
Erik tak kunjung siuman.
Hari berganti hari, meskipun negara tetangga terkenal dengan alat canggih, baik dalam dunia medis, sepertinya hal itu tidak membuat Erik cepat pulih. Dia masih betah berkelana dalam antah berantah, terbaring koma.
Di ujung, dari balik pintu kamar rawat (ICU) terlihat seorang wanita berambut pirang, mancung menatap sedih pada tubuh kaku itu.
"Masih ingat gak nak? Saat ibu sakit, kamu pasti menangis histeris. Tak mau ini dan itu selain berada disisi ibu, memeluk erat tubuh yang terbaring lemah saat itu. Dan kamu pernah bilang tidak akan pernah sakit supaya bisa ngerawat/jagain ibu , ia kan? Bangunlah nak, ibu merindukan peluk hangat mu. Please, bangun nak! Tolong tajamkan telingamu mendengar seruan ibumu ini." tukasnya dalam hati. Sang Ibu hanya bisa melihat dari pintu tembus pandang itu.
Di negara tetangga, selama pasien koma atau berada di ICU, sistem besuk nya sangatlah ketat tidak sestandar rumah sakit negara sendiri.
"Yang sabar ya Tan, kita doain saja semoga mas Erik cepat siuman." ucap seorang wanita cantik, tinggi, langsing sembari memeluk, mengelus punggungnya. Wanita cantik itu adalah Felicia putri, mantan kekasih Erik. Salah satu model yang cukup terkenal di negara itu. Meskipun telah berstatus mantan, keduanya kerap memberi kabar satu sama lain. Dan Felicia sangat dekat dengan keluarga Erik.
"Suruh dia membuka mata, Fel."
"Pasti Tan." Keduanya bergerak menapakkan bokong diatas kursi.
Mbok Ria dan Sisca tampak tak suka pada Felicia, terlihat dari tatapan tajam serta bibir yang disumbingkan. Entah sebab apa.
Berbeda dengan Erik, kesehatan Mayri setiap harinya berkembang pesat, membaik. Dia terlihat tak sabar meninggalkan rumah sakit itu, terlebih karena rindu menyanyi bersama sahabatnya. Sebab permasalahan diantara mereka telah usai.
"Sus, kapan bisa pulang? Capek tiduran mulu." tanyanya pada perawat.
"Setelah mbaknya benar benar pulih. Yang sabar ya. Nanti saya coba tanya dokter Chiko, apakah sudah bisa pulang dalam waktu dekat. Tapi menurut saya sih, belum." jawab Perawat sembari melakukan pengecekan.
Mayri tampak mayun.
Disisi lain,
Di kamarnya, Marmun tampak membalut wajah dengan makeup. Terlihat cantik bak bidadari yang turun dari kayangan dengan dress pink simple pendek ditambah kaki berbalut high heels.
"Cepatin dikit dong kk, udah jam berapa ini. Kebiasaan deh!" ucap Sang Ibu dari ruang tamu.
"Ya mom, sabar!!!" Marmun bergerak buru buru. Lalu melangkah menghampiri sang Ibu yang menunggunya sampe berkerak. Ketidak mahirannya berdandan membuatnya kewalahan hingga memakan waktu kurang lebih 1 jam.
Sebelum berangkat pergi, sang Ibu tampak menghubungi seseorang.
"Baik pak. Ini juga kita mau berangkat. Maklumlah pak, anak gadis. Ok. Sampai ketemu disana ya pak." ucap sang ibu mengakhiri teleponannya. Lalu mereka bergegas pergi.
Dalam perjalanan, Sang ibu tampak membahas bagaimana hubungan Marmun dengan Erik. Hingga membuat sang putri merasa jengkel dan tak ingin melanjutkan perjalanan.
"Kalau memang tidak jelas, ya sudah ikhlasin. Gak usah di lanjut lagi." Ucap Sang Ibu sembari memacu kecepatan.
"Mom, tolong lah. Erik lagi koma loh, pantaskah kita membahas itu? Lagian aku sayang dia, apa salahnya? toh juga selama ini mommy baik dan nerima dia. Kenapa sekarang mommy seakan tak suka!" Marmun membuang wajahnya menghadap ke arah tepi jalan.
"Ya, mommy sadar hal itu. Mommy hanya tidak ingin kakak menangis terus menerus akan cinta. Banyak di luar sana menginginkan kakak bahagia, termasuk nak Chiko." jelas Sang ibu sembari memainkan stir mobil.
