Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -54



Di rumah sakit,


Chiko yang sedang praktek pagi itu tampak berbincang (ngobrol) dengan seorang lelaki berambut semi putih berjas layak nya seorang dokter. Selama sahut menyahut berlangsung dokter tua tampak menguasai obrolan, sedangkan Chiko berucap sepatah dua patah kata saja. Cukup lama mereka bercakap-cakap.


Lalu tak berselang lama, dengan tampan dan gagah dia bergerak melangkah menuju salah satu kamar pasien dengan stetoskop menggantung di leher. Dimana para wanita yang melihat, pasti tak mampu memalingkan wajah darinya.


Sedangkan Zio tampak memandang sang kakak dengan senyum smirk. Dia memainkan jari telunjuk menyentuh dagu, mata bergerak memutar memandang ke atas.


"Harus apa ya? Jenuh, bosan terus terusan duduk. Cari ide Zio, cari ide!" gumam Zio.


Zio bergerak melangkah kecil bolak balik mengitari ruangan itu.


Sesekali ia memandang sang kakak dengan ragam akal di kepala.


"Haaaa! Seru dan pasti keren. Cocok banget untuk buang suntuk. Ya, itu aja!" ucap Zio dengan tawa sarkas. Entah apa yang di pikirannya.


Zio bergerak mendekat ke Mayri, lalu menyentil hidung mancung sang kakak sesuka hatinya. Kemudian melangkah keluar entah hendak kemana.


Sontak Mayri terbangun dari tidur, dia memandang ruangan itu dengan setengah sadar.


"Gak ada siapa siapa, perasaan hidungku ada yang nyentuh deh, tapi siapa? Ya kali hantu 👻! Apa Zio? itu anak kan usil." ucapnya dalam hati sembari memandang menyisir ruangan/kamar itu.


Lalu tiba tiba terdengar suara derap langkah kaki dari balik pintu.


"Krekk!" suara pintu terbuka.


Dari ujung pintu, sepasang insan dengan tubuh di dominasi pakaian putih melangkah masuk. Mereka mendekat pada Mayri. Yang tak lain ialah Chiko dan sang perawat.


"Lahhh, Mayri! Kamu toh pasien yang mengalami kecelakaan tempo hari." ucap Chiko kaget dengan kening di kernyitkan.


"Kamu, dokter?" Mayri menatap menyisir tubuh berseragam itu sembari tangan menunjuk pada Chiko.


"Ya. Aku lagi praktek disini. Dan kebetulan kamu salah satu pasien yang akan aku tangani, lebih tepatnya aku asisten Dokter Ridwan." ucap Chiko sembari melakukan pengecekan. Mengarahkan stetoskop pada bagian perut, dada Mayri. Dia pantas menjadi dokter sebab keramah tamahan dan gerakan gemulai saat menangani pasien. Pasien pasti cepat pulih bila ia tangani.


Mayri menatap dalam pada Chiko seraya berkata dalam hati "Bila dilihat terusan, Chiko itu cakep ya! Senyum nya memberi sinyal hangat."


Chiko yang merasa di tatap, berdehem hingga membuat wanita yang ia tangani tersipu malu.


Untuk menetralisir kegugupan nya, Mayri memalingkan wajah dengan senyum tipis.


"Kamu baik baik saja kan?" goda Chiko sembari mengikuti arah mata yang memandang nya.


Mayri mangut mangut kecil sembari membasahi bibir dengan air ludahnya, menjilat bibir.


Perawat hanya bisa tersenyum tipis menyaksikan keduanya sembari menggulung tensi meter pada lengan Mayri. Melakukan pengecekan tensi.


"Tekanan darah dan detak jantung kamu sudah mulai stabil. Tinggal pemulihan tulang yang bergeser dan retak akibat benturan keras saat kecelakaan itu." Jelas Chiko.


"Punggungku masih terasa ngilu dan sakit, Chik! Sangat terasa saat malam hari. Nyut-nyutan, gitu!" Ucap Mayri menyampaikan keluh kesah nya.


"Itu karena luka didalam belum sembuh, nanti kita kasih obat penghilang nyeri. Kamu yang sabar ya!" terang Chiko sembari menggantungkan kembali stetoskop nya pada leher.


"By the way, gimana kabar Marmun? Dia gak cerita kalau kamu di rawat disini, padahal biasanya dia selalu cerita. Mau hal sekecil apapun itu." Chiko menatap serius pada Mayri.


Mayri menjawab dengan senyum terpaksa tanpa berucap. Dia enggan membahas sahabatnya itu.


Seakan mengerti, Chiko mengalihkan pembicaraan sembari pamit keluar.


