Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -20



Esok harinya,


Pagi yang begitu indah, langit terlihat sedikit kelabu, sinar mentari menyapa dengan malu malu serta udara tampak dingin menyentuh kulit.


Dikamarnya, Marmun tampak sedang merapikan buku yang porak poranda. Namun tanpa sengaja, ia menyenggol sebuah buku yang terletak di ujung pinggir meja, tampak secarik kertas mencalang tipis tipis.


Ia mengambilnya, lalu menatap dengan mata tak berkedip, cukup lama ia melisankan nya.


"Untuk sahabat sejatiku, biarkan kata 'saling' hadir dalam setiap hubungan. Suatu saat akan terlihat betapa indahnya kebersamaan itu." isi tulisannya, entah siapa merangkai kata indah itu.


Kutipan itu membuat Marmun merasa tertikam akan ketidak jujurannya pada sang sahabat.


Dia bergerak duduk sembari menutup mata, lalu dengan cepat tangannya meraih tas mini dan HP, kemudian bergegas keluar.


"Mom aku pergi dulu!" ucap Marmun sembari memakaikan sneakers shoes.


"Hati hati kak! jangan lupa nanti check up," ingatkan sang ibu.


"Besok aja mom, aku ada urusan nih!" ucap Marmun, lalu bergerak pergi.


Dikampus, Mayri tampak terduduk dalam ruang kelas, dia tertunduk memandang lantai yang ia pijak dengan tatapan kosong, wajahnya terlihat kusut.


"May, Loe ikut kekantin nggak!" ucap salah seorang wanita yang ada di ruangan itu,


Sepertinya Mayri terlalu asyik dalam lamunannya, dia tak menjawab.


Seorang wanita bergerak mendekat ke Mayri seraya berkata, " Kami mau ke kantin, Loe ikut nggak!" sembari menyentuh tangan Mayri.


Sekujur tubuh Mayri tampak bergetar, detak jantungnya berhenti sesaat.


"Ada apa?'' tanya Mayri dengan nada pelan,


"Kita mau ke kantin, Loe ikut nggak!" ucapnya lagi,


"Nggak, kalian aja! aku lagi nggak mood," ucap Mayri dengan muka datar.


"Tumben!" guman wanita itu sembari bergerak pergi bersama yang lain.


Berselang 15 Menit, dari ujung pintu tampak seorang wanita berdiri sembari menghela nafas berat, ia bergerak melangkah dengan pelan.


"Aku harus jujur pada si kalapa, kalau aku dan Erik pacaran." ucap Marmun dalam hati, ia tampak menggigit bibirnya.


Marmun bergerak mendekat ke Mayri.


"Tumben jam segini anak (mahasiswi) kesayangan dosen masih di ruang kelas!" ucap Marmun menggoda sembari melirik Mayri, lalu menarik kursi ke depan Mayri kemudian ia menduduki nya.


"Mmmm" guman Mayri dengan setengah senyum.


Marmun menghela nafas panjang, ia memberanikan diri untuk jujur perihal hubungannya dengan cowok incaran sang sahabat.


"May aku mau ngomong serius" ucap Marmun dengan pelan sembari melepaskan dan meletakkan tasnya di atas meja kursi.


"Iya sudah, kamu ngomong aja!" ucap Mayri cetus dengan wajah datar,


"Sebenarnya aku dan Erik itu...." ucap Marmun tersendat,


Mendengar nama Erik, Mayri sedikit bersemangat, ia menegakkan punggungnya dan menaikkan kedua alis matanya seraya berkata, "Sebenarnya apa kalapa?"


"Mereka pacaran, ia kan mar?" ucap seorang laki-laki tinggi, ganteng, putih dari ujung pintu. Laki laki itu terlihat keren dengan kombinasi kaos polos dengan outer jaket denimnya, Rivan.


Sontak Marmun dan Mayri terkejut, dua pasang mata itu menoleh ke arah Rivan.


Rivan bergerak masuk dengan santai, ia menarik kursi lalu duduk di sebelah kiri Marmun.


Marmun terdiam sembari menggigit bibirnya, dahinya tampak berkerut,


"Kamu dan Erik pacaran..? begitu!" ucap Mayri dengan keras,


"Iya kalapa," ucap Marmun singkat sembari menggerak gerakkan kedua ibu jarinya.


Mayri bergeming sejenak,


"Ha!!! Tega kamu Mar! kamu tahu aku suka sama Erik, tapi kamu justru menikungku dari belakang!" ucap Mayri dengan wajah memerah, marah.


"Kalau memang kalian sudah pacaran waktu itu, kenapa kamu nggak jujur sama aku! kenapa kamu nggak terus terang, kenapa mar!" bentak Mayri dengan tatapan tajam.


