SUN (My Spring)

SUN (My Spring)
SUN 17



Seperti hari-hari biasanya, pagi ini pun keadaan di SUN house sangat ricuh. Beberapa staf terlihat sibuk mempersiapkan properti yang akan dibawa untuk syuting ke luar kota.


“Em, di mana topiku?” Tanya Dza pada Emira yang tengah menyusun pakaian para member ke dalam koper.


“Ada di meja ruang keluarga”


Dza melenggang menuju ruang keluarga, meninggalkan Emira yang masih sibuk dengan kopernya.


“Di mana, Em? Di sini tidak ada!” Dza berteriak agar terdengar oleh Emira yang kini ada di fitting room.


“Tunggu sebentar, akan aku carikan” Emira hendak meninggalkan fitting room, namun dihalangi oleh Zhi.


“Apa kau melihat jaketku?” Tanya Zhi.


“Itu” Emira menunjuk jaket di dalam lemari gantung yang terbuat dari kaca.


“Emira...!!!” Teriakan Zal membuat Emira segera menemuinya.


“Kenapa kak?” Tanya Emira panik.


“Bantu aku mencari jam tangan. Aku sudah mencarinya tapi tidak ketemu” Ucap Zal dengan santainya.


‘Dia berteriak seperti akan dilempar ke jurang, hanya untuk mencari jam tangan?’ Gerutu Emira, namun tetap membantu Zal mencari jam tangannya.


“Emira....” Kali ini teriakan berasal dari kamar Chan.


“Iya...aku datang” Emira segera menemui Chan, setelah menemukan jam tangan Zal yang ternyata sudah ia masukkan ke dalam tas.


“Ada apa?” Tanya Emira yang kini ada di ambang pintu kamar Chan.


“Di mana kemejaku?”


Emira berjalan menuju lemari, mencari kemeja diantara tumpukan baju yang kini sangat berantakan.


“Shampoo ku habis” Suara Khai membuat Emira dan Chan menoleh bersamaan.


“Kenapa malah ke sini?” Tanya Chan.


“Bantu aku ambilkan shampoo” Khai melirik Emira yang tidak bergeming.


“Dia sedang mencarikan kemejaku, kakak ambil saja sendiri” Protes Chan.


“Kalau begitu, kau saja yang mengambilnya!” Titah Khai pada Chan.


“Tidak mau, aku masih harus membereskan ini!” Chan menunjuk barang-barang yang akan dibawanya syuting.


“Bisa membantuku sebentar?” Tanya Ez yang kini ada di depan pintu kamar Chan.


“TIDAK!!!” Jawab Khai dan Chan bersamaan.


“Tapi, aku butuh bantuannya!” Ez menunjuk Emira yang masih berdiri di depan lemari dengan ukuran tidak begitu besar, namun sangat padat oleh tumpukan baju.


“Aku juga!” Jawab Khai.


“Aku lebih butuh” Chan tak mau kalah.


“Emira...bantu aku mencari ponsel. Aku lupa me...” Kalimat Zal menggantung saat melihat tatapan mengintimidasi para member lainnya.


“Cari sendiri saja!. Dia masih akan membantuku” Ujar Khai pada Zal.


“Aku juga butuh bantuannya” Ez ikut bergeming.


“Kenapa kalian tidak membelah tubuhku menjadi enam saja?!” Protes Emira kesal, sementara Khai, Ez, Zal, dan Chan hanya diam tak bergeming.


“Emira...” Zhi bingung dengan suasana di kamar Chan yang menegangkan “Kenapa kalian menatapku? Aku hanya ingin mengajaknya sarapan”


“Aku tidak lapar, kau makan saja duluan!” Jawab Emira, lalu kembali mecari kemeja milik Chan.


Zhi yang tidak tahu apa-apa, hanya mengangguk-anggukkan kepala. Bukannya sarapan, ia malah mengikuti member lain menunggu Emira mencari kemeja.


Setelah menemukan kemeja milik Chan, Emira mengambilkan shampoo untuk Khai, lalu membantu Ez mencari kaus kaki, dan membantu Zal mencari ponselnya. Meskipun mempunyai postur yang tinggi dan tegap, namun mereka masih seperti bocah yang semua keperluannya harus disiapkan. Emira sudah seperti babysitter yang merawat enam bayi. Diantara keenam member, Zal yang paling ceroboh dan pelupa. Sehingga membuat Emira selalu memperingati dan memeriksa kembali tas miliknya sebelum ke lokasi syuting.


