
Darah mendidih membludak, tangan lembutnya mengepal dengan rahang mengeras serta mata melebar tatapan tajam, hati mencekam pilu.
Marmun tidak menyangka bahwa dirinya akan mendapat hubungan yang tidak sehat, perselingkuhan. Meskipun belum tahu kebenaran ada tidaknya hubungan spesial yang terjalin antara Erik dan Mayri.
"Apa ini yang kamu bilang urusan mendesak Rik! Selingkuh dengan Mayri, sahabat ku? Mengapa aku tidak mempercayai bukti bukti yang sudah ada selama ini? Mengapa aku bodoh banget!" Ucap Marmun dalam hati.
Tak sadar air bening keluar dari ujung matanya, mengalir ke wajah hingga menetes dan membasahi bajunya. Dengan menghela nafas berat, Marmun mengusap air matanya dengan kasar. Lalu bergerak melabrak Mayri dan Erik.
"May..!"
Ekspresi wajah Mayri berubah tegang, begitu juga dengan Erik.
Sebelum keduanya mengucap satu kata, Marmun melayangkan tangan menampar kasar wajah putih Mayri, wajah cantik itu tampak memerah bercap tangan Marmun.
Mayri memegang kasar wajahnya, menahan sakit.
"Kamu apa apaan sih!" bentak Mayri dengan mata tajam, tak terima akan tamparan itu.
Semua mata tertuju pada mereka sambil berbisik satu ke yang lain "Ketahuan selingkuh, Brengsek banget tu cowok! kasian banget cewek itu, yah cantik cantik jadi selingkuhan, sahabat nikung sahabat.''
"Kamu kenapa? Gak ada angin, gak ada hujan tiba tiba nongol trus membuat kegaduhan, Apa dia ada salah sama kamu!" Ucap Erik tidak merasa bersalah.
Emosi yang masih menguasai dirinya mendorong nya kembali melayangkan tangan menampar keras wajah tampan yang berbalut bulu halus itu bolak balik. Erik meringis kesakitan, ujung bibir kanannya sedikit berdarah.
"Kamu kenapa? Gila kamu, ya!"
Marmun kembali menampar wajah berbulu itu, namun Erik menangkis dengan menangkap menggenggam tangan Marmun dengan kuat, lalu mencampakkan dengan kasar.
"Kamu jangan semena mena ya! Dari tadi kita sudah bersabar tapi kamu makin menjadi jadi. Mau kamu apa? apa!" Bentak Erik marah.
Marmun berdecak kesal, menyisir masuk menjambak pelan rambutnya dengan tangannya.
"Hah!! Gak sadar dan masih nanya kenapa! Kalian berdua selingkuh di belakangku dan masih bilang, kenapa?'' Ucap Marmun dengan keras,
Pengunjung tempat itu menatap, menonton dengan serius bagai film layar lebar bioskop.
Mayri menahan malu mendengar beberapa bisikan yang menyudutkan dan mencibir dirinya dengan perkataan kasar, negatif.
"Selingkuh? siapa yang selingkuh sih Mar, kita nggak ada hubungan apapun! hanya sekedar teman, pacar dari sahabatku." Mayri menyangkal tuduhan yang di lontarkan padanya.
"Loe nggak usah pura pura polos, loe kan suka sama dia? Gue gak kepikiran aja seorang sahabat nikung sahabatnya sendiri."
Kata "kamu dan aku' berubah menjadi kata "Loe dan Gue" disaat Marmun marah besar dan merasa tidak ada ikatan/hubungan dekat dengan dirinya.
Mayri terkesiap mendengar ucapan Marmun yang seakan dianggap menjadi orang lain. Sebab dirinya tahu bagaimana sifat sahabat nya itu.
Mereka masih tontonan publik,
"Kamu salah paham loppit, nggak ada yang selingkuh. Kita ketemuan hanya sekedar ngobrol biasa, membahas suatu hal yang ada hubungannya dengan kamu. Itu aja, gak lebih dari itu." Jelas Erik dengan lembut.
Darah Marmun masih mendidih meski dengan suhu sedikit menurun. Dia membuang wajahnya dengan sinis kekiri dan menoleh miring ke kursi yang dekat dengannya.
"Kamu harus percaya kalau aku dan Erik tidak ada hubungan apa apa. Nggak mungkin aku ngerebut cowok sahabat ku sendiri, nggak mungkin dan gak akan. Kamu hanya salah paham aja." Ucap Mayri meyakinkan.
