
Seketika ruangan itu heboh, orang orang bergerak berbisik "Astaghfirullah, ada apa? kenapa? aduhh!"
Beberapa orang juga tampak berkerumun.
"Ayok Mar, kita bawa langsung ke rumah sakit saja," ajak Erik sembari memopong Mayri, lalu bergerak keluar dari aula.
Dengan high heels yang masih melapisi telapak kaki, Marmun bergegas berlari ke ruang ganti membawa segala peralatan nya dan sang sahabat, lalu bergerak pergi.
Diparkiran Erik mulai kelelahan, wajah nya tampak memerah dengan tangan mengepal kuat, jalannya juga mulai tertatih tatih.
"Loppit, cepat bukakan pintu!" seru Erik dengan tangan masih menahan berat tubuh sahabat kekasihnya itu.
"Iya sabar, kunci mobil mana bee?" ucap Marmun dengan wajah merah, berkeringat sembari meletakkan tas yang ia genggam.
"Ada di saku, tolong ambilkan!" pinta Erik dengan kedua otot lengan semakin mengeras.
Dengan segera, Marmun menyentuh paha Erik yang berlapiskan kain itu lalu mengeluarkan kunci dengan sangat gemulai.
"Tett.." bunyi pintu mobil terbuka.
Marmun membuka pintu mobil lalu memasukinya,
"Geser dikit loppit (ke arah sebelah kiri)." Erik membaringkan Mayri di atas sofa mobil, dan secara bersamaan Marmun menggeser sedikit bokongnya lebih dekat ke dinding mobil.
Kemudian dia merengkuh kepala Mayri lalu mendekapnya.
Erik bergerak masuk lalu melajukan mobil.
Berselang beberapa menit mereka tiba tepat di depan Rumah Sakit Bina Kasih, tempat yang sama kala Marmun dirawat.
"Kita bawa langsung ke UGD aja bee biar lebih cepat di tangani,''ujar Marmun sembari mengoles minyak kayu putih ke atas bibir dekat lubang hidung Mayri.
Erik mangut, lalu bergerak keluar dan mengangkat tubuh kaku itu masuk ke dalam rumah sakit. Mayri mengikutinya.
"Mas..mas tolong!" panggil Erik ke salah satu perawatan rumah sakit.
Dengan cepat sang perawat membantunya membawa ke salah satu ruang rawat. Beberapa pasang mata tertuju pada mereka dengan menaruh belas kasihan.
Beberapa orang juga tampak memandang heran sebab keduanya masih mengenakan gaun perfom yang elegan.
"Silahkan baringkan di sini pak!" suruh sang perawat dengan ramah sembari menunjuk ke salah satu ranjang (bed pasien).
Tanpa berlama lama, Erik langsung membaringkan Mayri di atas bed pasien yang perawat maksud.
Beberapa menit kemudian, seorang wanita cantik, tinggi dengan warna putih mendominasi setengah tubuh bergerak masuk.
"Pasien kenapa bapak, ibu?" tanya dokter sembari mengechek tensi Mayri.
"Mayri tiba tiba pingsan dok di panggung,'' ucap Erik sembari menoleh serius sang dokter.
"Sebelumnya dia mengeluh sakit di bagian perut nya dok,'' sambung Marmun sembari menggerak gerakkan kedua ibu jarinya, khawatir.
"Mayri sarapan nggak tadi pagi?" tanya dokter sembari mengarahkan stetoskop nya ke bagian dada kiri kanan serta ke bagian perut Mayri.
''Pasien hanya masuk angin dan kelelahan saja. Salah satu penyebabnya tidak sarapan sebelum memulai aktifitas, sering begadang atau tidur tidak teratur. Makan tidak teratur juga salah satu penyebabnya." jelas Dokter.
"Nggak ada yang perlu di khawatir kan, sebentar lagi pasien pasti siuman,"lanjut dokter sembari menggantungkan stetoskop pada lehernya.
Syukurlah, makasih y dok!" ucap Marmun.
Sejenak dokter dan perawat berbicara kecil lalu memberikan secarik kertas resep obat pada Erik.
"Silahkan tebus di apotik ya pak!" ujar Perawat,
"Di sarankan pasien harus menjaga pola makan dan tidur yang teratur, jangan begadang. Jika tidak maka pasien bisa terkena asam lambung." sambung Dokter dengan serius.
"Baik Dok, Sus." ucap Erik,
"Baiklah kami pamit keluar dulu," ucap Dokter, lalu bergerak pergi. Perawat mengikutinya dari belakang.
