Sikalapa (Marmun & Mayri)

Sikalapa (Marmun & Mayri)
Episode -8



Meskipun Mayri membenci Rivan ia tak mampu menghindarinya secara terus menerus.


Sebab keduanya ada di Fakultas dan jurusan yang sama serta di tingkat yang sama pula, Fakultas Ilmu komunikasi jurusan jurnalistik semester VI, bersama Marmun.


Dosen masuk, pelajaran akan dimulai, Mayri baru saja tiba 7 menit lebih lambat dari Rivan.


"Maaf pak telat," Mayri bergerak mencari kursi kosong.


"May dari mana aja? tumben kamu telat di jam pelajaran bapak. Tidak seperti biasanya!" ucap Dosen dengan mata melebar.


"Dari perpus pak," jawab singkat Mayri berbohong sembari bergerak duduk.


''Baiklah kita kembali ke topik,'' ajak sang Dosen.


"Penulisan feature, feature ditulis berdasarkan fakta dengan akurat, data yang di kemukakan bukanlah fiktif tapi nyata, hanya cara menulisnya menggunakan seni. Feature mengandung unsur-unsur yakni: Kreatifitas, Informatif, menghibur, awet dan subyektifitas." ucap Dosen menjelaskan.


Hampir semua mahasiswa-mahasiswi di dalam ruangan itu mencermati penjelasan sang dosen terkecuali Rivan, ia tak mampu memalingkan pandangannya dari Mayri.


"Rivan!" panggil sang dosen sembari melempar spidol white blackboar ke arah Rivan.


"Siap pak!" Rivan terkesiap, tubuh kekarnya sedikit bergetar hingga bindernya terjatuh ke lantai. Semua mata tertuju padanya.


"Coba ulangin, apa yang sudah bapak jelaskan dari tadi!" suruh Sang dosen. Rivan tertunduk diam, sebab ia tak mendengar satu kalimat pun.


"Dari tadi bapak perhatiin, kamu tidak mendengarkan apa yang bapak sampaikan. Kalau kamu nggak suka di jam pelajaran bapak, silahkan keluar!" bentak Dosen.


"Maaf pak," Rivan menekuk wajahnya, lalu meraib binder dengan wajah memerah, malu.


Seketika suasa di ruangan itu sunyi tak bersuara hingga tak sadar jam pelajaran telah usai.


"Sampai ketemu minggu depan, selamat siang.'' Sang dosen mengakhiri pembelajaran. Lalu bergerak keluar dengan menjinjing tas berisi buku panduan mengajarnya.


Setelah Dosen melangkah keluar melewati batas pintu, dengan cepat Mayri memasukkan satu persatu peralatan kuliah kedalam tas miliknya. Dengan tak acuh dia pergi menconcong. Begitu juga dengan Rivan. Menyadari bahwa Mayri belum melangkah jauh, Rivan mengejar hingga ngos-ngosan.


"May...May...May!" panggil Rivan.


Tak perduli, Mayri terus saja melangkah lurus, belok kiri dan kanan, mencari jalan pintas maherat hingga langkah terhenti di parkiran motor.


"Akhirnya bisa lolos juga dari kejaran lelaki kardus itu." Mayri membalut kepalanya dengan helm bogo retro arc lis dengan kaca flat berwana black. Kemudian dia menghidupkan motornya lalu melaju pergi menuju rumah sakit dimana Marmun di rawat.


Disepanjang perjalanan sesekali Mayri menoleh kebelakang, memastikan bahwa mantan kekasihnya itu tidak mengikutinya.


Siang menjelang sore,


Perjalanan dari kampus Guna Darma Bakti ke Rumah Sakit Bina Kasih tidak memakan waktu terlalu lama hanya sekitar 35 menit.


Sebelum Mayri tiba dirumah sakit, terlihat seorang dokter dan perawat masuk ke ruangan Marmun.


"Sore ibu, pasien kita check dulu ya, jadi silahkan menunggu di luar."


Ibu Marmun menjawab dengan senyum lalu bangkit dari tempat duduknya, kemudian dengan pelan ia berseru ke Sang putri "Mommy keluar dulu y kak."


Marmun membalasnya dengan menganggukkan kepala.


"Sore Mar, bagaimana perasaan kamu lebih baik kah atau ada keluhan?" Dokter bergerak kesamping kanan Marmun.


"Puji Tuhan hari ini merasa lebih baik di banding sebelumnya dok, cuma kaki kiri aku masih nyut-nyutan dan terkadang sedikit terasa sakit dok."


"Alhamdulillah, keluhan lainnya masih adakah..?" tanya dokter dengan penuh kasih.


