
Hari menjelang malam masih di tempat yang sama, nada pesan masuk (WA) berbunyi. Dengan santai jemari Marmun menyentuh aplikasi itu, lalu membaca isi pesan dari nomor yang tidak di kenal.
Betapa dia tercengang melihat pesan gambar dan video, satu persatu diamatinya dengan wajah datar. Cukup lama ia melihat dengan bolak balik.
Marmun menghela nafas berat dengan mata tertutup, lalu melirik kiri dan kanan sembari bergumam "santai Mar, santai. Harus percaya pada pacar dan sahabatmu sendiri, gak mungkin macam macam."
"Loe lihat apa sih! kok tiba tiba diam gitu, ada masalah?" tanya salah satu temannya dengan alis sedikit naik (Jaka).
Marmun diam membisu sembari menarik menggigit bibir atasnya dengan mata memandang ke atas.
"Mar, Mar!" panggil salah satu temannya (cowok) dengan menatap heran sembari menyentuh tangan Marmun (Chiko).
"Mmmm, ada apa! ada apa?" ucap Marmun dengan badan sedikit bergetar sembari melihat ke kiri dan kanan, kebingungan.
"Gue tanya loe kenapa? ekspresi loe seperti menunjukkan sesuatu yang gimanaa...gitu!" jawab yang lain,
Marmun menggeleng gelengkan kepala, seraya berkata "santai, nggak ada apa apa kok."
Rasa penasaran yang bergelora di dalam hati dan pikiran temannya (Farah), dengan cepat ia merampas HP dari genggaman Marmun seraya berkata "Pinjam bentar! Gue mau lihat isi WA loe."
Marmun merampas kembali HP nya, namun tak berhasil.
Sejenak Farah diam bergeming,
"Kenapa loe jadi ikut ikutan diam? aneh." ucap Jaka. Dia menyentil pelan telinga Farah,
"Nih! loe lihat sendir." Farah memperlihat isi WA tersebut.
"Wadokhhh parah, bukannya itu pacar dan sahabat loe Mar?" tanya Jaka dengan menatap kasihan.
"Loe nggak usah ambil pusing, belum tentu juga itu benar. Bisa jadi itu kerjaan orang iseng atau mungkin ulah seseorang yang tidak suka akan hubungan kalian atau mungkin musuh loe? musuh sahabat loe ? atau musuh pacar loe!" lanjut Jaka sembari mengusap usap pundak Marmun,
Marmun terdiam tanpa ekspresi, perasaannya begitu kalut antara harus percaya atau tidak.
"Loe tahu bagaimana sifat, karakter pacar dan sahabat loe. Mungkinkah mereka tega nyakitin loe? Intinya ikuti kata hati aja," sambung Farah.
"Saran gue sih lebih baik tanyakan langsung pada mereka berdua, jangan langsung percaya pada sepelintir bukti. Supaya terhindar dari kesalah pahaman," tukas Chiko. Dia tampak mengembalikan HP pada si empunya.
Marmun menghela nafas dalam dalam lalu menganggukkan kepala seraya berkata "Ok, thanks ya guys. Kalian memang temanku yang paling baik,"
Marmun dan teman temannya berpelukan dengan sumringah.
"Aku berharap jangan ada jarak di antara kita ya!aku ingin kita seperti ini terus" Marmun memeluk erat temannya.
"Harus dong." sambung Farah sembari bergerak duduk.
"Kalau Loe butuh bantuan untuk menelusuri semua, kita siap membantu. Betul tidak guys?" Jaka menarik kursi lalu mendudukinya.
"Bener. Kita siap membantu, kapan saja dan dimana saja. Aseekkk!" Chiko menggulum senyum dengan mengedipkan bahu.
"Eee, kebiasaan deh! lagi serius juga, malah gitu!" ucap Marmun sembari menoel Chiko.
Mereka tertawa terpingkal pingkal hingga tak sadar air bening keluar dari ujung sudut kanan mata. Air mata kebahagiaan.
Sejenak Marmun tidak ambil pusing akan foto dan video itu. Dia kembali ceria.
Esok harinya,
Mayri dan Erik kembali berduaan di salah satu Cafe yang tidak asing bagi Marmun dan Erik.
