
***SUN House***
Kelima member menyambut kedatangan Emira dengan antusias. Bahkan, mereka telah menunggu sejak pagi. Saat Emira turun dari mobil, Zhi dan Chan langsung berlari dan hendak memeluknya kalau saja tidak dihalangi oleh Khai.
Zhi dan Chan menepuk lengan Khai yang tengah menarik baju mereka, “Lepaskan!” Ujar keduanya dengan kompak.
“Bersikaplah yang sopan” Jawab Khai sebelum melepaskan keduanya.
Dengan kesal, Zhi berkata “Kakak ini kenapa?!. Aneh sekali”
“Kalian apa kabar?” Pertanyaan Emira mengalihkan perhatian para member.
“Kami tidak bisa tidur dengan nyenyak karena kau tinggalkan” Jawab Dza sambil memasang ekspresi sedih.
Emira tertawa melihatnya, “Maafkan aku” Ujarnya.
Ez menarik lengan Emira sambil berkata, “Ayo, masuk. Kau pasti lelah”
Tak hanya Ez, tapi keempat member juga ikut menggandeng tangan Emira. Sontak saja, hal itu membuat Khai geram. Namun, kelima member tidak memperdulikan dan melenggang dengan santai dari hadapannya.
.
.
.
Mata Emira berbinar melihat ruangan yang biasa digunakan untuk menonton TV berubah menjadi taman bunga. Berbagai makanan juga berjejer rapi di atas meja berbentuk persegi. Bagian dindingnya tertempel ucapan selamat datang dari balon berwarna emas.
“Kami sengaja menyiapkan ini untuk menyambutmu” Ujar Zhi sambil menepuk pundak Emira.
Emira tersenyum sumringah, “Terima kasih” Ucapnya.
Emira menyentuh salah satu bunga mawar yang berwarna merah muda, “Ini bunga sungguhan?. Harum sekali” Ujar Emira sambil mencium bunga tersebut.
Sambil menarik kursi, Zal mempersilakan Emira untuk duduk, “Ayo, makan. Kau pasti sudah lapar karena perjalanan jauh”
Emira menuruti perkataan Zal dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
“Tunggu...” Khai yang berada di ambang pintu berjalan mendekat.
“Ada yang ingin aku sampaikan, tapi kita tunggu dulu Pak Arsel dan Pak Sugara” Ujar Khai lagi, tapi para member tidak meresponnya.
“Kenapa kalian mengabaikanku?!” Tanya Khai.
Chan menghela napas, “Jika masih akan menunggu mereka, lebih baik kita makan saja dulu. Emira juga sudah lapar” Ujar Chan dan keempat member menganggukkan kepala menyetujui.
Khai makin kesal mendapat perlakuan seperti itu, sedangkan Emira malah tersenyum melihatnya.
20 menit kemudian, Pak Sugara datang bersama Pak Arsel. Dengan penuh semangat, Pak Arsel berjalan menghampiri Emira dan hendak memeluknya. Namun segera dicegah oleh Khai.
“Astaga... anak ini, mengagetkan saja!” Ujar Pak Arsel sambil menepuk lengan Khai yang kini tengah melingkar di pundaknya.
Sementara Khai malah tersenyum lebar seolah tak memiliki dosa.
Khai menepukkan kedua telapak tangannya, meminta perhatian dari semua yang ada di ruangan itu, “Karena kita sudah berkumpul, aku akan memberitahu informasi yang sangat penting” Ujarnya.
Khai menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum berkata dengan yakin, “Aku dan Emira akan menikah”
Pak Sugara terbatuk mendengar pernyataan Khai. Sementara, Pak Arsel tersedak sosis yang tengah dimakannya. Kelima member juga terkejut, dengan kompak menoleh ke arah Khai lalu berbalik ke arah Emira.
Sambil menunjuk Khai, Pak Sugara bertanya pada Emira, “Apa kau mendapat paksaan darinya?”
“Yang benar saja?!. Bocah ini keterlaluan sekali!!!. Kau hampir membuatku meninggal mendadak karena tersedak!” Oceh Pak Arsel.
“Apa kak Khai mengancammu?!” Tanya Zhi pada Emira.
“Kakak sedang bercanda, kan?!” Dza ikut bersuara.
Chan tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “Kakak pintar sekali membual”
Melihat tatapan tajam dari Khai, membuat mereka diam seketika.
“Aku tidak bercanda. Tanyakan saja pada Emira” Ujar Khai lagi.
Dengan kompak, mereka semua menoleh pada Emira.
Emira hanya menganggukkan kepala menanggapinya. Khai tersenyum puas melihat wajah masam para member, Pak Sugara, serta Pak Arsel.