"Yang lainnya sih, paling badan masih lemas, nafas juga belum stabil masih seperti kemarin, itu aja sih dok,"


"Ok, kalau masalah kaki kamu yang masih nyut-nyutan dan sedikit terasa sakit, akan kita observasi dulu." Dokter mengamati hasil laboratorium kesehatan Marmun yang perawat berikan padanya.


"Hasil kesehatan kamu bagus, peningkatan nya cukup drastis." lanjut dokter,


"Kalau begitu kami keluar dulu, selamat istirahat." Dokter pamit lalu berjalan keluar dengan gemulai.


Disaat Dokter keluar dari ruangan, ibu Marmun bergegas menghampirinya.


"Dok, bagaimana keadaan putri saya?" tanya Ibu Marmun penasaran.


"Sejauh ini keadaan Marmun sudah semakin membaik dan tidak ada yang perlu di khawatir kan, ibu tidak perlu cemas."


"Sama - sama Bu." Dokter membalikkan badan lalu bergerak pergi. Begitupun Ibu Marmun masuk ke ruangan putrinya.


Tepat di jam 15.45 WIB Mayri tiba di rumah sakit dan langsung memarkirkan motornya di lokasi yang sudah ditentukan oleh pihak rumah sakit, parkiran.


Disaat bersamaan Erik juga tiba di rumah sakit, ia turun dari mobil, lalu sang supir melaju memarkirkan mobil berwarna putih itu.


Namun tiba -tiba langkah Mayri terhenti sejenak ketika melihat laki laki tinggi berkacamata, brewokan sedang berjalan ke arah pintu masuk rumah sakit yang tak lain ialah Erik.


"Rik," panggil Mayri dengan suara kencang.


Erik mencari arah asal suara itu, lihat kiri kanan dan depan belakang namun tak tahu siapa pemiliknya karena Mayri memanggilnya tidak jauh dari parkiran. Erik tetap saja berjalan walaupun ia merasa tidak asing dengan suara itu.


"Rik tunggu!" Mayri mempercepat langkahnya dengan melambaikan tangan.


Karena jarak Mayri semakin dekat dengan dirinya, suara itu pun semakin jelas terdengar di telinga Erik.


Erik menoleh ke samping kiri dan ia melihat Mayri sedang melambaikan tangan, jaraknya sekitar 15 meter dari posisi dia berdiri.


Erik menunggu Mayri lalu bergeser sedikit ke sebelah kanan pintu supaya tidak menghalangi orang-orang yang hendak masuk dan keluar.


"Kamu toh yang manggil-manggil nama saya," Erik terlihat cool terlebih saat memasukkan HP ke dalam saku celananya.


"Ya ia'lah siapa lagi. Emangnya kamu nggak ngenali suara aku!" Wajah Mayri tampak menguning seperti kurang darah.


"Nggak." celetuk Erik menusuk, bercanda.


"Bener juga sih, mana mungkin kamu ngenalin suara aku, secara kita juga kenal baru beberapa minggu terakhir dan yang pasti karena aku bukan siapa siapa kamu! iya kan!" Cetus Mayri.


"Nggak gitu juga kali May, sorry sorry saya cuma bercanda." Erik menenangkan Mayri dengan menyentuh tangan kanan nya.


Wajah putih Mayri tiba tiba berubah menjadi warna tomat kemerahan.


"Kamu pasti mau jengukin Marmun kan!" ucap Erik yakin.


"Betul..betul..betul."


"Kamu juga kan?" tanya Mayri basa basi


"Yups, bener. Seratus untuk kamu." Erik memberikan senyum pemikat kaum hawa.


Lalu mereka melangkah masuk ke dalam rumah sakit dengan melewati beberapa ruang pasien lainnya. Namun di saat menuju ruangan Marmun, Mayri terlihat pucat, jalannya mulai nggak teratur.


Disaat Mayri hendak terjatuh dengan spontan kedua tangan Erik memegang tangan dan bahu, menahan tubuh Mayri.


Hening sejenak, Mayri terkesima hingga menatap Erik begitu lama tak berkedip, wajah keduanya begitu dekat hingga membuat jantung Mayri berdetak kencang.


"Kamu gak apa-apa kan may?" tanya Erik prihatin sembari melepaskan pegangannya dari tangan Mayri.


"Iya. Aku nggak apa-apa, tadi hanya sedikit pusing, thanks ya." Mayri mengibaskan rambutnya ke belakang dengan mata menoleh ke kiri dan kanan, salting.


"Yakin?" perjelas Erik.


"Yakin, aku nggak apa-apa kok." Mayri sedikit kagok. Dia berusaha mengendalikan perasaannya.


Terima kasih sudah membacaπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™ Mohon beri masukan/saran supaya karya semakin lebih baik.


Jangan lupa:



Vote


Like


Koment


Beri hadiah


Follow IG ku : munte.maria