
Dari jauh tampak seorang laki-laki ganteng berdiri cukup lama memandangi Mayri dan Erik,
terlihat sudut bibirnya menurun seakan menggambarkan isi hatinya, Rivan.
Rivan berjalan mendekat dan berusaha mengendalikan rasa cemburunya sebab dia tahu bahwa hubungan nya dengan Mayri telah cutel.
Sedangkan Mayri dan Erik kembali melanjutkan langkahnya hingga sampai ke ruang Marmun di rawat.
Mayri lebih dulu masuk selangkah di banding Erik.
"Hai kalapaku, kok sendirian aja tante mana?" Mayri memeluk Marmun yang kebetulan sedang duduk bersandar di atas hospital bed.
"Mommy baru aja balik, kurang lebih 10 menit yang lalu. Emang kalian nggak jumpa?" tanya Marmun.
"Lahh gimana sih! kalau jumpa, ya kali aku nanya'in ke kamu.'' Mayri meletakkan tas kecil lalu mengeluarkan HP Vivo V20 miliknya. Melihatnya, Marmun geleng geleng kepala.
Erik begitu bahagia melihat Marmun telah sadar dan bahkan sudah bisa tersenyum lebar meskipun ventilator masih terpasang di hidung Marmun.
"Hei Mar, bagaimana keadaanmu?" tanya Erik. Dia bergerak ke samping kiri Marmun, lalu duduk.
"Seperti yang kamu lihat, sudah lebih baik."
"Syukurlah.''
"By the way, kalian kesini barengan yah?" lanjut Marmun dengan mengerjapkan mata.
"Sebenarnya, kita datang sendiri sendiri. Tadi kebetulan ketemu di depan pintu masuk, jadi barengan deh ke sini," jelas Mayri.
"Ohhh. Kalian sudah saling kenal? sejak kapan?" tanya Marmun penasaran.
"Iya. semenjak kamu masuk rumah sakit."
Erik membenarkan ucapan Mayri dengan manggut-manggut.
Ketika Marmun, Mayri dan Erik asyik ngobrol tiba - tiba Rivan masuk dengan sekantong buah apel di tangan kanannya.
"Sore guys." sapa Rivan sembari meletakkan buah tangan yang ia bawa di atas meja yang terletak di dekat pintu sebelah kiri.
"Bagaimana keadaan mu Mar?" tanya Rivan. Dia bergerak mendekat kesamping kiri Marmun, tepatnya disamping Erik.
"Puji Tuhan, sudah lebih baik Van."
"Syukurlah. Btw, kalian dah lama nyampe kah?" tanya Rivan pura-pura tak tahu, berusaha menyembunyikan hati yang menjerit sakit.
"Baru juga nyampe Van, sekitar 7 menit yang lalu." Erik menoleh Rivan.
"Owh gitu, trus kalian tadi barengan kemari?"
"Iya. Emang nya kenapa? masalah buat loe!" Ucap Mayri nyelekit,
"Ihhh itu mulut di jaga kali bu, kencang amat!" Erik bingung dengan ucapan Mayri yang begitu nyolot.
"Kamu kenapa may? Kalian lagi ada masalah yeah?" lanjut Erik menebak.
"Gak apa-apa Rik," jawab Mayri dengan bibir berkerut.
"Iya, kita nggak apa-apa. Mungkin dia aja lagi dapet.': sambung Rivan dengan sabar.
Marmun hanya bisa terdiam melihat respon sahabat nya itu.
"Owh iya Mar, aku minta maaf ya, gara - gara aku kamu jadi seperti ini," lanjut Rivan menyesal.
"Sebenarnya ini semua bukan sepenuhnya salah kamu, tapi salahku juga." Marmun tak ingin menyalahkan siapapun.
Mendengar ucapan Marmun, Erik semakin takjub, ia slalu memerhatikan mulut Marmun saat mengeluarkan kata per kata .
Hatinya selalu bahagia, jantung nya berdegup kencang setiap kali dia dekat dengan Marmun.
"Saya juga minta maaf ya Mar, tapi sure kita tidak sengaja menabrak kamu. Kebetulan saat itu kita buru-buru dengan laju mobil tinggi dan ya itu, kecepatan nya sudah tak bisa kita dikendalikan." Erik mencoba menjelaskan yang sebenarnya.
"Ya udah sih, mungkin ini juga bagian dari skenario Tuhan. Kalian santai aja." Marmun menepuk tangan Erik dan Rivan bergantian dengan senyum tipis. Dia tampak iklas dengan dengan apa yang sudah terjadi.
