
Bila matahari tidak pernah memilih siapa yang akan dia sinari, maka Marmun dan Mayri tidak pernah memilih kepada siapa hatinya akan singgah.
Marmun tampak menutup mata dengan tangan terlentang dan dia sibuk dengan pikirannya. Dan hati yang sedang berbunga, sungguh terlihat jelas di wajahnya.
Sesekali dia bergerak bangun dari rebahannya, lalu terduduk, kemudian berdiri, duduk lagi, rebahan lagi, hingga tak sadar hari telah malam.
Di ujung pintu seorang wanita separuh baya bergerak masuk ke dalam kamarnya, memandangi sang putri dengan senyuman.
"Kakak lagi mikirin seseorang ya! sampe sampe mommy masuk kakak nggak tahu," goda sang ibu.
Sontak Marmun bergerak bangun dengan wajah dan bibir kelu.
Sang ibu melangkah mendekat ke ranjang Marmun, lalu duduk di samping dekat kepala nya.
"Hayooo mikirin siapa..? cerita dong sama mommy," ucap ibunya dengan alis sedikit naik sembari mengelus elus rambut sang putri.
"Nggak mikirin siapa- siapa kok mom, ini lagi online."
Marmun berucap tanpa menoleh sang ibu.
Menyadari sang putri lagi menaruh hati, ia tak ingin memaksa sang putri untuk mengakui nya.
"Owhh gitu, makan dulu yok! kakak kan harus makan obat biar cepat pulih." Sang ibu bangkit dari duduknya lalu bergerak keluar.
Marmun menjawab dengan menganggukkan kepala.
Dia bergerak bangkit dari tempat tidur lalu mengisi ulang baterai HP nya dengan daya tersisa 15%. Kemudian bergerak keluar ke ruang makan.
Di meja makan terlihat sang ibu telah menyajikan makanan dan minuman khusus untuk putri semata wayangnya.
"Wahhh, mommy masak rendang!" Marmun kegirangan dengan mata terbelalak.
"Kakak senang kan!"
Sang ibu merasa senang bila sang putri suka.
"Senang dong, thanks ya mom." ucap Marmun,
Tanpa berpikir panjang Marmun mencedok nasi serta lauk (rendang) kemudian meletakkannya di atas piring kerakmik berwarna kuning, lalu menyantapnya dengan lahap hingga tak menyisakan sebutir nasi.
Sang ibu bergerak mendekat ke Marmun dengan beberapa macam obat di tangan kanannya.
"Kak ini obatnya, perhatikan aturan makannya ya!" Ingatkan sang ibu. Lalu meletakkan obat itu tepat di depan sebelah kanan Marmun, kemudian mengambilkan serta memberikan segelas air putih.
Marmun menganggukkan kepala dengan mulut masih mengunyah nasi yang tersisa di mulutnya.
*****
Disisi lain, di kursi meja belajar, Mayri tampak sedang berbicara dengan seseorang via telepon. Dia terlihat riang dan dalam obrolan nya ia menyelipkan tawa.
"See you next time, bye." ucap Mayri mengakhiri telponan.
Setelah itu, Mayri bergerak ke depan cermin kamar lalu membelah dua rambut hitam panjangnya, kemudian mengibaskan ke belakang.
Dia cukup lama bercermin, memandang dang mengamati wajahnya yang cantik dan putih itu. Setelah merasa cukup, Mayri berbalik badan.
Dan tiba tiba pandangannya terpelintir pada sebuah poto yang terletak di atas nakas di samping tempat tidur, ia bergerak mendekat lalu mengambil bingkai foto itu.
Raut wajah Mayri berubah 180 derajat setelah melihat foto itu. Dan dengan cepat melempar ke dinding kamar dekat pintu hingga pecah berantakan.
Ia bergerak melangkah dengan rasa benci, mengijak injak Poto yang sudah tak berbingkai, lalu merobek-robek hingga tak bisa tersatukan kembali.
Dengan menghela nafas berat ia bergerak melangkah kembali ke ranjang.
Air mata mengalir dari ujung kanan mata nya hingga terlelap tidur.
