SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 10



“Wah...tim kita sangat sempurna” Ujar Pak Arsel.


“Kalian akan masuk ke dalam wahana misteri yang telah kami siapkan, di dalam wahana misteri ada hantu dan zombie yang akan mengganggu kalian. Tugas kalian hanya bertahan sampai akhir dan keluar dari wahana misteri. Yang pertama keluar akan mendapatkan hadiah. Wahana misteri itu ada di aula” Pak Sugara menjelaskan.


“Kapan Anda menyiapkan ini semua?” Tanya Zal yang nampak penasaran.


“Kami sudah mengaturnya sejak tadi malam” Jawab Pak Arsel.


“Jadi, Anda juga tahu?”


“Tentu saja” Pak Arsel tersenyum puas.


“Sebaiknya, sekarang kita mulai permainannya” Titah Pak Sugara.


“Jika kami bermain, lalu apa yang akan Anda lakukan?”


“Tentu aku menjadi jurinya, memangnya apa lagi?. Sebaiknya, sekarang kita mulai permainan” Pak Sugara mengibaskan tangan agar Zhi segera bergabung bersama timnya.


Ketika mereka memasuki aula, suasana horor sudah terasa. Pak Sugara, benar-benar telah membuat aula seperti wahana misteri sungguhan.


“Wah...ini sangat menarik. Seperti sedang bermain film horor saja” Ungkap Emira yang membuat para member SUN mengernyitkan kening.


“Kau ini benar-benar aneh. Perempuan biasanya akan merasa takut jika berada di tempat seperti ini, kenapa kau malah kegirangan?” Tanya Dza.


“Meskipun menegangkan, tapi ini sangat seru” Lagi-lagi Emira kegirangan.


Para member SUN hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Emira. Ketiga kelompok itu kini tengah berada di dalam wahana misteri, keadaan yang tenang tiba-tiba berubah rusuh saat Dza terus menjerit karena gangguang para zombie.


“Kenapa kakak terus berteriak?” Tanya Zhi.


“Apa kakak takut?” Chan juga ikut bertanya.


“Apa yang kau takutkan?. Mereka semua masih manusia seperti kita” Khai ikut bersuara.


Mendapat serangan dari para member, membuat Dza tidak tinggal diam, “Aku hanya kaget, bukannya takut”


“Bahkan Emira sangat tenang sejak tadi” Ucap Zal.


“Sudah ku katakan, aku terkejut karena mereka datang tiba-tiba” Dza kembali membela diri.


“Sudah, jangan ribut lagi. Lebih baik, sekarang kita berpencar sesuai tim masing-masing” Titah Pak Arsel agar mereka segera menghentikan perdebatan.


Mereka pun berpencar sesuai tim, Pak Arsel dan timnya berbelok ke arah kanan, tim Pak Alan ke arah kiri, dan tim Ez memilih jalan bagian tengah.


“Harusnya, aku satu tim dengan kak Khai atau kak Ez saja” Gerutu Zhi yang sejak tadi tanganya digandeng oleh Chan.


“Apa maksudmu?. Kau keberatan karena aku menggandeng tanganmu?”


“Bukan begitu, tapi tangan kakak berkeringat. Rasanya jadi tidak nyaman”


“Apa kau setakut itu?” Tanya Pak Alan pada Chan.


“Tidak. Kenapa kalian berpikir aku takut?. Zombie dan hantu itu selalu muncul tiba-tiba. Bukankah kalian sudah tahu, jika aku mudah terkejut” Chan melakukan pembelaan seperti yang Dza lakukan. Zhi dan Pak Alan hanya menganggukkan kepala menanggapinya.


Di tempat lain, Ez kerepotan karena Zal dan Dza terus memegang tangannya. Dua orang itu seperti anak yang ingin menyeberang jalan bersama ibunya.


“Bisakah kalian melepaskan tanganku?” Tanya Ez.


“Kenapa kami harus melakukannya?. Bukankah, kakak harus melindungi adiknya” Jawab Dza dengan santai.


“Lenganmu lebih besar dariku” Ez menepuk lengan Zal “Tinggimu juga sama denganku” Ez membandingkan tingginya yang sepantar dengan Dza “Dengan postur seperti ini, mana pantas kalian minta perlindungan” Terang Ez, lalu berjalan mendahului Zal dan Dza.


“Kak...” Panggil Zal dan Dza bersamaan, lalu mempercepat langkah menyusul Ez.


Sementara itu, tim Pak Arsel nampak tenang. Bahkan, mereka tidak mengobrol sama sekali.


“Kalian ini, kenapa diam saja?. Ayo, katakan sesuatu”


“Apa yang ingin Anda dengar dari kami?”


Pak Arsel menarik napas berat mendengar pertanyaan Emira “Sudahlah, lupakan saja” Jawabnya.


“Kita harus menemukan kuncinya, supaya bisa cepat keluar dari tempat ini” Ujar Khai.


“Astaga!!!. Kenapa kau mengagetkan?” Tanya Khai pada zombie yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Bukannya takut, Khai malah memukul pundak zombie tersebut. Bahkan, Emira juga ikut memukulnya.


“Hah, aku jadi menyesal telah satu tim dengan kedua orang itu” Gerutu Pak Arsel.


