
"Berisik!!!" tukas Marmun dan Mayri serentak.
Mereka menatap Rivan dengan tajam.
"Upsss!"
Rivan menutup mulut, tertunduk. Ia menahan tawa.
Suasana berubah keheningan.
Dari ujung pintu kantin, seorang wanita berkulit sawo masuk dan bergerak ke arah meja mereka.
"May!"
Mayri menoleh dengan wajah datar. Begitupun Marmun.
"Di panggil dekan, loe di tunggu di ruangannya, sekarang!"
"Di panggil dekan! ada apa?" tanya Mayri penasaran,
Wanita itu mengangkat turun kedua bahunya, "tidak tahu." Lalu bergerak pergi.
Sejenak Mayri berpikir, dalam hitungan detik matanya berkedip berkali kali, kebingungan.
"Ad apa ya, tumben tumbennya aku di panggil dekan." ucapannya dalam hati.
Ia bangun dari duduknya lalu pergi tanpa pamit.
Marmun mendengus kesal, "Hahh! dia pergi gitu aja,"
Suara dering telepon berbunyi, Marmun dan Rivan mencari arah suara dering itu.
HP Mayri tertinggal.
Rivan bergerak mendekat ke HP, matanya terbelalak.
Erik memanggil.
Disaat ia hendak meraib HP itu, tiba tiba Mayri datang dan menampar tangannya.
"Plakkk!"
Rivan terkejut, sekujur tubuh nya bergetar.
Mayri menatap Marmun, lalu dengan cepat mengambil HP nya.
"Mau ngapain loe!" ucapnya sembari memasukkan dalam tas.
Mayri melirik Marmun, lalu bergerak melangkah sama seperti sebelumnya, pergi tanpa pamit.
Marmun terpenganga, menatap heran.
"Pasti ada sesuatu yang Mayri sembunyikan," ucap Marmun lirih,
Rivan berdiri mematung,
"Erik memanggil? apa ada hubungan khusus diantara mereka? selingkuh!"
Dia bertanya-tanya dalam hati, cemburu.
Beberapa menit kemudian, Mahasiswa/i mulai berdatangan dan memadati Kantin itu.
"Kamu kenapa Van! kok jadi ngelamun gitu, ada sesuatu?" tanya Marmun dengan kedua alis terangkat.
Rivan menggeleng gelengkan kepala dengan setengah senyum. Dia bergerak ke tempat duduknya.
Rivan menghela nafas berat,
"Sudah berapa lama kalian gak ketemuan?" tanyanya.
"Ketemu siapa? Mayri! atau siapa?" tanya Marmun dengan kening di kernyitkan.
"Pacar kamu lah, gimana sih!" jawab Rivan,
Dia menyantap cemilan yang sudah dingin itu.
"Seminggu kurang. Emang kenapa?" Marmun menatap serius,
"eemm gpp, cuma nanya doang." Rivan menyeruput kopi yang tinggal seperempat gelas itu.
"Saranku, jangan pernah kasih peluang ke cewek cewek untuk mendekati Erik, siapa pun itu, termasuk orang terdekat mu. Kalau kamu tak ingin merasakan sakitnya di tinggalin," Rivan mengingatkan Marmun atas kecurigaannya pada Mayri.
"Maksudnya?"
Marmun bergerak miring menghadap ke Rivan,
"Eeee, intinya jaga pacarmu."
Rivan bergerak mengeluarkan dompet dari saku kanan belakang.
Marmun menatap curiga, Ia merasa bahwa Rivan menyembunyikan sesuatu darinya.
Rivan mengacungkan tangan,
"Van, aku kepikiran ucapanmu yang barusan, maksudnya apa!" ucap Marmun,
Ia memegang tangan Rivan dan menatap dengan mata sayup.
Rivan acuh, dia menoleh ke arah waitress dan casier, lalu kembali mengacungkan tangan.
"Van!" panggil Marmun keras sembari mengoyang goyang tangan Rivan.
"Nggak ada maksud apapun. Sebagai teman, aku hanya berusaha ngingatin kamu aja, gitu!"
Marmun belum puas, ia masih merasa Rivan tidak berkata jujur.
Untuk ketiga kalinya Rivan mengacungkan tangan, memanggil waitress.
Berselang beberapa menit, waitress datang.
"Berapa Mbbak?" tanya Rivan,
Waitress terlihat bingung,
"Hitung semua yang ada di meja ini aja mbbak!" perjelas Rivan,
Marmun ikut memperjelas apa yang mereka minum dan makan, terkecuali pesanan Mayri.
Sebab Mayri selalu membayar pesanannya sebelum ia menikmatinya.
Waitress cukup lama menghitung.
"Sembilan puluh lima ribu, mas." Waitress memberikan bill,
Rivan mengeluarkan dua lembar uang berwarna biru lalu memberikannya.
Waitress berbalik badan, lalu kembali membawa selembar uang berwarna coklat.
"Terima kasih."
Tak berselang lama, mereka bergegas pergi ke kelas.
