Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -37



Dihari yang indah (Weekend),


Erik tampak telah bersiap berkelana menghabiskan waktu yang ia sia siakan belakangan terakhir.


Didepan cermin, dia bersiul santai menyisir rambut yang beroleskan minyak pelepek kesamping kiri hingga membentuk belah dua dari ujung kanan kepala.


Lalu merapatkan kancing kemejanya yang terlepas, kemudian menyemprot wewangian pada leher, dada dan tangannya.


Sebelum memutuskan berangkat keluar, Erik melihat kembali dirinya dalam cermin memastikan ada tidaknya kekurangan pada penampilan nya.


Matanya menyisir tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Jam tangan!" Erik menatap lebar pada pergelangan tangannya, lalu mengelangkan jam bermerek itu dengan perlahan.


Setelah merasa penampilan cukup ok, Erik bergerak menjemput Marmun yang telah menanti kehadiran nya.


Di depan meja cermin kamarnya, Marmun berdandan feminim, tidak seperti biasanya. Dia membalut wajah tirus itu dengan makeup, bibir dengan balutan lipstik merah cetar menambah poin seksi hingga membuatnya lebih percaya diri.


Ia juga menyemprotkan cairan pada bagian tertentu tubuh nya.


Tak berselang lama, Erik tiba di depan rumah Marmun. Sebelum melangkah keluar dari dalam mobil, ia tampak menghubungi seseorang.


"Nanti malam kita ketemu di tempat biasa,"


Namun tanpa ia sadari Marmun telah berdiri disamping pintu depan mobil dekatnya (pintu supir).


"tok..tok..tok!"


Erik terkejut, tubuhnya bergetar dengan mata melebar.


"Sejak kapan dia berdiri disitu! Jangan jangan dia mendengar semua! Bisa brabe dan hancur nih segala rencana." Ucapnya dalam hati.


Panik, Erik mengakhiri telponan nya dengan sepihak. Lalu bergerak keluar dengan setengah senyum.


"Mau pamit dulu atau kita langsung capcus?" tanya Marmun,


Erik melongo, tak menjawab. Matanya menyisir wajah dan lekukan tubuh Marmun yang terlihat cantik dan seksi.


Marmun menatap heran,


"Bee! Ada yang salah ya?" Dia menyisir penampilannya dari leher hingga ke kakinya.


"Nggak, gak pa pa!"


Marmun memutar kaca spion mobil, lalu berkaca. Dia memandang wajah nya dengan seksama dan bergumam "Apa terlalu menor?"


Erik memerhatikan Marmun dengan senyum dan geleng geleng kecil kepala. Lalu memegang kedua bahu yang membelakangi nya itu seraya berkata "Kamu cantik dan seksi hari ini,"


Marmun berbalik badan dengan tingkat PD yang sangat rendah.


"Penampilanku pasti jelek kan? Bentar aku.."


"Serius, kamu sangat cantik! Lagian, seburuk apapun penampilanmu, bagi saya kamu tetap cantik." Erik memotong ucapan Marmun,


Marmun terdiam dengan wajah tersipu-sipu, jantung nya kembali berdetak kencang seperti awal ia merajut cinta.


Berselang beberapa menit, mereka pergi menyusuri tempat membangun rasa cinta diantara keduanya. Mereka tampak menikmati keindahan alam yang berteman kan cuap cuap obrolan.


Sudah lama Marmun menunggu momen itu, sebab cukup lama ia tidak mendapatkan itu dari Erik. Entah apa alasannya berubah sikap.


Meskipun tempat itu ramai pengunjung, Erik tidak malu mengungkapkan perasaan nya untuk pertama kali setelah mereka pacaran. Dia bersimpuh di hadapan Marmun dengan selingkar cincin berlian, entah apa yang merasukinya.


"Jangan pernah pergi sebab kamu adalah rumahku, tempat dimana aku tinggal." Erik mengeluarkan cincin berlian dari kantong depan bajunya.


Marmun terbisu dengan hati tak karuan, tertunduk malu sebab orang orang mengerumuni dengan mata tertuju pada mereka.


"Cieeeee.." goda serentak sekelompok gadis remaja, tertawa.


"Sepertinya dia sangat sayang pada cewek itu." bisik satu ke yang lainnya.


"Iya, tidak akan. jawab gitu neng!" celetuk Kakek tua dengan kuat, Ia tampak menggandeng tangan istri nya.


Semua orang tertawa mendengar celetukan kakek tua, termasuk Erik. Dengan pelan Marmun menoleh kesemua pengunjung. Tampak pengunjung tak sabar menunggu rangkaian kata yang keluar dari mulutnya. Dengan menghela nafas dalam-dalam Marmun berkata "Aku tidak akan ninggalin kamu. I'm promise."


