SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 32



Emira menyusul Khai setelah napasnya kembali normal. Para member yang sedang berkumpul di ruang keluarga sembari menonton music video SUN menatapnya dengan heran.


“Kau kenapa?” Tanya Zal saat melihat Emira sempoyongan.


“Perutku mual karena kak Khai mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi” Keluh Emira.


“Kak Khai memang sering seperti itu. Aku juga pernah jadi korbannya” Chan menimpali.


“Iya...dia lebih banyak berpose dibandingkan berkendara dengan benar” Zhi ikut berkomentar.


“Kalian berdua mau ku tabrak dengan mobil?. Hah?!” Khai memukul Zhi dan Chan dengan bantal yang ada di sofa, sedang member lain tertawa melihatnya.


“Tapi, kenapa dengan penampilanmu?” Dza memperhatikan Emira.


“Ini karena...”


Emira melirik Khai, ia takut jika salah bicara dan membuat Khai kesal.


“Ada paparazzi yang mengikuti kami, aku muak dengan berita bohong yang nantinya akan tersebar jika mereka melihat dengan jelas wajah Emira. Jadi aku memintanya untuk memakai itu” Terang Khai. Ia nampak jengah karena masalah pribadinya kerap diberitakan dengan berlebih-lebihan.


“Bagus jika kau sudah memperhitungkan hal itu” Ucap Ez.


Khai menganggukkan kepala menyetujui.


“Makna lagunya dalam sekali, siapa yang menulis liriknya?” Tanya Emira yang sejak tadi memperhatikan setiap lirik lagu milik SUN dengan judul ‘Self’.


“Itu satu-satunya lagu yang liriknya kami tulis bersama. Ahh...aku jadi ingin menulis lagu bersama lagi”


Dza melirik ke arah Khai dan Ez, berharap kedua member tertua itu sependapat dengannya.


“Di album yang akan datang, ayo menulis lagu bersama lagi!”


Zhi juga melirik Khai, berharap mendapat respon positif.


“Baiklah, ayo lakukan!” Ucapan Ez sontak membuat para member tersenyum sumringah.


“Bagaimana kalian bisa mencintai diri sendiri?. Aku sangat sulit melakukannya. Meskipun sudah berusaha, tapi tetap sulit bagiku” Tanya Emira lirih.


“Awalnya, bagi kami juga tidak mudah. Saat awal menjadi boy group, kami banyak diremehkan sehingga membuat kami juga sering menyalahkan diri sendiri dan memaksa fisik kami untuk bekerja keras. Kami pikir, setelah menjadi terkenal akan lebih mudah. Ternyata tidak, kami masih mendapat tekanan karena sering dituntut untuk menjadi sempurna. Seolah kami dewa yang tidak akan pernah melakukan kesalahan. Hal itu membuat kami sadar, yang paling penting adalah menjaga diri kami sendiri.” Terang Zal.


“Sebaik apa pun yang kita lakukan, akan tetap ada orang yang mencelanya. Jadi, untuk apa mengikuti perkataan orang lain yang hanya akan menyulitkan diri sendiri” Ez ikut menimpali.


“Aku jadi merasa bersalah karena sering menyalahkan diri sendiri. Bahkan, aku pernah berpikir jika aku tidak terlahir di dunia, mungkin kehidupan keluargaku akan lebih baik”


Emira menundukkan kepala, ia sangat takut mengeluarkan air mata saat ini.


“Orang pertama yang harus kita cintai adalah diri kita sendiri” – Afzal –


“Meskipun melakukan kesalahan, tapi kamu tetaplah bagian dari dirimu. Jadi, belajarlah memaafkan dirimu sendiri” – Dzaka –


“Merasa lemah dan lelah itu wajar, tapi tidak untuk terluka. Karena dirimu terlalu berharga untuk merasakannya” – Khair –


“Yang paling merasa terluka atas dirimu adalah jiwamu sendiri, jadi jangan menyakitinya” – Ezhar –


“Kita tidak perlu menjadi seperti yang orang lain inginkan, cukup lakukan hal positif yang bisa membuatmu bahagia. Maka, duniamu akan tenang” – Chan –


“Mencintai orang lain tanpa mencintai diri sendiri adalah kebodohan yang nyata”–Zhian–


“Aku juga ingin bahagia, walaupun hanya di dunia kecil yang ku ciptakan sendiri” –Emira–


“Terima kasih karena telah menyadarkanku akan hal ini. Mulai sekarang, aku akan belajar memaafkan kesalahan yang pernah ku lakukan” Tutur Emira.


