
Pergi tanpa pamit,
Berselimut harap, Chiko masuk dalam kamar dengan mengerjap mata memandang ruang petak itu. Bakal hadir rindu yang mencekam setelah kaki melangkah keluar dari rumah persinggahan sementara nya.
Dengan setengah hati, satu persatu pakaian penutup tubuh kekarnya ia masukkan dalam ransel, seraya berkata "Gue pasti kangen."
Setelah berberes, Sejenak Chiko merebah badan pamit pada kasur empuk yang selalu ikhlas menjadi tumpuan punggung/tubuhnya kala rehat dari kesibukan.
Dia melentangkan tangan mengelus kasur dengan senyum dan mata tertutup. Lalu tak berselang lama, dia menyudahi rehat pamit. Kemudian bergerak pergi. Namun sebelum melangkah keluar ia terlebih dahulu bertengger, masuk dalam kamar Marmun sebagai perpisahan semu.
Saat kaki melangkah masuk melewati batas pintu kamar, ia membidik ke arah nakes seakan akan ada yang menarik perhatiannya. Masih terlihat samar, dia bergerak mendekat pada sebingkai poto yang seakan menyapanya dengan kehangatan.
"You are my princess, I hope all is well Mar. Sorry I left without saying goodbye." ucapnya lirih sembari mengelus wajah bayangan Marmun yang tertuang dalam secarik kertas glossy berbingkai. Dia cukup lama memandanginya.
Sebelum meninggalkan kamar bernuansa blue itu, Chiko mengambil photo berukuran 6x8 cm yang mencalang keluar dari tumpukan buku, seakan menyodorkan diri. Lalu menyimpan dalam waist bag.
Kemudian pergi tanpa tegur pamit pada si empunya rumah dan Marmun meski hati berkata tak ingin.
Begitu juga dengan Erik, dia pergi menenangkan hati dan pikirannya. Sebelum pergi, ia terlebih dahulu bertengger ke rumah kekasih nya 10 menit setelah Chiko maherat.
Sesampainya, dia meletakkan sepucuk surat yang telah dirangkai nya sedemikian rupa, serta seikat bunga mawar merah di depan rumah bentuk ke pamitan yang tak langsung. Agar terlihat oleh Marmun atau penghuni rumah itu.
"Setelah baca surat ini, semoga kamu sadar bahwa cinta ini tak pernah singgah pada hati siapapun. Only you forever." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Dengan menghela nafas berat, dia bergerak masuk dalam mobil meski hati tak sanggup bila harus pergi, menjauh dari penyemangat hidup. Perlahan kaki yang berbalut sepatu pantofel itu mulai menggerakkan kopling dengan tangan memainkan gigi transmising mobil lalu bergerak melaju. Sepanjang perjalanan ia terlihat murung, lemas tak berdaya. Pikirannya sibuk pada Marmun yang tak berkesudahan menjauh dan membencinya. Dalam rasa kalut, dia memacu kecepatan tinggi hingga hilang keseimbangan.
"Trakkkk!" Erik menabrak mobil yang hendak menyelip melaju.Terpental berbalik ke tegah jalan. Sedangkan Erik terlihat terjepit stir. Tampak darah membasahi tubuhnya sebab mobil yang ia kendarai hancur penyok.
Melihat dan mendengar dentuman keras, orang yang melintas dan berada sekitar lokasi berlari berhamburan menghampiri.
"Tolong, tolong! Panggil ambulance! Selamatkan dulu anak itu! cepat, cepat bantu keluar dari mobil!" ucap beberapa orang histeris.
Dengan memakan waktu cukup lama, warga berhasil mengeluarkan Erik dari dalam mobil dibantu oleh pihak kepolisian yang cukup giat dan cekat.
Erik tak sadarkan diri.
"Masih ada nafas, semoga dia bisa di selamatkan!" ucap salah satu warga.
Dengan rasa dan ekspresi tak menentu mereka membopong tubuh kaku tak berdaya itu masuk dalam mobil ambulance yang sudah tiba sebelum Erik berhasil di keluarkan. Lalu bergegas melaju pergi ke rumah sakit.
Sedangkan pemilik mobil yang tertabrak oleh Erik, sudah lebih dulu di larikan ke rumah sakit terdekat, sebab dia terpental keluar saat terjadi laka lantas.
Pihak kepolisian telah menangani kasus itu.