Marmun tak acuh, dia diam seribu bahasa. Dan selama sisa perjalanan, Ibu dan anak itu tak berucap satu kata. Sang ibu fokus nyetir, sedangkan Marmun tampak sibuk dalam pikirannya dengan mata tertutup.
Tak berselang lama, mereka tiba di salah satu bangunan besar bertingkat, bagai hotel bintang lima. Terlihat bunga tumbuh bermekaran menambah nilai indah istana itu.
"Mom, hotel bukan sih! Mewah bangat, udah itu tamannya sangat menarik, banyak bunga." Marmun terpesona. Dia bergerak mengelilingi rumah sultan itu sembari bersenandung pelan.
Dalam langkahnya, ia di hadang tiba tiba oleh dua orang wanita yang tak lain ialah Ranti dan adek iparnya. Dimana keduanya memiliki sifat dan karakter sama, senang menciptakan keributan.
"Loe ngapain disini, salah tempat gak sih!" ucap Ranti songon.
"Sebelum kemari, harusnya dia sadar diri kalau dia tak pantas dan tak layak ada disini." Caca mendorong kasar dada Marmun. Ranti terkekeh angkuh.
Berbanding terbalik dengan Ranti, Marmun justru memilih diam tak membalas. Dengan langkah gemulai, dia pergi menjauh.
Merasa kesal ditinggal pergi begitu saja, Ranti bergerak berbisik ke Caca. Lalu berlari masuk dalam rumah melalui pintu samping. Berselang beberapa detik, dia kembali dengan 4 butir telur. Keduanya terkekeh dengan suara tertahan.
"Setelah hitungan ketiga, baru kita lempar. Ok!" ucap lirih Ranti dengan jari membentuk tanda Ok.
Caca manggut-manggut. Dengan pelan, keduanya melangkah menghampiri.
"1, 2, 3, lempar!" seru Caca pelan. Telur di lempar pada tubuh ramping itu.
"Awwwwhh.." rintih Marmun sembari berbalik badan. Dia mendengus bau busuk sekitar punggungnya. Begitu juga dengan Ranti dan Caca.
"Huwaaakkk! Bau banget. Loe sengaja ambil telur busuk ya? Keterlaluan banget sih!" ucap Caca sembari memuntahkan isi perut yang mendesak keluar.
"Lahh, bagus dong. Gimana sih Loe, Ca!" Ranti mengapit hidungnya agar bau tak sedap itu terhambat masuk.
" Gak perlu sekejam itu juga, Ranti! Arghh kesal gue sama loe." Caca pergi dengan kesal.
Ranti memandang Caca dengan wajah di kernyitkan seraya bergumam " Kenapa gue disalahin, coba! Dari awal juga mau, kenapa sekarang dia berpihak sama ni anak? Anehh banget dah!" Ia melangkah pergi mengejar Caca.
Sedangkan Marmun tampak memetik beberapa bunga mawar. Lalu Ia bergerak membersihkan sisa telur busuk yang menempel pada gaunnya menggunakan bunga mawar itu.
"Astaga, bau banget!" Marmun tak mampu menahan isi perut yang mendesak keluar itu lagi, tumpah.
Tak ingin orang mendengus bau, memandang jijik, serta mencibir dirinya, Marmun bergegas mencari kamar mandi.
" Maaf pak, selain di dalam, ada gak kamar mandi di luaran sini?" tanyanya dengan jari horizontal menutup lubang hidung.
"Ada Non. Masuknya dari pintu samping dekat bundaran taman kecil itu.'' jawab Security.
Dia memberikan senyum terbaiknya, meskipun mendengus bau tak sedap. Ia layak dan pantas di acungi jempol.
Setelah berucap terima kasih, Marmun bergegas menuju kamar mandi sesuai petunjuk security. Saat melangkah melewati bundaran kecil taman, seseorang menghujani sebagian tubuh nya dengan segelas minuman bersoda, tanpa sengaja.
Marmun berdecak kesal sembari menjeda langkah.
Terima kasih sudah membaca 🙏🙏 Mohon beri saran/masukan supaya karya semakin lebih baik.
Jangan lupa:
Vote
Like
Koment
Beri hadiah
Share
Follow IG ku : munthe.maria