Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -31



Hari berganti hari, Marmun dan Chiko mendeteksi keberadaan Mayri dan Erik melalui google Map. Satu hari terakhir, google Map menunjukkan perbedaan lokasi, artinya mereka tidak bersama.


Marmun menghela nafas lega. Kini ia tak perlu lagi ngintilin Mayri dan Erik.


Sedangkan Chiko memutuskan kembali ke rumahnya sebab misinya telah usai.


"Sampai ketemu di waktu yang sudah kita tentukan. Titip salam ke Tante ya!" pamit Chiko,


"Ok. Btw maaf sudah ngerepotin kamu. Thanks untuk semuanya, hati hati!" ucap Marmun.


"Sama sama."


Chiko bergerak masuk, lalu melajukan mobil.


Marmun yang telah berpakaian rapih itu pun segera pergi ke kampus meskipun jam mata kuliah masih terhitung lama, sekitar 3 jam lagi.


Di sepanjang perjalanan, ia tampak bersenandung pelan dengan mata menoleh ke pinggir jalan sebelah kanan, serta mengamati setiap orang yang mereka lewati.


Salah satunya kakek tua yang sedang berjalan pinggir jalan dengan langkah tersuruk suruk tanpa alas kaki, tumitnya tampak kering dan pecah serta kain yang melapisi tubuh yang telah berkerut itu terlihat kusut dan kumal. Giginya yang tinggal beberapa menandakan ketuaan nya.


Marmun berguman dengan wajah iba,


"Kasian kakeknya, apa dia tidak punya keluarga?"


Lalu meminta sang supir (taksi) menghentikan laju mobil.


"Pak tunggu sebentar yeah, hanya sebentar doang, nggak lama kok!" ucap Marmun,


Supir taksi membalas dengan senyum.


Marmun bergerak keluar dengan tas andalannya, lalu menghampiri sang kakek tua yang kebetulan tidak jauh dari taksi terparkir.


"Hai kek," sapa Marmun dengan pelan,


"Ya nak," sahut sang kakek tersenyum,


Marmun menyalimnya tanpa rasa jijik dan sebagainya.


Dia merogoh tasnya lalu mengeluarkan sebungkus roti kering, kemudian ia berikan ke sang kakek.


"Alhamdulillah, terima kasih nak!'' ucap syukur kakek tua dengan mata sedikit berkaca kaca.


"Kakek pasti belum sarapan kan!" ucap Marmun ,


"hehe iya, nak." tawa kakek dengan senyum lebar.


"Kakek mau kemana?" tanya Marmun penasaran,


"eeee, mau cari rongsokan nak. Dari kemarin kakek belum makan, nggak ada uang!" ucap Kakek tua sembari menyobek kecil roti kering itu, lalu menyantap. Dia tampak menikmatinya.


Wajah Marmun tiba tiba datar dan bibirnya kelu.


Ia mengamati kakek itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mata tampak berkaca-kaca, pilu.


Mengingat sang supir taksi menunggunya, Marmun pamit dan memberikan beberapa lembar uang berwarna biru pada sang kakek.


"Alhamdulillah! Terima kasih ya nak, semoga sehat slalu, lancar rejeki dan panjang umur serta di jauhkan dari segala mara dan bahaya." ucap Kakek tua dengan wajah berseri.


"Amin. Doa yang sama untuk kakek. Aku pamit kek," ucap Marmun sembari menyalim kakek tua.


Lalu berbalik badan, kemudian ia bergerak masuk dalam taksi. Wajah lusuh sang Kakek membayangi pikirannya hingga tak mampu membendung air mata, tumpah. Sang supir melajukan taksi.


Disisi lain, Mayri terlihat sedang menyantap makanan dengan sendiri sembari mengotak atik isi HPnya. Ruangan itu tampak sepi, hanya ada beberapa orang didalamnya, termasuk Mayri.


Tak berselang lama, Marmun tiba di depan kampus. Dia berjalan pecicilan hingga tersandung batu.


"Adukhh!"


Rivan berlari secepat kilat, menangkap. Dia tidak membiarkan tubuh mungil itu tersungkur ke atas tanah.


Terdiam,


Mereka tampak salting ketika dua pasang mata itu saling tatap-tatapan dengan jarak yang begitu dekat.


"Makanya hati hati! Untung aku ada disini, kalau nggak! kamu pasti terjatuh," ucap Rivan.


"Iya, thanks yeah!" ucap Marmun cengengesan sembari bergerak melangkah, Rivan mengikutinya dari samping.


Berselang beberapa menit mereka tiba di kantin. Marmun menghampiri Mayri dengan mata memutar.


