Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -16



Bagai petir di siang bolong, Marmun sontak bangkit dari rebahannya dan membaca pesan masuk itu untuk kedua kalinya.


Wajahnya yang berseri berubah menjadi benguk.


Dia cukup lama menatap pesan itu dengan tatapan kosong dan ia tampak sibuk dengan pikirannya.


"Kira kira Erik sudah punya pacar nggak ya Mar?" pesan masuk dari Mayri lagi,


Marmun hanya sekedar membaca, ia enggan membalas. Lalu meletakkan HP di atas nakas ranjang. Kemudian menutup setengah badannya dengan kemul lalu tidur.


Sedangkan Erik baru saja tiba di rumahnya, ia terlihat bahagia.


"Saya udah nyampe rumah ya loppit!" pesan terkirim Erik. Loppit adalah nama panggilan sayang Erik ke Marmun,


Di ranjang Erik nampak menunggu balasan pesan yang ia kirim, namun HP nya tak kunjung berbunyi.


Di sisi lain Mayri tampak terlentang di atas kasurnya, menatap langit langit kamar lalu menutup mata dengan senyuman. Sepertinya ia lagi sibuk dengan perasaannya.


*****


Ke esokan harinya, di ruang kelas Mayri tampak duduk di kursi belakang paling sudut dan terlihat sedang asyik ngobrol dengan yang lain. Dalam percakapan nya ia menyelipkan kata "Erik".


Hingga beberapa dari mereka menggoda Mayri.


Sesekali ia melirik jam tangannya seakan menunggu ke hadiran seseorang.


Berselang beberapa menit, sosok wanita berambut pendek berpakaian Jeans denim berwarna blue, kaos biru dan jeket Denim berwarna Merah serta sneaker shoes warna merah tampak masuk dari pintu.


Terlihat rambut hitam nya masih lembab, ia bergerak melangkah mendekat ke Mayri.


"Kamu dari mana saja! dari tadi aku nungguin kamu tahu!" ucap Mayri dengan mata berbinar seakan tak sabar ingin bercerita.


"Aku ketiduran, jadi sedikit terlambat gitu!" Marmun bergerak duduk di samping kanan Mayri.


"Semalam aku nge chat kamu, ekh kamu nya nggak balas balas," Mayri mengerutkan ujung bibir kanannya.


Disaat Mayri hendak mencurahkan isi hatinya, seorang lelaki tua berpakaian rapi dengan mendominasi putih hitam di tubuhnya masuk seraya berkata " persiapkan diri kalian karena akan ada kuis! Segala buku Silahkan disingkirkan!"


Semua mahasiswa/i yang ada di situ sontak menggerutu mayun termasuk Mayri dan Marmun.


"Ya elah pak, kenapa dadakan sih!" ucap salah satu mahasiswi,


"Bapak tidak butuh komentar kalian, yang tidak ingin ikut kuis silahkan keluar!" tegas Dosen.


Semua mahasiswa/i tertunduk mendengus kesal sembari mengernyitkan wajah.


Dosen bergerak melangkah membagikan beberapa kertas yang di dalamnya tercantum 5 pertanyaan.


Susana di ruangan itu hening sejenak, semua sibuk mengeluarkan isi otak masing masing dan menuangkannya pada secarik kertas (lembar jawaban).


Dan selama kuis berlangsung Marmun dan Mayri tampak gelisah, dahinya terlihat berkerut sebab tak satu pun bisa mereka jawab. Mereka tampak kesulitan menjawab.


5 menit kemudian kertas jawaban di kumpul, proses perkuliahan pun berlanjut hingga dalam kurun waktu 75 menit.


"Jadi tehnik, ilmu penulisan dan kode etik harus di pahami atau perhatikan dalam kejurnalistikan." Ucap Dosen mengakhiri perkuliahan.


"Baiklah sampai ketemu minggu depan, selamat siang!" lanjut sang dosen, lalu bergerak pergi.


Mahasiswa/i menghela nafas lega. Mereka bergerak keluar berpencar, terkecuali Marmun dan Mayri.


"Mar aku mau ngomong serius tentang Erik!" ucap Mayri sembari memasukkan binder dan balpoin ke dalam hobo bag nya.


"Kita ke kantin dulu yok! cacing cacing di perut ku seakan berdemo, lapar!" Marmun mengalihkan pembicaraan sembari mengelus perutnya.


