
Hari yang begitu menyebalkan bagi Mayri.
Ketika hendak ke kampus, pintu rumah tertutup rapat, terkunci dari luar. Lagi dan lagi Zio berulah dengan semena mena.
Mayri terlihat panik sebab pagi itu ia akan mengikuti ujian di kampus.
Mayri bergerak kesana kemari mencari besi berukuran kecil yang telah di bentuk sesuai dengan perekat engsel.
Terhitung 10 menit mencari, kunci yang ia butuhkan tidak juga ketemu.
Sebentar terduduk, mencari ide. Air keringat tampak mengalir dari wajahnya.
Seketika pikirannya terpelintir ke jendela kamar Zio. Mayri bergegas mendekat ke pintu kamar yang berukuran sedang itu.
"Krek!"
Pintu terbuka, Mayri terlihat mendengus nafas lega sebab Zio tidak mengunci pintu kamarnya.
Mayri melangkah masuk matanya terbelalak menatap isi ruangan itu serta berdecak kagum "Wow!"
Ruangan itu menyambut dengan aroma yang menyenangkan jiwa dan pikiran. Kamar itu tampak bersih dan tertata, barang barang terpajang dan tersusun rapi mengalahkan kamar insan yang paling seksi.
Seketika pikirannya terlintas pada ujian yang sebentar lagi akan berlangsung, lalu menoleh ke jendela yang tertutup rapat itu. Ia melangkah dua langkah ke samping kiri jendela tepatnya di samping ranjang Zio. Kemudian membuka laci dan mengotak atik segala isinya, mencari sesuatu. Kosong.
Mayri berlari keluar dengan napas ngos-ngosan, ia kembali mencari alat yang dianggapnya dapat membuka jendela meskipun harus membuka paksa.
Gudang,
Mayri bergerak masuk gudang, matanya memandang memutar dan terhenti pada sebuah besi (linggis) yang terletak di sudut ruangan petak itu.
Mayri mendekat meraib namun tiba tiba seekor tikus melintas di depan nya hingga membuatnya berlari ketakutan dan terjatuh.
"Aisss,"
Mayri menegangkan rahangnya, bergegas berdiri. Debu tampak melapisi sebagian pakaiannya.
Dia menoleh ke arah jam. Dan dengan terpaksa memberanikan diri mengambil linggis itu, lalu meninggalkan ruangan yang telah berdebu dan di huni oleh beberapa hewan kecil berkumis itu.
Dengan sekuat tenaga, Mayri membuka paksa jendela kamar Zio.
"Krek" jendela terbuka.
Mayri lega, dia mengeluarkan tubuhnya dari sela jendela yang berukuran kecil itu. Lalu mendekat ke motor yang terparkir di teras rumah.
Mayri merogoh tas dan kantong seakan mencari sesuatu. Bingung.
"Kunci motorku kok nggak ada? dimana ya!"
Mayri bergegas masuk melalui jendela kamar Zio, mencari kesemua sudut kamarnya, kosong. Kemudian kembali ke kamar Zio dan mengotak atik ruangan itu, kosong.
Mayri terduduk sejenak dengan menghela nafas panjang. Dia berusaha menenangkan pikiran, fokus.
"Tinggal gudang! Kalau tidak ada juga, aku nggak tahu lagi dah!" ucap Mayri dalam hati.
Dia berlari ke gudang dan seketika matanya tertuju pada kunci motor yang terletak diatas keramik dimana dirinya terjatuh.
Dengan wajah memerah dan berlumuran keringat, Mayri kembali keluar untuk kedua kalinya dari jendela kamar Zio.
Mayri ngap ngapan seakan nafasnya tinggal sedikit. Di atas motornya, ia mengelap keringat wajah dengan punggung telapak tangannya.
Wajah putih itu berubah menjadi coklat kehitaman. Dia tak menyadari bahwa tangannya cukup kotor.
Mayri segera melajukan motornya dan memacu kecepatan bermotor, mengejar waktu yang semakin mepet.
1/4 jam kemudian Mayri tiba di kampus dengan Kumal. Lalu bergerak berlari tanpa memarkirkan motornya dengan benar. Semua mata tertuju padanya, beberapa orang tertawa sarkas dan ia menghiraukannya.
Berselang beberapa menit, Mayri tiba di depan pintu ruangan kelas. Ruangan itu tampak hening, ujian telah berlangsung.
Mayri memejamkan mata dan menghirup udara dengan dalam lalu bergerak masuk.
"Permisi Bu, maaf telat!"
Seketika konsentrasi mahasiswa/i di ruangan itu buyar, termasuk Marmun dan Rivan. Mereka menoleh Mayri yang melangkah jinjit jinjit.