“Apa kakak sudah menemukan topinya?” Emira menghampiri Dza.


“Tentu saja. Kau sangat lambat, aku jadi mencarinya sendiri” Jawab Dza dengan santai.


‘Sangat lambat dia bilang?. Apa dia tidak tahu, jika kelima rekannya sangat merepotkan?!. Bahkan, saat di sini banyak staf lain, mereka hanya memanggil namaku!!!. Benar-benar membuat stres saja’ Gerutu Emira lirih.


***


Setelah empat jam perjalanan, SUN dan para staf sampai di lokasi. Mereka tiba pada sore hari. Karena syuting besok bertema liburan, jadi mereka sengaja memilih desa yang tidak begitu jauh dari kota namun masih asri.


“Meskipun punya waktu bebas, bukan berarti kalian bisa tidur larut malam. Syuting besok dimulai jam enam pagi. Kalian tidak boleh terlambat bangun!” Pak Sugara memperingatkan para member dan juga staf yang terlibat dalam proses syuting.


“Tolong, kau awasi mereka agar tidur tepat waktu” Pak Sugara sedikit berbisik pada Emira.


“Baik, saya mengerti”


“Terima kasih. Aku akan ke dalam untuk istirahat” Setelah memberikan pengarahan, pak Sugara masuk ke dalam villa untuk beristirahat. Meninggalkan SUN, Emira, dan beberapa staf yang masih sibuk mengatur posisi properti untuk besok.


Karena masih memiliki waktu luang, Emira memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar villa sembari menikmati suasana matahari yang hampir terbenam. Mata Emira membola saat melihat kebun bunga yang ada di samping villa. Ia yang sangat menyukai bunga, tak bisa melepaskan pandangannya. Bahkan, ia tak sadar jika para member SUN kini tengah berdiri di sampingnya.


“Kenapa kau sangat menyukai bunga?” Pertanyaan Khai membuat Emira tersadar.


“Karena sangat indah. Setiap melihat bunga bermekaran, rasanya seperti melihat harapan baru” Jawab Emira, matanya masih mengamati bunga-bunga yang ada di hadapannya.


“Sepertinya, kau sangat menyukainya. Bahkan, kau mengubah kebun yang ada di belakang SUN house menjadi taman bunga” Ucap Chan yang kini tengah mengamati bunga mawar berwarna putih.


“Mana yang lebih kau sukai, bunga atau SUN?” Tanya Zhi.


“Pertanyaan macam apa itu?. Tentu aku tidak bisa memilih, itu dua hal yang berbeda makna” Protes Emira.


“Bunga mempunyai keistimewaan tersendiri. Setiap jenis dan warnanya, bisa mewakili perasaan seseorang. Apa kalian tahu, keistimewaan bunga di musim semi?” Tanya Emira, sedang para member hanya menggelengkan kepala. Mereka bukanlah laki-laki yang paham tentang bunga. Bahkan setiap mendapat bunga dari 'My Spring', mereka hanya menerimanya tanpa tahu makna dari bunga tersebut.


“Musim semi berarti awal yang baru, seperti halnya pohon-pohon yang tumbuh dan berbunga. Bunga di musim semi lebih berwarna dan indah dari biasanya, dari bunga yang bermekaran itu, burung-burung akan berkicau riang. Mereka menghirup harapan juga menebarkan sinyal-sinyal kehidupan. Itu lah kenapa, bunga di musim semi lebih istimewa dibandingkan bunga di musim lainnya.” Terang Emira.


“Dan matahari akan selalu memberikan sinarnya untuk bunga itu agar tetap bermekaran. Tidak perduli musim apa pun, SUN tetap akan memberikan sinarnya” Ucap Khai lirih, namun masih terdengar jelas oleh Emira yang berdiri di sampingnya. Ia menoleh, menatap Khai yang kini terlihat bercahaya karena terkena pantulan sinar matahari yang hampir tenggelam.


“Jika melihatku seperti itu, hanya dalam lima menit kau akan langsung tertarik!” Ucap Khai dengan senyum percaya diri, lalu meninggalkan Emira yang masih terdiam di tempatnya.


‘Apa dia terlahir dengan tingkat kepercayaan diri di atas rata-rata?!’ Monolog Emira, lalu melenggang menyusul Khai dan para member yang telah lebih dulu berjalan di depannya.


...***...


Khai sadar kalo dia terlahir ganteng, makanya pede banget😎😂