
Tatap tatapan,
Kedua sahabat itu diam membisu. Marmun menatap dengan sinis, Mayri dengan setengah senyum. Keduanya enggan tegur sapa.
"Heiii, apa kabar? lama tak jumpa," sapa Chiko dengan ramah. Dia berusaha mencairkan suasana yang membeku.
"Baik. Kamu? Btw kalian kok..." ucapnya dengan mata melebar, bingung.
"Gue baik. Marmun teman gue, dia boneka kecil yang selalu nyebelin dan nyusahin." Chiko melirik Marmun yang berdiri di sampingnya dengan senyum tipis.
Merasa muak, Marmun bergerak meninggalkan kedua'nya. Melangkah masuk dalam bangunan bertingkat itu. Mayri menatap sedih.
"Sabar ya, mungkin dia masih butuh waktu. Jangan khawatir, semua akan kembali seperti dulu." Chiko bergerak mendekat, menepuk pundak Mayri. Lalu pergi mengejar Marmun.
Mayri membalas dengan setengah senyum.
"Sejahat itu kah aku dimata mu kalapa? Sampai kapan kamu terus begini?" ucap Mayri dalam hati. Dia melangkah masuk dalam kampus bersama dengan mahasiswa/i yang berdatangan. Dia tak ingin mengejar sahabat nya itu, sebab semua akan percuma.
Berbeda dengan Chiko.
"Mar tunggu! Mar!" panggil Chiko. Marmun tak menggubris.
Chiko berlari mengejar sebelum ia masuk terlalu jauh dalam kampus itu.
"Mar, loe dengar gue gak sih! Kenapa loe jadi marah sama gue?'' Chiko menarik tangan Marmun.
Langkah Marmun terhenti. Ia menatap laki laki yang memegang tangannya itu dengan datar.
''Menurutmu? Eneg lihat dia, tapi kamu malah sok ramah. Atau jangan-jangan kamu demen sama dia!" ketus Marmun.
"Lahhh, loe gimana sih! Ya kali gue juga eneg sama itu anak, orang gak ada salah, gimana ceritanya coba. Kalau lagi marah sama orang jangan bawa bawa yang lain. Gak bagus!" tegas Chiko.
Marmun terlihat bete, dia melanjutkan langkahnya dengan cemberut. Dengan sabar, Chiko mengikutinya.
Cukup banyak yang memerhatikan mereka sembari tersenyum dan berbisik " cowok barunya ganteng amat dah! mereka so sweet banget sih! dia siapanya ya? Ekh kayaknya cowok itu bukan anak sini deh."
Dari kejauhan, Rivan memandang dengan hati bertanya "Marmun jalan sama siapa tuh!"
Dia bergegas menghampiri Marmun dan Chiko.
Sedangkan Mayri lebih dulu tiba dalam kelas. Dia duduk termenung saat yang lain sibuk cerita dan canda tawa. Sesekali ia juga menoleh pada temannya yang terkekeh gurau. Pandangannya beralih pada keseruan yang tercipta pada masa kehangatan sebelum semua hancur berantakan.
Dengan menekuk kepala, dia merogoh tas mengeluarkan ponsel androidnya. Lalu dengan sigap Jemari mungilnya menyentuh sebuah aplikasi berisi kenangan. Satu persatu ia mengamati foto itu dengan seksama.
"Aku rindu kamu yang dulu kalapa. Peduli, penyayang dan slalu perhatian samaku." ucapnya dalam hati.
10 menit sebelum dosen tiba dalam kelas itu, Rivan dan Marmun muncul. Mereka melangkah masuk bersama, semua orang menyambut dengan "Hai Mar, gimana kabar? Dari mana aja! Kita kangen kamu loh!"
Marmun menjawab dengan senyum. Dia menatap menyisir ruangan itu, mencari kursi kosong lalu matanya terhenti pada kursi yang tak bertuan di depan kursi Mayri. Langkah Rivan juga ikut terhenti.
"Males banget duduk dekat dia." ucap Marmun dalam hati dengan wajah jutek.
Mendengar suara sapa, Mayri berbalik badan menoleh pada sahabat itu. Matanya juga menyisir pada Rivan yang memerhatikannya. Tak ingin berlama-lama memandang, ia memalingkan wajah pada orang yang tak menganggapnya siapa siapa.
"Bisa gak, kamu pindah kesana? aku mau duduk disini." ucap Marmun pada temannya (Santi) yang duduk dua baris dekat pintu.
Santi mengangguk kecil, dia bergegas pindah pada kursi dekat Mayri tanpa membantah. Beberapa orang mengedipkan mata ke yang lain, memberi kode bahwa kedua sahabat itu lagi berantem.