Sedangkan Erik tampak merenung di balkon, sibuk dengan pikirannya yang kalut. Ia memandang langit dengan tatapan kosong meskipun rembulan menyinari malam.
Sehingga ia melewati malam itu dengan kalut.
*****
Pagi yang sejuk, nada-nada suara ayam berkokok seperti bernyanyi membangunkan setiap insan dari tidur, serta burung burung yang beterbangan meninggal kan sarangnya untuk mencari makan, seakan mengajak setiap mahluk untuk mencari nafkah.
Di halaman rumah, dari timur sang surya menyapa Marmun dengan malu malu memperlihatkan cahaya nya. Marmun berdiri sembari menghela nafas panjang menikmati indahnya ciptaan Tuhan, alam.
Dari ujung pintu, seorang wanita separuh baya berpakaian rapi mendominasi warna putih hitam di tubuhnya bergerak keluar dengan secangkir teh di tangan kanannya.
"Hari ini kakak kuliah atau gimana?" tanya sang ibu sembari menyeruput teh nya.
Sontak Marmun menoleh ke arah sang ibu.
''Iya, mom. Aku rindu suasana kampus terlebih pada kawan kawan baikku." jawab Marmun. Dia melangkah mendekat ke sang ibu.
'' Kalau boleh hari ini kakak jangan ke kampus dulu! besok aja ke kampusnya, kakak kan belum pulih total jadi istrahat aja dulu di rumah ya kak!"
"Aaa mommy, jangan gitu dong! Selama ini aku sudah kebanyakan tidur loh," ucap Marmun menggerutu,
''Lagian di kampus aku nggak ngapa-ngapain kok mom, hanya pengen ngumpul sama teman saja. Nggak lebih dari itu!" Marmun memanyunkan mulut.
"Ya sudah. Tapi ingat, kakak jangan kecapean. Jangan lupa makan dan yang paling penting jangan lupa minum obat, Ok!" Ingatkan Ibunya.
"Siap mom! thanks ya mom,"
Marmun bergerak berjalan ke kamarnya.
Tak berselang lama Marmun pamit lalu pergi hingga tiba di depan kampus.
"Hi Mar! Dari mana aja?" sapa dan tanya laki laki gondrong dengan ramah,
'Marmun membalas dengan senyum lebar. Ia kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kampus.
Setelah sembuh dari sakit, Marmun masih saja cuek dan dingin terhadap orang yang tidak begitu ia kenal.
Mayri yang sudah tiba lebih cepat dari Marmun tampak sedang ngobrol dengan 2 orang wanita dan 1 orang laki laki tepat di lobby kampus.
Mereka terlihat akrab, sebab dalam obrolan serius mereka menyelipkan canda tawa.
Namun setibanya di dalam kampus, Marmun melihat Mayri dari kejauhan. Dengan langkah cepat dia menghampiri dan bergabung dengan Mayri dan yang lainnya.
'' Woii kalapa!" ucap Marmun dengan nada tinggi,
"Aaa kalapaku, aku kira kamu belum masuk kampus!"
Mayri bangkit dari duduknya dengan girang lalu memeluk.
''Bosen di rumah kalapa, lagian aku rindu suasana kampus dan teman teman yang lain." Marmun membalas pelukan hangat Mayri dengan jingkrak jingkrak dan geleng geleng kepala.
Beberapa orang yang lalu lalang menatap dan tertawa melihat kekonyolan keduanya.
"Kenapa dah! stress ya!" sentil salah seorang wanita yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Dengan serentak Marmun dan Mayri tertawa pecicilan lalu bwrgerak ke kantin.
Setibanya di kantin, seperti biasa Mayri mencari tempat duduk di sudut ruangan. Entah mengapa ia begitu menikmatinya.
Erik yang lebih dulu berada di kampus di banding keduanya tampak memerhatikan Marmun dan Mayri dari CCTV, dia menatap begitu seksama.
Erik mengintai keberadaan wanita yang membuat hatinya gelisah.
Dia sengaja mengunjungi kampus itu hanya untuk bertemu Marmun.