
Berselang 2 menit Erik bergerak menarik kursi yang ada di dekatnya, lalu duduk.
Mayri menghela nafas panjang untuk menghilangkan grogi nya.
"Hallo semua!" sapa Mayri ramah,
"Haii!" seru pengunjung
"Kali ini aku akan menyanyikan sebuah lagu bertajuk cinta sampai mati, semoga terhibur." ucap Mayri dengan senyum,
Musik di mainkan, Mayri bergerak mendekat ke samping gitaris, menyamakan nada.
Perlahan ia mengeluarkan suara merdunya, lirik per lirik di senandung kan dengan indah.
Erik tampak menikmati perfom Mayri, sampai sampai ia lupa mengakhiri telponannya.
Duhai engkau sang belahan jiwa
Namamu terukir dalam pusara
Disetiap langkah ku slalu berdoa
Semoga kita bersama
Duhai engkau tambatan hatiku
Labuhkanlah cintamu di hidupku
ku ingin kau tahu betapa merindu
Hiduplah engkau dengan ku
Dengarkanlah
Di sepanjang malam aku berdoa
Bersujud dan lalu aku meminta
Semoga kita bersama
Lirik lagu yang Mayri nyanyikan.
Mayri mengakhiri lagu pertamanya dengan mengarahkan microphone ke arah penonton.
"Dan aku pasti setia dengarkan lah!" seru penonton serentak.
"Terima kasih," ucap Mayri dengan wajah sumringah, lalu bergerak turun dari panggung.
Penonton bertepuk tangan sembari bersorak sorai "lanjut..lanjut!!"
MC mengambil alih panggung.
"Sabar sabar! biarkan Mayri istrahat sejenak, dia akan menghibur kita sampai 2 jam ke depan." ucap MC,
Tak berselang lama, Mayri kembali naik ke panggung, ia tampak lebih siap dari sebelumnya.
"Baiklah, kali ini aku akan membawa lagu bertajuk: Mencintai dirimu.'' Mayri mengibas rambut yang terurai ke belakang.
"Musik!!" pinta Mayri dengan slow.
Musik di dendangkan, Mayri pun menyanyi.
Dalam pertengahan Lagu, dia bergerak turun ke arah penonton.
''Aku tidak ingin berdiri sendirian di panggung ini, jadi tolong dampingi aku!" ucap Mayri sembari menarik tangan salah satu laki laki berkulit putih, mancung, dengan baju mendominasi warna hitam. Lalu mereka bergerak naik ke panggung dan bernyanyi bergantian.
Para lelaki penghuni sesaat tempat itu bersorak histeris, merasa hasad akan keberuntungan laki laki mancung. Dapat dipastikan bahwa bersentuh tangan dengan wanita cantik berbakat (Mayri) ialah keinginan para kaum Adam, terkecuali Erik.
Erik tersenyum tipis melihat reaksi teman sejenisnya yang dia anggap cukup berlebihan. sesekali ia melirik jam yang melingkar ditangan kekar itu.
Di akhir lagu Mayri kembali mengarahkan microphone ke penonton. Diwaktu yang sama laki laki mancung bergerak kembali ke tempat duduknya.
"Ku mencintaimuuuuu, oooo," seru penonton serentak sembari menunjuk ke arah Mayri,
"Thank you, Love you too," Mayri tersipu sipu.
Penonton bertepuk tangan bersorak sorai "Lanjut..lanjut..lanjut!"
"Sebentar, aku minum Baygon dulu! tenggorokan mulai terasa guatel!" Mayri berseloroh,
"Jangan, jangan sampai nggak jadi ya Mar!" sorak seorang penonton.
Semua orang terkekeh,
Disaat Mayri meneguk air mineral, tak sengaja matanya terpelintir ke arah Erik. Wajah putihnya berubah menjadi merah jambu, jantung nya berdegup kencang, hatinya bersorak sorai "yes!"
Berselang beberapa detik ia kembali mendendangkannya sebuah lagu bertajuk: Bahasa kalbu. Dia menyanyi dengan penuh rasa, hingga tak sadar air mata membasahi pipi nya.
Para penonton seketika diam seribu bahasa, beberapa penonton juga tampak merembah air mata, seakan ikut hanyut dalam cerita lagu.
Mayri mengakhiri lagu nya dengan sempurna, hingga penonton bergerak berdiri sembari bertepuk tangan.
"Terima kasih, selamat malam." ucap Mayri sembari menundukkan kepala, lalu mengusap kasar air matanya.
"Love you May!" teriak seorang laki laki berambut kribo.
Mayri membalas dengan senyum simpul, lalu bergerak mendekat ke Erik.
Erik sibuk dengan HP nya.
"Hai Rik!" sapa Mayri sembari menarik kursi lalu duduk.
"Ekhh, May!" Erik terkejut,
Sepintas beberapa pasang mata menatap kearah keduanya.
"Ini baru pertama, itupun karena janjian sama temen."
"Trus orang nya mana? cewek atau cowok?" tanya Mayri dengan wajah serius,
"Cowok. Entah! sampe sekarang blom juga nongol batang hidungnya. Dia bilang sudah otw, tapi ya itu!" ucap Erik sembari mengirim pesan.
