Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -40



Mengurung diri,


Memenjarakan rasa dan raga dalam kepiluan berlarut. Sudah dipastikan Erik cinta pertama Marmun. Cinta yang sama sekali nggak akan hilang dari kenangan nya, hal sakti yang akan membuatnya terjebak nostalgia, membuat hatinya berbunga sekaligus layu, patah, mati perlahan.


Dia sangat terpukul, hati begitu pilu. Rasa sakit yang tak dapat di jabarkan dengan kata kata.


Dalam kegelapan, Marmun duduk merengkuh rasa dalam sudut kamar dekat nakes yang tampak berantakan. Termenung merembah air mata, sibuk dengan pikiran yang tak mampu ia terima. Mengulik satu persatu moment istimewa bersama Erik terlebih bersama sang sahabat, Mayri. Sesuatu yang mencekiknya.


Hari telah sore, Marmun tak kunjung keluar kamar. Luka, remuk, hancur, sakit, kecewa masih merengkuhnya. Raga itu tampak lemas sebab cacing cacing dalam perut belum mendapatkan asupan meski telah berdemo. Bibirnya tampak pecah pecah dan kering, dehidrasi.


Sepulang kerja, sang ibu terlihat kaget saat hendak melakukan perannya sebagai ibu (masak) untuk makan malam. Dimana makanan yang dihidangkan saat pagi hari masih terlihat utuh tak berkurang sedikit pun. Itu artinya Marmun tidak makan dari pagi.


Tanpa mikir panjang ia bergerak membujuk sang putri untuk mengisi perut yang telah kosong itu, meski terhalang beberapa lembar papan yang terbentuk menjadi penutup kamar, pintu.


"Kak buka pintunya! Kalau ada masalah, ya selesaikan baik baik. Jangan siksa dirimu sendiri, karna tak ada masalah yang gak bisa diselesaikan, semua pasti ada solusi. Percaya sama mommy. Cepat buka pintunya, makan dulu!" bujuk ibunya.


Marmun bergeming, sang ibu tak henti mengurut kuduk sampai anak semata wayang nya itu keluar makan.


"Kak makan dulu!" pinta Ibu Marmun.


Seakan terganggu akan celoteh panjang sang ibu, ia menengadahkan kepalanya mencoba memberanikan diri menerima kenyataan, bergerak membuka pintu kamar dengan wajah kusut.


Tanpa berucap, Marmun bergerak melangkah ke meja makan, mencedok nasi serta lauknya meski ia tak nafsu makan.


Sang ibu menatap diam,


Perlahan Marmun memasukkan nakan itu ke dalam mulut kecilnya, lalu merobek, menghancurkan dengan kekuatan giginya hingga *****, kemudian memaksa masuk dalam perutnya yang secengkal.


Berselang beberapa menit Marmun menyudahi makannya, dia kembali masuk mengurung diri dalam kamar tanpa peduli bagaimana perasaan ibunya. Hanya sedikit nakan itu berhasil masuk dalam perut.


*****


Disisi lain, Berita tentang tikung menikung itu telah terendus ke telinga mahasiswa/i (teman kampus). Mayri yang baru saja tiba di kampus disambut dengan cibiran kasar dan pandangan sinis oleh beberapa orang.


Mayri membalas dengan senyuman meski dada terasa sesak. Dengan sedikit mencongak ia berjalan menconcong mengacuhkan segala tudingan, cibiran, cemoohan yang terlontar padanya hingga sampai di puncak gedung besar itu. Tempat favorit nya dan Marmun.


Dari jauh, Rivan menatap kasihan, dia mengikuti mantan kekasihnya itu diam diam. Ingin rasanya ia memberikan pundaknya namun semua terhalang oleh kesalahan masa lalu. Tak ada yang bisa ia lakukan sebab Mayri telah memutus komunikasi padanya.


Mayri yang terduduk terdiam tampak menghela nafas dalam dalam dengan mata tertutup. Perlahan dia memandang hamparan langit biru, bangunan pencakar langit serta ragam manusia yang sedang lalu lalang melakukan kesibukan.


Dari puncak gedung seketika pandangannya terpelintir pada sekelompok anak remaja yang sepertinya memenangkan sesuatu yang mengingatkan nya pada masa lalu. Mereka mendekap satu sama lain, berpelukan.


