
Sepulang kampus Mayri yang hendak mencari ketenangan jiwa di adang tiba tiba oleh orang yang menganggapnya musuh bebuyut dipertengahan jalan dengan mendepang mobil. Sontak, Mayri mengerem mendadak karena hampir menabrak mobil sipengadang hingga membuatnya terjatuh.
"Taaackkk"
Mayri sejenak bergeming, seakan nyawanya ikut terlepas dari raga. Ia tampak melakukan gerakan kecil pada tangan dan kaki untuk mengkonfirmasi ada tidaknya tubuh yang terluka atau terkilir. Setelah merasa baik baik saja, Mayri bergerak berdiri dengan tangan dan kaki sedikit lecet dan memar.
Tempat itu tampak gelap dan sepi, hanya sedikit mobil dan motor melintas.
Berselang beberapa detik, seorang wanita keluar dari dalam mobil dengan santai dan senyum menyeringai tanpa merasa bersalah sedikitpun. Dia melangkah berlenggak lenggok, diikuti oleh temannya yang tak lain ialah Lala.
"Ya ampun! kok bisa jatuh sih, kasihan motornya jadi lecet gitu! Kalau Loe yang lecet bahkan mati sekalipun, kita mah gak perduli. Ya, kan La!" ucap Ranti dengan mata sinis,
"Yups, bener sekali. Itu karma kali ya baginya, dia kan suka ngerebut pacar orang. Malahan pacar sahabat sendiri juga di embatnya." sindir Lala dengan senyum sarkas.
"Parah sih,"
Pertengkaran Marmun dan Mayri perihal perselingkuhan telah terendus ke telinga Ranti dan Lala.
Mayri diam tak membalas, masa bodoh akan buah bibir yang selalu menyalahkan dirinya. Dia sudah cukup kebal akan cacian, cibiran, hinaan yang selalu berderu ditelinga nya. Dengan santai Mayri mengechek kendaraan serta membangunin motor yang terlentang di atas aspal itu. Dia membelakangi kedua wanita yang menginginkannya hancur, sakit serta sengsara.
Karena ucapannya tak berbuah reaksi apa apa, Ranti dan Lala mendongkol.
"Wahh..wahh, kita di cuekin bah! Sepertinya dia menginginkan yang lebih.." ucap Lala manas manasin.
Ranti terkontaminasi akan ucapan Lala, dengan amarah yang mencekam dia melangkah mendekat ke mobilnya mencari sesuatu yang hendak ia gunakan untuk membuli/meluapkan kejengkelan pada Mayri. Dia merogoh, mencari, lalu tiba tiba matanya terpelintir pada kaleng pylox berukuran 300 Cc yang berada di sudut bawah sofa mobil sebelah kiri dekat pintu satu. Ranti meraib kaleng itu, kemudian bergerak melangkah mendekat pada Mayri.
Lala termangu menatap lebar pada benda yang Ranti genggam.
"UPS! kira kira cat itu mau Ranti apakan ya? jangan jangan..." Ucap Lala dalam hati, mencoba menebak apa yang akan terjadi. Dia tersenyum smirk.
Disaat Mayri membungkuk mencheck motor nya, Ranti mendorong kasar dengan kaki yang berlapiskan high heels hingga membuat Mayri tersungkur.
"Rasain! orang seperti loe layak mendapatkan ini semua. Pelakor!" Ucap Ranti.
Lala tertawa puas melihat Mayri yang tersungkur.
Sedangkan Mayri yang kehabisan kesabaran, bergerak bangkit dengan rahang mengeras, tangan mengepal dan tatapan tajam. Lalu mendorong dengan kuat persis seperti yang dilakukan padanya, Ranti terjungkal.
"Loe jual, aku beli. Jangan kira aku takut sama kalian berdua! Dari tadi aku sudah bersabar tapi loe semakin kelewatan!" Mayri bergerak berbalik hendak meninggalkan wanita yang selalu mencari keributan pada dirinya.
Ranti merintih kesakitan pada bagian punggung sebab terbentur kuat pada aspal. Dia bergerak berdiri dibantu oleh Lala.
Meski badannya terasa ngilu, Ranti bergerak 3 langkah lebih dekat ke Mayri dengan mata tajam. Lala mengikutinya dari samping. Keduanya saling memandang, Ranti mengedipkan mata, memberi kode. Mereka mendekap tanpa permisi.