"Owh gitu. Jadi, ini masih mau nunggu atau langsung balik!"
"Saya tunggu beberapa menit lagi, mana tahu dia datang."
"Btw kamu cantik hari ini," puji Erik dengan tatapan dalam hingga membuat Mayri salah tingkah.
"Menurut kamu selama ini aku jelek, gitu!" Mayri merapikan rambutnya dengan wajah mayun.
Erik terkekeh, sedangkan Mayri berlenggak lenggok manja.
Berselang beberapa jam, dering telepon Erik berbunyi, panggilan masuk dari Marmun. Dengan sigap ia mengangkatnya.
"Iya. Ini mau pulang kok," ucap Erik dengan pelan,
Mayri menatap serius, rasa penasaran merengkuhnya,
"Ya sudah, hati hati!"
"Iya loppit, bye!" ucap Erik mengakhiri teleponannya.
"Siapa Rik? Bokap yeah!" Mayri menebak,
Erik menjawab dengan geleng geleng kepala.
Sebab yang ditunggu tak kunjung muncul dan malam semakin pekat, Erik memutuskan pergi meninggalkan tempat itu.
"Kamu bawa motor kah? Kalau gak, kita bareng aja!" Erik mengeluarkan kunci dari saku depan sebelah kanan.
"Nggak!" ucap Mayri singkat sembari bangkit dari duduknya.
Sebagai pria sejati, gak elok rasanya bila membiarkan seorang wanita pulang sendiri. Apalagi wanita itu pernah bercakap dengannya, dan itulah yang dilakukan Erik.
"Ok, aku ambil tas dulu!" sahut Mayri sembari mengambil microphone dari atas meja, lalu bergerak berjalan.
Tak berselang lama Mayri dan Erik bergerak pergi.
*****
Keesok harinya,
Meski ayam usai berkokok, Mayri tampak masih tertidur lelap di atas ranjang dengan pintu kamar sedikit terbuka.
Ia hanyut dalam rasa dan mimpi, seakan tak rela terbangun dari dunia hayal itu.
Dari ujung pintu, seorang laki laki remaja masuk ke dalam kamar Mayri, dia bergerak mendekat, lalu memandang Mayri dengan tatapan tajam. Perlahan ia menarik selimut lalu mengikat kedua tangan dan kaki Mayri.
"Woiii bangun Loe!!!" ucap Zio dengan keras sembari menyimpritkan air ke wajah Mayri.
Mayri mulai membuka mata, terbangun setengah sadar.
"Apa apan sih Loe, ngeganggu aja!" ucap Mayri ngigo.
Melihat sang kakak tak kunjung bangun, Zio bergerak mengangkat dan memasukkannya ke dalam bathtub hingga membuat Mayri tersadar melebihi standar kesadaran normal.
"Ziooo!!! Kurang ajar! Loe mau bunuh aku!" teriak Mayri dengan mata melotot.
Zio terkekeh,
"Siapa suruh loe masih tidur jam segini, Jam 09.15 WIB lho, gilak nggak tuh!'' ucap Zio sembari memotret Mayri dengan camera Zeiss, Vivo X70 Pro.
"Loe nggak usah sewot deh akan hidupku, urus aja hidup loe! cepat, lepasin ikatannya !'' pinta Mayri penuh emosi.
"Buka aja sendiri!" ucap Zio dengan sticking her tongue out,
"Ziooo, Loe tahu kan aku gimana!" Mayri bergerak berusaha melepas ikatan kakinya.
Zio tertawa geli.
Berselang beberapa menit, dia melepas ikatan kaki dan tangan Mayri. Lalu berlari sebelum terjadi ledakan amarah, kabur.
Sebab sekujur tubuh telah basah, ia membasahinya kembali dengan semestinya, mandi. Kemudian bergerak keluar mengejar sang adik dengan pakaian basah hingga membentuk lekukan tubuh nya.
"Ziooo!!! keluar Loe! teriak Mayri sembari berjalan cepat cepat,
Zio tak kunjung keluar.
Disisi lain,
Ditaman kawasan permai, Marmun dan Erik terpengangah melihat sepasang kekasih sedang bercumbu, seakan dunia milik mereka berdua.
"Kamu sih lihatin orang lagi sir-sir'an!" sindir Erik tertawa,
Marmun tertawa terbahak bahak sembari menepuk zidatnya.
"Sebelum air liurmu netes ngelihat mereka, mending kita ke taman dekat rumah kamu aja bee!" ucap Marmun sembari menyentuh kedua pipi Erik dengan kedua tangannya.
Erik merengkuh perutnya yang terkocok oleh tawa.
"Ya sudah, ayok!"
Berselang 5 menit mereka tiba, lalu duduk bersama, bercerita dan bercanda tawa seperti sepasang kekasih pada umumnya.
Tampaknya Erik sangat sayang pada Marmun. Ia kerap kali menunjukkan perhatiannya, meskipun itu hal kecil.
Ketika Erik merapikan rambut Marmun, dari ujung kanan jalan raya tampak seorang wanita cantik berambut panjang, datang ke arah mereka.