“Sepertinya, tapi apa maksudnya ini?” Khai memperlihatkan potongan kertas itu.


Emira nampak mengamati angka yang mirip seperti rumus aljabar. Sesaat kemudian, senyumnya mengembang penuh makna.


“Dari mana kau bisa tahu?” Pak Arsel penasaran karena jawaban Emira bisa tepat.


“Saya sering melihatnya di film mafia, bahkan ini sangat mudah” Jawab Emira bangga.


“Berhenti menyombongkan diri, kita harus mencari petunjuk lainnya” Khai berjalan mendahului Emira dan Pak Arsel.


“Jangan dengarkan dia, kau sangat keren” Ujar Pak Arsel, lalu menyusul Khai.


“Kata-katanya memuji, tapi ekspresinya tidak. Seharusnya, mereka senang mempunyai tim sepertiku” Gerutu Emira lalu berjalan menyusul kedua rekannya.


30 menit kemudian...


Tim Pak Arsel berhasil menyelesaikan permainan dan keluar dari wahana misteri. Tentu saja tim Pak Arsel menjadi pemenangnya.Waktu mereka menyelesaikan permainan cukup cepat, mengingat tim Ez dan Pak Alan belum memberi tanda-tanda akan menyusul.


Setelah 20 menit berlalu sejak tim Pak Arsel menyelesaikan permainan, akhirnya tim Ez menyusul. Tidak selang lama, tim Pak Alan juga menyusul.


“Aku kira tim kita yang paling cepat, ternyata tim Pak Arsel telah lebih dulu” Celoteh Zhi.


“Kalian lama sekali, kami bahkan sudah menghabiskan secangkir kopi dan memakan snack” Mendengar perkataan Pak Arsel, Zhi langsung berlari menghampiri Emira yang tengah menikmati snack dengan santai.


Emira ingin menyembunyikan snacknya, namun terlambat. Zhi telah lebih dulu melihat dan mengambilnya. Mereka memperebutkan snack, hingga membuat Khai bergeming.


“Kenapa kalian selalu memperebutkan makanan?. Apa kalian kurang makan?”


Mendengar ucapan tajam Khai, membuat Zhi dan Emira terdiam.


“Rupanya, kedua anak bungsuku sudah sangat dekat, ya” Bukannya marah, Pak Arsel malah tersenyum.


“Snacknya masih banyak, kenapa kalian berebut?” Chan ikut bersuara.


“Mereka bukan merebutkan snacknya, tapi begitulah cara saudara saling berbagi” Ucapan Pak Arsel membuat hati Emira terenyuh.


Ketulusan Pak Arsel layaknya seorang ayah, para member SUN sudah seperti kakak yang siap melindungi adiknya, Pak Sugara dan Pak Alan yang jarang bicara sekalipun, juga memperlakukannya dengan baik, dan Bu Tari seperti ibu yang selalu memperhatikannya. Kehangatan keluarga yang telah lama Emira rindukan, kini hadir kembali. Tanpa terasa, mata Emira memanas dan mulai berkaca-kaca.


“Kau membuatnya menangis” Ucap Chan yang mengira bahwa Emira akan menangis sungguhan.


“Kau sungguh menangis?” Zhi menatap Emira.


“Tentu saja, aku hampir menangis karena kesal” Emira sengaja menjahili Zhi, dan hal itu ternyata berhasil membuat Zhi merasa bersalah.


“Maaf” Ucap Zhi menyesal.


“Aku hanya bercanda, kenapa kau serius begitu?” Emira tertawa melihat ekspresi Zhi yang lucu.


“Kau ini” Zhi bersiap hendak menjitak kening Emira namun dihalangi oleh Ez.


“Bukankah sudah ku katakan, jangan bersikap kasar pada perempuan” Ez berbalik menjitak kening Zhi.


“Akh...” Zhi mengusap keningnya.


“Anak-anak kemarilah!" Ucapan Pak Sugara mengalihkan perhatian.


“Permainan sudah selesai. Dan aku rasa tidak perlu memberitahu pemenangnya, karena kalian sudah tahu. Selamat kepada tim Pak Arsel” Ucap Pak Sugara dengan memberikan 3 tiket yang bisa digunakan untuk bermain ke dunia fantasi, makan di hotel berbintang, dan juga pijat refleksi.


“Seharusnya, kami juga berhak mendapatkan tiket itu. Bukankah ini untuk perayaan atas pencapaian SUN” Protes Zhi.


“Benar. Jika begini, rasanya tidak adil” Chan juga mengajukan protes.


“Kalian harus sportif dalam permainan” Sanggah Pak Arsel.


“Tetap saja...” Belum selesai Zhi melanjutkan kalimatnya, Pak Sugara lebih dulu menjelaskan, “Kita akan mengadakan pesta makan besar dan juga membakar daging sapi. Bukankah itu kesukaanmu?”


Zhi menganggukan kepala tanda menyetujui usulan Pak Sugara, meskipun raut wajahnya nampak kecewa.


...***...


Happy Reading.... semoga readers suka sama ceritanya 🖤❤🧡💙💜💛


Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote dan beri hadiah 😁🙏🏻


Terima kasih 😘🤗🙏🏻