banyak bicara, tatapannya beralih pada seseorang yang ada di depannya.
Emira yang tertangkap tengah mendegarkan percakapan Khai menjadi kikuk. Sudah terlambat untuknya menghindar. “Maaf, aku tidak bermaksud menguping pembicaraan kalian” Sesal Emira.
“Selesaikan urusanmu, lalu cepat kembali ke mobil dalam lima menit” Khai melenggang, meninggalkan Emira yang masih terdiam di tempatnya.
‘Aneh... padahal dia cepat sekali emosi, tapi wajahnya tidak terlihat tua. Bahkan, wajah dan usianya tidak sesuai’ Emira bermonolog, lalu dengan cepat mencari letak toilet dan kembali bergabung dengan para member yang sudah menunggunya.
***
“Kenapa lama sekali?. Bukankah sudah ku katakan, waktumu hanya lima menit!” Omel Khai.
“Toiletnya sangat ramai, aku jadi harus mengantri. Ini salah pemilik hotel, karena tidak membuat toilet dengan jumlah yang banyak. Padahal hotel berbintang yang mewah, tapi tidak memberi fasilitas toilet yang baik” Gerutu Emira, sementara para member lain tercengang mendengar omelannya.
“Lain kali, kita harus ke hotel ini lagi” Ujar Emira lagi.
“Untuk apa?” Tanya Chan.
“Aku ingin protes kepada pemiliknya agar membuat toilet yang lebih banyak” Kesal Emira.
Zhi memukul lengan Chan karena sudah salah memberi pertanyaan. Zal dan Dza nampak ingin berkata sesuatu namun ragu.
“Hmmm...sebaiknya kita berangkat sekarang” Ez mencoba mengalihkan pembicaraan.
Khai melajukan mobilnya dengan kencang, membuat Emira dan kelima member panik.
“Ini semua salahmu, kenapa kau menanyakan hal itu?” Bisik Zhi pada Chan.
“Mana aku tahu, jika Emira tidak mengetahui tentang Hotel KH”
“Harusnya kau paham, Emira bukanlah orang yang akan tahu hal seperti itu” Dza ikut menimpali.
“Hmmm...” Suara Khai membuat ketiga member yang duduk di bangku belakangnya berhenti berbisik.
‘Ini semua salah Emira yang telah mengumpat ayah kak Khai’ Monolog Chan dengan lirih sampai tak terdengar oleh siapa pun.
...***...
Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛
Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻
Terima kasih 😘🤗🙏🏻