Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -19



Wanita itu terlihat semok, ketika para lelaki memandangnya, pasti bangkitlah birahinya. Ia semakin mendekat, Erik melirik dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"ekheem mata tu di jaga!" sindir Marmun dengan wajah serius sembari mencubit paha kiri Erik,


"Aauww!" rintih Erik sembari megelus elus pahanya.


Ketika sang wanita bergerak melangkah melewati mereka, Erik tampak meliriknya sembari menelan ludah.


"Bee, kayaknya cewek itu selingkuhan Rivan deh! kalau nggak salah tapi," ucap Marmun sembari menoleh ke arah wanita semok, Ranti.


"Jadi Mayri dan Rivan sudah putus!" ucap Erik dengan mata membesar,


"Iya. Kamu ingat nggak, saat aku kecelakaan waktu itu, ada wanita di lokasi selain aku!'' ucap Marmun sembari menatap Erik.


Erik berusaha mengingat, ia tampak menutup matanya.


"Owh iya bener, ada." ucap Erik sembari menoleh ke arah Ranti.


"Pantasan Rivan mendua, cewek barunya semok gitu!" guman Erik.


"Tatap teruss!" seru Marmun menyindir,


Erik tertawa terbahak-bahak,


"Sensi amat kamu loppit, nggak usah cemburu, kamu kan lebih bohay!" ucap Erik sembari mendekap Marmun.


"mmmm," ucap Marmun lirih sembari setengah senyum.


Berselang beberapa menit, nada pesan berdering.


"Kalapa, kita keluar yok! ajak Erik yeah!" isi pesan Mayri.


Dengan cepat, Marmun membalasnya.


Jemarinya merangkai kata, "Ketemuan dimana, kebetulan aku lagi diluar, di taman dekat rumah Erik. Kalau apa, kita main disini saja!''


lalu menekan tanda panah pada keyboard text, pesan terkirim.


Nada pesan berdering kembali,


"Ok! Segera cap cus," isi pesan Mayri.


tak berselang lama, seorang wanita berbaju merah muda turun dari taksi blue, Mayri. Ia tampak bergerak lemah gemulai,


Marmun bergerak berdiri,


"Heii, kalian udah lama atau gimana?" ucap Mayri sembari memeluk Marmun, cipika-cipiki.


"Baru setengah jam May," jawab Erik dengan senyum tipis.


"Owhh, kita ke tempat situ aja! hari sudah mulai panas" ucap Marmun sembari menunjuk ke arah pohon beringin yang telah di hias.


Ketiganya bergerak melangkah.


Erik berjalan dua langkah lebih dulu dari Marmun dan Mayri.


Marmun melangkah dengan mata menoleh ke seluruh penjuru dunia, hingga kaki nya tersandung kayu dan ia terjerembab ke dalam hamparan rumput halus.


Melihat sang kekasih terjatuh, Erik bergerak cepat membantunya.


"Lain kali jangan momar momar, perhatikan jalanmu!" ucap Erik melingkarkan lengan Marmun pada pundaknya, lalu tangannya memegang pinggang sang kekasih, memapah.


"Aaww" rintih Marmun dengan wajah kesakitan sembari bergerak melangkah.


Darah segar tampak membasahi lutut kanan Marmun.


Mayri terlihat menaruh ayak terhadap keduanya. Ia berjalan mengikuti langkah Marmun.


"Mar duduk disni aja!'' seru Mayri sembari membersihkan bangku yang bersandar pada pohon itu.


"Thanks May," ucap Marmun sembari menapakkan bokongnya di atas bangku sembari melepaskan tangannya dari pundak Erik.


"Bentar, saya beli air mineral dan Betadine dulu!" ucap Erik dengan wajah welas, lalu bergerak berlari.


Mayri semakin merasa zan akan kedekatan Marmun dan Erik.


"Ini mah nggak seberapa dengan kejadian kemarin, hanya luka kecil doang," goda Mayri dengan wajah sumringah.


"Pasti apa? ngejek! aku lebay, gitu!" ucap Marmun dengan mengangkat sedikit dagunya sembari menoleh Mayri.


"Yeahhh pasti nangis histeris dong, kwkekek," ucap Mayri tertawa sembari bergerak berdiri dan memegang perutnya, geli.


"Kwkkeke, ingat nggak waktu kamu terpelintir di kamar mandi kampus," ucap Marmun dengan pandangan ke atas.