Sesampainya di pintu kelas, Marmun dan Rivan menoleh kiri-kanan, mencari Mayri.
"Mayri kok nggak ada ya, apa dia masih di ruang dekan?" tanya Rivan,
"Nggak mungkin Van, masa iya selama itu!" jawab Marmun,
Marmun bergerak mendekat ke salah satu mahasiswi yang duduk dipojok dekat pintu.
"Lihat Mayri, gak?" tanyanya.
"Nggak,"
Marmun bergerak ke temannya yang lain.
"Ada yang lihat Mayri?"
"Tadi, dia bareng sama dekan di lobby, kalau nggak salah ya!" jawab salah satu Mahasiswa.
"Iya, tapi cuma sebentar doang," sahut yang lain,
"Tadi Gue lihat dia pergi, naik motor." tukas mahasiswi berjilbab.
"Ada yang tahu dia pergi kemana?" celetuk Rivan,
"Nggak!" jawab serentak teman temanya.
Marmun dan Rivan bergerak mencari kursi, terlihat ada empat kursi kosong, paling depan.
Mau tidak mau mereka harus duduk di kursi paling depan.
"Mayri kemana ya? tumben tumbennya dia bolong jam mata kuliah," guman Marmun.
Disisi lain, Mayri tiba di CTC. Dia bergerak masuk sembari telponan.
"Aku sudah nyampe, kamu dimana?"
Sepertinya Mayri janjian dengan seseorang. Dia menoleh ke penjuru cafe itu dengan mata memutar.
Dari kejauhan, tampak seorang pria yang tak asing baginya berdiri dan melambaikan tangan, Erik.
Mayri dan Erik bertemu diam diam.
Mayri mematikan teleponannya sembari melangkah cepat menghampiri Erik.
Erik mempersilahkan Mayri duduk pada kursi yang sudah ia tarik.
"Maaf ya, aku telat."
"Gpp, saya juga baru nyampe kok." ucap Erik sembari bergerak duduk.
Mereka tampak ngobrol panjang lebar dan seperti biasa mereka menyelipkan nama Marmun di dalamnya.
"Marmun mulai curiga, aku harus apa Rik?" ucap Mayri,
Erik berpikir, mencari ide.
Mayri menoleh sembari menggigit bibirnya, menunggu kata kata yang keluar dari mulut Erik.
"Eeeee, kamu jaga jarak aja dulu. Jangan sampe semua rencana kita berantakan, ok!"
Mayri mengangguk kecil "Ok."
"Btw, kamu udah tahu kan kalau Marmun udah disini?" tanya Mayri,
"Ha! kapan? saya nggak tahu lho, dia nggak ngabarin saya!" jawab Erik kaget.
"Kemarin, kalau nggak salah."
Tiba tiba dering telepon Mayri berbunyi, panggilan masuk dari Marmun.
Mayri melihat Erik seraya berkata "Marmun nelepon,"
"Angkat aja," suruh Erik.
Disaat Mayri hendak mengangkat telepon itu, panggilan masuk berakhir.
Kemudian tak berselang lama, dering telepon Erik berbunyi.
Erik meminta Mayri untuk diam, lalu mengangkat telponnya.
"Hai loppit," sapanya.
"Hi bee, kamu lagi dimana?" tanya Marmun,
"Biasa, di kantor." sahut Erik berbohong,
"Owhh. Bee, aku mau ngasih tahu kalau aku udah balik dan sekarang lagi di kampus."
"Nanti kamu bisa jemput aku kan, bee!" lanjut Marmun,
Mayri mengetok etok meja dengan pelan sembari memerhatikan Erik yang sedang telponan.
Lalu diam diam ia memotret Erik dengan camera tanpa suara bidikan. Kemudian mengamati foto itu dengan seksama.
"Kalau sudah mau pulang kabarin aja. Sampai ketemu nanti loppit, bye." ucap Erik mengakhiri telponan nya.
Erik dan Mayri melanjutkan obrolan nya.
Beberapa jam kemudian.
Di kampus Guna Darma Bakti, disaat Mayri hendak memberi kabar pada Erik bahwa mata kuliahnya telah usai, Rivan mengajaknya nongkrong di CTC. Tempat yang sama dengan tongkrongan Mayri dan Erik saat itu, hingga membuatnya mengurungkan niat untuk memberitahu sang kekasih.
"Kamu tunggu disini ya Mar, aku ambil mobil dulu!" Rivan bergegas keparkir kampus.
Berselang beberapa menit, Rivan datang. Dia keluar membukakan pintu untuk Marmun.
"Silahkan..!"
Marmun bergerak masuk dan menyandarkan tubuhnya pada sofa mobil.
Rivan menutupnya lalu bergerak cepat masuk dalam mobil.
Aroma parfum mobil hitam itu membuat Marmun begitu nyaman.
Marmun menghirup dengan mata tertutup,
"Huhhh, wanginya mantap. Aku suka,"
"Lebayyy!" ucap Rivan sembari memacu mobilnya.