"Jam berapa ini May? Silahkan keluar!" bentak Dosen.
Mayri menghentikan langkahnya dan mencari alasan supaya di ijinin mengikuti ujian.
"Saya minta maaf Bu! Tadi saya bantu orang yang kecelakaan makanya saya telat, Bu! Ijinkan saya mengikuti ujian ya, Bu!" pinta Mayri dengan wajah lesu dan sedih.
Marmun bangkit dari duduknya dan memohon supaya sang sahabat mengikuti ujian yang sedang berlangsung.
"Ibu tidak menerima alasan apapun. Besok kamu ikut ujian susulan!"
Rivan menyahut ucapan sang dosen dengan berani meskipun Ia tidak tahu kebenaran dari alasan yang terlontar.
"Maaf Bu, saya lancang. Mayri terlambat karena menolong orang, apakah ibu tidak punya hati nurani?"
Ruangan itu mulai ricuh dengan bisikan.
Ucapan Rivan sedikit menusuk dan membuka hati sang dosen.
Dia menoleh Rivan dengan tajam seraya berkata "Baiklah. Ibu beri kamu kesempatan dan ini yang terakhir!"
Mayri menjawab dengan mangut mangut lalu bergerak duduk pada kursi kosong yang tersisa.
"Kalapa! Dari mana aja? tumbe kamu telat!" tanya Marmun,
"Panjang ceritanya," Mayri bergerak menerima selembar kertas pertanyaan lalu menjawab dengan terburu buru.
Suasana ruangan itu kembali hening. Setengah jam kemudian, Dosen bangun dari duduknya. Ia menatap mahasiswa/i dan jam tangannya bergantian.
"Waktu telah habis, silahkan keluar dan tinggalkan lembar jawaban di atas kursi meja kalian!"
Marmun, Rivan dan yang lainnya bergerak meninggalkan ruangan membawa tas berisikan peralatan kuliah.
Mayri masih sibuk menyoret secarik kertas di hadapannya, menjawab soal soal tanpa memerhatikan dosen yang berdiri tepat di depannya meskipun dosen telah berdehem.
Dari depan pintu Marmun tampak khawatir,
"May, lihat ada dosen di depanmu!" gumam Marmun dengan greget.
"May! Kamu dengar apa yang ibu katakan?" bentak Dosen.
Mayri terkesiap dengan setengah senyum lalu bergerak keluar dengan rasa malu.
Beberapa menit kemudian, Mayri maherat dari Marmun dan Rivan setelah membaca pesan masuk dari seseorang.
Marmun dan Rivan kelabakan mencari keseluruh penjuru kampus itu.
"Kayaknya sikalapa menghindar deh dari kita. Kamu merasa nggak sih!"
"Iya, bener. Kayaknya dia menyembunyikan sesuatu dari kamu!" ucap Rivan menatap serius Marmun.
"Apa iya, yeah!" Marmun mencondongkan bibirnya yang telah berbentuk bulat berkerut.
Ditengah perjalanan, Mayri tampak di hadang dua wanita dengan pakaian seksi, Ranti dan Lala.
Dengan santai Mayri turun dari motornya dan bergerak maju kehadapan Ranti dan Lala.
Tanpa diduga Ranti dan Lala mendorong Mayri hingga terjungkal.
Dengan rasa kesal yang telah tertimbun mulai terbitnya matahari hingga detik itu membuat darahnya semakin mendidih.
Dengan beringas Mayri menjambak Ranti bergantian. Entah kekuatan apa yang merasukinya.
Orang yang melintas hanya memandangi mereka dengan sepintas.
Ranti merintih kesakitan, rambutnya acak acakan bagai kesetrum listrik. Begitu juga dengan Lala.
Setelah merasa puas, Mayri pergi. Sedangkan Ranti dan Lala terduduk kaku di jalan seperti orang stress.
"Gila! Bisa bisanya kita kalah dari dia, sudah kayak moster!"
"Sial!" Ranti berdecak kesal.
Mayri tiba di salah satu Cafe dekat rumah Erik. Orang yang melintas melihatnya dengan mencibir.
Sebelum menghampiri Erik, Mayri terlebih dahulu ke kamar mandi. Dia melihat gambar dirinya dalam kaca.
"Pantesan orang orang menatap aneh padaku!" Mayri menepuk zidatnya dengan tertawa geli.
Segera Mayri membersihkan debu yang menempel pada pakaian dan membasahi wajahnya dengan kasar.
Dengan hati dingin Mayri bergerak mendekat ke laki laki yang telah lama menunggunya, Erik.
Sedangkan Marmun tampak asyik ngobrol di taman kampus bersama Rivan sembari menunggu jemputan dari Erik.