"Kwkekke itu mah hal yang paling memalukan sepanjang hidupku, kalau ingat moment itu aku jijik sendiri!" ucap Mayri dengan menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Wanita cantik mah gitu! tapi akhir akhir ini sifat kita seakan ketukar nggak sih! kamu sadar nggak!" lanjut Mayri dengan serius,


Marmun sejenak berpikir,


"Masa sih, perasaan biasa aja!" ucap Marmun, lalu meniup lukanya.


''Iya lho, setelah sembuh dari sakit (kecelakaan) kamunya lebih pemaaf, lebih lembut. Lahh aku, sekarang sulit menerima maaf, gampang kepancing emosi!" ucap Mayri memberitahu.


Marmun tampak meniup niup lukanya, sembari memikirkan ucapan sang sahabat.


Berselang 10 menit kemudian, Erik datang dengan sebotol air mineral ukuran 300ml di tangan kirinya, dan sekantong kecil alat P3K di tangan kanannya.


Ia berlari mendekat, wajahnya tampak memerah dan berkeringat,


"Maaf ya lama, apotiknya jauh banget!" ucap Erik dengan nafas ngap ngapan.


"Nggak apa-apa bee, seharusnya aku yang harus minta maaf, maaf yeah!" ucap Marmun sembari senyum.


Keringat bercucuran di wajah pria berkacamata itu, Mayri menyeka dengan sehelai tisu. Dia tampak gregetan akan brewok halus Erik, cukup lama ia memandanginya.


Erik mengabaikan perhatian Mayri,


Dengan gemulai, ia membasahi luka Marmun dengan cairan berwarna kemerahan, lalu menutupnya dengan kain kasa putih yang telah ternoda oleh cairan yang sama (gel antiseptik), kemudian mengeratkannya dengan seutas plester.


" Ok, selesai." ucap Erik lalu ia menghembus luka Marmun.


"Hahah kamu bisa aja!" ucap Marmun,


Tanpa sadar ia mengusap kepala sang kekasih yang sedang congkok dekat lututnya.


Mayri tampak kesal dengan tingkah sepasang kekasih itu, wajahnya terlihat berkerut, mayun.


Hari semakin siang, sinar mentari semakin menyengat di kulit, rumput-rumput tampak layu seakan ikut merasakan kegundahan hati Mayri.


"kalau gitu kita pulang aja yok!" ajak Mayri dengan kening berkerut sembari menyandang kan tas mungil nya.


"iya, kita pulang aja!" sambung Erik sembari mengumpulkan alat P3K dan memasukkan ke dalam tas Marmun, lalu ia bergerak berdiri.


Marmun meng ''iya" kan dengan menganggukkan kepalanya, lalu bergerak berdiri.


Mayri berjalan 3 langkah lebih dulu dari Erik dan Marmun.


"May, kita pulang bareng aja!'' ucap Marmun, ia tampak pincang.


"Kita antar Marmun duluan tapi," sambung Erik, kakinya tampak mengikuti langkah Marmun.


"Nggak usah, aku mau langsung cepat cepat nyampe rumah, gerah soalnya. Lagian aku sudah pesan taksi.'' ucap Mayri dengan senyum terpaksa.


"Owh gitu, baik lah." ucap Marmun dengan pupil mata membesar.


Berselang 3 menit, taksi datang.


"Kalau gitu aku pulang duluan yeah," lanjut Mayri sembari menarik rambut Marmun, lalu bergerak masuk dalam taksi. Ia tampak sedikit melampiaskan kekesalannya.


"Aaww, isss kalapa bodat!" ucap Marmun dengan keras sembari tersenyum simpul.


"Kalapa Namokkol, kalapa nabusuk!'' sahut Mayri dengan sumringah, lalu mengelelot lidahnya. Taksi melaju pergi.


Begitupun Marmun dan Erik, mereka pergi lebih lambat 2 menit dari Mayri.


2 jam kemudian Mayri tiba di rumahnya, dia bergerak masuk dalam kamarnya, lalu mengurung diri. Kemudian ia rebahkan badannya di atas kasur empuk.


Wajahnya yang biasa tampak berseri berubah menjadi murung, ia menutup matanya dan sibuk dengan kegundahan hatinya hingga tertidur.


Sedangkan Marmun dan Erik tampak sir siran hingga larut malam.