Pak Sugara mengurut pelipisnya sembari berkata, “Bocah ini!. Kami mengizinkan berkencan, kenapa kau malah mau menikah?”
“Bagaimana cara menjelaskannya pada ‘My Spring’?” Tanya Pak Sugara lagi.
“Akh! Kepalaku tiba-tiba pusing. Kalian benar-benar sudah yakin?” Tanya Pak Arsel pada Emira dan Khai.
“Ini bukan pernikahan bisnis, kan?” Chan juga ikut bertanya.
Khai melotot mendengar pertanyaan Chan, “Hah, kau bercanda?!. Aku sudah kaya, untuk apa lagi melakukan pernikahan bisnis?!” Khai balik bertanya pada Chan.
“Kami benar-benar akan menikah, kenapa kalian tidak percaya?!. Dan juga... aku sudah dewasa, mau sampai kapan menunda pernikahan?!” Khai kembali bersuara.
“Pernikahan bukan hal yang bisa kalian jadikan candaan, apa lagi untuk percobaan. Menyatukan dua kepala dalam satu rumah, bukan hal mudah. Kalian harus memikirkannya dengan matang. Aku mengatakan ini bukan karena kalian idol, dan bukan karena aku seorang CEO. Aku sungguh-sungguh perduli pada kalian” Ujar Pak Sugara dengan serius.
Dengan yakin, Khai berkata, “Aku tidak mungkin mengatakan ini sebelum memikirkannya lebih dulu”
“Lalu, bagaimana denganmu?” Tanya Pak Sugara pada Emira.
Tak hanya Pak Sugara, tapi semua yang ada di sana juga ingin mendengar jawaban Emira.
Emira menjadi gugup karena menjadi pusat perhatian. Berulang kali, ia menghembuskan napas lalu akhirnya berkata, “Saat tahu tentang latar belakang kak Khai, saya menjadi sadar jika dia seorang yang berhati besar. Dia rela menjalani hidup yang sulit di saat orang tuanya berkecukupan. Meskipun, sering mengomel dan bersikap dingin tapi dia sangat perhatian dan selalu berusaha melindungi member lain. Dia rela menjadi dua orang yang berbeda demi menjalin hubungan baik dengan para penggemarnya. Saya juga tidak tahu bagaimana awalnya, hanya saja... ketika bersamanya, saya merasa tenang”
Wajah Emira memerah karena malu, namun hal itu justru terlihat lucu di mata Khai.
Khai merentangkan kedua tangan hendak memeluk Emira. Tapi, Pak Arsel langsung menepisnya. “Anak ini... beraninya kau menyentuh Emira di depanku!” Ujarnya.
Khai meringis sambil mengusap tangannya yang memerah karena pukulan Pak Arsel cukup kuat. “Anda kejam sekali” Umpat Khai. Sedangkan, kelima member malah tertawa melihatnya.
.
.
.
Ez meletakkan secangkir teh hangat pada meja berwarna putih yang terbuat dari kayu.
“Ini” Ujarnya kemudian.
Emira menoleh, “Terima kasih” Jawabnya.
Ez berdecak, lalu berkata “Sekarang, mengajakmu bicara sangat susah. Aku harus menunggu bocah itu tidur dulu baru bisa menemuimu”
Emira tersenyum, lalu berbisik pada Ez, “Terkadang, dia memang menyebalkan”
Ez hanya tersenyum menanggapi ucapan Emira. “Sebenarnya, aku kecewa dengan keputusanmu. Tapi, karena aku pernah berkata di depan ‘My Spring’ tidak akan terlibat percintaan dengan sahabatku, jadi aku harus membuktikannya sekarang” Terang Ez setelah beberapa saat terdiam.
“Apa yang mengganggu pikiranmu?” Tanya Ez kemudian.
Emira menoleh, lalu tersenyum pada Ez, “Wahhh... kakak memang yang paling peka”. Emira menarik napas sebelum menjelaskan, “Sejujurnya, aku merasa bingung. Kak Khai akan merahasiakan hubungan kami jika aku takut, tapi dia lebih senang jika mengumumkannya pada media. Aku tidak mau terus disembunyikan, tapi aku juga takut jika kemunculanku akan mempengaruhi karir SUN. Karena kalian adalah satu, jika kak Khai mendapat masalah, tentu saja kalian akan terkena dampaknya juga. Aku benar-benar egois, kan?”
“Aku rasa, semua orang juga tidak mau terus disembunyikan oleh pasangannya. Kau tenang saja, percayalah pada Khai. Semua akan baik-baik saja, kami juga akan selalu mendukungmu. Lakukan sesuai kata hatimu, kakak ipar” Ujar Ez sambil mengusap pucuk kepala Emira.
