SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 26



***1 Minggu Kemudian***


Meski telah diizinkan pulang, namun Zhi belum diperbolehkan untuk mengikuti latihan seperti biasa. Saat member lain tengah berlatih, ia hanya melihat sembari menghafal lirik lagu yang baru ditulis oleh Khai.


Zhi menoleh saat seseorang menyodorkan obat beserta air mineral padanya.


“Sudah waktunya minum obat” Emira lantas duduk di samping Zhi.


“Terima kasih. Kau jadi seperti kakakku saja”


“Aku ingin tahu tentang kakakmu. Kau terlihat sangat menyayanginya”


“Dia yang paling menjagaku setelah ibu meninggal. Dulu, dia sering menolak ajakan teman-temannya untuk bermain karena tidak ingin meninggalkanku di rumah sendirian” Zhi menenggak obatnya sebelum kembali bercerita.


“Saat SUN belum menjadi sebesar ini dan banyak berita buruk tentang kami, dia memintaku untuk pulang. Di satu sisi aku masih ingin berjuang, namun di sisi lain aku sangat merasa lelah. Dia berkata tidak ingin belajar di Universitas dan ingin bekerja saja. Tapi, aku tahu jika dia hanya berbohong. Dia banyak mengorbankan waktunya untukku, itu sebabnya aku juga ingin melakukan hal yang sama” Zhi menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan.


“Aku jadi iri mendengarnya. Hubungan kalian pasti sangat harmonis” Emira tersenyum getir.


“Ya. Aku bersyukur karena memilikinya. Ketika menjadi bagian dari SUN, aku juga bersyukur karena memiliki kakak yang menjagaku” Ucap Zhi lirih.


Seorang anak yang di tinggal ibunya sejak kecil, dan ayahnya sibuk bekerja. Tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh, serta hidup pas-pasan. Pernah menjadi korban perundungan di sekolah, lalu mencoba mengadu nasib dengan mengorbankan masa remajanya. Anak itu kini telah tumbuh menjadi pemuda yang kuat, sukses, penuh kasih sayang, dan juga tampan.


“Kau sekarang sudah menjadi SUN yang bersinar terang. Bahkan, banyak orang tertolong karena sinar yang kau berikan”


Zhi hanya tersenyum mendengar penuturan Emira.


“Apa yang kalian ceritakan?” Chan menghampiri Emira dan Zhi, diikuti member lainnya.


“Itu rahasia kami” Jawab Zhi asal.


“Apa latihannya sudah selesai?” Tanya Emira.


“Ya. Aku sangat lapar” Chan memegang perutnya.


“Ini” Emira membagikan kotak nasi yang berisikan makanan empat sehat lima sempurna pada para member. “Tadi Pak Arsel yang membawakannya” Lanjutnya.


“Setelah ini, apa jadwal kami?” Tanya Dza.


“Ada wawancara singkat terkait iklan yang kalian bintangi. Hanya satu sampai dua jam, tidak akan lama” Ucap Emira.


“Bagaimana bisa, kau menyebutnya tidak lama?!” Tanya Khai.


“Bersabarlah sebentar, kak” Emira tersenyum, namun Khai mengabaikannya. Sudah seminggu ini, sikap Khai berubah. Meskipun biasanya ia juga bersikap dingin dan mudah marah, tapi untuk kali ini sikapnya benar-benar berbeda.


Ketika Emira sedang membagikan jus pada para member yang tengah makan, tiba-tiba tangannya merasa kebas karena dingin, dan tanpa sengaja menjatuhkan gelas yang berisi jus mangga saat hendak meletakkannya di samping kotak nasi milik Khai, sontak hal itu membuat Khai tersiram jus tersebut.


“Kau sengaja melakukannya?!” Teriakan Khai, membuat Emira merasa takut. Bahkan, member lain juga terkejut karena reaksinya yang berlebihan.


“Ma...maaf kak, aku tidak sengaja” Emira menundukkan kepala, tak berani menatap Khai.


“Biar aku bersihkan” Emira mengambil tissue, mencoba membersihkan baju Khai yang sudah basah.


“Jangan sentuh!”


Mata Emira mulai memanas karena bentakkan Khai.


“Dia sudah minta maaf, kenapa reaksimu berlebihan” Ucap Ez. Sementara, Khai hanya diam tak bergeming.


Khai lantas beranjak, meninggalkan Emira dan member lainnya.


