
.
.
Kemudian putri Xia Yue langsung mengunakan kedua tangannya untuk melepaskan pegangan tangan tuan muda Fei Hung , setelah terlepas kemudian Patriak Xia Leitian menyapa tuan muda Fei Hung.
'' Tuan muda Fei Hung.... aku ingin berbicara empat mata denganmu....''
'' Iya Patriak Leitian...''
'' Ayo sekarang ikutlah denganku....''
Kemudian tuan muda Fei Hung langsung keluar dari sana mengikuti Patriak Xia Leitian di belakangnya.
Sedangkan nona Xia Xian langsung menghampiri putri Xia Yue setelah tuan muda Fei Hung keluar dari sana .
'' Maafkan aku saudara Xian , itu tadi tidak seperti yang kau lihat...''
Kemudian nona Xia Xian langsung menampar pipi mulus putri Xia Yue.
Plakkkk...
Pipi Putri Xia Yue langsung membekas dan memerah terkena tamparan tangan nona Xia Xian.
Putri Xia Yue kemudian memegang pipinya yang terasa sakit dan panas , air mata putri Xia Yue langsung menetes membasahi pipinya .
'' Apakah aku harus percaya kepadamu setelah aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kau sedang bermesraan dengan tuan muda Fei Hung d sini ...''
Putri Xia Yue hanya diam saja tak menanggapi perkataan nona Xia Xian sedikitpun .
'' Kenapa kau hanya diam saja gadis ****** , aku kemarin sudah memperingatkan kepadamu untuk tidak keluar kamar jika ada pujaan hatiku datang ke sini, tapi ternyata justru kau berani menemuinya , apa itu yang di namakan saudara....''
'' Maaf saudara Xian , tadi memang tak sengaja , aku....
'' Tidak sengaja apa , kalau kau tidak sengaja , kenapa kau sampai rela tanganmu di pegang oleh tuan muda Fei Hung...'' ucap nona Xia Xian menyela ucapkan putri Xia Yue yang ingin menjelaskan kejadian sesungguhnya .
Putri Xia Yue kemudian memilih diam tidak berkata lagi karena saudara Xia Xian terlanjur marah kepadanya , meskipun menjelaskan dengan cara apa saja dia tidak akan mendengarkannya.
'' Mulai hari ini aku tak akan segan segan lagi kepadamu , karena kau telah menyakiti hatiku...'' ucap nona Xia Xian langsung berbalik badan lalu keluar dari sana .
Kemudian nona Xia Yue langsung duduk di kursi ruang tamu sambil meratapi nasibnya .
.
*****
.
Di tempat Patriak Xia Leitian dan tuan muda Fei Hung.
'' Tuan muda Fei Hung, apakah kau tidak tahu kalau putri Xia Yue adalah calon istri putra mahkota dari kerajaan Xin Dong , berani sekali kau sampai memegang tangannya , kalau pihak kerajaan sampai tahu kau telah menggangu putri Xia Yue, mungkin klan Fei akan mendapat masalah....'' ucap Patriak Xia Leitian menjelaskan.
Tuan muda Fei Hung sangat terkejut mendengar nona Xia Yue adalah calon permaisuri putra mahkota kerajaan Xin Dong , tapi dia sangat geram kepada nona Xia Xian karena secara tidak langsung nona Xia Xian telah menjebaknya , tapi tuan muda Fei Hung memilih untuk memendamnya , karena nanti bisa membalas nya ketika nona Xia Xian pergi ke pusat kota Fengluo.
'' Maaf Patriak Leitian, karena aku tidak mengerti sama sekali kalau nona Xia Yue adalah calon istri putra mahkota ...''
'' Baiklah aku maafkan , sekarang pergilah dari sini sebelum mata mata kerajaan Xin Dong melihat kejadian ini....''
Dengan perasaan yang sangat geram kemudian tuan muda Fei Hung langsung pergi dari sana sambil mengepalkan tangannya , lagi pula jika sampai ayahnya tahu kejadian ini pasti ayahnya akan marah besar , makanya dia memilih mencari di lain waktu saja untuk membalas kepada nona Xia Xian .
Setelah tuan muda Fei Hung keluar kemudian patriak Xia Leitian langsung kembali ke ruangannya untuk merayakan kemenangan ini karena rencananya untuk menjebak putri Xia Yue telah berhasil .
