Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -17



Hari semakin siang, mentari menyuar mata Marmun hingga membuatnya menyipitkan mata.


Ia melanjutkan langkahnya, Mayri bergerak berjalan dengan cepat, mengejar.


"Kalapa!" panggil Mayri dengan nafas tergesa-gesa,


Mendengar kata kalapa, langkah Marmun terhenti sejenak, ia menoleh kiri-kanan.


Kemudian menoleh ke belakang, dan Ia begitu terkesiap melihat Mayri.


"Adukhh, gimana ini kalau si kalapa tahu aku di jemput Erik, pasti Mayri kecewa banget," Ucap Marmun lirih sembari setengah senyum memandang ke Mayri yang sedang melangkah ke arahnya.


"Iya May, ada apa?" ucap Marmun dengan kedua alisnya sedikit terangkat.


"Kamu merasa ada yang ketinggalan nggak?" ucap Mayri dengan menghela nafas berat,


"Mmm kayaknya nggak ada deh May," ucap Marmun tanpa mencheck isi tas backpack nya.


"Kamu yakin! HP atau apa gitu," ucap Mayri seakan memberi klu,


"Iya," ucap Marmun yakin.


"Trus ini HP siapa? HP orang lain ?" ucap Mayri sembari menunjukkan HP merek Apple iPhone XR dengan wallpaper gambar wanita yang sedang duduk di atas pasir pantai ke hadapan Marmun.


"Y ampun, kok bisa ketinggalan sih! perasaan aku tarok dalam tas lho!" ucap Marmun sembari menepuk zidatnya, lalu mengambil HP dari tangan Mayri.


"Mmmmmm," ucap Mayri sembari menggeleng gelengkan kepala.


"Thank y kalapa, kamu baik deh!" puji Marmun sembari mencubit pipi mulus Mayri,


"Ikhhh sakit tahu!" ucap Mayri sembari mengelus pipinya yang memerah akibat cubitan Marmun.


"Iya sudah, aku balik yeah kalapa cantik!" ucap Marmun pamit,


"Sok atuh," ucap Mayri dengan ramah.


Mayri kembali ke kantin, ia hendak menyantap makanan yang telah menggodanya.


Sedangkan Marmun kembali melanjutkan langkahnya.


Berselang 3 menit Marmun tiba di depan kampus tepat di samping mobil warna putih milik Erik. Ia bergerak masuk me dalam mobil.


"Hai bee, maaf yeah lama," Sapa Marmun sembari meyandarkan badannya pada sofa mobil.


"Gak apa apa, saya juga baru nyampe kok," ucap Erik dengan senyum tipis.


"Owh gitu." ucap Marmun singkat,


Erik menghidupkan mobil nya, lalu pergi dengan laju kecepatan rendah. Dia sedikit trauma akan kerjadian yang menimpa Marmun.


Semenjak PDKT, Erik mengistirahatkan sang supir, ia memilih mengemudi sendiri mobilnya.


Di sepanjang perjalanan Marmun dan Erik bercerita panjang lebar hingga tak sadar telah tiba di Cafe Time Coffe (CTC).


Tertawa bersama akan kebodohan berdua.


"Kita parkir dimana yeah!" ucap Erik dengan wajah berputar,


"Dekat mobil hitam itu aja bee, biar lebih cepat!" ucap Marmun sembari menunjuk ke arah mobil ber plat merah.


Erik segera memutar stirling lalu memarkirkannya. Kemudian sepasang kekasih itu bergerak masuk.


"Wahhh ramai bee," ucap Marmun dengan mata membesar sembari melangkah.


"Iya yeah, mudah mudahan masih ada kursi" ucap Erik sembari mencari meja kosong.


Tampak wajah wajah seger (anak muda) memenuhi tempat itu hingga tak menyisakan satu meja pun.


"Nggak ada lagi meja kosong loppit, kita ke cafe lain atau gimana?" ucap Erik sembari menatap wajah Marmun.


"Ya wess kita balik aja!" jawab Marmun dengan pelan.


Namun disaat Marmun dan Erik berbalik badan, di ujung sebelah kiri tampak seorang laki-laki bertopi biru, berpakaian oblong warna biru melambaikan tangan. Ia tampak duduk sendiri.


Laki laki bertopi itu bergerak berdiri lalu melangkah ke arah Marmun dan Erik. Marmun tampak mengerutkan kening, bingung. Keduanya sulit mengenali laki laki bertopi, Rivan.


"Hei Mar, Rik! kalian berdua aja?" sapa dan tanya Rivan sembari menoleh ke arah pintu masuk seakan mencari seseorang.


"Iya, emang kenapa?" tanya Erik sembari mengikuti tolehan Rivan.