Mereka tampak asyik duduk dengan dua gelas Cappucino dan setapak french fries.
Dalam obrolannya, mereka menyelipkan nama Marmun.
Lagi dan lagi, Ranti dan Lala kembali memergoki Mayri dan Erik yang kebetulan lagi nongkrong di CTC.
Marmun dan Erik terlihat enjoy di tambah senandung musik yang menemani,
"Fiks mereka memang selingkuh, gue yakin itu!" ucap Ranti sembari membuka aplikasi camera HP lalu membidiknya.
"Sungguh keterlaluan sih. Ibaratnya mereka itu seperti uang receh, bermuka dua." Lala mengabadikan kebersamaan Marmun dan Erik dengan memotret,
"Kan udah gue bilang, dia itu cewek murahan yang suka ngerusak hubungan orang. Buktinya gue, semua hancur berantakan, iya kan?" ucap Ranti dengan tatapan tajam.
"Amit amit dah orang kayak gitu, jangan sampai pacar gue juga di embatnya." ucap Lala jengkel, lalu ia meneguk minuman yang berwarna coklat.
Erik tampak menyentuh tangan Mayri seraya berkata "Makasih ya sudah membantu, semoga semua berjalan sesuai rencana."
"Tidak perlu berterima kasih, semua kita lakukan demi orang yang kita sayang." Mayri menepuk pelan punggung telapak tangan Erik dengan senyum manis.
"Kamu itu bukan hanya cantik tapi baik dan tulus juga, pantasan Marmun sayang sama kamu." puji Erik.
"Akhh jangan terlalu memuji, kamu belum tahu aja gimana sifatku, pasti kamu akan ilfil," Mayri tampak malu malu.
"Emang kenyataan kan! kalau saya perhatiin, kamu lebih banyak teman dibanding Marmun. Semua welcome ke kamu, terlebih anak anak kampus apalagi para lelaki. Bener kan!" ucap Erik,
"Kwkekekke, sok tahu!" Mayri menyantap sepotong french fries.
"Kalau misalnya aku cantik, baik dan tulus seperti yang kamu bilang itu, ya nggak mungkin dong aku di selingkuhin Rivan. Kalau dia selingkuh itu artinya aku nggak cantik, nggak baik, aku nggak bisa membuatnya nyaman dan sebagainya." jelas Mayri dengan nada turun setengah oktaf dari nada biasanya.
"Rivan aja yang kurang bersyukur, buktinya dia nyesal kan? Dan aku percaya mungkin dia bukan yang terbaik untukmu, Tuhan pasti sudah menyiapkan sosok yang terbaik untukmu. Percaya deh," Erik menghibur.
"Andai saja aku lebih dulu mengenalmu, aku pasti sangat beruntung memiliki cowok seperti kamu." ucap Mayri dalam hati dengan tatapan lembut.
Ranti dan Lala begitu bersemangat mengabadikan momen itu (memotret), mengoleksi bukti perselingkuhan Mayri dan Erik yang akan mereka gunakan untuk menghancurkan Mayri.
Dendam nya masih membara.
Dan dengan segera Ranti mengirim foto itu ke Marmun via WA.
"Dasar pelakor! pacar sahabat sendiri juga di embat, tersenyumlah sepuasnya karena sebentar lagi akan ada air mata yang tertumpah" gumam Ranti dengan senyum sarkas.
Nada pesan (WA) masuk berbunyi, Marmun yang kebetulan duduk santai di taman hotel segera membuka pesan masuk dari nomor yang sama dengan pengirim sebelumnya. Dan betapa ia terkesiap melihatnya, seketika wajahnya yang berseri berubah menjadi murung.
Meskipun hatinya sesak, ia masih berusaha tenang dan tidak terbawa emosi serta amarah. Dia mencari kebenaran dari semuanya. Dengan segera ia merangkai kata kata pada layar HP nya "Kamu sebenarnya siapa? dan apa tujuan kamu mengirim pesan ini," lalu menekan tanda panah pada keyboard text, terkirim.
tak berselang lama, WA masuk, balasan dari pesannya.
"Gue adalah orang yang peduli sama loe, gue hanya ingin menunjukkan kebenaran yang sebenarnya. Gue tidak ingin loe merasakan seperti apa yang gue rasakan dulu, perselingkuhan."