“Sepertinya, kak Khai sedang ada masalah. Biasanya, dia tidak suka membentak orang lain seperti itu” Zhi menepuk pelan bahu Emira, mencoba menenangkannya.


Setelah selesai berlatih, para member SUN segera menuju lokasi syuting untuk melakukan wawancara iklan ponsel yang tengah mereka bintangi. Emira memainkan gawainya selagi menunggu para member. Matanya membola saat melihat komentar di media sosial mengenai SUN.


‘Benar-benar mengerikan!. Meskipun tidak menyukai, bukan berarti mereka bisa menulis hal jahat seperti ini!’ Oceh Emira saat melihat komentar negatif SUN di masa lalu. Ia sengaja mencari video saat awal SUN berkarir karena merasa penasaran.


‘Terkenal karena wajah, tidak memiliki bakat, laki-laki yang seperti perempuan karena bernyanyi sambil menari, seperti sampah yang mengotori televisi, tidak cocok menjadi artis, komentar macam apa ini?’ Emira menggelengkan kepala, tak habis pikir oleh komentar para pembenci SUN.


Ia diam sesaat, seperti tengah memperhatikan sesuatu. ‘Terkenal karena kekayaan dan kekuasaan ayah’ Emira segera membuka artikel tersebut, setelah membaca judulnya.


‘Apa mungkin, ini yang di maksud Pak Arsel waktu itu?. Jadi, kak Khai pernah merasa frustrasi karena berita-berita sampah seperti ini?. Kenapa artikel seperti ini banyak sekali?’ Gumam Emira saat melihat banyaknya artikel buruk tentang SUN, bahkan nama Khai ikut terseret karena ayahnya yang di anggap berpengaruh atas kesuksesan SUN.


Emira menghembuskan napas kasar, merasa kesal dengan berita-berita yang baru saja dibacanya. ‘Orang-orang hanya bisa berkomentar tanpa tahu bagaimana perjuangan SUN. Bahkan, perjuangan mereka tidak mudah. Zhi kehilangan ibunya sejak kecil dan berjuang keras demi membiayai kakaknya yang ingin kuliah, juga agar ayahnya berhenti bekerja. Kak Chan melawan trauma karena perceraian orang tuanya dan agar bisa kembali mempercayai orang lain. Kak Dza anak angkat yang berjuang agar bisa hidup mandiri, karena kakak-kakaknya membencinya. Kak Zal berusaha keras dengan belajar agar SUN mempunyai banyak prestasi dan tidak diremehkan. Kak Ez mempunyai masalah keluarga yang ia pendam sendirian, karena tidak ingin menyakiti siapa pun. Dan kak Khai, dia anak tunggal yang berkecukupan namun rela meninggalkan semua itu demi menemukan ibunya. Mereka berusaha keras melawan semua rasa takut, tapi orang-orang ini malah berkata negatif dan tidak melihat usaha mereka. Menyebalkan sekali!’ Emira memejamkan matanya, mencoba mengatur emosi yang kini memuncak.


“Kau sedang apa?”


Mendengar pertanyaan Chan, membuat Emira segera menyembunyikan ponselnya karena takut ketahuan jika sedang membaca komentar tentang SUN.


“Tidak. Apa wawancaranya sudah selesai?”


“Iya. Apa masih ada jadwal lain untuk kami?”


Emira menggelengkan kepala, "Kita bisa langsung pulang sekarang” Ia segera beranjak dari duduknya dan mulai membereskan barang-barang para member.


Setelah selesai, mereka langsung kembali ke SUN house.


***


Saat tiba di SUN house, Emira segera merapikan dan menyimpan barang-barang milik para member ke loker masing-masing.


“Mau menemaniku?”


Emira menoleh ke arah sumber suara, “Kemana?” Tanyanya pada Ez yang kini berdiri di sampingnya.


“Membeli cemilan. Mereka ingin bermain monopoli dan kartu, tapi tidak ada yang mau membeli cemilan”


“Baiklah” Emira segera mengunci loker, lalu menemani Ez ke supermarket.


Sementara mereka ke supermarket, kelima member lain tengah seru bermain monopoli.


“Kenapa kakak terus memperhatikanku?”


“Karena kau yang paling sering curang!” Dza kembali memukul bahu Chan, tapi kali ini Chan membalasnya. Bukannya marah, Dza malah tertawa.


Saat melempar dadu, Zal tidak sengaja melemparnya terlalu kuat hingga dadu itu hilang. Para member hanya menggelengkan kepala karena Zal sering bertindak ceroboh.