"Owh, nggak apa apa!" jawab Erik


"Gimana loppit, kita gabung atau langsung pulang?" tanya Erik sembari melihat jam tangannya.


"Mmmm boleh," ucap Marmun sembari memandang ke arah meja tongkrongan Rivan.


Ketiganya bergerak melangkah, beberapa pasang mata memandang mereka sepintas.


Erik menarik kursi untuk Marmun lalu mempersilahkannya duduk, ia menarik kursi satu lagi lalu duduk. Begitu pun dengan Rivan.


"Kalian?" tunjuk Rivan wajah bertanya-tanya,


"Idikhh kepo!" ucap Marmun sembari tersenyum.


"Aku perhatiin dari tadi pasti kalian ada hubungan spesial, iya kan!" ucap Rivan menebak sembari memegang dagu nya.


"Kamu mau tahu banget atau mau tahu aja?" tanya Erik bercanda,


"Hahaha dua duanya," Jawab Rivan sembari mengeluarkan HP'nya dari saku depan sebelah kanan.


"Btw kamu terlihat ganteng lho pakai topi!" goda Marmun mengalihkan pembicaraan sembari menatap wajah tampan Rivan.


"Akhhheemm" ucap Erik menyentil pujian sang kekasih.


"Hahaha!" tawa Marmun sembari menyiku tangan Erik.


"Akhh kamu bisa aja!" ucap Rivan dengan wajah memerah.


Secangkir cappucino cincau, secangkir anomali Coffee, secangkir macchiato, dan setapak french fries, setapak pastry serta tiga tapak sandwich menemani mereka sepanjang percakapan berlangsung, hingga mereka tak sadar hari sudah sore.


"Alamakkk udah jam 17.05 WIB, cepat banget yeah!" ucap Marmun sembari melihat jam di HP nya, lalu ia memasukkan sandwich ukuran kecil ke dalam mulutnya dengan bantuan garpu mungil.


"Iya bener, bagaimana kita pulang sekarang atau bentar lagi!'' ucap Rivan sembari melihat jam tangannya, lalu menoleh ke arah Erik dan Marmun.


"Sekarang aja!" ucap Erik sembari mengacungkan tangannya memanggil waitress, lalu mengeluarkan dompet dari dalam saku depan sebelah kiri.


Berselang beberapa menit, Waitress datang dang memberikan bill, lalu Erik mengeluarkan 4 lembar uang berwarna merah muda dari dompetnya.


"Thanks ya mbbak!" ucap Marmun sembari bergerak berdiri.


"Sama sama mbbak," sahut Waitress dengan senyum lalu bergerak pergi.


"Jangan ada ketinggalan!" ucap Erik mengingatkan sembari mengambil HP dari atas meja lalu memasukkan ke dalam saku depan sebelah kanan.


Mendengar ucapan Erik, Marmun dan Rivan men'check barang barangnya terlebih HP.


"Aman, yok!" ucap Rivan sembari bergerak berdiri lalu pergi keluar. Marmun dan Erik mengikutinya dari belakang.


Rivan berpisah dengan sepasang kekasih itu di parkiran, lalu melanjutkan perjalanan masing masing.


*****


Di kamar mandi Cafe Cinta Kasih, Mayri tampak sedang membalut wajahnya dengan makeup, Ia bagai putri duyung dengan gaya rambut Half Up Mermaid Braid, dan terlihat seksi dengan rok mininya.


Sepertinya Mayri bintang tamu di Cafe itu.


"Ok, perfect!" ucap lirih Mayri sembari bercermin.


Disisi lain, Sepasang kekasih itu baru saja tiba di rumah Marmun.


"Kamu nggak singgah bee?" tanya Marmun sembari membuka pintu mobil, lalu bergerak keluar.


"Nggak loppit, saya langsung balik aja, gpp kan!" ucap Erik dengan senyum tipis.


"Iya gak apa- apa, kamu hati hati yeah, jangan ngebut ngebut!" ucap Marmun perhatian sembari menutup pintu mobil.


"Siap komandan!" ucap Erik sembari menempelkan ujung jari ke alis mata kanannya dengan telapak terbuka, menghormat.


Marmun tersenyum, lalu bergerak masuk ke dalam rumah. Setelah Marmun masuk dalam rumah, Erik melajukan mobilnya.


Sebelum pulang, Erik singgah terlebih dahulu di salah satu Cafe dekat rumahnya. Tampak Cafe itu ramai pengunjung,


Setelah memarkirkan mobilnya, ia bergerak masuk sembari bertelepon dengan seseorang.


"Mari kita sambut penyanyi cantik kita, Mayri..!!" ucap MC,


Mayri bergerak naik ke pentas dengan sebuah microphone berwarna putih di tangan kanannya.


Erik tampak tercengang melihat Mayri yang begitu cantik saat itu, ia memandang tak berkedip.