Marmun bergerak ke samping kanan Mayri, lalu menarik kursi kemudian menapakkan bokongnya diatas kursi itu. Dia menatap sedih sang sahabat.
"May bangun dong," ucap Marmun lirih sembari memegang tangan Mayri.
Berselang 5 menit Mayri tersadar, mata bergerak berputar seraya berkata "Aku dimana?"
"Kita ada di rumah sakit, tadi kamu pingsan." beritahu Marmun,
"Ngapain mikirin itu, sekarang yang harus dipikirkan adalah kesehatan kamu! Trus, kenapa nggak sarapan?" ucap Marmun dengan nada sedikit tinggi.
"Mulai sekarang kamu harus lebih mengutamakan kesehatan May, jangan lupa makan." ujar Erik.
"Iya maaf, nggak usah emosi juga kali. Badan badan siapa? badan aku juga kan, jadi nggak perlu lah sampe emosi," ucap Mayri iseng.
"Ikhh di bilangin, malah ngeyel!" Marmun kesel dengan wajah di tekuk mayun.
"May..May.."ucap Erik tersenyum tipis sembari menggeleng gelengkan kepala.
Marmun tampak kesusahan dengan gaun performnya, ia terlihat kurang leluasa bergerak.
"Bee tolong jaga Mayri, aku mau ganti baju dulu sekalian ngurus administrasi nya," Marmun bangkit dari duduknya.
Erik menjawab dengan menekuk nekuk tipis kepalanya. Lalu Marmun bergerak pergi
Sedangkan Erik bergerak mendekat dan menatap Mayri dengan dalam, seraya berkata "Lain kali sebelum beraktifitas harus sarapan dulu jangan langsung gas sana sini, kamu sendiri lho yang rugi. Jadi mulai sekarang kamu harus jaga kesehatan kamu karna itu yang lebih penting dari segalanya."
"Iya, bawel amat sih!" ucap Mayri jutek,
"Eee dibilangin juga." Erik mengapit, menarik hidung Mayri dengan jarinya sembari senyum simpul.
"Ikhhhhh sakit, lepasin!" Mayri mencubit tangan Erik.
Erik terkekeh. Dia tampak nyaman bercanda dengan Mayri, sesekali ia menatapnya dengan dalam, begitu juga dengan Mayri. Meskipun dia berusaha cuek dan jutek, ia tidak bisa menyembunyikan rasa yang telah tumbuh itu. Kebahagiaan tampak jelas di wajahnya.
"Rik tolong hubungi Marmun, bilangin baju ganti ku dibawa. Aku gerah dengan gaun ini, udah itu ribet lagi," ucap Mayri sembari bergerak duduk.
Disaat Mayri hendak duduk, Erik bergerak memegang punggung Mayri seraya berkata "Kamu ngapain bangun, kamu itu belum fit lho! berbaring aja dulu,"
"Aku sudah baikan kok, aku nggak apa apa percaya deh. Tolong hubungi Marmun, suruh bawa baju ganti aku!" pinta Mayri dengan wajah datar sembari menyentuh tangan Erik hingga membuat jantungnya berdetak kencang.
Erik tampak menikmati sentuhan itu hingga membuatnya diam bergeming sejenak. Wajah keduanya berubah menjadi kemerahan serta salah tingkah.
"Iya, iya, sabar!" ucap Erik kaku sembari mengeluarkan HP dari dalam saku depan sebelah kanan nya.
Mayri menoleh sembari menggigit bibirnya.
Panggilan terhubung, durasi telepon seluler muncul pertanda panggilan di terima,
"Hallo Bee ada apa?" ucap Marmun sembari bergerak keluar dari dalam mobil.
"Kamu masih di mobil kan?" tanya Erik sembari melirik Mayri,
"Iya, ini aku mau gerak ke bagian administrasi. Emangnya ada apa bee?" Marmun tampak mengerutkan keningnya.
"Tolong bawain baju ganti Mayri, katanya." sahut Erik,
"Owhh ok, ok." Marmun meraib ransel berisikan baju ganti Mayri, lalu bergerak pergi.
Sebelum Marmun keruangan Mayri (dirawat), dia terlebih dahulu singgah ke bagian administrasi, lalu melanjutkan langkahnya kembali.
Setiba di pintu masuk ruang rawat sang sahabat, ia melihat Erik dan Mayri bercanda tawa dengan rasa.
Terimakasih sudah membaca🙏🙏🙏 Mohon beri saran/masukan supaya karya semakin lebih baik.
Jangan lupa:
Vote
Like
Koment
Beri hadiah
Rating
Follow IG ku: munthe.maria