Mayri berdengus kesal sembari bangkit dari duduknya, lalu bergerak melangkah. Marmun mengikutinya dari samping kanan.


Sesampai di kantin, seperti biasa Mayri mencari kursi kosong paling sudut.


Keduanya menarik kursi lalu duduk berhadap-hadapan.


"Mar aku suka Erik," Mayri mengungkapkan isi hatinya dengan terus terang sembari meletakkan HP nya di atas meja.


"Serius? sejak kapan?" tanya Marmun dengan wajah datar.


"Owh iya, kamu tolongin aku. Tanyain ke dia sudah punya pacar atau belum, kalau bisa coblangin sampai kita jadian." lanjut Mayri sembari memegang tangan Marmun.


Marmun menjawab dengan setengah senyum mengangguk anggukkan kepala.


Ia tampak tidak mau terus terang kalau dirinya pacar laki laki yang sahabatnya suka.


Entah apa yang membuat keduanya tidak mempublikasikan hubungan yang mereka jalin.


"Ya Tuhan! bagaimana kalau Mayri tahu kalau aku adalah pacar Erik, apa aku terus terang aja!" ucap Marmun dalam hati.


Dia sejenak berpikir, wajahnya terlihat kusut dan menatap Mayri dengan tatapan kosong.


"Aku harus jujur ke Mayri, ya harus jujur." ucap Marmun lirih sembari menggerak gerakkan kedua ibu jarinya secara bersamaan, stress.


"May, sebenarnya aku mau jujur kalau Erik itu adalah.."


Tiba tiba HP berdering membuat Marmun mengurungkan niat dan menjeda ucapannya.


"Wadokhh Erik memanggil lagi!" ucap Marmun dalam hati sembari mematikan panggilan masuk lalu mengeluarkan HP nya dari dalam tas.


"Siapa Mar? kok nggak di angkat!"


"Nggak siapa siapa kok, biasa nomor yang tak dikenal." Marmun berbohong lalu bergerak berdiri, kemudian pergi pamit ke kamar mandi.


Mayri menunggu Marmun dengan memainkan game, nonton YouTube dan sesekali ia menutup mata, sibuk dengan pikirannya, menghayal.


Sedangkan Marmun sibuk ngobrol dengan Erik via telepon, di kamar mandi.


"Pulang kerja saya jemput kamu yeah loppit!" ucap Erik,


"Iya bee, sekalian ada yang mau aku bicarain, penting." sahut Marmun sembari mengaca merapikan rambutnya.


Bee adalah panggilan sayang Marmun pada Erik.


"Ya sudah sampai ketemu nanti, bye!" lanjut Marmun, lalu menutup telepon. Marmun bergerak kembali ke meja tempat Mayri menunggunya.


"Ngapain aja sih di kamar mandi, lama banget!" Mayri menyodorkan secangkir cappucino cincau yang sudah ia pesan sebelumnya.


"Hahahha boker!" ucap Marmun berbohong sembari memasukkan HP kembali ke dalam tas backpack nya.


Mayri terkekeh,


"Intinya kamu harus bantu aku sampai jadian dengan Erik, titik!"


Mendengar ucapan sang sahabat, Marmun tersedak hingga wajah nya nampak membiru.


Mayri bergerak mendekat lalu menepuk nepuk punggung Marmun dengan cemas.


Berselang beberapa menit Marmun kembali bernafas normal,


"Akh, kamu slalu buat orang jantungan!" ucap Mayri dengan kesal sembari kembali ke tempat duduknya.


"Iya maaf," Marmun menelan kasar ludah dan mengatur pernafasannya.


Disisi lain Erik telah tiba di depan kampus, dengan segera ia mengirim pesan ke Marmun.


"Siang loppit, saya sudah di depan ya!" isi pesan Erik.


Nada pesan masuk berbunyi, Marmun mengambil HP lalu membaca pesan masuk, lalu meletakkan di atas meja disamping gelas cappucino cincau nya.


Marmun bergerak pamit pulang terlebih dahulu, sebab Erik telah menunggunya.


"Lahh ini baru jam 13.00 WIB kok udah mau balik aja!" ucap Mayri dengan santai,


"Ada urusan bentar," Marmun pergi terburu - buru hingga melupakan HP nya.


"Wadokhh ini kan HP si kalapa!" ucap Mayri lirih.


Dengan cepat Mayri bergerak berjalan mengejar Marmun.