Ketika akan masuk ke dalam ruangannya ternyata putrinya juga datang ke sana , lalu mereka berdua langsung masuk ke dalam ruang kerja .
'' Iya ayah , aku tadi sudah menampar pipinya dan memperingatkan kalau aku tidak akan segan segan lagi kepdanya...''
'' Baguslah kalau begitu , karena sekarang kita sudah memiliki alasan untuk menyiksanya , kita tinggal menerima perintah dari pusat saja mau menyiksa seperti apa , nanti setiap bulan kita akan mendapatkan bayaran langsung dari Patriak Xia Cheng , kalau koin emas mu sudah habis kau tinggal bilang saja kepada ayah...''
'' Iya ayah aku mengerti , aku ingin membeli beberapa pil ke paviliun obat untuk meningkatkan kekuatanku , ngomong ngomong bagaiamana dengan tuan muda Fei Hung tadi...''
'' Aku sudah memberitahu kepadanya kalau putri Xia Yue adalah calon permaisuri putra mahkota, jadi dia langsung mudur dengan teratur karena takut dengan nama besar kerajaan Xin Dong...''
'' Apakah dia tidak berkata apa apa tentangku , karena aku yakin dia akan membenciku karena aku telah menjebaknya...''
'' Tidak Xian'er, dia hanya meminta maaf saja kerena tidak tahu...''
'' Baguslah kalau begitu...''
'' Kamu tenang saja Xian'er, laki laki bukan hanya di saja , nanti ayah akan mencarikan mu tuan muda kaya raya yang lainya jika kau ingin menikah....''
'' Aku bisa cari sendiri ayah , yang penting aku fokus untuk meningkat kan kekuatanku dulu...''
'' Bagus itu Xian'er, nanti jika kekuatanmu sudah meningkat aku ingin meminjam tanganmu....''
'' Untuk apa ayah...?
'' Patriak Xia Cheng waktu akan pergi dari sini dia berkata kepadaku kalau suatu hari nanti ingin membunuh si ****** itu dengan cara melemparkannya ke dalam jurang yang ada di hutan , aku meminjam tanganmu karena aku tidak mungkin melakukannya sendiri karena itu akan mencoreng nama baik ayah...''
'' Itu bisa di pikirkan nanti saja ayah , karena sekarang aku akan pergi ke paviliun obat dulu untuk segera membeli pil agar kekuatanku bisa meningkat ....''
'' Iya pergilah...''
Kemudian nona Xia Xian langsung keluar dari sana lalu keluar klan dan berjalan menuju pusat kota Fengluo.
****
Di rumah tamu tempat putri Xia Yue berada.
Setelah kejadian tadi putri Xia Yue langsung mengurung diri di kamarnya , karena sudah tidak tahu lagi bisa bercerita dengan siapa .
Putri Xia Yue sebenarnya curiga kepada nona Xia Xian, karena kejadian tadi seperti sudah di atur oleh nona Xia Xian karena bagaimana mungkin tuan muda Fei Hung bisa tahu kalau dia tinggal di rumah ini dan di saat tuan muda Fei Hung baru saja memegang tangannya tiba tiba nona Xia Xian dan Patriak Xia Leitian datang ke sana.
Setelah menjelang malam kemuian putri Xia Yue pergi ke kamar bibi Lin Hua, karena hanya dia satu satunya orang di dalam klan ini yang peduli kepadanya.
Setelah 5 menit berlalu putri Xia Yue sampai di depan kamar bibi Lin Hua , kemudian nona Xia Yue langsung mengetuk pintunya .
Setelah beberapa saat kemudian bibi Lin Hua membuka kamarnya .
'' Ternyata anda putri Xia Yue , silahkan masuk...'' ucap bibi Lin Hua sambil melihat pipi Putri Xia Yue yang membekas .
Kemudian putri Xia Yue langsung masuk ke dalam kamar bibi Lin Hua, setelah masuk ke dalam kamar ternyata kamar ini cukup bersih dan tertata rapi , di sana tempat tidurnya juga cukup luas karena muat untuk 3 orang .
Kemudian bibi Lin Hua mengajak putri Xia Yue duduk di tepi tempat tidur.
'' Pipi putri Xia Yue kenapa bisa merah seperti itu , apakah itu perbuatan nona Xia Xian...''
Putri Xia Yue sangat terkejut kenapa bibi Lin Hua bisa tahu , karena tadi tidak ada yang melihatnya.
.
.
...~ bersambung ~...