“Apa yang sedang kalian bicarakan?. Sepertinya sangat serius” Tanya Bu Tari yang datang membawa kudapan.


Wanita paruh baya itu meletakkan sepiring pangsit goreng di meja kayu berbentuk persegi panjang.


Zhi sigap memakan pangsit goreng kesukaannya, dan berkata “Pangsit goreng buatan ibu memang yang paling enak”


Ia lalu memeluk Bu Tari dengan penuh kasih karena sudah menganggap wanita paruh baya itu seperti ibunya sendiri.


Sejak awal Bu Tari bekerja bersama SUN, beliau memang paling perhatian pada Zhi. Hal itu dikarenakan Zhi sudah tidak mempunyai ibu dan usianya masih remaja saat menjadi bagian dari SUN, ia masih sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang seorang ibu.


‘Mereka benar-benar tumbuh dengan baik. Bisa menerima segala kekurangan diri sendiri, berdamai dengan keadaan yang sulit, memaafkan kesalahan orang-orang yang telah menyakiti, semua itu membuat mereka menjelma sebagai sosok yang kuat dan sulit untuk ditumbangkan’ Batin Emira.


Emira memperhatikan setiap wajah para member dengan lekat. Meskipun banyak luka di sana, namun tetap memancarkan sinar. Mungkin saja, sinar itu berasal dari hati yang lembut dan penuh kesabaran.


***


Bu Tari, Emira, serta keempat member telah lebih dulu beristirahat, meninggalkan Khai dan Ez yang masih berkutat dengan pekerjaannya di studio. Khai masih menulis lagu, sementara Ez harus membuat musik.


“Rasanya sudah lama sekali kita tidak seperti ini”


Ez memberikan sekaleng soft drink pada Khai.


“Benar. Sepertinya, aku terlalu sibuk dengan urusan pribadi. Maaf” Ucap Khai, lalu menenggak minumannya.


Ez berdecak, “Sejak kapan kau pandai meminta maaf?!” Tanyanya.


Bukannya menjawab, Khai malah tersenyum, lalu menoyor bahu Ez.


“Bagaimana dengan ibumu?. Apa sudah ada perkembangan?” Tanya Ez lagi.


Khai menarik napas dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan. “Masih seperti sebelumnya. Sebenarnya, aku sudah sangat lelah” Ujar Khai dengan lirih.


Ez memutar kursinya agar menghadap pada Khai, ia menepuk pelan pundak Khai. Mencoba memberikan kekuatan pada sahabatnya.


“Ibumu pasti bisa ditemukan. Aku juga sudah mengerahkan orangku agar ikut mencari” Ucap Ez.


“Terima kasih”


Khai memejamkan mata, sembari menghirup udara sebanyak yang ia bisa, lalu menghembuskannya perlahan.


“Apa sakitmu sudah membaik?” Tanya Khai.


“Hah...jangan tanyakan itu, kau membuatku merasa menjadi orang lemah!” Jawab Ez.


Khai menggelengkan kepala, ia tahu jika Ez keras kepala seperti dirinya.


“Meskipun tidak lagi kambuh, tapi kau tetap harus memeriksanya. Bukankah, kau masih harus menjalani operasi sekali lagi?” Khai kembali bertanya.


“Eum, aku akan melakukannya setelah konser. Jangan terang-terangan menunjukkan perhatian seperti itu, aku jadi merasa mual”


“Kau yang lebih dulu melakukannya!” Elak Khai.


Mereka tersenyum bersama. Meskipun jarang menunjukkan kedekatan satu sama lain, tapi hubungan mereka sangat baik. Sejak awal bergabung dengan SUN, Khai dan Ez adalah teman sekamar. Saat itu, mereka belum memiliki SUN house. Asrama mereka juga tidak terlalu luas, hanya ada tiga kamar yang mana masing-masing kamar di tempati oleh dua member.


Pak Arsel menempatkan mereka di kamar yang sama karena mereka seumuran, sehingga lebih nyaman untuk bicara. Pada dasarnya, mereka memiliki karakter yang sama. Sama-sama dewasa dalam berpikir. Hanya saja, terkadang Khai bersikap seperti bocah, hal itu di karenakan ia adalah anak tunggal dan tidak biasa berbagi. Berbeda dengan Ez, walaupun anak bungsu namun tetap bisa besikap mengalah. Meski demikian, mereka bisa menjaga adik-adiknya dengan baik.


...***...


Happy Reading... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻


Terima kasih 😘🤗🙏🏻