Di kampus, Marmun terlihat gusar. Dia bergerak berdiri, lalu duduk, bergerak melangkah kemudian kembali duduk dengan mata menjeling seakan mendapat firasat.
Pikirannya terlintas pada sosok yang selama ini menjaga dan memanjakannya. Pikiran nya juga terlintas pada sebungkus amplop yang terbuang olehnya.
"Ada apa ya? Kok perasaaku gak enak. Semoga tidak terjadi apa apa." gumamnya dengan cemas.
Tak kunjung mendapat ketenangan jiwa, Marmun memutuskan untuk pulang. Dia bergegas pergi dengan menjinjing tas kecil pada tangan kanan serta tangan kiri mendekap buku kuliahnya.
Sementara Mayri, sepulang kampus ia terlihat mengurung diri dalam kamar, meskipun sang adik berkoar koar memanggil keluar.
Mayri sibuk memikirkan problematika yang tak rumit, mudah terselesaikan.
Untuk kali kedua, Zio tak ingin beraksi dalam ke jailannya pada sang kakak.
Sementara Marmun, sesampai di depan rumahnya, ia melangkah masuk hingga langkah dan matanya terhenti pada sepucuk surat dan bunga yang tergeletak di depan pintu.
"Ha, surat! Ini dari siapa? Chiko gak mungkin, gak pernah dia ngasih ginian sekalipun ke pacarnya. Trus dari siapa dong?" ucapnya dengan mata menjeling, bingung sembari meraib hingga memadati kedua tangannya. Lalu bergerak melangkah mencari sosok sipemilik surat dan bunga itu ke sekitar rumah. Namun tak ada sosok berlagak mencurigakan.
"Siapa ya! kenapa gak ngasih langsung aja coba. Kalau gini kan jadi bingung! Ya wess lah." ucapnya dengan mengedipkan bahu.
Marmun bergerak melangkah hendak masuk rumah. Tiba tiba pandangannya terbidik pada pintu rumah yang tertutup rapat seperti saat dia dan Chiko tinggalkan pagi hari.
"Rumah masih kekunci, Chiko pergi kemana? Di kampus juga gak ada, trus kemana!" Marmun tampak menggigit masuk bibirnya kedalam sembari meletakkan barang-barang nya di atas kursi teras rumah.
Lalu dengan segera ia menghubungi Chiko, mencari tahu keberadaan temannya itu. Panggilan sedang tidak aktif.
"Kok gak aktif sih, kamu kemana Chik! jangan buat khawatir dong. Please kasih kabar." ucapnya sembari memijit kening.
Sembari menunggu Chiko dan sang Ibu pulang, Marmun duduk pada kursi teras. Dia tak terpikir pada kunci yang tergantung pada tempat yang biasa meleka letakkan. Pintu jendela kamarnya dekat bunga kapas.
Untuk mengisi waktu yang menjenuhkan itu, dia menatap penasaran pada isi surat yang berlapis amplop putih berwarna.
Akan tetapi saat hendak membaca, tiba tiba HP nya berdering, membuatnya menjeda niat baca. Panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo, selamat siang! Apakah ibu kenal dengan saudara yang bernama Erik?" tanya dengan tegas.
Marmun diam sejenak, bibir terkunci.
"Ada apa ya! dia siapa?" gumamnya dalam hati.
"Haloo ibu! Kita dari pihak kepolisian hanya ingin mengabarkan bahwa saudara Erik mengalami kecelakaan. Sekarang ada di RS. Martapura." ucap pihak kepolisian untuk kedua kalinya.
Mendengar pernyataan pihak kepolisian, sontak Marmun terduduk lemas dan pucat. Jantungnya seakan terjeda berdetak. Bersamaan dengan info yang terserap otak, HP yang ia genggam dan menempel pada telinganya terjatuh. Tangannya tak cukup kuat menggenggam.
"Hallo, apakah ibu dengar saya?" tanya pihak polisi.
"Iya. Baik pak, terima kasih." jawabnya dengan mulut kaku terbata bata, otot meregang menahan tangis.
Marmun terduduk terpaku merembah air mata, menyesali keegoisannya. Lalu ia bergegas pergi kerumah sakit.
Terima kasih sudah membaca🙏🙏 Silahkan beri saran/masukan supaya karya semakin baik.
Jangan lupa:
Vote
Like
Koment
Beri hadiah
Beri rating.
Dan juga follow IG ku : munthe.maria