“Kau harus menemukannya!” Titah Khai.


“Padahal aku tidak melemparnya dengan kuat” Keluh Zal.


“Tidak kuat bagaimana?. Kakak melemparnya sepenuh tenaga” Ucap Zhi.


Chan dan Dza tertawa puas karena ketiga member kebingungan mencari dadu yang ternyata mereka sembunyikan.


“Sebenarnya, kau lempar ke mana?” Tanya Khai karena dadunya tak kunjung ditemukan, padahal mereka sudah mencari selama lima menit.


“Aku tidak tahu. Tadi, aku melemparnya dengan pelan” Zal menundukkan kepala, melihat ke arah bawah meja.


“Kakak melemparnya sangat kuat!” Protes Zhi.


“Kalian yang menyembunyikannya?” Khai menatap curiga pada Chan dan Dza.


“Cepat kembalikan!” Khai kembali bergeming.


“Kalian ini” Zal melempar bantal berwarna abu-abu yang diambilnya dari sofa pada Chan, tapi malah mengenai Khai.


“Lihat, kak Zal berani melempar bantal pada kak Khai” Chan tertawa puas, namun tawanya terhenti karena ia terpeleset kertas monopoli saat menghindari kejaran Zal. Sontak hal itu membuat member lain berbalik menertawakannya.


“Kami pulang” Sapaan Emira membuat mereka menoleh bersamaan.


“Kau membeli banyak cemilan?” Tanya Zhi antusias.


“Eum” Emira lantas mengeluarkan apa yang dibelinya dari dalam plastik berwarna putih.


“Kalian pergi bersama?” Tanya Chan sambil mengambil snack bertuliskan kacang panggang pada kemasannya.


“Iya” Emira tersenyum bak iklan pasta gigi.


“Kakak mau ke mana?” Tanya Zhi saat melihat Khai beranjak dari duduknya.


“Istirahat” Jawab Khai singkat.


“Kami masih akan bermain, kakak tidak ingin ikut?” Zhi kembali bertanya.


“Tidak. Aku lelah!”


“Kenapa dia tiba-tiba berubah seperti itu?” Dza menatap heran pada Khai yang kini telah hilang dari pandangan.


“Kau mau ke mana?” Tanya Emira saat Zhi hendak pergi.


“Minum obat” Jawab Zhi asal.


.


.


.


Zhi mengetuk pintu kamar Khai yang masih menyala, bertanda si empunya kamar masih terjaga.


“Kenapa kau berkeliaran dengan kaki yang belum sembuh?” Tanya Khai.


“Apa terjadi sesuatu?” Zhi bertanya tanpa basa-basi.


“Apa maksudnya?” Khai nampak bingung.


“Sikap kakak sangat aneh. Apa Emira melakukan kesalahan yang membuat kakak kesal?” Zhi menyipitkan matanya, seperti tengah menyelidiki sesuatu.


“Tidak. Kenapa menanyakan itu?”


“Kakak benar-benar marah hanya karena dia tidak sengaja menumpahkan jus mangga?”


“Tidak. Aku tidak marah padanya”


“Kakak tidak ingin tidur, tapi sengaja menghindarinya. Sebenarnya, apa yang telah dia lakukan sampai kakak terus bersikap dingin padanya?” Zhi menjeda kalimatnya, lalu kembali berkata, “Bersikap baiklah padanya. Selain kita, dia tidak punya keluarga di sini. Dia sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk kita. Aku benar-benar akan marah jika kakak tidak memperlakukannya dengan baik!” Ucap Zhi.


“Apa kau sedang mengancamku?”


“Iya. Aku sedang mengancam kakak!. Maka dari itu, dengarkan aku!”


“Kau berani mengancamku?”


“Entahlah, aku tidak perduli. Yang penting, aku tidak suka jika kakak bersikap terlalu dingin padanya. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri” Ucap Zhi, lalu pergi meninggalkan Khai yang masih terdiam di tempatnya. Bahkan, ia juga membanting pintu kamar Khai.


‘Bocah itu, beraninya dia membanting pintu di depanku!’


‘Akh, kepalaku jadi pusing. Aku jadi kesal saat melihatnya!. Bahkan, aku semakin kesal saat melihatnya tertawa seperti tadi. Kenapa perempuan sepertinya bisa membuatku kesal?!’ Gumam Khai pelan.


...***...


Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻


Terima kasih 😘🤗🙏🏻