Rivan hanya diam seribu bahasa menyaksikan percekcokan kedua antar sahabat itu.


"Iya ok, aku salah nggak jujur sama kamu, aku minta maaf. Saat itu aku lihat kamu lagi berbunga-bunga, aku hanya tak ingin membuat bunga itu layu," ucap Marmun dengan wajah merasa bersalah.


"Kamu bukan hanya membuat bunga itu layu mar, tapi kamu menghancurkannya berkeping-keping!" ucap Mayri dengan wajah sinis, jemarinya menunjuk nunjuk kearah wajah Marmun. Lalu ia bergerak berdiri,


"Pleaseee maafin aku may, aku nggak ada niat untuk nyakitin hati kamu. Aku sengaja datang lebih cepat, hanya untuk mengakuinya." ucap Marmun sembari bergerak berdiri.


Mayri bergeming, lalu ia membuang pandangannya dari Marmun.


" Sebenarnya kamu nggak salah lho Mar, Mayri aja yang terlalu sensitif," ucap Rivan membela Marmun.


"Loe bisa diam nggak sih! loe nggak usah ikut campur urusan orang!" bentak Mayri,


"Owh iya, kalian kan sehati! sama sama suka nyakitin hati orang!" lanjut Mayri dengan menyipitkan mata dan raut wajah datar, lalu bergerak pergi.


Marmun bergerak mengikutinya,


"Tunggu May, maafin aku dulu!" seru Marmun sembari menarik tangan kanan Mayri,


"Apalagi sih Mar! semua udah jelas kan!" ucap Mayri,


"Masa sih kita berantem gara gara cowok, please maafin aku!" mohon Marmun dengan menyatukan kedua telapak tangannya.


"Aku ingin sendiri, tolong lepasin tangan aku!" pinta Mayri sembari mengernyitkan wajahnya,


Marmun seakan memahami bagaimana perasaan sahabatnya saat itu, ia melepaskan tangan Mayri.


Mayri bergerak pergi menconcong dengan amarah.


Sedangkan Marmun bergerak kembali ke tempat duduknya. Ia bergeming sejenak.


"Mar, maafin aku yeah, tadi aku langsung ngerocos gitu!" ucap Rivan sembari menyentuh tangan Marmun,


"Nggak apa apa Van. By the way aku balik duluan yeah!" ucap Marmun dengan setengah senyum sembari menyandangkan tas mininya, lalu bergerak pergi.


Rivan menoleh ke arah Marmun dengan rasa bersalah dan kasihan.


30 menit kemudian, Mayri tiba di rumahnya, ia bergerak masuk lalu melangkah menconcong tanpa memerhatikan sang adek yang sedang duduk di ruang tamu.


"Kalau masuk itu salam dulu! pulang pulang muka di tekuk, aneh!" ucap Zio menyindir,


Mayri terus melangkah tanpa menghiraukan ucapan sang adek. Ia masuk dalam kamarnya lalu mengurung diri.


"Aaaaaa!! kenapa aku selalu di sakitin sih! kenapa! aku salah apa!'' teriak Mayri sembari mencampakkan tas mininya, lalu menyapu bersih beberapa makeup yang ada diatas cermin meja rias dengan tangannya, hingga jatuh berserakan ke lantai.


"Kenapa Mar, kamu itu sahabat aku! tapi kamu tega nyakitin aku!" teriak Mayri berceloteh sendiri. Ia jatuh terduduk dilantai, air mata membasahi pipinya. Kemudian dia duduk tertunduk dengan kepala menyentuh lutut nya, kedua tangannya mendekap kakinya dengan melingkar, bersedih.


Sedangkan Marmun baru saja menapakkan kakinya di depan pintu rumahnya. 10 menit lebih lama dari Mayri,


"Krekk!" bunyi pintu di buka,


" Syalom," sapa Marmun sembari membuka sneakers shoes nya.


"Kok pulang cepat kak! apa dosennya nggak masuk!" ucap Sang ibu sembari bergerak menghampiri putrinya.


"Aku cabut dari kampus mom, aku dan Mayri berantem," ucap Marmun sedih sembari bergerak berjalan ke ruang tamu.


Sang ibu mengikutinya dari samping kanan Marmun seraya berkata, "Kok bisa! gimana ceritanya kak!


Marmun mendekat ke kursi lalu duduk bersandar,


Disaat Marmun hendak bercerita, HP nya berdering, ia mengeluarkan HPnya dari dalam tas, panggilan masuk dari Erik.


"Angkat dong kak mana tahu penting!" ucap Sang ibu,


"Biarin aja mom," ucap Marmun sembari meletakkan HP nya di atas sofa tables,