"Jangan sampai lepas, pegang yang kuat la!" Mereka memegang, mengikat kedua tangan mungil itu dengan paksa.
"Heii, enak banget loe minta di lepas gitu aja, atas apa yang udah loe lakuin ke gue barusan! Jangan ngarep! kita gak bakalan lepasin orang kayak loe!" Ucap Ranti sembari bergerak mengambil Pylox yang terlempar 4 meter dari posisi dia terjungkal.
Lala terkekeh,
Mayri tidak menyerah begitu saja, ia tetap berontak meski tenaganya telah terkuras habis sejak pagi hingga saat itu.
"Kalapa kamu dimana? bantu lepasin aku dari kekejaman mereka. kalapa kamu bisa dengar suara hatiku kan?"
"Tuhan tolong aku! sadarkan mereka supaya tidak menyakitiku." serunya dalam hati.
Dengan dendam yang masih membara, Ranti membuka kaleng Pylox itu lalu menyemprotkannya pada pakaian yang melekat mengikuti lekukan tubuh Mayri. Rambut panjang yang terurai itu ikut menjadi korban kekejaman Ranti dan Lala. Mahkota wanita itu kini memiliki 2 warna yakni Hitam dan Merah.
Mayri berteriak histeris, dia berontak sekuat tenaga namun tak bisa sebab tangannya diikat cukup kuat.
Ranti dan Lala tertawa terbahak bahak karena berhasil menjadikan Mayri bahan lelucon. Mayri tampak seperti badut malam itu.
"Kalian memang keterlaluan, tak punya hati!" Mayri tertunduk pasrah dengan merembah air mata.
Pengguna jalan, baik pengendara motor dan mobil yang melintas hanya memandang sekilas tak membantu.
Karena belum merasa puas, Ranti bergerak mencari tali, lalu mengikat kembali kedua kaki Mayri yang dibantu oleh Lala.
"Ran Lepasin! Please lepasin aku! Ok! Ok! aku salah, aku minta maaf. Please maafin aku dan tolong biarkan aku pergi. Kumohon Ran!'' pinta Mayri.
Ranti dan Lala tak acuh. Setelah selesai mengikat kaki itu, mereka mengangkat lalu mendudukkan nya di pinggir jalan yang sunyi dan sepi itu bagai boneka mainan.
Berselang beberapa menit, seorang laki laki bermotor berhenti dan mendekat ke mereka. Ranti dan Lala yang menyadari kehadiran laki laki itu tampak panik. Keduanya bergegas masuk dalam mobil lalu pergi tanjap gas. Laki laki bermotor itu ialah Chiko, teman Marmun.
"Ya ampun, mereka sungguh keterlaluan. Mereka itu siapa kamu, kok jahat banget!" Chiko melepas tali pengikat kaki dan tangan Mayri. Tangan dan kaki putih itu terlihat memerah membekas.
"Dia mantan dari mantan pacarku. Aku gak habis pikir mengapa mereka sejahat itu, padahal aku gak ngapa-ngapain mereka." ucap Mayri dengan sedih.
"By the way, terima kasih ya sudah nolong aku!🙏🙏'' lanjut Mayri dengan senyum tulus.
"Tidak perlu berterima kasih, ini sudah menjadi kewajiban kita sebagai sesama."
Malam berganti pagi, pagi berganti siang serta siang berganti malam, Marmun tak kunjung keluar rumah. Sudah terhitung 4 hari dia absen dari perkuliahannya.
Luka, kecewa dan sakit yang mencekik seakan tak rela bila terlepas begitu saja dari hati dan pikiran siperasa, yang membuat kondisi Marmun memburuk. Lekukan tulang wajah cantik itu tampak semakin jelas, kulit mulus berubah menjadi kusam kering serta bibir kering dan pecah sebab kurangnya cairan masuk dalam tubuh.
Marmun terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang yang setia menjadi tumpuan punggungnya. Memandang sudut kamar dengan tatapan kosong. Dia masih terlara-lara.
Disisi lain, di kantornya, Erik tampak sibuk mencari cara/ide untuk menjelaskan dan membuktikan bahwa dirinya tidak seperti yang Marmun tuduhkan. Dia bergerak kedepan, kesamping, duduk, berdiri dan duduk lagi, terus berulang ulang. Untuk kedua kalinya Erik bermalam di kantor, itu artinya dia lagi stres.