"Bagaimana caranya gue percaya, sedangkan loe berdua sering jalan dan ketemuan di belakang gue. Coba deh loe jadi gue, pasti sakit dan melakukan yang sama kan?''
Erik berusaha menjelaskan yang sebenarnya, bahwa dia dan Mayri sering bertemu diam diam tanpa sepengetahuan Marmun karena merencanakan sesuatu, menyiapkan suprise untuk ulang tahun kekasihnya itu.
Namun karena amarah merasuk dan menguasai dirinya, Marmun tidak peduli dan percaya lagi pada Erik sebagai pacarnya dan Mayri, sahabat nya.
Erik dan Mayri berusaha mengejar namun kehilangan jejak, entah kemana perginya. Mayri mencari ke segala sudut cafe sembari memanggil manggil nama sahabatnya itu, tak ada.
Mayri tampak frustasi, sebab kali pertama sepanjang sejarah mereka bertengkar hebat yang sangat rumit. Persahabatan yang terjalin lama hancur karena ke salah pahaman.
"Arrghh.." raung Mayri mumukul pahanya,
Berbanding terbalik dengan Mayri, Erik justru terlihat santai dan sibuk dengan HP nya.
Mayri terlihat kesal pada Erik yang seakan tidak peduli atas apa yang terjadi. Dia bergerak masuk dalam cafe, mengambil tas kecil yang terletak di atas meja.
Semua mata memandang aneh padanya, tidak sedikit mencibir kasar. Mayri acuh dan bergerak keluar mencongak.
Saat berada di ujung pintu keluar cafe, seseorang memanggil menghentikan langkahnya, waitress. Mayri berbalik badan,
"Maaf mbbak, pesanannya belum dibayar." ucap santun waitress.
"Yang membayar laki laki tadi mbbak, kasih aja billnya ke dia."
Mayri juga tampak memesan makanan dan minuman mahal dan memasukkannya dalam tagihan bill itu. Dia juga membawa kunci mobil Erik. Itu dilakukan bentuk kekesalan nya pada Erik.
Tak berselang lama Mayri pergi tanpa tegur pamit.
Sedangkan Erik terlihat telponan dengan calon mertua, meminta untuk memberi kabar bila sang putri telah tiba di rumah.
Usai teleponan, Erik masuk dalam cafe hendak menghampiri Mayri. Matanya menatap lebar tempat itu, sosok Mayri tidak didapatinya.
Para pengunjung wanita tampak menatap sinis dan jijik pada Erik.
Waitress mendekat dan memberikan secarik kertas, bill.
"Mbbak, teman saya kemana?"
"Mbbak Mayri sudah pergi mas, kok mas gak tahu, dia kan cewek kedua mas!" jawab waitress nyindir.
Erik setengah senyum, dia berpikir percuma menjelaskan kebenaran yang terjadi karena mereka tidak akan percaya.
Lalu mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya sebab nominal tagihan (bill) cukup besar, yakni 3 juta lebih. Kemudia diberikan pada waitress.
Waitress bergerak melakukan transaksi pembayaran dan kembali dengan secarik kertas berukuran kecil bukti penarikan/pembayaran.
"Ini mas, terima kasih." Waitress kembali melanjutkan pekerjaan nya.
Begitu juga dengan Erik, dia bergerak hendak meninggalkan tempat itu. Akan tetapi pikiran nya terlintas pada kunci mobil. Dia merogoh saku baju dan celananya, tidak ada. Lalu bergerak kembali ke meja/kursi tongkrongan semula, kosong. Kembali mencari, melihat sampai kebawah meja, tidak ada.
Beberapa pengunjung memandanginya dan ikut menoleh mengikuti pandangan Erik, seakan tahu bahwa laki laki brewok itu kehilangan atau mencari sesuatu.
"Tadi, kunci saya letak di atas meja, kok gak ada! Kemana ya," gumam Erik sembari menggaruk pelipis mata nya berusaha mengingat.
Dia bergerak mendekat ke pengunjung sekitarnya.
"Maaf mbbak, mas, ada yang nemu kunci mobil, gak?"
Pengunjung itu menjawab setengah senyum dan menggelengkan kepala. Erik bertanya ke karyawan Cafe namun hasilnya sama.
Disisi lain, Marmun tiba dirumahnya. Tanpa salam atau berucap satu kata, dia masuk kamar dan mengurung diri. Ibunya menatap heran.