Mayri termenung dengan ingatan menerobos pada masa dimana dia dan Marmun memenangkan suatu perlombaan tingkat SD kala itu. Perlombaan yang menguras waktu dan tenaga, Marmun sangat ambisius untuk mendapat gelar juara saat itu.


"Kita harus menang, gak boleh, gak. Intinya harus menang."


Sebelum dinobatkan menjadi pemenang, mereka cukup banyak melalui tantangan dan masalah yang cukup berat, termasuk saat Mayri kehilangan suara sehari sebelum lomba berlangsung, menghadapi kelicikan kontestan yang menjadi saingan berat mereka.


Mayri tersenyum kala mengingat, murung terpaku kala melihat apa yang sedang terjadi.


Mayri berdecak kesal.


"Argghh" raung nya.


"Kalapa!! kenapa kamu gk percaya? aku gak pernah terpikir sekalipun merebut yang menjadi milikmu!"teriak Mayri keras, menyerukan kepenatan hati.


Dibalik pintu menuju puncak gedung kampus, Rivan tampak mengunduk.


"Aku tahu semua tidak benar, akan tetapi kita tidak bisa menyalahkan Marmun atas apa yang dia lihat dan rasa. Percayalah semua akan baik baik saja, akan tiba saatnya kebenaran terungkap. Kamu harus sabar May, aku selalu ada di belakangmu." ucap Rivan dalam hati.


Setelah kepenatan hati sedikit berkurang, Mayri bergerak melangkah turun melalui anak tangga, berjalan ke ruang kelas sebab waktu telah menunjuk pada jam 17.15 WIB, jam mata kuliah akan segera berlangsung (kuliah gabungan).


Rivan lebih dulu tiba di ruang kelas, 5 menit sebelum Mayri.


"Kasihan banget ya Marmun, ditikung dan ditusuk oleh sahabatnya sendiri." bisik salah satu temannya,


"Kelihatannya aja polos, kelakuannya bagai.." ucap yang lain.


"Santai May, santai. Anggap aja angin lalu!" gumam Mayri.


Mayri bergerak duduk pada kursi kosong yang kebetulan tersisa dua. Satu sejajar dengan kursi dosen dan satunya lagi sejajar kursi Rivan.


Disaat hendak menapakkan bokong pada kursi, seseorang (wanita) menarik kursi hingga membuat Mayri jatuh terduduk.


Seisi ruangan itu terbahak bahak terkecuali Rivan.


"Brengsek!!" Rivan menepuk meja dengan keras lalu bergerak berdiri menendang kursi wanita itu hingga hampir terjungkal.


"Jangan coba coba nyakitin dia!lagian dia salah apa sama kamu? ha!" Rivan sangat marah akan tingkah temannya yang keterlaluan. Wanita itu ketakutan, wajahnya memucat seketika.


Mayri meringis kesakitan, tulang ekornya terasa nyeri dan tidak nyaman.


"Pegang tanganku!" Rivan mengulurkan tangan memberi bantuan.


"Gak perlu, aku bisa sendiri." cetus Mayri. Sepertinya luka yang sempat menganga belum sembuh.


Rivan menggulum senyum, sabar dan menerima apapun perlakuan Mayri padanya. Dia sadar semua itu balasan yang harus ia tanggung atas apa yang telah terjadi.


Sedangkan Erik baru saja tiba di depan rumah Marmun. Dia bergerak masuk dengan beberapa benda yang akan ia tunjukkan sebagai bukti bahwa dirinya dan Mayri tidak ada hubungan spesial. tak lupa dia juga membawa seikat bunga mawar bentuk permohonan maaf nya.


"Syalom.."


"Masuk nak!" sahut ibu Marmun dari ujung pintu ruang makan.


Sebelum melangkah mendekat menghampiri ibu kekasihnya itu, Erik terlebih dahulu menghela nafas dalam dalam.


"Tan, Marmun ada dimana ya? kok gak kelihatan,"


"Ada di kamar," ucap ibu Marmun.


Ibu Marmun tak ingin masuk ke dalam perkara anak muda, sebab itu hal biasa di dalam sebuah hubungan terlebih masalah percintaan. Hal yang menjadikan seseorang menjadi lebih dewasa.


Untuk kesekian kalinya, Erik menjelaskan yang sebenarnya. Namun lagi lagi Marmun tidak perduli dan percaya, ia diam seribu bahasa, memenjara diri dalam kamar gelapnya.


*****


Jangan lupa:



Like


Koment


Beri hadiah


Share


Vote


Follow juga IG ku : munthe.maria