"Enak loe pada, di maafin gitu aja!'' celetuk Mayri yang masih bad mood akan kehadiran Rivan.
"Tumben kamu nyolot dan judes gini, ada apa? Kemana sifat mu yang dulu?" Marmun menoleh serius dengan alis sedikit naik.
Mayri tidak menjawab ucapan sang sahabat. Sebab dia merasa bahwa dirinya tidak mampu berlama lama membenci, marah. Dia selalu gampang memberi maaf pada orang yang menyakiti, melukainya.
"Benerkah..?" tanya Erik ingin tahu,
"Ya bener. Aku tidak gampang maafin orang, bisa di bilang sedikit pendendam gitu. Tapi kalau Mayri nggak usah di tanya, segampang kita membalikkan telapak tangan."
Marmun dan Mayri tersenyum tipis.
Tak terasa hari semakin malam, perlahan rumah sakit mulai sepi dari para pengunjung pasien.
"Karena ini sudah malam, saya pamit pulang dulu'an ya guys." Mayri tampak menguap, dia melihat jam yang melingkar di tangannya.
"May pulang sama siapa..?" tanya Rivan sembari bergerak berdiri, lalu bergeser 3 langkah ke sebelah kanan.
"Sendiri."
''Aku antar pulang ya!" tawar Rivan meskipun ia tahu bahwa Mayri akan menolak.
"Nggak perlu, aku bawa motor kok." Mayri menolak tanpa pikir panjang.
"Cepat pulih kalapaku," lanjut Mayri. Dia bergerak berdiri dan memeluk Marmun.
"Amin, makasih May." Marmun membalas dengan pelukan hangat.
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut." ucap Erik sedikit perhatian.
Mayri menjawab dengan senyum simpul. Dia pergi meninggalkan tempat itu dengan tersipu, baper.
"Nemanin Marmun siapa nih, aku atau kamu?" bahas Rivan.
"Kamu boleh, saya juga boleh." jawab Erik,
"Kalian pulang aja, aku nggak apa-apa sendiri. Lagian ada suster juga yang selalu masuk keluar memantau." Marmun tak ingin merepotkan kedua laki laki itu.
"Jangan dong Mar," perhatian tulus dari Erik.
"Kalau gitu kamu aja Rik," Rivan bergerak mendekat ke arah Marmun.
"Mar aku pulang ya, semoga lekas sembuh." lanjut Rivan,
"Amin, maksih Van." Marmun membaringkan badannya diatas bed pasien.
"Titip Marmun Rik, jangan coba-coba sentuh kulit halusnya itu!" Goda Rivan iseng.
"Hahaha cium keningnya boleh dong Van," Erik berkelakar dengan mengedipkan mata sebelah kanan.
"Wahh..wahh wahh payah ni orang," Rivan menggeleng - gelengkan kepala sembari terkekeh.
Marmun tersenyum lebar melihat tingkah kedua laki laki tampan itu.
"Aku balik Mar, Rik, sampai ketemu besok." Rivan melangkah pergi, mengikuti jejak mantan kekasihnya.
"Ya hati-hati," Erik bergerak menutup pintu.
Setelah Mayri dan Rivan pulang, suasana di kamar itu begitu hening, Marmun yang terlelap tidur membuat Erik berkelana di dunia hayalnya hingga tak sadar memegang tangan Marmun. Erik masih saja melanjutkan hayalannya hingga terbawa kedalam dunia mimpi, tertidur.
Kepalanya tertunduk di atas bed pasien berbantalkan tangan kirinya.
Pukul 04.15 WIB alarm handphone berdering hingga membangunkan Erik dari tidurnya. Ia tersadar, lalu memandang wajah cantik Marmun dengan tatapan penuh arti, ingin memiliki.
Namun karena masih terlalu subuh serta telat tidur dan masih ngantuk, Erik melanjutkan mimpinya hingga tak sadar waktu telah menunjukkan pada pukul 07.09 WIB.
Marmun yang terlebih dahulu bangun dari tidur, tersentuh rasa ketika melihat tangannya di pegang oleh Erik.
Ia melepaskan tangannya dari genggaman pria berkacamata, brewokan yang sedang tidur di dekatnya, Erik. Lalu mengusap-usap kepala sang pria.
Terima kasih sudah membaca🙏🙏🙏 Mohon beri saran/masukan supaya karya semakin lebih baik.
Jangan lupa:
Vote
Like
Koment
Beri hadiah
Follow IGku : munthe.maria