Mata Emira membola mendengar Ez memanggilnya kakak ipar, wajahnya juga memerah karena malu. Lalu, ia ikut tertawa saat melihat Ez yang menertawakannya.
***
Khai memarkirkan mobilnya dengan sempurna. Tak lupa, ia juga membukakan pintu mobil dan mempersilan Emira untuk turun.
“Rasanya aneh jika kakak bersikap seperti ini” Protes Emira, namun Khai tidak mengindahkannya.
“Ayo, masuk” Ujar Khai sambil tersenyum sumringah.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di ruangan yang sudah tidak asing lagi bagi keduanya. Setelah mendapat izin, Emira dan Khai segera masuk ke ruangan tersebut.
“Aku senang sekali kalian datang bersama tanpa ku minta” Ujar lelaki paruh baya yang kini duduk di hadapan Emira dan Khai.
Khai mengatur napas, mencoba menghilangkan rasa gugupnya. “Kami akan menikah. Apa Anda merestui?. Ahhh tidak... tolong restui kami” Ujar Khai dengan tegas.
Lelaki paruh baya itu tersenyum, “Kau sangat mirip denganku, tidak suka basa-basi dan penuh percaya diri”
Mendengar pengakuan lelaki paruh baya itu, batin Emira bermonolog, ‘Ternyata sifat percaya dirinya adalah warisan, pantas saja sulit dihilangkan’
“Aku sudah menduga sejak awal bertemu dengan Emira. Aku tentu merestui kalian”
“Maaf... tapi, saya berasal dari keluarga sederhana. Ayah dan ibu saya hanya pedagang, apa Anda tidak malu nantinya?” Tanya Emira dengan hati-hati.
Lelaki paruh baya itu tersenyum mendengar pertanyaan Emira, “Kenapa aku harus malu?. Apa berdagang adalah tindakan kriminal?. Istriku juga berasal dari kalangan biasa, tapi kedua orang tuaku bisa menerimanya dengan baik. Mungkin, banyak yang salah sangka padaku, tapi aku bukanlah orang yang menilai orang lain hanya dari fisik atau harta. Aku lebih senang menilai orang dari hatinya. Itulah yang menjadi alasanku menikahi ibunya Khai dan menerimamu sebagai menantu” Terang lelaki paruh baya itu.
Mata Emira berkaca-kaca mendengarnya, “Terima kasih” Ucapnya dengan lirih.
“Hah... akhirnya, tanda-tanda aku akan memiliki cucu muncul juga” Ujar ayahnya Khai dengan santai.
Wajah Khai memerah mendengar perkataan ayahnya, sedang Emira menjadi salah tingkah.
Lelaki paruh baya itu tertawa, lalu berkata “Aku terlalu terus terang, ya?. Maaf maaf... aku jadi membuat kalian malu”
“Tapi... kapan kalian akan menikah?”
“Kenapa jadi ayah yang terburu-buru begini?” Bukannya menjawab pertanyaan ayahnya, Khai malah balik bertanya.
“Aku sudah tidak sabar menjadi kakek” Jawab lelaki paruh baya itu sambil tersenyum sumringah.
“Hmmm... jangan membuat Emira menjadi tidak nyaman dengan perkataan ayah”
Dengan tatapan polos, lelaki paruh baya itu bertanya pada Emira, “Apa aku membuatmu tidak nyaman?”
Emira menggelengkan kepala sambil tersenyum canggung “Tidak... saya baik-baik saja” Jawabnya.
“Kau lihat, kan?” Ujar lelaki paruh baya itu pada Khai. Setelah diam beberapa saat, ia kembali bergeming, “Ayah sarankan, kalian segeralah menikah. Tapi... bagaimana dengan penggemarmu?”
“Mereka sudah tidak keberatan jika kami memiliki pasangan, tapi karena Emira masih takut soal itu, jadi... kami berniat merahasiakannya untuk sementara waktu”
“SUN akan konser bulan depan, jadi aku akan fokus mempersiapkannya lebih dulu. Setelah itu, kami baru akan membicarakan soal pernikahan” Terang Khai lagi.
Lelaki paruh baya itu beranjak dari duduknya dan mendekat pada Khai, lalu memeluk putra semata wayangnya dengan penuh kasih, “Kau sudah dewasa sekarang, ayah bangga padamu” Ujar lelaki paruh baya itu disela tangisnya.
Dengan mata yang masih sembab, lelaki paruh baya itu berkata, “Terima kasih, telah menerima putraku apa adanya” Ujarnya sambil mengusap lembut pucuk kepala Emira.
...***...
Happy reading... semoga readers suka ya 💜🖤🧡💙❤💛
Jangan lupa suka, komentar, favorit, vote, dan beri hadiah😁🙏🏻
Terima kasih atas dukungannya😘🤗🙏🏻