Orang orang bertepuk tangan dan bersorak bahagia, kupu-kupu beterbangan seakan ikut merasakan kebahagian itu.


"Ngapain begitu! aku malu, tau!" gerutu Marmun manja, sembari memukul pelan dada sang kekasih.


"Hmm, bilang aja senang, ya kan?" goda Erik, tertawa.


Marmun menjawab dengan mangut mangut, lalu tertawa cekikikan.


*****


Hari telah sore, sepasang kekasih itu menyudahi sir sirannya.


Erik mengantar pulang dengan terburu buru, memacu kecepatan tinggi. Sebab seseorang telah menunggunya di tempat yang mereka tentukan sebelumnya. Terlebih jarak ke rumah Marmun memakan waktu cukup lama.


Beberapa jam kemudian, mereka sampai. Marmun bergerak keluar sedangkan Erik stay ditempat duduknya.


"Nggak singgah bee?"


"Titip salam aja pada Tante. Saya buru buru, ada urusan bentar." Erik menghidupkan mesin mobil, lalu melajukan nya.


Marmun melihat pergi, hingga jauh dari pandangannya.


"Urusan? ini kan weekend? Buru buru kemana?" tanyanya dalam hati.


Marmun merasa aneh akan glagat Erik, dengan cepat ia berlari masuk mengambil kunci mobil ibunya tanpa permisi. Dia mengejar dengan memacu kecepatan diatas rata rata, tak ingin kehilangan jejak Erik. Marmun mendekatkan posisinya lebih dekat.


"Sebenarnya Erik mau kemana? ini kan ke arah CTC!" ucap Marmun lirih.


Berselang beberapa menit, Erik memperlambat laju dan memutar masuk mobilnya di area cafe yang Marmun tebak sebelumnya.


Marmun mengikutinya dengan rasa penasaran tinggi. Lalu memarkirkan mobilnya di tempat yang berbeda.


Erik bergerak masuk dan tampak bertelepon dengan seseorang.


"Ini udah masuk. Ok..Ok." ucapnya mengakhiri telponan nya.


Walaupun batang hidung Erik hilang dari pandangan nya, Marmun tidak kecari'an sebab dia tahu bahwa Erik pasti di sekitaran CTC.


Dengan langkah pelan dan ngumpet-ngumpet, Marmun masuk dan duduk di meja ujung paling belakang. Dia menatap menyisir semua sudut ruangan itu dan matanya terhenti pada sosok wanita yang begitu ia kenal.


"Lahh, itu bukannya Mayri? dia sendirian atau..."


"Mbbak Marmun pesan apa?" Waitress menghentikan ucapannya.


"Seperti biasa mbbak." Marmun tidak asing lagi bagi semua karyawan CTC,


"Ok, ditunggu ya mbbak." Waitress bergerak pergi,


Marmun kembali menoleh ke Mayri,


"Laki laki itu siapa ya? Apa mungkin Rivan!" gumam Marmun. Laki laki itu (Erik) duduk berhadapan dengan Mayri, membelakangi Marmun.


Marmun sibuk dengan pikirannya, menerka nerka siapa sosok yang bersama dengan Mayri.


Sedangkan Mayri dan Erik tampak ngobrol dengan serius seakan merencanakan sesuatu. Dalam obrolannya, mereka menyelipkan nama Marmun. Dua cangkir Coffee dan beberapa tapak cemilan menemani mereka.


"Kurang lebih 2 minggu lagi, segala rencana hampir rampung. Tinggal bintang tamu, Lyly. Dia sangat sibuk jadi kita harus booking secepatnya, kalau perlu sekarang!" ujar Mayri.


Lyly adalah penyanyi papan atas yang menjadi idola para anak muda, termasuk Marmun dan Mayri.


"Ok. Ini saya lagi koordinasi dengan manajer nya. Mudah mudahan waktunya kosong."


Mayri mendengar dengan senyum tipis tak berkedip. Kelak Erik melingkarkan cincin pada jari manis nya bukti adanya ikatan, hayalan.


Tiba tiba secangkir coffee bawaan Waitress tumpah tertuang tak sengaja mengenai lengan kiri Mayri.


Hayalan Mayri buyar seketika.


"Maaf mbbak, gak sengaja."


Erik bergerak cepat membersihkan noda kopi pada lengan Mayri. Waitress bergeser mundur sedikit.


Betapa sangat syok nya Marmun melihat sosok laki laki itu yang bersama sahabatnya itu.