"Makasih ya, Chik!" Ucap Mayri lembut.


Setelah berucap "sama sama" Chiko melangkah keluar meninggalkan ruangan itu bersama dengan perawat.


Mayri termenung sedih, pikirannya teralih pada sang sahabat. Dan tanpa ia sadari air mata menetes membasahi wajahnya.


Tak berselang lama, ia terbawa dalam alam mimpi, tidur. Mungkin karna reaksi obat.


"Hallo, my sister. Are you ready? Aku bawa sesuatu untuk loe. Semoga loe menyukainya." Zio bergerak duduk di samping dimana Mayri menghadap, sembari terkekeh geli.


Perlahan Zio mulai melakukan aksinya dengan melapisi bibir Mayri membentuk lambang heart menggunakan lipstik biru. Tersambung ke dagu. Lalu mencoret coret pipi putih itu dengan warna merah. Kemudian menebalkan alis menggunakan lipstik biru. Hingga tampak seperti badut 🤡.


Melihat nya, Zio tertawa terpingkal pingkal.


Tak sampai disitu, ia juga mengkucir beberapa bagian rambut lurus panjang sang kakak dengan beragam bentuk, salah satunya mengikat tegak lurus poni yang dililit beberapa karet cina itu hingga menjulang ke atas bak pemeran sinetron CECEP pada masa itu. Semua hancur berantakan bak orang stress, OGDJ. Lalu menyerakkan beberapa bungkus permen dan kerupuk harga gopek'an di samping dekat kepala Mayri.


Zio kebelet pipis sebab perut di kocok tawa. Tak sanggup menahan lama, dia bergegas menuju kamar mandi lalu mengeluarkan urin yang sempat tertampung lama pada kandung kemih itu.


"Huhh, akhirnya plong juga." Ucap Zio. Dia membasuh wajahnya dengan kasar. Lalu bergerak keluar dan duduk di tempat semula ia menapakkan bokong sembari terkekeh.


Disisi lain, Marmun tampak frustasi. Dia berdiri sembari mendesir air mata di tepi danau buatan manusia dekat taman menuju rumah Erik yang tampak sunyi dan sepi itu.


"Kenapa kamu ninggalin aku, Rik! Kenapa?" teriaknya keras.


''Andai saja aku datang lebih cepat, aku pasti bertemu denganmu. Aku bisa ikut menjaga dan merawat mu disana, Rik!" ucapnya terduduk pada hamparan rumput hijau itu. Dia menangis tersedu-sedu dengan menunduk, bertekuk lutut.


Dalam kesedihannya, terdengar suara dering panggilan masuk. Marmun tak acuh. Dia sibuk dalam pikirannya.


Dering panggilan masuk untuk kedua kalinya, Marmun tetap tak acuh, telinganya seakan terbuntet oleh kapas.


Marmun tak menjawab panggilan masuk itu sampai panggilan ke lima.


"Siapa sih ni orang, ganggu banget! Apa dia gak tahu orang lagi sedih!'' gerutunya sembari merogoh tas kecilnya, mengeluarkan HP.


Seketika matanya melebar melihat panggilan masuk dari nomor orang yang sangat dekat dengannya beberapa minggu terakhir.


"Ha! Chiko?" ucapnya. Tak berlama lama, jempolnya menggeser keatas simbol telepon berwarna hijau itu, artinya panggilan di terima.


"Ya Chik, ada apa? Ngapain tiba tiba nelpon?" celetuk Marmun dengan wajah di tekuk.


"Mmm, gitu amat. Lagi dapet ya? Temannya nelpon masa jawabnya gitu, aneh.'' Chiko menyumbingkan senyum manis di bibir tipis nya.


"Ya ia'lah. Pergi tanpa pamit, apa maksudnya coba!"


"Ya maaf. Btw, kamu tahu gak kabar terbaru Mayri?" ucap Chiko serius.


"Kamu tuh ya, nelpon tapi bahas orang lain. Buat orang bad mood aja!" Marmun memalingkan wajah membelakangi danau.


"Gak boleh gitu. Marah boleh, tapi jangan berlebihan dan keterlaluan. Aku mau ngasih tahu, Mayri ada dirumah sakit. Dia mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu."


"Apa? Kecelakaan?" Marmun terlihat syok. Sesaat, jantungnya terjeda berdetak.


Terima kasih sudah membaca🙏🙏🙏 Jangan lupa beri saran/masukan supaya karya semakin lebih baik.


Jangan lupa:



Vote


Like


Koment


Beri hadiah


Rating


Follow IG ku : munte.maria