"Woiiii!"


Mayri keselek "ohk..okhh..okhh''


Air mata keluar dari ujung sudut matanya.


Rivan bergerak melangkah dan memberikan segelas air mineral pada Mayri. Dia terlihat panik dan peduli, tampak jelas di wajahnya masih ada rasa.


Mayri meneguk lalu menghela nafas berat.


"Makasih ya Van." ucap Mayri,


"Kamu tu, kebiasaan!" lanjut Mayri dengan wajah tumpul sembari menampar pelan tangan Marmun,


Marmun tertawa, lalu bergerak duduk berhadapan dengan Mayri. Rivan duduk di samping Marmun. Dia terlihat kalem saat bertemu dengan sang mantan.


"Kamu kok udah disini aja, kalapa? kapan balik?" tanya Mayri. Lalu menyedot minuman berwarna dengan sedotan plastik.


"Semalem, kamu kok nanya gitu! kayaknya kamu nggak senang kalau aku cepat balik!" Ucap Marmun,


Marmun menatap curiga,


Rivan bergerak memesan minuman dan cemilan.


"Nggak gitu Mar, waktu itu kamu bilang seminggu lebih disana, makanya aku nanya!" ucapnya sembari meraib HP.


Lalu dia sibuk dengan HPnya, sibuk chat'ingan dengan seseorang. Marmun menoleh dengan curiga dan penasaran, sebab tak biasanya sang sahabat secuek itu.


Rivan datang dengan setapak cemilan. Waitress kantin mengikuti nya dari belakang dengan 2 gelas cappucino cincau kesukaan Marmun dan Rivan.


Mayri menatap aneh pada Rivan,


"Selamat menikmati," ucap Waitress dengan ramah, lalu ia bergerak pergi.


"Cappucino cincau kesuksesan kamu," ucap Rivan sembari menggeser minuman berwarna coklat itu ke depan Marmun.


"Thank you. By the way kamu kok bisa tahu minuman favorit ku!" ucap Marmun melirik Rivan,


"Nebak doang, hehehhe." ucap Rivan sembari menyipitkan mata kanannya.


Mayri sedikit risih,


"Ikhh apa apaan sih!" ucapnya dalam hati dengan senyum smirk.


Diam diam Marmun melirik sang sahabat, ia memerhatikan gelagat yang tak biasa itu. Begitu juga dengan Rivan, ia memandang wajah cantik itu tanpa berkedip.


"Selama aku di luar kota, kamu pernah ketemu Erik, nggak?" tanya Marmun, lalu menyeruput cappuccino cincau nya.


Mayri tak menggubris, dia sibuk merangkai kata, chattingan. Marmun dan Rivan saling tatap tatapan, merasa heran.


Marmun mengulangi pertanyaannya untuk kedua kali.


"eemmm!" jawab Mayri tanpa menoleh ke sang sahabat,


Rivan menoleh Marmun, lalu mengangkat turun kedua bahunya dengan senyum sarkas.


Marmun mulai kesal,


"May!!!" senggak nya.


"Aaa! iya, kenapa Mar?" ia tersenggak.


"Kamu lagi chat'ingan sama siapa sih! sampe kita di cuekin begini!" ucap Marmun dengan kening berkerut.


Mayri meletakkan HP di atas meja dekat air mineral, di samping kanannya. Ia menatap Marmun dengan rasa bersalah.


"Maaf maaf, tadi aku lagi chattingan sama temen. Ada hal serius yang harus kami bahas. Maaf ya!" ucap Mayri,


"Temen atau teman?" sentil Marmun,


"Temen!" pertegas Mayri,


''Siapa? Erik!" jebak Marmun dengan tatapan sinis.


Rivan melongo mendengar ucapan Marmun. Matanya berputar melirik ke arah dua wanita cantik itu.


"Mayri pasti chattingan sama Erik. Kalau bener, bakal perang dunia ketiga nih!" ucap Rivan dalam hati sembari menyantap secuil pisang goreng.


Wajah putih Mayri berubah kememerahan dan ia menjawab gelagapan "nngg...nggak kalapa!"


"Atau jangan jangan kalian sering jalan? ada hubungan sesuatu?" tembak Marmun,


"Astaga Mar, aku nggak ada jalan sama dia! Kok jadi gini sih!" Mayri mulai panik.


Suasana mulai memanas, Rivan berusaha mendinginkan dengan secuit gombalan.


"Indahnya ciptaan Mu Tuhan. Mereka adalah wanita yang paling cantik yang pernah aku lihat sejauh ini."