Berbeda dengan Marmun, Rivan justru bergerak duduk pada kursi kosong dekat Mayri. Dia menyapa hangat mantan kekasih nya itu dengan senyum simpul. Sepertinya Rivan masih menyimpan rasa, bila dilihat dari tatapan yang tersirat rindu meskipun Mayri membalasnya dengan bibir dan wajah kelu.
Disisi lain, di kantin kampus, Chiko tampak terduduk dengan secangkir teh dan setapak cemilan. Untuk mengisi waktu kosong yang sangat membosankan itu, ia join dalam game online hingga tak sadar Erik datang dan duduk berhadapan dengan nya.
Erik lebih dulu tiba sebelum para mahasiswa memadati kampus itu.
"Hai.." sapa Erik.
Chiko tak mendengar. Mata, telinga dan pikirannya fokus pada game yang sedang berlangsung.
Erik berdehem mencoba mengacaukan konsentrasi itu, alhasil Chiko menyadari kehadirannya. Dengan terpaksa Chiko menyudahi gamenya.
"Hai, Chiko bukan! Maaf ganggu waktunya. Saya mau bicara tentang Marmun, boleh?" ucapnya dengan lembut.
Erik dan Chiko berbincang panjang lebar.
"Untuk saat ini dia hanya mau mendengarkan mu saja. Saya harap kamu mau membantu." ucap Erik mengakhiri perbincangan nya.
"Loe tenang aja." Chiko meneguk teh yang tersisa sedikit itu.
Tak berselang lama, Erik pergi dengan sebuah harapan. Begitu juga dengan Chiko, dia bergerak pergi, mengurung niat menunggu Marmun.
Berselang beberapa menit, mata kuliah pertama telah usai. Marmun, Rivan dan Mahasiswa/i lain bergerak bubar meninggalkan ruangan hendak mengistirahatkan otak sejenak, terkecuali Mayri.
Dia duduk dalam ruang sepi dan sunyi, menyendiri. Menenangkan hati dan pikiran yang tampak tak sejalan. Dengan hati kacau, Mayri memutuskan meninggalkan tempat itu meski mata kuliah berikut nya belum usai.
Sedangkan Marmun bergegas ke kantin yang beranggapan bahwa Chiko menunggunya. Perlahan ia masuk dengan mata menyisir tempat yang telah di padati beberapa kepala itu. Melangkah memutar hingga orang orang (mahasiswa/i) menatap aneh padanya.
"Loh kok gak ada, Chiko kemana? tadi kan aku suruh nunggu di sini.'' ucapnya lirih.
Lalu ia bergerak bertanya pada waitress, "Baru aja keluar mbbak." ucap Waitress sembari melakukan pekerjaannya.
Mendengar perkataan waitress, dia segera menghubungi Chiko. Panggilan sedang sibuk. Dengan sedikit cemas, dia berlari mencari kesegala sudut kampus.
Di depan kampus, saat menunggu taksi. Mayri di hadang oleh 4 orang wanita. Salah satu dari mereka tidak asing lagi bagi dia, yaitu Ranti. Ranti melangkah dengan gemulai, entah apa yang ia rencanakan. Di ikuti oleh temannya.
"Pelakor kok sedirian, apa gak takut!" ucap Ranti dengan menyumbingkan bibir.
Ketiga temannya ikut menyumbingkan bibir.
Mayri diam tak menjawab. Dia memalingkan wajah sebab lelah akan rasa.
"Wahhh keterlaluan, dikacangin loh!" ucap salah satu temannya.
Temannya yang lain terkekeh,
"Loe dengar gue gak, sih! atau budek!" Ranti mendorong kasar Mayri hingga hampir kejengkang.
Mayri tak membalas, ia bergerak menghindar namun Ranti mengikuti langkahnya.
"Mau kemana? jangan pikir loe bisa kabur dari kita!" ucap Ranti dengan santai.
Mayri tak menggubris, dia bergerak pergi. Dengan kesal, Ranti mendorongnya hingga tersungkur.
Tiba-tiba dari pintu gerbang kampus, Marmun berlari dan melempar sepatu hingga mengenai kepala Ranti.
"Awuu.." Ranti berbalik badan, menoleh ke Marmun. Begitu juga temannya.
''Loe gak pernah kapok ya. Apa perlu gue laporin ke polisi atas dasar pengeroyokan!" ancam Marmun dengan mata tajam.
Tak ingin dilaporkan, Ranti dan temannya bergegas pergi.
"Thanks ya kalapa. Aku tahu kamu masih peduli." Ucap Mayri dengan senyum tipis sembari bergerak bangun.
Setelah memastikan sahabat nya baik baik saja, Marmun bergerak pergi tanpa berucap satu kata. Mayri menatap sedih.
Terima kasih sudah membaca🙏🙏 Mohon beri saran/masukan.
Jangan lupa,
Vote
Koment
Like
Beri hadiah
Beri rating.